Semua orang akhirnya masuk ke dalam rumah. Keluarga yang sudah lama tidak bertemu itu pun ahirnya bertemu kembali. Hari ini bertepatan dengan hari kepergian Panji Maheswari yang merupakan kakek dari Amanda Maheswari.
Sudah sangat lama Bhaskara dan Panji berteman. Namun sayang takdir justru harus memisahkan mereka berdua. Panji harus dipanggil oleh Sang Maha Kuasa beberapa tahun silam karena penyakitnya yang cukup parah.
Saat mereka masih muda dulu, mereka selalu berkeinginan jika suatu saat cucu mereka akan menikah agar persahabatan mereka tidak pernah putus. Setelah sekian lama tertunda, baru kali ini keinginan itu akan dilaksanakan.
Itupun jika Gilang dan Amanda tidak menolak perjodohan mereka.
"Silahkan duduk," tawar Arya mempersilahkan tamunya.
"Terima kasih," ujar Cakra dan semua keluarganya ikut duduk diruang tamu.
"Mba, tolong ambilkan minum ya," teriak Silvia yang melihat asisten rumah tangganya saat sedang melintas.
"Baik Bu," jawab mba Marni sambil menganggukan kepalanya lalu bergegas ke dalam dapur. Disana dia membawa beberapa minuman dan beberapa makanan ringan untuk para tamu.
"Silahkan pak, bu, den, kakek," tawar mba Marni sambil tersenyum simpul sembari memberikan minuman dihadapan mereka satu persatu.
"Terima kasih mba," ucap mereka serempak.
Setelah menghidangkan minuman dan beberapa cemilan, mba Marni segera pergi lagi menuju dapur. Dia melanjutkan pekerjaannya yang tadi tertunda.
Para tamu pun meminum dan memakan beberapa cemilan ringan diantara mereka. Namun diluar dugaan, saat Gilang sedang meminum minumannya ia merasa tersedak saat melihat seseorang turun dari tangga.
Uhuk... uhuk...
"Kenapa nak? Hati-hati," ujar Risma yang mengkhawatirkan keadaan putranya sambil menepuk-nepuk punggung Gilang.
" Tidak bu,aku tidak apa-apa," jawa Gilang yang segera meletakan gelasnya diatas meja.
"Wanita itu sepertinya aku mengenalnya, bukankah dia wanita yang aku tabrak kemarin?" gumam batin Gilang saat melihat wanita yang baru saja turun dari atas tangga.
Sedangkan Amanda bersikap biasa meski ia tahu jika laki-laki yang ada dihadapannya adalah laki-laki yang menabraknya kemarin. Namun ia berusaha bersikap setenang mungkin.
"Sini nak," ajak Silvia yang segera memanggil anaknya duduk disampingnya.
"Perkenalkan ini anak saya satu-satunya Amanda Maheswari," ujar Silvia yang mencoba memperkenalkan anaknya kepada keluarga Bhaskara.
Amanda pun segera menyalami mereka satu persatu sambil berbasa-basi. Amanda merasa senang saat bisa bertemu dengan keluarga Bhaskara. Mereka semua terlihat begitu ramah.
"Cantik sekali," ujar kakek Bhaskara saat Amanda menyalaminya.
"Ah kakek, bisa aja. Terima kasih kek," timpal Amanda.
"Kakek apa kabar?" tanya Amanda saat menyalami mereka satu persatu.
"Kabar baik nak," jawab Kakek Bhaskara.
"Wah, Amanda memang cantik," puji Cakra saat Amanda berada dihadapannya untuk menyalaminya.
"Paman bisa aja," ujar Amanda yang tersipu malu karena memujinya dihadapan semua orang. Semua orang yang menyaksikan pun tersenyum. Mereka terlihat begitu bahagia.
"Mereka sepertinya akan menjadi pasangan yang serasi," gumam batin Bhaskara sambil tersenyum simpul.
"Begini, maksud kedatangan kami kemari adalah untuk meminang Amanda," ujar Bhaskara yang langsung memberitahukan maksud dari kedatangannya.
Amanda merasa terkejut saat mendengar pernyataan Bhaskara. Namun walau bagaimanapun Amanda tidak bisa menolaknya, karena Amanda tidak bisa membantah perintah orang tua.
Gilang pun yang mendengar pernyataan kakeknya merasa terkejut. Sebenarnya untuk siapa kakeknya melamar Amanda. Sebab sebelumnya tidak ada kata-kata melamar saat dirumah. Yang ia tahu kedatangan mereka kemari hanya sekedar untuk makan malam saja.
"Apakah kakek akan menikah lagi diusianya yang sudah tidak muda lagi?" gumam batin Gilang yang bermonolog. Dia seolah merasa bingung karena sebelumnya tidak ada pemberitahuan jika maksud kedatangan mereka hanya untuk makan malam biasa saja. Bukan untuk melamar seorang gadis.
Amanda pun segera menganggukan kepalanya karena ia merasa yakin dengan pilihan orang tuanya.
"Selamat Arya,"ucap Bhaskara sambil menyalami Arya.
"Selamat juga kek, bagaimana kalau kita makan malam dulu," ajak Arya yang segera merayakannya dengan acara makan bersama.
Sementara Gilang masih merasa bingung dengan semua yang terjadi.
"Sebenarnya untuk siapa kakek melamar gadis itu?" gumam batin Gilang lagi.
"Gilang, Gilang!" panggil Risma yang sejak tadi memperhatikan anaknya yang terdiam karena sedang memikirkan sesuatu.
"Eh iya bu," tukas Gilang yang baru tersadar dari lamunannya.
"Ayo kita makan, semua orang sudah berada di meja makan," ajak Risma.
Akhirnya mereka pun menyusul kakek dan juga Cakra yang sudah berada di meja makan lebih dulu. Risma dan Gilang segera duduk di meja makan untuk menikmati acara makan malam bersama.
"Silahkan dinikmati kek,jeng!" ujar Silvia yang mempersilahkan tamunya untuk makan.
"Iya terima kasih loh jeng. Maaf merepotkan begini, makanannya juga banyak sekali,"tukas Risma yang melihat banyak jenis makanan yang tersaji dihadapan mereka.
"Ah ini bukan apa-apa,"timpal Silvia merendah.
Suasana dimeja makan pun terasa hangat. Mereka begitu menikmati setiap masakan yang tersaji diatas meja makan tersebut. Beberapa menit kemudian akhirnya acara makan malam bersama itu selesai.
"Terima kasih jeng untuk jamuanya. Maaf kami sudah merepotkan," ujar Risma merasa tidak enak karena mereka diperlakukan begitu spesial.
"Iya sama-sama, semua ini bukan apa-apa dan tidak merepotkan sama sekali. Justru kami merasa sangat senang,"ujar Silvia.
Setelah pembicaraan itu selesai, akhirnya keluarga Bhaskara segera pamit dan meninggalkan tempat itu. Mereka terlihat begitu bahagia terutama kakek Bhaskara. Rasanya sudah tidak sabar bagi kakek untuk menimang cicit.
"Kenapa ibu tidak bilang jika kedatangan mereka untuk melamarku bu?" tanya Amanda yang masih merasa bingung karena kedatangan mereka ternyata bukan sekedar makan-makan.
"Ibu takut jika kamu akan menolak nak, makanya kami berbuat seperti ini," lirih Silvia.
"Tapi setidaknya ibu bisa bilang dulu kan," lirih Amanda.
"Iya nak ibu tahu, tapi ini semua adalah keinginan terakhir kakekmu nak," lirih Silvia yang tiba-tiba teringat akan ayahnya.
Melihat ibunya yang tiba-tiba bersedih membuat Amanda merasa bersalah. Tidak seharusnya ia mengatakan hal seperti itu kepada ibunya. Karena walau bagaimanapun mereka pasti ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya.
Sementara itu ditempat lain, Gilang dan keluarganya baru saja tiba dikediamannya.
"Sebenarnya kakek melamar gadis itu untuk siapa?" tanya Gilang yang sudah tidak sabar ingin mendapatkan jawaban atas pertanyaannya itu.
" Tentu untuk cucu kakek, masa untuk kakek. Mana mungkin dia mau menikah dengan kakek-kakek," jawab Bhaskara.
Mendengar hal itu membuat Gilang terkejut. Ia tidak pernah membayangkan jika dia akan menikah secepat ini. Bahkan mereka belum saling mengenal. Pernah mereka bertemu sekali, itupun tidak sengaja karena tidak sengaja bertabrakan.
"Apakah ini yang dinamakan jodoh?" gumam batin Gilang yang masih merasa bingung.
"Sudah jangan terlalu dipikirkan, kakek yakin jika Amanda adalah wanita yang baik," timpal Bhaskara lagi saat melihat cucunya seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Iya kek," jawab Gilang yang terpaksa harus mengikuti keinginan kakeknya. Karena walau bagaimanapun pilihan orang tua pasti yang terbaik untuk anaknya.
Gilang hanya bisa pasrah saat mengetahui tentang perjodohannya. Semoga kali ini Gilang bisa membuka hatinya untuk Amanda. Jika diperhatikan Amanda memang tipe wanita yang baik jika melihat keturunan dari orang tuanya.
"Syukurlah kalau kamu sudah setuju, kakek sangat bahagia untuk hari ini. Oiya kakek akan segera menyiapkan pernikahan kalian," tambah Bhaskara sesaat sebelum ia pergi.
"Tapi kek, apa tidak terlalu cepat?" tanya Gilang yang merasa bingung karena semua begitu terburu-buru.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments