"Sudah... jangan dipikir-pikir lagi, anggap saja ini kenang-kenangan sebelum kamu pergi. Kasihan mereka kalau tidak bisa nemuin pengganti Pak Sekdes." sela Rendi sambil menepuk bahu Ari
"Oh... jadi Kak Ari sudah mau pulang ke kota A?" tanya Ani dengan enggan
"Iya, rencananya besok mau berangkat. Jawab Ari dengan jujur. "Tapi... sepertinya harus ditunda dulu." sambungnya sambil mengedarkan pandangannya ke arah Nurul.
"Jadi Kakak mau membantu kami?" ucap Lidya dengan senyum sumringah di wajahnya.
"Iya, saya akan mencobanya." jawab Ari dengan mantap.
Nurul yang sangat bahagia mendengar keputusan Ari, akhirnya angkat bicara. Ia tak bisa menyembunyikan perasaannya. "Alhamdulillah ... terima kasih banyak Kak, sudah mau membantu kami karena sebelumnya kami sangat bingung harus minta tolong kepada siapa lagi." ucap Nurul dengan satu nafas saking senangnya.
Ari menyunggingkan senyumnya menanggapi perkataan Nurul sambil mengangguk pelan."Hmm, apa kalian sudah menyediakan materi ceramah untuk kegiatan ini? karena kalau saya yang harus_" tanyanya dengan enggan.
"Oh... kalau masalah itu kami sudah menyiapkannya dari beberapa hari yang lalu" sela Lidya dengan penuh semangat karena masalah mereka sudah beres. "Tapi .... kayaknya ada di rumah Nurul" sambungnya setelah teringat sesuatu yang dilupakan, karena seharusnya mereka membawa materi tersebut untuk diberikan kepada Pak Sekdes.
Nurul pun mengingat sejenak "oh Iya, ketinggalan di meja belajarku. Bagaimana kalau besok pagi saya akan mengantarnya?" tanya Nurul
"Boleh, masih ada 2 hari lagi kan." jawab Ari dengan santai.
"Nah... masalahnya kan sudah selesai jadi diminum dulu tehnya, mumpung masih hangat." ucap bunda Hani mengingatkan mereka karena sedari tadi mereka hanya asyik berbincang-bincang.
"He he he... Iya bunda" tawa renyah Nurul pun terdengar karena kini perasaannya sudah merasa lega, kemudian meneguk teh hangat itu ke dalam mulutnya dan diikuti yang lain.
Mereka pun melanjutkan perbincangan tentang kesibukan mereka selama mempersiapkan segala keperluan untuk kegiatan Isra mi'raj,Terkadang terdengar suara canda dan tawa dari mereka.
Setelah 30 menit kemudian, mereka bertiga pamit pulang ke rumah masing-masing namun Bunda Hani menyuruh Rendi dan Ari untuk mengantar mereka pulang.
5 menit kemudian sampailah mereka di rumah Nurul. Karena tidak ingin membuang-buang waktu, Nurul bermaksud segera memberikan materi ceramah kepada Kak Ari.
Nurul pun buru-buru masuk ke kamarnya dan mengambil materi ceramah tersebut.
Namun sayangnya, ketika ia menuruni tangga yang ada di teras rumahnya ( rumah panggung ) tiba-tiba terdengar suara...
Bruk.....
Tanpa sengaja Kaki Nurul tersandung ketika menuruni tangga rumahnya karena terlalu terburu-buru dan jatuh tepat di depan Ari. Dengan cepat Ari langsung menangkap tubuh Nurul, dan...
Cup
Ya, mereka terjatuh dan secara tidak sengaja berciuman dengan posisi Nurul yang menindih Ari. Kini perasaan mereka menjadi campur aduk antara kaget, deg-degan, malu dan salah tingkah, keduanya pun terdiam beberapa saat, dan saling menatap ke netra lawannnya.
Deg
Deg
Deg
Suara jantung mereka berdetak dengan sangat kencang, masing-masing dapat merasakan detakan jantung dari lawannya.
"Astagfirullah ..." teriak Ani dan Lidya bersamaan
Nurul dan Ari refleks mengalihkan pandangan mereka.
"Kalian tidak apa-apa kan?" tanya Rendi dengan perasaan khawatir.
"Ekh... tidak apa-apa Kak." ucap Nurul setelah bangun dari tubuh Ari, "Untung saja tadi tertutup dengan jilbab panjang ini, mudah-mudahan mereka tidak sempat melihatnya." batin Nurul
"Iya tidak apa-apa kok." ucap Ari sambil memegang bagian belakang kepalanya dan bersikap senormal mungkin, walau pun sebenarnya Dia sedang mengendalikan detak jantungnya yang seakan-akan ingin melompat ke luar.
"Ekh... ada ribut-ribut apa nih..." tanya Umi sambil berlari kecil mendekati Nurul, siapa sangka suara teriakan Ani sampai ke telinga Umi yang sedang berada di dapur.
"Tidak apa-apa Umi, hanya kecelakaan kecil saja." ucap Nurul dan berusaha menenangkan Uminya.
Untung saja cahaya lampu di teras rumahnya sedikit redup, kalau tidak mereka pasti akan melihat wajah Nurul dan Ari yang sudah merah padam.
"Iya Umi tidak apa-apa, jangan khawatir." sambung Ani sambil mengumpul kertas-kertas yang berserakan dan menyerahkannya kepada Ari.
"Kalau begitu kami pamit dulu ya Umi, Nurul." ucap Lidya sambil melihat ke arah Umi dan Nurul secara bergantian.
"Assalamualaikum ..."
"Waalaikumussalam... Kalian hati-hati ya ..." ucap Umi setelah menjawab salam mereka.
Keempatnya pun pergi meninggalkan rumah Nurul. Selama perjalanan Ari lebih banyak diam karena perasaannya yang masih campur aduk. Ya, sebagai pria dewasa ini bukan pertama kalinya ia berciuman. Tapi ini pertama kalinya ia merasakan suatu perasaan yang sulit untuk diartikan. Walaupun hanya sekejap tapi mampu membuat desiran-desiran aneh menjalar di seluruh tubuhnya dengan sangat cepat.
Bagaimana pun ia pernah berpacaran sekali, dan hal itu ia lakukan hanya karena ia sudah terlalu lelah menghindar dari Gadis yang selalu mengejarnya.
Ari pernah berciuman dengan seorang pacarnya, itu pun karena gadis yang menjadi pacarnya itu yang melakukan hal tersebut kepadanya namun rasanya tidak seperti yang ia alami saat ini.
Walau pun hanya sebuah kecelakaan namun mampu menghadirkan sebuah kesan yang sangat luar biasa di hatinya.
"Perasaan ini, mungkinkah aku sudah jatuh cinta?" bisik Ari di dalam hatinya.
Sementara itu di rumah Nurul
Di atas tempat tidur yang berukuran 90×200, berbaringlah seorang gadis remaja yang sudah 2 jam lebih berada di tempat itu namun tidak dapat memasuki alam mimpinya sekali pun ia sudah memejamkan matanya dan sesekali hanya memalingkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan.
"Perasaan apa ini?"
"Mengapa ada perasaan yang sangat aneh seperti ini?"
"Akh... bagaimana kalau teman-teman sempat melihatnya?"
"Apa yang harus aku katakan?"
Itulah sebagian dari pertanyaan-pertanyaan yang ada di hatinya.
Setelah 3 jam kemudian barulah ia bisa tertidur nyenyak karena rasa kantuk yang sudah tak tertahankan.
Di tempat lainnya, ada juga seorang Pria yang mengalami nasib yang sama seperti Nurul, namun sayangnya sampai menjelang waktu subuh dirinya belum bisa memasuki alam mimpinya.
Akhirnya Pria itu melaksanakan sholat subuh terlebih dahulu dan setelah itu barulah ia bisa tidur dengan tenang.
Keesokan harinya di Aula sekolah, tampaklah siswa-siswi yang mondar-mandir di dalam ruangan, karena hari ini mereka harus menyelesaikan segala keperluan untuk kegiatan Isra mi'raj yang akan diselenggarakan esok hari.
Sementara itu di rumah Rendi tampaklah seorang pemuda yang sedang membaca lebaran lembaran kertas dan menghapalnya dengan serius.
"Cie... cie... yang bangun kesiangan lagi sibuk nih?" goda Rendi
"Kamu bisa aja Ren, temanin aku dong"
"Lagi ngapain nih?" tanya Rendi sambil berjalan mendekati Ari
"Lagi baca materi untuk besok Ren, kamu bolehkan jadi jurinya?"
"Boleh dong... tapi aku mau ganti baju dulu, gerah nih..."
"Hmmm ..."
Tak lama kemudian mereka duduk berhadapan di balkon kamar sambil menghapal materi untuk besok.
1 jam kemudian terdengar pintu kamar diketuk
Tok-tok-tok
"Ren, Ari makan siang dulu Nak..." suara Bunda Hani terdengar dari seberang pintu kamar Rendi.
"Iya Bun, kami akan turun ke bawah," jawab Rendi
"Jangan terlalu lama ya... nanti makanannya dingin."
"Iya Bunda"
Setelah membereskan kamar, mereka turun ke meja makan dan makan bersama bunda Hani.
****
*Sore hari di Aula sekolah
Seluruh pengurus OSIS dan Panitia Pelaksana serta Guru-guru ikut berpartisipasi dalam membenahi ruang Aula sekolah, yang akan digunakan untuk melaksakan kegiatan Isra mi'raj yang akan diadakan besok pagi.
"Minum dulu Nur." sambil menyodorkan sebotol air mineral, "Biar bisa semangat lagi he he he.." ucap Lidya.
"Makasih Lid" mengambil botol air mineral, "Aninya di mana? kok nggak kelihatan?" tanya Nurul karena tidak menemukan keberadaan sahabatnya itu di seluruh ruangan
"Oh... Dia lagi ke toilet."
"Oh... kalau gitu aku pergi ke sana dulu ya ..." jawab Nurul kemudian bergabung dengan teman-teman yang lain.
Flashback Ani
"Assalamu'alaikum Ani," sapa Rendi
"Waalaikumussalam Kak, kalian berdua kok ada di sini? kangen sama aku ya? he he he" canda Ani
"Ih... kamu geer deh! " saking gemesnya Rendi pun mencubit pipi Ani.
"Aduh, sakit Kak" rintih Ani sambil memegang kedua pipinya.
"Ehem... ehem..." sela Ari
"Kata bunda kami harus datang ke sekolah dulu untuk bertemu dengan pembina OSIS kalian..."
"Oh... gitu, kirain...."
"Kirain apa An... yang jelas ngomongnya jangan digantung gitu." sambung Rendi
"Ekh..nggak Kak" jawab Ani, "Nanti dicubit lagi" gumam Ani kemudian.
"Jadi pembina OSIS nya ada di mana?" tanya Ari
"Pak Hari, ada di Aula Kak, biar aku tunjukin tempatnya, kebetulan aku juga mau ke sana. Ayo Kak." ucap Ani hanya dengan satu nafas.
"Kok aku nggak diajak?!"
"Kak Rendi kan udah tau tempatnya..." celetuk Ani.
Flashback off
5 menit kemudian mereka sampai di Aula sekolah.
"Assalamu'alaikum ... Pak" sapa Ani kepada Pak Hari yang sedang mengarahkan siswa-siswi yang sedang menata kursi plastik yang akan digunakan untuk kegiatan besok.
"Waalaikumussalam..."
"Ini Kak Rendi sama Kak Ari mau ketemu Bapak," ucap Ani dengan sopan.
"Oh Iya, kita ke ruangan guru saja biar lebih tenang." ajak pak Hari
"Iya Pak" ucap Rendi kemudian mengikuti Pak Hari dari belakang.
5 menit kemudian mereka sampai di ruang guru.
"Jadi begini Pak, ini teman saya yang akan menggantikan Pak Sekdes untuk kegiatan besok." ucap Rendi dengan sopan.
"Oh... jadi kamu, sepertinya Bapak pernah lihat, tapi di mana ya?" ucap Pak Hari sambil mengingat-ngingat sesuatu.
"Perkenalkan Pak nama saya Ari Kurniawan." kemudian menjulurkan tangannya.
"Oh Iya, saya baru ingat kamu kan juara lomba ceramah/pidato tingkat propinsi tahun lalu." ingat pak Hari sambil menjabat tangan Ari.
Ari pun hanya tersenyum dan mengangguk pelan.
"Kalau begitu saya tidak perlu khawatir lagi, saya yakin dengan kemampuan nak Ari." ucap Pak Hari dengan mantap.
"Terima kasih Pak"
"Pilihan Nurul ternyata tidak salah." gumam pak Hari dan masih bisa didengar mereka berdua.
"Karena kalian berdua sudah ada di sini, bagaimana kalau kita membantu yang lainnya di Aula." usul pak Hari.
Mereka berdua pun hanya saling memandang. "Iya Pak dengan senang hati." jawab keduanya, setelah melepas pandangan mereka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 125 Episodes
Comments
վմղíα | HV💕
up
2023-03-29
0
Mom Dian
Maaf kakak Lala koreksi yaa, onomatope tidak boleh pakai elipsis kak pakai tanda seru yaa kak karena sifatnya berbunyi nyaring.
Misalnya: Tok! Tok! Tok!
Maaf yaa kak 🙏
2023-03-22
1
linda sagita
apa kabarnya jantungmu rul?
2023-03-19
1