BAB 4 : Rencana Mama Laura

Mobil mini cooper merah memasuki perkarangan rumah keluarga Bramasta. Seorang wanita cantik turun dari mobil, dia bergegas memasuki rumah. Langkahnya terhenti ketika melihat Nadia istri kedua ayahnya tengah menyiapkan sarapan di meja makan.

"Eh Bulan, kamu kesini?" Ujar Nadia yang menyadari keberadaan Bulan diam-diam sedang mengamatinya.

"Aku kemari karena ingin menemui Mama." Balas Bulan memberitahu.

"Ohh, mamamu ada dikamar nak." Bulan beranjak ingin menaiki tangga namun tidak jadi karena mendengar suara Bintang dari luar.

"Ma..."

Nadia menghampiri putri kesayangannya. "Kamu semalam dari mana saja kok tidak pulang kerumah?"

Deg

Pertanyaan itu sukses membuat perasaan Bulan tercubit, dia cukup tahu kalau adiknya bermalam bersama suaminya di apartemen. Malam yang seharusnya menjadi malam pertamanya malah direnggut oleh adik tirinya. Bulan mengepalkan kedua tangan, dia seolah ingin meremukkan benda apapun disekitarnya, namun dia berusaha menahan diri.

Bintang sekilas melirik ke arah kakaknya 'Bulan' yang berdiri tidak jauh di depannya. "A-a-aku tidur di-dirumah temanku Ma karena ada tugas kelompok dari kampus yang harus dikerjakan. Karena deadlinenya mepet, jadi aku harus mengerjakan lembur disana." Jawab Bintang gugup hingga membuatnya terbata-bata dalam berucap.

Bulan berdecih sinis, pintar sekali Bintang berbohong. Dia tidak habis fikir bahwa adiknya yang terkenal polos itu berani membuat alasan brilian seperti itu. Sungguh menakjubkan, dia ingin memberikan penghargaan dengan bertepuk tangan di depan wajahnya yang sok lugu.

Nadia mengulas senyum, dia membelai rambut anaknya. "Oh begitu ya, mama cemas karena kamu tidak memberi kabar. Yasudah kamu mandi dulu biar seger, terus sarapan bersama." Bintangpun mengangguk, dia melangkahkan kakinya menuju kamar.

Namun ketika dia berpapasan dengan Bulan langkahnya terhenti karena ucapan kakak tirinya itu. "Apakah kakimu terluka? Kenapa jalanmu terseok-seok seperti itu ha?" Pertanyaan itu sukses membuat Bintang melotot, perempuan itu terlihat gemetar takut. Namun sebisa mungkin Bintang menenangkan diri.

"Jalanmu seperti seorang gadis yang baru saja kehilangan keperawanan." Bintang seketika menoleh menatap tajam wajah kakaknya. Bulan bahkan tidak peduli lagi dia telah berbicara vulgar di depan Mama Nadia.

Bulan mendekati Bintang yang masih berdiri menegang di hadapannya. Dia membisikkan kalimat di telinga kanan adiknya. "Jika kamu tidak ingin mendapatkan malu, maka tutupi kissmark di lehermu itu sungguh membuatku jijik." Ujarnya mendesis sinis, seketika tangan Bintang menyentuh lehernya sendiri, dia bergegas lari menuju kamarnya dengan perasaan malu.

Bulan menghela nafas perlahan meredam emosinya, dia menatap Mama Nadia sekilas sepertinya wanita paruh baya itu mulai curiga, terlihat dari ekspresi wajahnya yang berubah murung. Bulan membalikkan badan memunggungi wanita itu, tanpa terasa bulir air matanya menetes. Ucapannya barusan sebenarnya juga menyakiti perasaannya sendiri. Dengan bukti yang ada Bulan yakin jika semalam adik dan suaminya memang telah melakukan hubungan terlarang.

Membayangkannya saja membuat hatinya panas, seolah dia butuh pelampiasan rasa kesalnya. Tidak dapat dipungkiri bahwa dia ingin sekali menjambak rambut sang pelakor atau bahkan mungkin memukulnya hingga babak belur. Namun sialnya sosok itu adalah adiknya sendiri.

Bulan mengelus dada mencoba sabar, jika dia bertindak kasar mungkin Papanya akan membunuhnya jika tahu Bulan telah menyakiti putri kesayangannya. Alih-alih ingin merusak hidup adiknya, bisa-bisa Bulan sendirilah yang hancur.

Tidak ingin berlarut-larut Bulanpun segera menaiki tangga menemui Mamanya 'Laura' di kamar. Sebelum memasuki kamar Mamanya, Bulan terlebih dahulu mengusap air mata yang membasahi pipi. Dia tidak ingin mamanya ikut sedih.

Ceklek

Bulan membuka pintu perlahan, dia mendapati Mamanya tengah memainkan ponsel pintarnya sembari duduk santai di kasur empuknya.

"Mama." Panggil Bulan.

Laura mendengar dirinya dipanggil segera menoleh, dia segera beranjak berdiri menghampiri putrinya dengan senyum sumringah.

"Bulan sayang, anakku." Laura dengan girang memeluk putrinya. "Duduklah sayang." Laura menggiringnya untuk duduk di tepi ranjang bersamanya.

"Emm, sayang ngomong-ngomong bagaimana dengan malam pertamamu. Ceritakan sama mama, jangan malu-malu begitu." Laura menyenggol bahu putrinya. Bulan hanya bisa tersenyum miris, karena kenyataannya suaminya lebih memilih menghabiskan waktu bersama selingkuhannya.

"Tidak terjadi apa-apa tadi malam." Ujar Bulan dengan lesu.

"Apa?!" Teriak Laura heran. "Hah, bagaimana kamu ini Bulan. Kamu benar-benar bodoh! Tidak tahu bagaimana memuaskan suami di atas ranjang." Makinya dengan berapi-api.

"Apa kamu tidak berusaha menggodanya?" Cerca Laura lagi, masih berusaha mencari tahu, kenapa Alvaro menyia-nyiakan gadis secantik putrinya.

Bulan tidak mungkin menjelaskannya, karena ketika Mamanya tahu bisa-bisa dia melabrak Bintang. Dan rumah ini akan terjadi kehebohan yang bikin gempar, melihat sifat mamanya yang cukup anarkis selama ini.

Laura menghela nafas berusaha menetralkan kemarahannya. "Oke sayang tidak apa-apa. Mama memakluminya, ini masih belum terlambat. Kamu bisa berusaha lebih keras lagi untuk merayu suamimu nanti malam." Bulan mengangguk patuh.

Laura mengambil sesuatu dari laci, kemudian dia memberikannya kepada putrinya. Bulan membukanya, dia bingung karena plastik hitam ditangannya isinya adalah obat entah apa itu Bintang tidak tahu.

"Ini adalah obat perangsang. Campurkan obat ini ke minuman Alvaro, maka dia akan menginginkanmu." Bulan begidik ngeri mendengarnya.

"Tapi ma--."

"Ssssttt. Percayalah kepada mamamu ini." Laura menangkup pipi putrinya. "Dengar, kamu harus segera mengandung anak Alvaro, karena hanya seorang anaklah yang bisa menguatkan hubungan kalian."

Laura menghela nafas sejenak. "Ingatlah, meskipun kamu telah terikat dengan Alvaro namun bayang-bayang Bintang sulit lepas darinya. Masih ada kemungkinan Bintang sewaktu-waktu merebut suamimu karena lelaki itu masih mencintainya."

Bulan menyadari bahwa adiknya memang lebih lihai mengendalikan suaminya dengan mudah bahkan dalam jentikan jari.

"Mama benar." Bulan mengangguk setuju.

"Nah ada satu lagi, sebentar." Laura membuka lemari bajunya, dia nampak mencari sebuah benda.

"Ini pakailah nanti malam di depan suamimu." Bulan nampak melotot melihat lingerie berwarna merah terang menyala yang diperlihatkan mamanya. "Ini masih baru. Mama memang ingin memberimu kado, namun belum sempat membungkusnya. Karena kamu disini sekalian aja kamu bawa."

Bulan tersenyum, mamanya begitu perhatian sekali. Akan tetapi haruskah dia memakai baju itu dihadapan suaminya? Hah, membayangkannya saja membuat Bulan malu sendiri.

...****************...

23.00 PM

Bulan duduk di ruang tamu dengan perasaan gelisah menunggu suaminya datang dari kantor. Malam ini juga dia akan melaksanakan rencana gila yang telah disarankan mamanya.

Suara mobil terdengar dari luar, pasti itu adalah kendaraan Alvaro. Bulan segera membukakan pintu rumah. Dia melihat seorang pria gagah dengan sorot mata tajam menatapnya dengan dingin.

"Ke-kemarikan tasmu." Alvaro memberikan tasnya kepada Bulan. Tanpa membuka suara apapun pria itu melenggang menuju kamar.

Alvaro melepaskan jas kerjanya, dia melonggarkan dasi kemudian menggulung lengan kemaja putihnya sampai siku. Lelaki itu sejenak merebahkan tubuhnya kekasur, namun detik kemudian dia teringat kalau masih ada laporan berkas untuk presentasi rapat besok belum dia selesaikan. Pemuda itu mengganti posisinya untuk bersandar di kepala ranjang, lalu dia membuka laptopnya untuk mulai mengerjakan tugas kantornya.

Sedangkan Bulan berada di dapur tengah mengaduk secangkir minuman untuk suaminya, tidak lupa dia juga telah menaburkan obat yang diberikan mamanya tadi pagi ke dalam minuman Alvaro.

Bulan mengambil nampan, dia meletakkan setoples roti kering dan juga secangkir minuman hangat untuk suaminya. Dia masuk kedalam kamar menyapa suaminya yang tengah asik dengan benda canggihnya.

"Aku buatkan kopi untukmu." Ujar Bulan memberitahu.

Alvaro meliriknya ketika Bulan meletakkannya di atas nakas. Detik kemudian dia mengambilnya lalu meminumnya hingga tandas. Dia memang membutuhkan minuman hangat itu agar kuat begadang.

"Aku ingin ke toilet." Ujar Bulan meminta izin, Alvaro hanya menanggapinya acuh.

Bulan memasuki toilet sembari membawa lingerie merah. Dia melepaskan piyamanya dan menggantinya dengan lingerie. Bulan melihat pantulan tubuhnya di depan cermin, baju transparan yang mempertontonkan lekuk tubuh mulusnya. Entah kenapa dia merasa penampilannya saat ini seperti wanita murahan saja yang memaksa pasangannya untuk bercinta.

Tidak...tidak! Bulan menggeleng, Alvaro adalah suaminya. Bukankah bercinta itu adalah sebuah kewajiban bagi suami istri.

"Baiklah Bulan kamu harus menghadapinya, ayo kita lihat apakah obat itu sudah bekerja dengan baik." Seperti orang tidak waras, bulan berbicara dengan bayangan dirinya sendiri di dalam cermin.

Bersambung...

Jangan lupa untuk like dan komentar ya readers jika kalian suka dengan cerita ini❤️

Terpopuler

Comments

Novi Putri

Novi Putri

bagus aku suka ceritanya

2023-07-18

0

Ana Novianti

Ana Novianti

😀😀😀

2023-07-05

1

Daulat Pasaribu

Daulat Pasaribu

miris banget nasib ibu dan anak...bisa bisanya mama Laura bertahan dgn pria gak punya hati kayak Zafran dan alvaro

2023-04-01

1

lihat semua
Episodes
1 BAB 1 : Usaha Untuk Mendapatkanmu
2 BAB 2 : Perasaan Tidak Bisa Dipaksakan
3 BAB 3 : Pernikahan Semu
4 BAB 4 : Rencana Mama Laura
5 BAB 5 : Malam Panas Menebar Luka
6 BAB 6 : Jodoh Untuk Bintang
7 BAB 7 : Tolong, Hargai Usahaku!
8 BAB 8 : Masa Lalu Menyakitkan
9 BAB 9 : Masalah Baru
10 BAB 10 : Kebohongan Bulan
11 BAB 11 : Hukuman Kejam
12 BAB 12 : Malaikat Pelindung Berhati Iblis
13 BAB 13 : Elfarez Roy Abraham
14 BAB 14 : Saingan Alvaro
15 BAB 15 : Kemarahan Alvaro
16 BAB 16 : Keinginan Untuk Berpisah
17 BAB 17 : Emosi Terbalut Gairah
18 BAB 18 : Kehamilan Bulan
19 BAB 19 : Sakit
20 BAB 20 : Dua Hati Satu Cinta
21 BAB 21 : Kemarahan Zhafran
22 BAB 22 : Keberanian Bulan
23 BAB 23 : Kebaikan Elfarez
24 BAB 24 : Pernikahan Kedua
25 BAB 25 : Pasar Malam
26 BAB 26 : Gugatan Perceraian
27 BAB 27 : Jodoh Pasti Bertemu
28 BAB 28 : Alvaro Cemburu Buta
29 BAB 29 : Maaf Bulan
30 BAB 30 : Perhatian Seorang Suami
31 BAB 31 : Rencana Bulan Madu
32 BAB 32 : Pilih Kasih
33 BAB 33 : Ciuman Manis
34 BAB 34 : Ingin Berdua Bersamamu
35 BAB 35 : Pergi Meninggalkanmu
36 BAB 36 : Harapan Pupus
37 BAB 37 : Kamu Terlalu Berharga
38 BAB 38 : Bulan Ngidam
39 BAB 39 : Harusnya Kamu Menjadi Istriku
40 BAB 40 : Ingin Merasakan Hangatnya Sebuah Keluarga
41 BAB 41 : Merindukanmu
42 BAB 42 : Alvaro Kembali Pulang
43 BAB 43 : Aku Tidak Pernah Selingkuh
44 BAB 44 : Merindukan Tubuhmu
45 BAB 45 : Hubungan Gelap
46 BAB 46 : Larangan Menemui Elfarez
47 BAB 47 : Mulai Mencintaimu
48 BAB 48 : Ingin Berada Didekatmu
49 BAB 49 : Perselingkuhan Bintang
50 BAB 50 : Percayalah Padaku
51 BAB 51 : Tubuhmu Adalah Candu Bagiku
52 BAB 52 : Mantan Pacar
53 BAB 53 : Trauma Pelecehan Di Masa Lalu
54 BAB 54 : Mencari Sebuah Bukti
55 BAB 55 : Hadiah Dari Alvaro
56 BAB 56 : Musuhku
57 BAB 57 : Memperebutkan Satu Wanita
58 BAB 58 : Sengaja Membuat Panas Elfarez
59 BAB 59 : Bintang Cemburu
60 BAB 60 : Berusaha Menguatkan Hati
61 BAB 61 : Diculik
62 BAB 62 : Upaya Pembunuhan
63 BAB 63 : Berusaha Kabur
64 BAB 64 : Tuduhan Sadis
65 BAB 65 : Diusir
66 BAB 66 : Meminta Bantuan Elfarez
67 BAB 67 : Kecemasan Elfarez
68 BAB 68 : Merasa Cemas
69 BAB 69 : Bingung
70 BAB 70 : Musuh Alvaro
71 BAB 71 : Dendam
72 BAB 72 : Bertemu Di Rumah Sakit
73 BAB 73 : Alvaro
74 BAB 74 : Pasangan Semu
75 BAB 75 : Tinggal Bersamaku
76 BAB 76 : Menangkapmu
77 BAB 77 : Berdebat
78 BAB 78 : Menikmati Tubuhmu
79 BAB 79 : Pemuas Nafsu
80 BAB 80 : Balas Dendam
81 BAB 81 : Berkelahi
82 BAB 82 : Marah
83 BAB 83 : Menghangatkan Ranjang
84 BAB 84 : Tawanan Alvaro
85 BAB 85 : Enggan Melepaskanmu
86 BAB 86 : Mengakhiri Hidup
87 BAB 87 : Takut
88 BAB 88 : Berlindung
89 BAB 89 : Tidak Ingin Memperpanjang Masalah
90 BAB 90 : Pembelaan Seorang Ibu
91 BAB 91 : Scandal Hancurnya Rumah Tangga
92 BAB 92 : Dibully
93 BAB 93 : Dalang Dibalik Kejadian Ini
94 BAB 94 : Elfarez Melepas Rindu
95 BAB 95 : Kemarahan Bintang
96 BAB 96 : Pembalasan Rasa Sakit
97 BAB 97 : Hukum Karma
98 BAB 98 : Teror
99 BAB 99 : Mediasi
100 BAB 100 : Tidak Ingin Melihat Wajahmu
101 BAB 101 : Keinginan Bersatu Kembali
102 BAB 102 : Mengobati Luka
103 BAB 103 : Kesedihan Bintang
104 BAB 104 : Butuh Bantuan
105 BAB 105 : Keinginan Laura
106 BAB 106 : Bertemu Denganmu Lagi
107 BAB 107 : Merasa Terancam
108 BAB 108 : Berusaha Melindungi
109 BAB 109 : Sidang Perceraian
110 BAB 110 : Meminta Restu
111 BAB 111 : Terkunci Di Gudang
112 BAB 112 : Bintang Sedih
113 BAB 113 : Keinginan Bintang
114 BAB 114 : Bagaikan Boneka
115 BAB 115 : Dipaksa Menurut
116 BAB 116 : Makan Malam
117 BAB 117 : Terpaksa Mencintai
118 BAB 118 : Kebohongan
Episodes

Updated 118 Episodes

1
BAB 1 : Usaha Untuk Mendapatkanmu
2
BAB 2 : Perasaan Tidak Bisa Dipaksakan
3
BAB 3 : Pernikahan Semu
4
BAB 4 : Rencana Mama Laura
5
BAB 5 : Malam Panas Menebar Luka
6
BAB 6 : Jodoh Untuk Bintang
7
BAB 7 : Tolong, Hargai Usahaku!
8
BAB 8 : Masa Lalu Menyakitkan
9
BAB 9 : Masalah Baru
10
BAB 10 : Kebohongan Bulan
11
BAB 11 : Hukuman Kejam
12
BAB 12 : Malaikat Pelindung Berhati Iblis
13
BAB 13 : Elfarez Roy Abraham
14
BAB 14 : Saingan Alvaro
15
BAB 15 : Kemarahan Alvaro
16
BAB 16 : Keinginan Untuk Berpisah
17
BAB 17 : Emosi Terbalut Gairah
18
BAB 18 : Kehamilan Bulan
19
BAB 19 : Sakit
20
BAB 20 : Dua Hati Satu Cinta
21
BAB 21 : Kemarahan Zhafran
22
BAB 22 : Keberanian Bulan
23
BAB 23 : Kebaikan Elfarez
24
BAB 24 : Pernikahan Kedua
25
BAB 25 : Pasar Malam
26
BAB 26 : Gugatan Perceraian
27
BAB 27 : Jodoh Pasti Bertemu
28
BAB 28 : Alvaro Cemburu Buta
29
BAB 29 : Maaf Bulan
30
BAB 30 : Perhatian Seorang Suami
31
BAB 31 : Rencana Bulan Madu
32
BAB 32 : Pilih Kasih
33
BAB 33 : Ciuman Manis
34
BAB 34 : Ingin Berdua Bersamamu
35
BAB 35 : Pergi Meninggalkanmu
36
BAB 36 : Harapan Pupus
37
BAB 37 : Kamu Terlalu Berharga
38
BAB 38 : Bulan Ngidam
39
BAB 39 : Harusnya Kamu Menjadi Istriku
40
BAB 40 : Ingin Merasakan Hangatnya Sebuah Keluarga
41
BAB 41 : Merindukanmu
42
BAB 42 : Alvaro Kembali Pulang
43
BAB 43 : Aku Tidak Pernah Selingkuh
44
BAB 44 : Merindukan Tubuhmu
45
BAB 45 : Hubungan Gelap
46
BAB 46 : Larangan Menemui Elfarez
47
BAB 47 : Mulai Mencintaimu
48
BAB 48 : Ingin Berada Didekatmu
49
BAB 49 : Perselingkuhan Bintang
50
BAB 50 : Percayalah Padaku
51
BAB 51 : Tubuhmu Adalah Candu Bagiku
52
BAB 52 : Mantan Pacar
53
BAB 53 : Trauma Pelecehan Di Masa Lalu
54
BAB 54 : Mencari Sebuah Bukti
55
BAB 55 : Hadiah Dari Alvaro
56
BAB 56 : Musuhku
57
BAB 57 : Memperebutkan Satu Wanita
58
BAB 58 : Sengaja Membuat Panas Elfarez
59
BAB 59 : Bintang Cemburu
60
BAB 60 : Berusaha Menguatkan Hati
61
BAB 61 : Diculik
62
BAB 62 : Upaya Pembunuhan
63
BAB 63 : Berusaha Kabur
64
BAB 64 : Tuduhan Sadis
65
BAB 65 : Diusir
66
BAB 66 : Meminta Bantuan Elfarez
67
BAB 67 : Kecemasan Elfarez
68
BAB 68 : Merasa Cemas
69
BAB 69 : Bingung
70
BAB 70 : Musuh Alvaro
71
BAB 71 : Dendam
72
BAB 72 : Bertemu Di Rumah Sakit
73
BAB 73 : Alvaro
74
BAB 74 : Pasangan Semu
75
BAB 75 : Tinggal Bersamaku
76
BAB 76 : Menangkapmu
77
BAB 77 : Berdebat
78
BAB 78 : Menikmati Tubuhmu
79
BAB 79 : Pemuas Nafsu
80
BAB 80 : Balas Dendam
81
BAB 81 : Berkelahi
82
BAB 82 : Marah
83
BAB 83 : Menghangatkan Ranjang
84
BAB 84 : Tawanan Alvaro
85
BAB 85 : Enggan Melepaskanmu
86
BAB 86 : Mengakhiri Hidup
87
BAB 87 : Takut
88
BAB 88 : Berlindung
89
BAB 89 : Tidak Ingin Memperpanjang Masalah
90
BAB 90 : Pembelaan Seorang Ibu
91
BAB 91 : Scandal Hancurnya Rumah Tangga
92
BAB 92 : Dibully
93
BAB 93 : Dalang Dibalik Kejadian Ini
94
BAB 94 : Elfarez Melepas Rindu
95
BAB 95 : Kemarahan Bintang
96
BAB 96 : Pembalasan Rasa Sakit
97
BAB 97 : Hukum Karma
98
BAB 98 : Teror
99
BAB 99 : Mediasi
100
BAB 100 : Tidak Ingin Melihat Wajahmu
101
BAB 101 : Keinginan Bersatu Kembali
102
BAB 102 : Mengobati Luka
103
BAB 103 : Kesedihan Bintang
104
BAB 104 : Butuh Bantuan
105
BAB 105 : Keinginan Laura
106
BAB 106 : Bertemu Denganmu Lagi
107
BAB 107 : Merasa Terancam
108
BAB 108 : Berusaha Melindungi
109
BAB 109 : Sidang Perceraian
110
BAB 110 : Meminta Restu
111
BAB 111 : Terkunci Di Gudang
112
BAB 112 : Bintang Sedih
113
BAB 113 : Keinginan Bintang
114
BAB 114 : Bagaikan Boneka
115
BAB 115 : Dipaksa Menurut
116
BAB 116 : Makan Malam
117
BAB 117 : Terpaksa Mencintai
118
BAB 118 : Kebohongan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!