3) Pura-pura bahagia.
Violetta mengerutkan dahi. Ia tak terima mendengar perkataan cowok yang tak dikenal itu.
Ia mendekat ke arah cowok tersebut.
Violetta Jessie
Apa Lo bilang?!
Vero Frichard
Dasar budeg!
Violetta Jessie
Lo ngatain gue?!
Vero Frichard
Iya Lo gak pakek mata kalau jalan. Memangnya kenapa?!
Violetta Jessie
Jaga mulut Lo, ya!
Violetta Jessie
Sebenarnya yang salah disini itu e-lo, udah tau becek tapi tetep ngebut!
Vero Frichard
Gue kan gak tau kalau ada jalan berlubang.
Vero Frichard
Ya jelas aja dong ketutup air hujan.
Vero Frichard
Terserah gue mau ngebut kek, pelan kek.
Vero Frichard
Bukan urusan Lo!
Violetta Jessie
Dasar gak tau diri!
Violetta Jessie
Udah salah gak mau minta maaf!
Violetta Jessie
Malah ngomel balik!
Vero mendengar omelan cewek itu. Namun, Ia berpura-pura tidak mendengarkan.
Ia lebih memilih memasang helm dikepala dan pergi menggas kendaraannya.
Perasaan Violetta tambah kesal.
Perasaan sedih Violetta menghilang, kekesalan pun datang.
Violetta Jessie
Amit.. amit jangan sampai gue ketemu sama itu cowok lagi.
Violetta Jessie
Mimpi apa gue semalam?!
Violetta masih berbicara sendiri menuju rumah.
Violetta sampai di rumah. Belum sampai Ia mengetuk pintu, Mamanya sudah terlihat tak suka.
Mama Violetta
Dari mana kamu, Vio?
Mama Violetta
Kenapa kamu bisa basah kuyup begini?
Seketika Violetta mencerna setiap pertanyaan Mamanya sendiri.
Violetta Jessie
[..Mama khawatir sama aku?..]
Mama Violetta
Kamu hujan-hujanan kaya anak kecil, tau gak?! Dasar gak tau malu !
Mama Violetta
Mama hubungi kamu, nggak kamu angkat karna kaya gini !
Violetta Jessie
Mama khawatir sama aku?
Mama Violetta
Apa kamu bilang, khawatir?
Mama Violetta
Kamu jangan salah sangka ya.
Ketus Mama Violetta berbalik arah berlalu begitu saja.
Violetta hanya bisa mematung melihat sikap mamanya yang menurut akal sangat tidak wajar.
Violetta Jessie
Gue kira Mama bakal khawatir sama keadaan gue kaya gini.
Violetta Jessie
Ternyata salah dugaan gue.
Violetta Jessie
Apa gue ini sebenarnya bukan anak mama ya?!
Violetta mendengus kesal. Ia tak tahan dengan segala penyiksaan batin dari orang tuanya.
Violetta yang basah kuyup masuk ke dalam kamar, sembari mempersiapkan semua perlengkapan terpenting.
Memasukkan semua barang-barang pentingnya ke dalam koper.
Ia memilih pergi dari rumah.
Violetta Jessie
Lebih baik gue pergi dari rumah.
Violetta Jessie
Siapa tau Mama sama Papa cari gue?
Violetta meyakinkan diri bahwa orang tuanya pasti mengkhawatirkan dirinya.
Sebelum keluar kamar, Ia memandangi ruangan kamar terlebih dahulu.
Ia teringat ketika sedih di ruangan tidur memberikan banyak kenangan.
Sejenak ia seka sisa air mata dipipi perlahan. Ia berusaha tangguh menghadapi jalan hidup yang membuatnya menderita.
Violetta Jessie
[..Vio. Lo harus kuat. Vio bukan cewek lemah..]
Violetta Jessie
[..Gue akan baik-baik aja..]
Violetta Jessie
[..Gue yakin hati Mama papa pasti berubah..]
Violetta mendorong kopernya keluar dari rumah.
Ia yakin kalau dirinya baik-baik saja dan Papa serta Mama akan datang menjemput dirinya.
Tidak lama suara bel berbunyi.
Lyana memencet bel rumah Violetta. Karena, Ia diperbolehkan masuk oleh salah satu satpam.
Lyana Kristal
[.. Tumbenan lama amat buka pintunya..]
Bibi Kia terkejut melihat teman dekat Violetta datang sudah ada di depan pintu.
Bibi Kia
Oh, mbak Vio ada kok mbak.
Bibi Kia
Silahkan masuk dulu mbak.
Bibi Kia
Iya mbak. Tunggu sebentar ya.
Bibi Kia
Mau minum apa mbak? Nanti Bi Kia buatin.
Lyana Kristal
Makasih Bi Kia, nanti aja.
Bibi Kia
Mbak lyana jangan malu-malu. Gak apa-apa kok mba.
Bibi Kia
Sekalian, bibi pangilkan Mbak Vio.
Lyana Kristal
Es teh manis aja Bi, kalau gitu.
Bibi Kia
Siap, oke mbak. sebentar ya.
Bibi Kia pergi ke kamar majikannya.
Ia mengetuk pintu tanpa ragu.
Bibi Kia
Dicari mba Lyana di ruang tamu mbak.
Bibi Kia
Ada mbak Lyana datang ke rumah.
Panggil Bi Kia sekali lagi.
Bibi Kia
[.. Mbak Vio kok gak buka pintunya ya?..]
Bibi Kia
[..Padahal suara Bibi udah kencang banget ini lho ..]
Bibi Kia
[..Apa mbak Vio lagi tidur ya? Jadi gak bisa diganggu..]
Bibi Kia curiga.. Ia berinisiatif membuka pintu kamar majikannya. Karena, tidak ada respon dari dalam kamar.
Setelah, Ia buka kamar Violetta. Bi Kia keheranan.
Dengan terpaksa ia masuk, karena takut terjadi sesuatu oleh si majikan.
Ia melihat tak ada Violetta didalam kamar.
Bibi Kia
Mbak Vio kok bisa gak ada ya?
Bibi Kia
Bukannya tadi mbak Vio habis kehujanan langsung masuk ke kamar.
Pikir Bibi Kia yang kemudian menutup kembali pintu kamar Violetta.
Lyana Kristal
[..Vio, ada gak ya di rumah?..]
Lyana Kristal
[..Apa dia belum pulang?..]
Lyana Kristal
[ Gak mungkin juga dia belum pulang?..]
Ia menunggu Violetta menghampiri dirinya.
Bibi Kia
Mbak Lyana, Mbak Vionya gak ada di kamar.
Lyana Kristal
Mungkin Vio belum datang kali, Bi?
Bibi Kia
Enggak Mbak Lyana. Bibi tau sendiri mbak Vio tadi pulang terus masuk kamar.
Lyana Kristal
Mungkin salah lihat Bibi.
Bibi Kia
Mungkin kali ya mba Lyana.
Bibi Kia menaruh minuman teh di hadapan Lyana.
Bibi Kia
Silahkan mbak Lyana, diminum dulu esnya.
Lyana Kristal
Maaf ya bi. Jadi ngrepotin bibi.
Bibi Kia
Gak ngrepotin sama sekali mba.
Lyana Kristal
[..Vio, ke mana ya jadinya?..]
Gumam Lyana bertanya-tanya.
Bibi Kia
Mbak tunggu aja disini.
Lyana Kristal
Eng-gak Bi. Nanti Lyana hubungi Vio aja kalau gitu.
Bibi Kia
Ya sudah mba minum dulu esnya.
Violetta mengasingkan diri di Apartemen pribadi yang jarang sekali ia kunjungi.
Apartemen milik hakim yang letaknya jauh dari rumah.
Violetta tengah berada di kamar sambil menatap layar laptop yang menyimpan banyak memori masa kecilnya.
Violetta menghentikan aktivitas sejenak.
Ia teringat kejadian di depan gerbang.
Gerakan tangannya terampil menanyakan Liant.
Violetta Jessie
Kenapa sih Liant nanya mulu?
Violetta Jessie
Kalah reporter.
Violetta Jessie
Liant kelihatan banget kalau khawatirin gue.
Violetta Jessie
Maaf ya Liant. Gue gak pengen ngrepotin Lo.
Violetta Jessie
Hidup gue rumit.
Violetta Jessie
Gue gak sanggup cerita ke siapapun.
Violetta mengakhiri chattingannya dengan Liant dan menutup layar laptop dan menaruh di meja.
Brilliant Julliano
Sampai kapan Lo tutupi masalah Lo ke gue, tta?
Brilliant Julliano
Gue takut Lo kenapa-napa.
Brilliant Julliano
Yang jelas gue gak akan pernah berhenti untuk jagain Lo.
Brilliant Julliano
Walaupun Lo belum sanggup cerita semuanya.
Brilliant Julliano
Gue akan menunggu Lo siap untuk cerita ke gue.
Gumam Liant sambil menatap plafon kamarnya.
Comments