Episode 3

Mengapa kau bermenung

Oh, adik berhati binggung

Mengapa kau bermenung

Oh, adik berhati binggung

****

Lagu Seroja yang dipopulerkan oleh Datuk Jamal Abdillah mengalun syahdu dari sebuah radio di warung tempat kami duduk saat ini. Seolah-olah ia menyindirku yang terus termenung sejak mendapatkan telpon dari Mas Amir.

Es teh yang segar tak menarik minatku untuk menyeruputnya, tanganku berputar-putar di bibir gelas sambil memegangi sedotan. Sungguh, hatiku gelisah tak menentu.

"May, cerita, dong. Kenapa kamu tiba-tiba jadi murung kayak gini?" tegur Rani sambil menyenggol bahuku.

Aku tak berselera, kulirik gelas di meja. Gerakan tanganku terhenti dengan malas. Tidak ada gunanya, duduk di sini tidak membuat kegelisahanku enyah.

"Iya, May. Jangan kayak gini, masih ada kita, lho, di sini. Kita siap dengerin keluh kesah kamu," timpal Tsabit penuh perhatian.

Kuhela napas panjang, kujauhkan gelas dari hadapan seraya kujatuhkan kepala di atas meja tersebut. Lelah rasanya, tak ada tenaga. Setelah aku dibuat melayang, kini dijatuhkan lagi.

"Aku nggak tahu. Baru aja ngerasa seneng sekarang udah kecewa lagi," keluhku tanpa mengangkat wajah dari meja.

"Cerita aja, May. Siapa tahu kita bisa bantu walaupun nggak sepenuhnya."

Suara Tsabit kembali terdengar, tapi aku masih diam. Mereka tak tahu aku sedang menahan gejolak di dalam hati. Mengapa suamiku plin plan sekali?

"May, sebenernya aku pengen cerita sama kamu, tapi aku takut kamu marah sama aku," ujar Rani tiba-tiba.

Mendengar itu hatiku semakin terusik, segera kuangkat wajah dan menatap Rani dengan perasaan yang kalut.

"Apa? Nggak apa-apa, cerita aja. Selama nggak macem-macem aku nggak bakalan marah sama kamu," ucapku penasaran apa yang ingin diceritakannya padaku.

Rani tampak ragu, ia melirik Tsabit yang juga menatap penasaran ke arahnya.

"Mmm ... kamu yakin nggak akan marah sama aku?" tanyanya lagi memastikan.

Ada kecemasan yang terlihat di kedua maniknya, aku mengangguk meyakinkan dia. Ia kembali menatap Tsabit, membuatku curiga. Apa yang mereka sembunyikan dariku?

"Kalian kenapa, sih? Kenapa dari tadi terus tatap-tatapan kaya gitu?" tanyaku kesal.

Kupandangi keduanya dengan tajam, Rani semakin terlihat ragu. Juga Tsabit yang terlihat meneguk ludah sambil mengusap pundaknya. Benar, sesuatu sedang mereka sembunyikan dariku.

"Sekali lagi aku minta, kamu jangan marah sama aku."

Rani menyentuh tanganku, meremasnya pelan menunjukkan kepedulian. Kulirik tangannya yang sedikit bergetar, aku percaya pada mereka. Rani tak pernah berbohong padaku, Tsabit adalah laki-laki yang jujur dan penuh kasih sayang.

Kuhela napas sebelum menepuk lembut tangan Rani, kutatap kedua maniknya untuk meyakinkan bahwa aku tidak akan marah sepahit apapun yang akan diceritakannya padaku.

Rani menghembuskan napas panjang, menunduk sejenak untuk kemudian menatapku kembali.

"Tadi, waktu aku pergi nganter murid pulang, aku nggak sengaja lihat suami kamu sama ...." Rani tak melanjutkan ucapannya, ia melirik Tsabit seolah-olah meminta persetujuan darinya.

"Apa? Sama siapa? Perempuan?" selaku sedikit emosi.

Jantungku telah berdebar menanti segala prasangka yang mulai berdatangan. Berkumpul membentuk gemuruh yang perlahan membuatku sesak.

Rani menatapku sedih, ia mengangguk pelan. Kedua matanya memancarkan ketakutan juga keraguan. Ada juga kesedihan yang ia tujukan padaku.

"Nggak mungkin!"

Kutarik tanganku dari genggaman Rani dengan cepat. Mataku memanas, kupalingkan dari mereka berdua untuk menyembunyikan kelemahanku. Tidak! Ini tidak mungkin, Mas Amir tidak mungkin selingkuh.

"Nggak mungkin Mas Amir selingkuh. Dia udah janji sama aku nggak akan berbuat macam-macam di luar sana. Nggak!" lirihku dengan lisan yang gemetar.

Kedua tanganku bergetar, mengikuti irama detak jantung yang bertalu-talu. Kakiku lemas tak bertenaga, sakit hatiku serasa diremukkan.

"Tenang dulu, May. Kita nggak tahu dia itu selingkuh atau nggak. Bisa aja itu cuma temannya, atau siapa gitu. Kita nggak tahu, 'kan," ucap Tsabit mencoba menenangkan aku.

"Nggak, Tsabit. Aku lihat pake mata kepalaku sendiri, suami Mayang merangkul perempuan itu. Kalo cuma teman nggak mungkin dia sampe kayak gitu. Mana baju yang dipake perempuan itu kekurangan bahan lagi."

Seruan dari Rani sukses menjatuhkan air dari pelupuk mataku. Kutahan agar tidak terisak, sesak dan sakit yang kurasakan di bagian dada kiri. Aku meremasnya kuat-kuat berharap rasa sakit itu akan hilang.

"Kita nggak bisa suudzon dulu, Ran. Siapa tahu itu adiknya suami Mayang. Atau keponakannya barang kali," ujar Tsabit membuka kemungkinan.

"Bener juga, ya. Aku nggak tahu soalnya," sahut Rani.

Mendengar penuturan Tsabit, aku termenung. Sedang mengeja siapa saja keponakan Mas Amir. Adiknya? Seingatku Mas Amir anak bungsu, dia tidak punya adik. Keponakan? Perempuan? Siapa?

"May, maafin aku. Coba kamu inget-inget apa suami kamu punya keponakan perempuan?" tanya Rani.

Sedang kulakukan, aku jarang diajak Mas Amir ke rumah orang tuanya karena ibu mertua tidak menyukai kehadiranku di sana. Keponakan, aku tidak terlalu ingat. Ah, mungkin Maisya? Gadis remaja yang selalu tampil seksi itu.

Kusapu air mata, kutatap Rani.

"Apa kamu lihat muka perempuan itu? Mas Amir ada keponakan yang suka pakai baju seksi, namanya Maisya. Dia anak yang manja dan suka merengek sama aku. Coba kamu inget-inget muka perempuan itu," ucapku pada Rani.

Aku menatap tajam menunggu kepastian jawabannya. Rani menatap ke atas, bola matanya bergerak ke kanan dan kiri berpikir menggali ingatan.

"Mmm ... nggak terlalu jelas juga, sih, tapi dandanannya menor. Alisnya dibuat hitam kayak ulat bulu, kulitnya nggak putih-putih amat. Rambutnya dicat pirang. Udah, sih, gitu aja," sahut Rani.

Tercenung aku mendengarnya, kemudian mendesah lega sambil terkekeh. Itu Maisya, ciri-ciri yang disebutkan Rani tadi persis seperti Maisya.

"Kenapa?"

"Dia Maisya. Ciri-ciri yang kamu sebutin tadi, sama persis kayak dia. Jadi, aku pikir itu Maisya."

Yang sebenarnya adalah aku sedang menghibur diriku sendiri. Bohong, jika aku tidak gelisah setelah Rani bercerita. Itu sangat kebetulan sekali dengan Mas Amir yang membatalkan janjinya menjemputku. Apakah hanya kebetulan semata? Ataukah memang ada sesuatu yang tidak aku ketahui.

"Ah, syukurlah." Mereka mendesah lega.

"Tapi kenapa Mas Amir batalin janjinya jemput aku? Dia bilang mendadak ada pertemuan dengan klien. Apa ini nggak kebetulan? Di mana kamu lihat mereka?"

Semua ini menganggu pikiran, aku harus memastikan kebenarannya. Apakah perempuan itu memang Maisya ataukah bukan?

"Di depan minimarket yang ada di ujung jalan ini, aku lihat mereka di sana," jawab Rani.

Itu artinya Mas Amir tadi akan menjemputku, tapi kemudian bertemu dengan Maisya yang sedang mengalami masalah. Mengapa dia bilang akan bertemu klien? Ini sangat mencurigakan.

"Kamu bilang tadi dia ada pertemuan, terus kata Rani dia sama perempuan. Ini tanda tanya besar," ujar Tsabit yang sepemikiran denganku.

"Udahlah, jangan terlalu dipikirin. Nanti kamu bisa tanya sama dia di rumah."

Ucapan Tsabit dapat aku terima. Aku akan bertanya padanya saat di rumah nanti. Semoga saja apa yang aku takutkan tidak terjadi. Ya Allah, kenapa aku gelisah sekali?

"Eh, supaya kamu nggak kepikiran terus, gimana kalo kita makan siang? Ada restoran ayam kampung yang baru buka di sekitar sini. Tenang, aku yang traktir," ajak Tsabit sambil tersenyum lembut padaku.

"Wah, asik kalo ditraktir. Ayolah, gaskeun!" seru Rani antusias.

Terpaksa aku ikuti mereka, dengan menumpang di mobil Tsabit kami pergi ke warung makan tersebut. Pengunjung begitu banyak, padahal ini bukan akhir pekan. Di depan warung ada tulisan promo, itulah yang menarik mereka untuk datang.

"Kita duduk di sana aja!" Rani menarikku pada sebuah meja kosong yang berada di pojokan, sedangkan Tsabit memesan makanan.

Aku melilau ke segala arah, menatap para pengunjung yang asik menyantap makan siang mereka. Sampai, tatapanku berpijak pada dua orang yang sedang asik saling menyuapi. Dia ....

"Mas Amir!"

Terpopuler

Comments

Sepriyanti Adelina

Sepriyanti Adelina

hadeeehhhh buaya kampung si Amir

2022-12-04

3

💘💞Ratunya Bo Qingang💕💘.

💘💞Ratunya Bo Qingang💕💘.

laki" pnghianat hrus d musnahkan dr planet bumi...😠😠😠😠😡😡

2022-12-03

1

Ia Chia

Ia Chia

Ah mantap banget mas Amir, laki model kaya gini enak nya di celup d laut biru yang ada hiu nya

2022-12-02

2

lihat semua
Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
117 Episode 117
118 Episode 118
119 Episode 119
120 Episode 120
121 Bab 121 (END)
Episodes

Updated 121 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116
117
Episode 117
118
Episode 118
119
Episode 119
120
Episode 120
121
Bab 121 (END)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!