💌 TERJERAT DENGAN SUAMI PALSU 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
.
Sudah satu bulan, Erland belum juga mendapatkan titik terang untuk menyelamatkan perusahaannya. Erland termenung sambil memandang ke arah luar. Pikirannya jauh melayang. Dalam diam, sesaat Erland seperti menemukan satu jawaban. Seulas senyum merekah di bibirnya. Hanya ada satu tempat tujuannya saat ini.
"Tapi apakah Bastian mau bertemu denganku?"
Erland mulai ragu, karena ia pernah menolak hubungan kerjasama dengan Bastian. Tapi tidak masalah mencoba dulu. Erland akhirnya membulatkan tekad untuk menemuinya. langsung.
Erland memacu mobilnya agar tiba di tempat tujuan. Ia memarkir mobilnya dengan baik. Sampailah Erland di depan sebuah gedung yang menjulang tinggi. Ia menatap bangunan tinggi yang memiliki interior mewah di dalam gedung tersebut. Bank ini diketahui paling terbesar di kota ini. Erland melakukan ritual menghembuskan napasnya lewat mulut. Erland akhirnya keluar dari mobil. Ia berharap semoga saja kebaikan masih berpihak kepadanya. Dengan langkah mantap Erland berjalan mendekati pria yang memakai seragam putih itu.
"Selamat sore," Erland mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. "Saya ingin bertemu Dengan Bastian Carel." Ucap Erland menyapa salah satu security yang standby di depan pintu. Ia memberikan senyum khas kepada security itu.
Pria itu menyambut tangan Erland yang berdiri tepat di depannya. "Selamat sore. Pak Bastian, baru saja pulang. Karena, malam ini beliau akan menghadiri undangan pernikahan." Ucap security itu dengan sopan.
"Heuh? Ini baru pukul 10. Dia sudah pulang?"
"Kalau begitu, saya minta alamatnya saja. Saya ingin bertemu dengan beliau." Ucap Erland dengan wajah penuh harap.
Dahi pria itu mengerut. "Kalau bisa saya tahu anda siapa?"
"Saya temannya."
"Maaf pak, saya tidak bisa memberikan alamat pak direktur kepada sembarang orang." Kata pria itu dengan wajah tegas.
"Saya bukan orang lain, saya adalah teman satu kuliahnya dulu. Jika anda menyebut nama saya, Bastian pasti mengenal saya." Ucap Erland meyakinkan pria itu
Security itu melihatnya dari atas rambut, sampai ke mata kaki Erland. Ia tersenyum kecil. "Banyak orang yang mengaku sebagai teman pak Sebastian. Tapi nyatanya mereka hanyalah seorang penipu." ucap sang security penuh kewaspadaan.
Wajah Erland mengerut dalam. "Apakah aku seperti seorang penipu? Ya Tuhan! baru ini ada orang menilaiku seperti itu."
"Saya benar-benar teman Bastian. Tolong bantu saya."
"Baiklah, saya akan memberikan alamat pak direktur. Tapi.. jika anda berani menipu, saya akan melaporkan anda." Ancam lelaki itu.
Erland mengepalkan tangannya. Ia menarik napas singkat. Ia masih berusaha meredam emosi agar tidak tersulut, mengingat ia sangat membutuhkan bantuan Bastian.
"Ambil ini!" Namun pria itu menahannya. Sehingga tangan Erland menggantung begitu saja. Erland menggeram sesaat, kemudian ia mengangkat wajahnya dan menatap pria itu. kartu nama itu belum di serahkan kepada Erland.
"Apa anda masih meragukan saya?" Alis Erland naik dari pangkalnya.
Pria itu tersenyum kecil. "Sepertinya anda tampak kesal. Tugasku hanya melindungi atasanku. Dan saya sudah di gaji untuk melakukan itu. Jadi, Jika anda berani menipu saya. Hidup anda selesai." Ancam pria itu.
Erland tetap tersenyum, walau terkesan dipaksakan. Ia menarik napasnya agar bisa meredam emosinya. Setelah perjuangan hanya untuk mendapatkan alamat itu. Kartu nama yang berisikan alamat itu sudah ada di tangannya.
Tanpa menunggu lagi, Erland langsung masuk ke dalam mobil dan membanting pintu itu dengan kuat. Erland mencengkeram setir mobilnya dengan geram. Matanya tidak lepas menatap pria itu. Dengan terburu-buru, ia menghidupkan mesin mobilnya dan memutar mobilnya dengan cepat, lalu meninggalkan security itu.
⭐⭐⭐⭐⭐
Erland berdiri dan menatap kediaman Bastian. Matanya menyapu seluruh pemandangan yang bisa terjangkau olehnya. Sudah satu jam ia berada di sini. Tapi tidak seorang pun yang mau membukakan pintu untuknya. Erland masih menunggu. Ia menyandarkan punggungnya di dinding pagar halaman rumah Bastian yang menjulang tinggi. Terkadang ia duduk jongkok dan kembali berdiri lagi. Mengintip dari pagar yang hanya di kasih lubang kecil saja.
Hari beranjak siang. Kediaman Bastian sepi seperti tidak berpenghuni. Sementara ia sudah berulangkali menekan bel. Erland segera menegakkan wajah dan matanya melihat ke dalam halaman rumah itu lagi. Erland melihat satu orang pembantu rumah tangga memakai baju khusus berjalan mendekati pos security. Dengan sekuat tenaga Erland berteriak dan menekan bell itu kembali.
“Permisi! Tolong bukakan pintu, aku ingin bertemu Bastian.” teriak Erland dengan suara lantang.
Jelas sekali wanita itu mendengarnya. Namun tak sedikit pun wanita itu menoleh ke arah pagar. Erland menunduk lesu. Wajahnya menampakkan kekecewaan namun matanya tetap masih berharap. Semoga ada yang mendengar teriakannya. CCTV jelas ada di disini. Tidak mungkin mereka tidak melihatnya. Bel saja sudah ratusan kali ditekan.
Erland melangkah meninggalkan rumah itu untuk mengisi perutnya yang kelaparan. Matahari semakin meninggi dan membakar kulit. cuaca terasa begitu panas. Seiring bertambahnya laju detak waktu langit pun semakin siang semakin membiru, tak terlihat awan berarak di sekitarnya. Kesibukan kota siang itu mulai terlihat seperti biasanya. Kendaraan berlalu lalang menebar asap yang menyesakkan. Erland tidak putus asa. Setelah perutnya sudah benar-benar kenyang, Erland kembali ke tempat kediaman Bastian.
Tiba-tiba Handphonenya berdering. Ia segera menggeser layar pipih itu ketika melihat siapa yang memanggilnya.
"Iya, Sayang?"
"Bagaimana? apa kau sudah bertemu Bastian?" Tanya sang istri di ujung telepon. Hatinya gelisah, kemarin suaminya baru menceritakan semuanya. Ia tentu saja tidak bisa diam. Ia tidak akan membiarkan jika putrinya harus menikah dengan lelaki tua seperti yang diceritakan suaminya itu.
"Doakan saja, semoga Bastian menerima pinjaman untuk kita."
"Aku sudah berdoa ratusan kali. Kau tahu sendiri, aku tidak bisa tidur memikirkan permasalahan ini."
"Hmm, aku tahu!"
"Lakukan apa saja, tapi tidak mengorbankan Yara."
"Hmmm."
Setelah memberikan jawaban. Panggilan pun langsung dimatikan oleh Erland.
Ketika matahari telah bergulir ke sebelah barat, Erland tetap dalam penantian. Raut mukanya terlihat resah. Cuaca lebih terik dari biasanya. Tak ada segumpal awan pun yang membantu menghalangi jatuhnya panas dari langit. Begitu biru, polos dan menyilaukan di atas sana. Suhu di weater pada layar Smartphonenya menunjukkan angka 38 derajat celcius. Luar biasa. Erland kembali bergegas melangkah mendekati pagar kokoh itu.
TING NONG
TING NONG
TING NONG
Erland berulangkali menekan tombol itu. Agar orang yang di dalam mendengarkannya. Ia sengaja membuat keributan.
"Bastian, aku ingin bertemu denganmu. Tolong dibuka! Aku yakin kau melihatku di CCTV ini. Tolong buka pintunya! " teriak Erland dari luar. Ia kembali mengintip dari lubang pagar. Nampak empat orang berpakaian lengkap melangkah mendekati pagar utama.
Erland tersenyum, ternyata usahanya tidak sia-sia. Suara pintu pagar dari besi kokoh itu terbuka. Lelaki tegap, lengkap berpakaian khusus langsung menghadang Erland yang ingin masuk.
"Jika Anda membuat keributan lagi. Anda saya laporkan ke pihak berwajib."
"Saya tidak buat keributan, anda yang tidak mendengar. Saya sudah beberapa kali membunyikan bel ini. Tapi tak satu pun dari kalian membukakan pagar ini."
"Kami diperintahkan langsung agar tidak membuka pintu."
Deg!
"Apa?" Dahi Erland mengerut.
"Jadi silakan pergi, tuan!"
"Saya tidak akan pergi, sebelum menemui Bastian."
"Tuan Bastian tidak ingin bertemu anda. Jadi silakan tinggalkan tempat ini."
"Saya adalah temannya. Jika anda tidak percaya, tolong tunjukkan foto ini kepada Bastian. Dia pasti mengenal saya." Erland dengan cepat mengeluarkan foto yang ia bawa dari rumah.
Mereka menatap foto itu, lalu melemparkan foto itu tepat di kaki Erland.
"Jangan buang-buang waktu. Sekarang lebih baik anda pergi dari sini."
Erland menatap tajam kepada lelaki yang membuang kartu itu. Emosinya sudah terbakar karena kegeramannya. Tidak hanya menunggu berjam-jam. Kini mereka memperlakukan Erland seperti penjahat.
"Apa yang anda lakukan?" tanya Erland mengambil foto itu.
Mereka tidak menjawab. Empat orang yang berdiri di hadapannya seperti patung yang bernyawa. Erland sudah kehilangan kesabaran. Ia memejamkan matanya beberapa detik. Lalu sepersekian detik Erland menendang bagian perut lelaki yang berdiri hadapannya.
Mereka adu jotos. Erland masih ada kekuatan untuk menghajar pria-pria itu.
"Kalian sudah membuatku menunggu lama, sekarang kalian menganggapku seperti lelaki pencuri. Rasakan ini. Aargghh..." geram Erland memberikan beberapa pukulan lagi.
Pertarungan satu lawan empat tidak membuat Erland takut. Emosi yang menguasainya mampu melumpuhkan mereka. Erland terlihat marah, kilatan emosi terpancar jelas di matanya. Ia menghajar siapa pun yang ada di dekatnya. Sehingga Erland berhasil lolos masuk ke dalam pekarangan rumah itu. Ia berlari sekuat tenaga. Namun dengan cepat pintu rumah tertutup otomatis.
Keempat pria itu langsung berlari cepat dan masuk ke dalam untuk menyeret Erland. Tubuhnya di dorong sampai tersungkur ke aspal.
"Jika anda kembali lagi, anda akan terima konsekuensinya. Ingat itu! " tegas lelaki itu memberi peringatan kepada Erland. Pintu pagar lalu tertutup lagi.
Erland tertunduk lesu. Inikah jawaban dari doanya. "Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus menyetujui persyaratan itu?" Tangan Erland mengepal kuat. Ia benar-benar putus asa.
Sementara di sisi lain.
Setelah panggilan terputus, pria yang duduk dengan angkuh dan penuh kuasa itu tersenyum smrik.
"Kau akan kembali kepadaku, Erland Wyanet!"
Pria itu semakin menyempurnakan lengkung bibirnya. Rencana yang selama ini sudah disusun begitu matang dan kini rencana itu mendekati sempurna. Keluarga Wyanet akan berada dalam digenggamnya.
BERSAMBUNG.....
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel kesembilan aku 😍
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 78 Episodes
Comments
Darisha Asley
Ini pasti rumit
2023-06-28
0
joeluphkanda
kasihan Erland,🥺🥺🥺
2023-02-20
0
Hosanna Feodora
lanjut
2023-02-07
0