“Wajada..”
“Wajada..” koor para santri tingkat
Diahdapan anak-anak duduk sopan seorang gadis ayu berjilbab kuning. Hawariyah. Atau Hawa. Itulah namanya.
”Bagus, ayo sekarang buka halaman berikutnya. Bila tadi ada rangkaian tiga huruf maka
Kak Hawa sekarang mengejakan rangkaian empat huruf hijaiyah, nggak sulit koq. Siap..?”
tantang sang ustadzh.
”Siap ustadzah..!!”
”Siapa takut..” seru yang lain menggemaskan. Hawa tersenyum. Bisa saja anak
kecil-kecil itu.
”Waroqotin..” mulai Hawa dengan fasihnya, ”humazatin.. rodhofatun”.
Anak-anak dengan sigap dan tenang mencoba merangkai apa yang diperintahkan ustadzahnya.
Nampak lucu dan menggelikan.
Jam merayap pukul 5 saat para ustadz segera memulangkan para santri.
”Ustadzah hawa..” sebuah panggilan lembut menggetarkan dinding telinga Hawa
Hawa menoleh cepat.
Sosok Ustadz Farhan ia lihat berdiri tak jauh darinya, ”Ya, ada apa, ustadz ..”
jawab ustadzah Hawa datar. Ia tatap ustadz Farhan yang memanggilnya naum dalam tatapan nakal.
Ia sedikit palingkan muka sebal.
”Ndak, hanya mau ngomong kalau jilbab ustadzah Hawa bagus dan serasi dengan
orangnya...” pujinya tak canggung. Ia tak begitu peduli dengan keadaan sekitar.
”Terima kasih, ustadz. Tapi simpan saja pujian ustadz pada Mbak Aisyah..” jawab Hawa agak kesal.
Mendengar itu, wajah sang ustadz memerah malu. Kata-kata itu bagaikan
tamparan seakan diingatkan bila ia telah beristri.
Hawa segera melangkah keluar. Ustadzah Hanum telah menunggunya untuk pulang bersama.
”Maaf ustadz Farhan. Itu ustadzah Hanum sudah menunggu. Saya pulang dahulu. ” ujar Hawa
ngeles. Ia tak ingin akan ada fitnah. Ia harus segera menyingkir.
Ustadz Farhan hanya bisa pandangi gadis berjilbab kuning itu tanpa berkedip.
Ada kesal namun bercampur cinta menyeruak dipermukaan hatinya. Tapi apa daya.
Kenyataannya, kini ia telah beristri. Hatinya berkerut-kerut kacau.
Sudah 5 tahun dari pernikahannya, ia belum juga dikaruniai momongan.
Ada duka yang membebani diri. Ada gemuruh berpaling berkata dari hatinya.
Ada sebuncah ingin diluar kelaziman yang ingin ia terjang. Tapi dapatkan ia larutkan inginnya?
Bisakah hasrat itu terwujud. Itu yang kini ia pikirkan.
Seorang ustadz berpamitan pula, Hariri namanya. ”Saya pulang juga, tadz” pamitnya.
Farhan mengangguk kecil, ”Ya Har, hati-hati” ucapnya lesu.
”Sebentar..” buru farhan menghentikan langkah Hariri yang keburu melangkah.
Hariri kaget. Langkahnya yang baru beberapa langkah terhenti. Ia menoleh kebelakang.
Ia lihat ustadz Farhan tatap ia dengan ekspresif.
”Apa ustadz Farhan?”
“Aku mau tanya padamu akan sesuatu, Har”, ada senyum nakal merekah dibibirnya,
”Boleh?”
“Bila aku bisa jawab. Tak ada yang bisa aku tolak, ustadz. Tapi masalah agama apa
yang njenengan tak tahu” katanya diplomatis. Iapun merendah. Walau orang sama
tahu bagaimana kemampuan seorang Hariri, seorang jebolan UIN Kalijaga. Bahkan
kini juga meneruskan S2 di UIN Malang.
”Boleh tidakkah menurutmu bila seorang seperti aku menikah lagi?”
Hariri tersentak. Kaget tak terkira. Ia tahu bila laki-laki dihadapannya sedang tak
bercanda. Terlalu bodoh bila ia anggap demikian, sedangkan garis wajah
laki-laki itu tak nampak ada gurau. Tapi bukankah..? Ia beristri.
”Mengapa tidak, Mas. Selama tak ada yang akan terluka. Dan memenuhi apa yang Allah
syaratkan..”
Ustadz farhan mendengus. Ia tahu bila dari kata-kata itu, hanya dua kriteria yang
Hariri sodorkan. Tapi tak ada satupun mungkin yang akan memenuhinya. Apalagi
yang kedua. Walau agak paham, tetap saja ia coba bertanya mencari jawaban.
”Apa itu, Har?” dengusnya dingin.
”Adalah atau adil. Itu saja” ucap Hariri tegas,”
"Tapi ustadz farhan, bukankah Allah sendiri jawab bila manusia tak akan bisa adil
walau bagaimanapun bersikeras dan ingin adil. Maka dalam hal ini saya merasa Allah telah sedikit
melarang walau ada saja buka peluang untuk itu. Tak mudah lakukan itu sebagaimana
mudah mengatakannya,”
Ah.. kenapa harus diskusi masalah poligami. Ia saja masih jomblo. Batin Hariri berujar.
Tak adakah masalah lain yang lebih tepat. Pengembangan TPQ dan para santri misalnya.
”Tapi mengapa sampeyan tanyakan itu, Mas. Memangnya..” Hariri terhenti. Alisnya
terlihat naik. Ia tak sanggup walau hanya menduga sekalipun. Terlalu akan
menyakiti. Ia tahu hati wanita mungkin akan sakit bila dengar itu. Ia bayangkan
bagaimana bila umi’nya yang dibegitukan oleh abanya. Ia melengos.
Farhan terdiam.
Hariri tahu. Hariri sadar dengan jawaban itu.
”Sudahlah mas nggak perlu sampeyan jawab, itu urusan sampeyan. Aku tak cabut dulu..”
Belum lagi Hariri melangkah, adzan bergaung meraung dari suara Adam berpantul dalam ruang indra dengar manusia-manusia beriman. Yang merasa iman, ia akan dengarkan dan jawab,
yang setengah-setengah, maka gaung adzan itu serasa penggangu telinga.
“Sholat Maghrib dulu ayo, mas?” tawar Hariri pada Farhan.
“Kamu aja dulu. Nanti aku nyusul..” kata Farhan enteng. Gurat
kecewa nampak menyeruak jelas dari wajahnya. Jawaban yang kurang memberinya dukungan.
Hariri hanya mesem. Ia sudah terlalu paham dengan macam manusia didepannya. Sudah
empat tahun ia bergaul dengan orang itu. Ia lalu bergegas saja seorang diri
menuju shaf-shaf yang terhampar.
Dan Farhan masih saja duduk terdiam di emperan masjid menunggu iqomah.
Terlalu dalam lukisan wajah itu menancap dihatinya.
"Hawaa.... "
* * * *
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments