Seorang Penyidik senior tampak mengamati luka-luka di kedua jasad korban. Robekan-robekannya dalam dan sepertinya dilakukan dengan sembarangan. Wajah korban hampir tidak bisa dikenali. Bahkan sodetan-sodetan itu sampai mengenai tulang.
"Pak, kita lanjutkan visum di rumah sakit," ucap seorang anak buahnya dengan sopan.
"Tentu Rendi, tentu. Saya hanya tidak habis pikir saja. Siapa pelakunya, ia pasti sangat membenci korban. Kejam sekali. Kalian terus cari sidik jari atau apapun itu," tunjuk penyidik senior itu pada para anggotanya. Penyidik senior itu berpangkat sersan, biasa dipanggil sersan Heri. Beberapa anak buahnya seperti mencari jarum di tumpukan jerami.
***
Hari begitu suram. Aroma Kematian masih segar membahana di kompleks perumahan itu. Orang-orang banyak berkerumun, orang-orang ramai berbincang. Tidak sedikit juga awak media datang meliput. Rumah yang jadi TKP itu pun segera diberi pembatas dan dijaga petugas.
***
Angela terbangun, hari sudah siang. Ia pun bangkit dengan enggan. Seluruh tubuhnya terasa pegal, isi dalam kepalanya terasa berat. Saat mandi kemudian, ia merasakan sedikit perih di lengan kiri saat tersiram air, mungkin hanya sedikit lecet. "Orang mabok itu ceroboh," pikirnya. Selesai mandi ia segera berpakaian. Tidak terlalu mencolok pakaian yang ia kenakan, ia tidak ingin memancing perhatian. Bagaimanapun ia sempat terkenal sebagai pemain sinetron. Kaus lengan panjang, kerudung tipis serupa selendang plus kacamata hitam ia kenakan.
Kariernya meredup seiring keputusannya mengasingkan diri. Ada sesuatu yang harus ia lakukan sendiri. Selesai melahap dua iris roti gandum dengan selai keju, ia segera menenggak jus jeruk. Angela kini tinggal di sebuah apartemen biasa di lantai 10 di sudut kota.
Selesai sarapan ia melangkah ke toko emas langganannya, ia buka sekotak perhiasan pemberian ibunya itu yang ia kumpulkan sedari remaja. Ia pikir, buat apa ia menyimpan barang-barang pemberian ibunya itu, kalo ibunya sendiri pergi entah kemana. Ia pikir, rasanya akan impas kalo ia melepaskan diri dari barang-barang yang menyimpan kenangan itu. Terlalu sakit kalo barang-barang itu tetap ada disekitarnya, ia ingin benar-benar bebas dari beban masa lalu dan ia ingin sendiri dulu.
"Tidak ada surat-suratnya, silahkan cek saja keasliannya," ucap Angela. Sebelum melaksanakan tugasnya, si penjaga toko yang sudah mengenal Angela dengan baik itu sedikit mendelik ke wajah Angela. Angela tampak pucat dan tanpa riasan wajah. Si penjaga toko itupun tidak berani mengomentari wajah Angela yang pucat pasi itu. Penjaga toko emas itupun melakukan tugasnya dengan baik dan segera kembali ke hadapan Angela dengan selembar kertas kosong dan mulai menghitung.
Angela sudah yakin dengan apa yang sudah ia putuskan. Selain sekarang ia tidak punya penghasilan yang besar. Hanya royalti yang tidak tentu jumlahnya masuk ke rekeningnya setiap bulan. Ia juga menolak semua kontrak. Sudah seminggu ini ia istirahat total. Setelah apartemen mewahnya ia jual, sedan BMW kesayangannya pun ia jual. Ia ingin menjadi Angela yang baru, pakaian-pakaian yang baru, mobil baru, apartemen baru. Andai hati dan otak bisa diganti, ia juga ingin menggantinya dan menjadi pribadi yang baru yang tersusun oleh pengalaman-pengalaman baru.
Selesai transaksi Angela berlalu dengan lemah. Baru saja uang itu masuk ke dalam tasnya yang juga baru, ia mendapati teleponnya berdering. Uang ia simpan, telepon ia buka.
Dari Gea, teman baiknya.
"Jel, buruan pulang, gue tunggu di rumah bokap Lo, gue otw sekarang yah," suara Gea terdengar tergesa.
"Apaan sih?" heran Angela.
"Pokoknya, cepetan, gue tunggu, oke?" Setelah berucap demikian, Gea menutup teleponnya dan meraih kunci dari dalam tas.
Angela jadi penasaran, ia telepon balik si Gea. Tapi tidak diangkat. Angela jadi bete. Ia malas berurusan dengan ayahnya lagi. Ia jadi berpikir keras, apa yang terjadi. Mau tidak mau ia masuk sedan dan menuju rumahnya. Firasat buruk menggelayuti hatinya, mengingat ucapan Gea tadi.
***
Gea sampai duluan dan segera berlari menuju rumah Angela. Masih ada beberapa Polisi sedang melakukan olah TKP. Gea celingukan di balik garis polisi. Seorang Polisi segera menyadari kedatangan Gea dan menghampirinya.
"Saudari putri korban?" Tunjuk polisi itu.
"Bu-bukan Pak, saya, saya temannya. Maksud saya, teman saya yang putrinya korban," jawab Gea dengan gugup. Tapi polisi itu bisa mengerti.
"Ada nomor kontaknya?"
"Ada Pak, sudah, sudah saya telepon. Sebentar lagi dia datang," jujur Gea.
Angela pun tiba. Raut wajahnya penuh dengan tanya. Ada beberapa mobil polisi terparkir dekat gerbang rumahnya juga sebuah mobil ambulans yang menyala. Angela terus melangkah. Ada garis kuning membentang sepanjang pagar rumahnya, ada Gea yang menangis di hadapan seorang polisi.
"Ada apa ini?" gumam Angela. Gea menoleh dan langsung menubruk Angela yang melongo tak tahu apa-apa.
"Yang tabah ya Jel?" ucap Gea melipur Angela.
"Ayah saya? Kenapa dia?" Angela pun turut menangis, terbawa suasana haru yang Gea berikan.
"Maaf, saudari Angela, bisa kita ke kantor sekarang-"
"Dimana ayah saya Pak? Apa? Apa yang terjadi???" pekik Angela. Tangis Gea makin lirih dan dekapannya makin erat.
Siang yang terik terasa menyengat sampai ke jantung Angela. Ia masih belum percaya, kini ia digiring Gea dan seorang polisi itu menuju kamar mayat.
Lorong rumah sakit yang sepi, hati yang sepi. Bagaimanapun ia ingin melihat ayahnya. Seperti yang polisi itu katakan, seorang anak harus melihat wajah ayahnya untuk terakhir kali. Ia pun beranikan diri, sebejat apapun kelakuan ayahnya akhir-akhir ini. Dia tetap ayahnya yang dulu suka menggendongnya dan bahkan menemaninya main boneka. Sial!, Angela jadi ingat dulu, masa-masa riang itu muncul begitu saja, masa kecil yang penuh kebahagiaan membayang di setiap langkah menuju ke kamar mayat.
Ruangan yang lembab, ruangan yang dingin mereka masuki. Sepi meliputi hati. Dua orang perawat yang datang menyambut mereka kini membuka laci besar dan perlahan membuka resleting kantung hitam yang berisi mayat ayahnya Angela itu. Angela harus siap untuk melihatnya. Jantungnya berdegup kencang. Ia sangat menyesal, semalam ia telah ketus pada ayahnya itu. Padahal ia ingin sekali menasehati ayahnya. Tapi tidak bisa, ia selalu kesulitan dan gagal untuk memulai pembicaraan serius dan dekat dengan ayahnya dan sekarang semua itu terlambat.
Satu langkah lagi ia sampai melongok jasad ayahnya. Tercium aroma aneh. Ia pikir, mungkin ini aroma formalin. Ia pun akhirnya melihat wajah dan dada ayahnya yang penuh dengan sobekan luka. Sepertinya habis di cakar cakar oleh binatang buas dan dijahit.
"Cu-cukup, cukup." ucap Angela. Gea pun turut melihatnya dan segera membenamkan diri di pundak Angela.
"Sudah, terima kasih," ucap polisi itu pada dua orang petugas kamar mayat itu. Gea membawa Angela yang lunglai, bersama polisi itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 26 Episodes
Comments
Mulya Fadiba Insung
hadir thor 👣👣👣
2021-07-22
1
༄༅⃟𝐐✰͜͡w⃠🆃🅸🆃🅾ᵉᶜ✿☂⃝⃞⃟ᶜᶠ𓆊
lanjut kk🏃♀️🏃♀️🏃♀️🏃♀️
2021-04-09
1
🎤༈•⃟ᴋᴠ•`♨♠Echa🐞Jamilah🍄☯🎧
Next thor, semangat terus yah kk
2021-04-02
1