Perempuan tua yang terlihat masih cukup kuat itu berdiri. Berjalan menuju jendela, dan berdiri membelakangi Gentayu yang menatap punggungnya dengan rasa penasaran yang sangat tinggi.
“Tujuah Penjaga Gerbang?” Gentayu mengulangi kata-kata perempuan tersebut menyebut nama kelompok pendekar yang disebut sebagai leluhur dari gurunya.
Kemudian Perempuan itu berbalik, berjalan mendekat lalu duduk kembali di kursi kayunya. Dia menghela nafas panjang sebelum mulai bercerita.
Tujuh Penjaga gerbang, adalah sebuah aliansi atau perkumpulan pendekar-pendekar sakti dalam rangka menjalankan sebuah misi besar bersama. Misi itu adalah mengalahkan dan menghancurkan kekuatan dari Mislan Katili, manusia terkuat di masanya yang bergelar sebagai Raja Kegelapan. Mislan Katili sendiri adalah seorang raja yang hidup dan menjadi raja dari sebuah kerajaan besar di Benua Tengah. Benua Tengah sendiri adalah sebuah daratan besar lain yang terpisah jauh dari pulau Emas Besar tempat hidup Gentayu saat ini.
Kerajaan yang dipimpin oleh Mislan Katili sebenarnya tidak terlalu besar awalnya. Kerajaan ini didirikan oleh bangsa pengembara setelah menaklukan beberapa kota di sekitar danau Mazandara, sebuah danau yang tepiannya hampir tak terlihat karena saking luasnya. Danau besar ini terletak di wilayah Benua Tengah. Karena letaknya di tepian danau Mazandara itulah, kerajaan ini dikenal juga sebagai kerajaan Mazandaran oleh orang-orang luar walaupun nama aslinya adalah kerajaan Hirkania.
Wilayahnya yang luas dengan sumber daya yang sangat melimpah membuat masyarakat kerajaan tersebut hidup makmur pada awalnya. Namun kerana perangai dasar bangsa ini yang sangat suka berperang, membuat kekayaan negara tersebut tidak dapat dinikmati oleh rakyat kerajaan. Anggaran negara selalu lebih banyak untuk membiayai perang daripada digunakan untuk meningkatkan kemakmuran rakyatnya.
Bahkan seringkali raja yang memerintah harus menaikkan pajak rakyatnya hanya untuk menutupi biaya perang. Ironisnya, perang-perang tersebut justru sering dipicu oleh keserakahan dan karakter hobi berperang para penguasa ini. Alasan memulai perangpun tak selalu masalah perluasan wilayah atau mempertahankan kedaulatan negeri. Perang sering dilancarkan hanya karena masalah sepele, semisal Putri Raja Mazandaran yang kalah cantik dari putri kerajaan lain. Rakyat kedua negara yang berseteru-lah akhirnya yang paling menderita Akibat perang itu.
Kondisi ini mengalami puncaknya saat Mislan Katili naik tahta.
Mislan Katili yang naik tahta melalui jalan merebut kekuasaan dari raja yang sah bukanlah keturunan raja ataupun berasal dari keluarga bangsawan. Bahkan dia diyakini bukan bagian dari bangsa manusia. Setidaknya, dia hadir di dunia ini melalui telur yang jatuh dari langit, bukan dengan dilahirkan seorang ibu dari hasil perkawinan laki-laki dengan perempuan sebagaimana lazimnya manusia. Itulah yang tercatat dalam naskah-naskah kuno yang bisa dipelajari dan tersebar hingga saat ini di berbagai perpustakaan di penjuru negeri.
Dalam naskah-naskah kuno itu disebutkan, saat kedatangannya ke dunia ini, langit tiba-tiba berubah gelap. Awan hitam bergumpal tebal menutupi cahaya matahari secara tiba-tiba. Angin kencang dan badai menyapu daratan diiringi hujan petir menggelegar. Lalu dari balik awan hitam di langit, meluncur bola api sangat panas berukuran raksasa dan jatuh menghantam bumi. Tempat yang dihantam bola api raksasa itu berubah menjadi kawah dan saat ini berada di wilayah Selatan Mazandaran atau Hirkania. Setelah bola api itu dingin, ternyata menyisakan telur emas yang berkilau mengundang keserakahan manusia untuk mendekat. Karena itu pulalah kemudian, tiga kerajaan disekitar Mazandaran harus musnah akibat perang memperebutkan telur emas sebesar kereta kuda yang tak henti menyala terang itu. Sudah tentu bisa ditebak, selepas musnahnya tiga kerajaan, kerajaan Mazandaran-lah yang kemudian menguasai bekas wilayah tiga kerajaan dan memboyong telur emas ke kerajaannya. Mereka tidak menyadari sedang memboyong musibah dan bencana ke dalam istana kerajaan.
Telur emas dari langit itu kemudian diletakkan di alun-alun kerajaan sebagai simbol kekayaan dan kejayaan kerajaan. Namun keanehan yang awalnya dianggap keajaiban mulai terjadi setelah purnama pertama telur emas itu berada di alun-alun kerajaan. Setiap orang yang menyentuh telur emas itu, bila memiliki penyakit maka akan sembuh seketika. Tak peduli separah apapun penyakitnya. Sedangkan orang yang tanpa penyakit, bila menyentuhnya akan mendapati tubuhnya jauh lebih kuat, bertenaga dan sehat.
Tentu saja keajaiban ini segera menjadi hal yang menarik bagi seisi kerajaan. Sejak hal itu diketahui secara luas, maka para prajurit mendapatkan prioritas menyentuh telur emas itu guna mendapat kekuatan dan menyembuhkan penyakit yang diderita. Tentu saja tujuannya adalah agar dapat segera memulai perang dengan kekuatan yang baru.
Setelah purnama kedua, keanehan lainpun terjadi. Telur itu seperti berhenti menyembuhkan dan memberi kekuatan. Telur itu justru seolah menghisap energi kehidupan warga lainnya yang belum menyentuh telur itu sebelumnya. Mereka, tiba-tiba mengalami rasa lemah tanpa tenaga. Banyak diantara mereka yang berjatuhan pingsan dijalanan. Awalnya para tabib megira sedang terjadi wabah. Namun mereka segera sadar hal itu berkaitan dengan telur emas tersebut karena para korban adalah mereka yang sama sekali tidak memiliki akses menuju alun-alun kerajaan.
Tak hanya itu, ternyata semua bayi-bayi yang sedang dikandungpun tiba-tiba lenyap di purnama ketiga, disusul dengan makin meluasnya ‘wabah’ yang membuat orang-orang kehilangan energi kehidupannya dengan tida-tiba.
Istana mulai panik. Niat untuk menyerang kerajaan lain seusai merasa para prajurit dan pasukannya bertambah kuatpun dibatalkan. Para prajurit dengan kekuatan di atas manusia normal mulai diperintahkan untuk menghancurkan telur emas yang dianggap pembawa bencana tersebut. Bukan hanya tidak bisa dipecahkan, bahkan telur itu justru semakin memancarkan energi hitam yang makin kuat setelah para pendekar sakti turut membantu.
Pada purnama keempat, Telur emas itu kemudian berubah warna menjadi hitam pekat setelah hampir separuh warga yang bermukim dan tinggal di dalam tembok kerajaan meninggal dunia dengan kondisi mengenaskan. Tubuh yang hanya menyisakan tulang berbalut kulit tanpa energi kehidupan bahkan sebelum mereka mati. Mereka mati mengering begitu saja.
Raja Mazandaran segera mengungsikan seluruh kerabat daan penghuni istana, berikut seluruh prajurit dan warga yang tersisa untuk keluar dari tembok kerajaan. Mereka mengungsi menuju wilayah timur, menuju wilayah perbatasan dengan kekaisaran Hidama.
Benua Tengah memang terdiri dari banyak kerajaan dan tiga kekaisaran besar, yaitu kekaisaran Hidama di bagian timur yang terletak di pesisir Laut dengan wilayah mencakup pulau-pulau besar di timur, Kekaisaran Huang di daratan utama, dan Kekaisaran Tatar yang menguasai wilayah deretan gunung-gunung tertinggi. Ketiganya walaupun bersaing dalam banyak hal namun selalu menahan diri untuk tidak saling terlibat perang. Selain ketiga kekaisaran, berdiri juga banyak kerajaan. Kerajaan-kerajaan tersebut sebagian menjadi wilayah bawahan kekaisaran dan sebagian merupakan negara merdeka. Mazandaran adalah salah satu kerajaan merdeka dengan wilayah hampir menyamai kekaisaran Hidama.
Sementara itu, telur emas yang kini telah berubah menjadi hitam pekat tiba-tiba retak dari dalam. Ada sinar ungu yang keluar dari retakan tersebut. Ketika retakan makin lebar, sinar ungu yang memancar juga semakin besar. Ketika telur telah pecah, nampak ada sesosok makhluk yang berdiri. Dialah si Mislan Katili.
Mislan Katili berpenampilan layaknya manusia biasa. Tubuhnya tinggi besar dan tegap sempurna. Berambut ikal dengan Kulitnya yang putih pucat serupa tulang. Tentu saja hal yang membedakannya dengan manusia biasa adalah kulit itu sangat keras dan tidak bisa ditembus senjata. Matanya yang hitam seluruhnya, makin meyakinkan bahwa dia memang bukan seperti manusia biasa.Tubuhnya memancar kekuatan dahsyat yang bahkan getaran energinya dapat dirasakan dari jarak seribu meter untuk orang awam. Tentu bagi para pendekar yang bahkan bisa merasakan getaran energi pendekar lain saat manusia biasa tak menyadarinya, pancaran energi Mislan Katili itu tentu saja bisa dirasakan dalam jarak yang sangat jauh sekalipun.
Mislan Katili melayang dari cangkang telurnya yang sudah terpecah. Saat dia keluar dari cangkang telur itu, cangkang telur tersebut menghilang lenyap begitu saja entah kemana.
Mislan Katili kemudian mendongak dan menunjuk ke langit, lalu berseru kencang...
“Kau Lihat Aku??? Ha.. Ha.. Ha.. Ha.. Ha.. Ha.. Ha.. Ha.. Ha.. Ha..! Hari ini aku akan menghancurkan kehidupan menusia-manusia di dunia ini! Ha.. Ha.. Ha.. Ha.. Ha.. Ha.. Ha.. Ha..!!”
Suaranya membahana di langit. Panacaran energi yang menyertai suaranya membuat suaranya bahkan bisa terdengar hingga radius puluhan kilometer jauhnya. Seluruh hewan yang sedang terbang di langit seolah terpaksa harus berhenti mengepakkan sayap karena ngerinya suara itu. Andai ada manusia yang berdiri di dekat Mislan Katili saat ini, melihatnya tertawa saja pasti sudah pingsan bahkan mati jantungan. Bagaimana tidak, seringainya saat tertawa menunjukkan deretan gigi-gigi yang tajam yang mengerikan. Seperti ikan hiu dalam ukurannya yang lebih kecil.
Setelah berkata demikian, mislan katili berkata lantang:
“Pasukanku, Kembali kalian!”
Saat kata-kata ini diucapkan, nun jauh di luar tembok istana, para pengungsi yang sudah terpencar termasuk para prajurit berikut kerabat dan pembesar istana tiba-tiba mematung. Tubuh mereka mendadak tidak bisa mereka kendalikan dengan akal fikiran mereka. Lalu, tubuh mereka berbalik dan berjalan kembali menuju istana, memenuhi panggilan Mislan Katili, sang Raja Kegelapan.
Butuh waktu beberapa hari sebelum gelombang pertama pengungsi dengan kesadaran yang menghilang itu tiba kembali di sitana Mazandaran. Sebulan berikutnya, seluruh pengungsi termasuk raja berikut keluarganya telah kembali ke istananya. Namun mereka kembali bukan sebagai penguasa, namun sebagai budak Mislan Katili.
Rupanya, efek penyembuh dan kesehatan dari telur emas di awal kedatangannya adalah cara untuk mengambil alih sepenuhnya tubuh manusia yang menerima kekuatannya. Sedangkan mereka yang tewas, adalah mereka yang tidak sempat merasakan khasiat telur emas tersebut.
Tentu saja masih ada banyak warga yang selamat. Mereka tidak ikut terhisap energi kehidupannya dan tidak juga kembali terpanggil sebagai budak Mislan Katili. Mereka adalah warga kerajaan di luar tembok kotaraja, termasuk para pendekar dari sekte-sekte dan perguruan-perguruan yang selama empat bulan terakhir tidak mengunjungi ibukota. Merekalah yang kemudian menggalang kekuatan untuk menghancurkan kekuatan jahat Mislan Katili dan pasukannya di kemudian hari.
Mislan Katili bersama pasukannya yang kemudian menjadi pasukan yang nyaris tak terkalahkan itu mulai menghancurkan wilayah-wilayah kerajaan di sekitar Mazandaran. Bedanya penyerangan kali ini adalah, mereka berperang bukan sekedar untuk menguasai dan memperluas wilayah, namun juga memperbudak warga yang ditaklukan. Teror dan ketakutan selalu mengiringi pasukan hitam ini dianapun bumi mereka singgahi. Karena mereka kini bahkan menjadikan membunuh bukan lagi sebagai sarana pembuktian kekuatan semata, namun membunuh sebagai bagian dari hidup. Tak peduli lagi apakah yang diserang prajurit maupun masyarakat desa biasa, bahkan bayipun akan mereka bunuh selama mereka bertemu.
Di awal kekuasaannya, Mislan Katili menggunakan para pengungsi terutama para prajurit sebagai pasukan utamanya. Pada perkembangan berikutnya, pasukan yang terdiri dari manusia tanpa kesadaran ini banyak yang mati terbunuh. Sejak itu, muncul divisi baru dalam pasukan Mislan Katili, yaitu Divisi Mayat hidup yang memburu, membunuh dan meneror tanpa ampun dan sulit dihentikan walaupun tanpa kecerdasan. Lalu entah sejak kapan, muncul divisi ketiga yang terdiri dari hewan-hewan dan makhluk aneh yang juga bergerak sebagai pasukan dan meneror manusia.
Daya jelajah pasukan ini bahkan sampai ke perbatsan dengan kekaisaran Hidama dan Huang, sehingga menimbulkan perlawanan dari kekaisaran-kekaisaran tersebut dan kerajaan-kerajaan di bawahnya. Namun kekuatan pasukan Mislan Katili yang makin besar, terutama pasukan mayat hidupnya yang dipanen dari setiap perang oleh para pengikutnya membuat kedua kekaisaran terdesak. Perlahan-lahan wilayah kedua kekaisaran dicaplok dan teror makin meluas. Pembunuhan terus berlangsung. Manusia seperti berada diambang kepunahan.
“Jadi, maksud nenek, pasukan Mislan Katili ini begitu kuat dan besar karena terdiri dari mayat dan hewan-hewan aneh?” Gentayu menyela cerita Perempuan tua itu di tengah-tengah ceritanya.
“Benar. Tapi Mislan Katili kemudian tidak lagi mengendalikan sendiri pasukan-pasukannya. Ada banyak pendekar Aliran hitam yang mengabdi dan mengambil keuntungan dari Raja Kegelapan. Mereka inilah, yang kemudian mengendalikan pasukan mayat hidup, sekaligus menciptakan pasukan-pasukan baru dari manusia yang berhasil mereka bunuh dari generasi ke generasi” Perempuan itu menjelaskan.
“Lalu, kenapa aku tidak pernah mendengar kisah ini, nenek?” Gentayu kembali bertanya dengan polosnya.
‘PLETAK!’ sebuah pukulan dari gagang sapu mampir di kepalanya.
“Aduh.. kenapa nenek memukulku?” protesnya sambil memegangi kepalanya yang benjol kemudian.
“Itu hadiah karena kau tidak mempelajari kitab yang ditinggalkan gurumu dengan baik! Kisah ini, pasti ada dalam semua kitab-kitab beladiri di pulau padi Emas selama berlemen Api. Dasar pemalas!” serapahnya kepada Gentayu.
Gentayu hanya cengengesan karena semua yang dikatakan perempuan tua ini benar adanya. Sebagai murid kelana, dia memang diwarisi salinan Kitab Matahari Emas. Kisah tentang Mislan Katili ini terdapat di bab Mukaddimah yang tentu saja tidak dibaca oleh Gentayu.
“Karena aku tahu kau tidak membacanya, maka aku menceritakan ini. Heh, kunyuk! Kenapa kau tidak bertanya bagaimana aku tahu kau tidak membaca kitabmu dengan benar, heh??” Perempuan itu kembali ngomel atas ketidaktanggapan Gentayu atas keanehan yang ditunjukkannya.
“Eh, iya... bagaimana, Nek? Bagaimana nenek bisa tahu?” dengan malu-malu dan takut Gentayu memberanikan diri bertanya.
“Tentu saja karena aku menguasai Ilmu Bulan Perak, pasangan dari ilmu Matahari Emas, bodoh!”
Jawabnya kesal. “Nanti aku ceritkan tentang diriku. Sekarang aku akan selesaikan dulu cerita dibalik liontin giok ini..”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 205 Episodes
Comments
Budi Efendi
mantap lanjutkan
2022-11-21
0
Rita Puspitasari
cerita pa sich...
2021-03-02
0
Ratmoko Ari
josssssssss
2020-09-22
1