Alvin keluar dari kamarnya dan langsung pergi ke ruang makan. Di sana, di atas meja makan sudah tersedia berbagai macam makanan. Chef Arnold, setiap harinya memang membuat banyak makanan agar Alvin bisa memilih apa yang ingin ia makan. Dan sisanya, akan di makan oleh para ART di sana, termasuk Nara.
Alvin makan seorang diri, sesekali matanya mengarah ke seluruh ruangan, namun ia tak melihat keberadaan Nara sama sekali. Mau nanya ke Pak Han pun, ia merasa malu. Akhirnya ia hanya bisa diam menikmati makanannya.
Selesai makan, barulah Alvin angkat bicara. "Suruh, Nara ke ruangan kerja saya sekarang!" ucapnya tanpa melihat ke arah Pak Han yang berdiri tak jauh darinya.
Pak Han pun menganggukkan kepalanya, "Baik, Tuan," jawabnya menunduk patuh.
Alvin segera pergi dari sana menuju ruang kerjanya. Di sana, Alvin duduk santai di kursi kebesarannya sambil menunggu kedatangan Nara. Cukup lama ia menunggu, hampir sepuluh menit. Baru setelah itu, ia mendengar ada yang mengetuk pintunya.
"Masuk," ucap Alvin dingin.
Dan setelah itu pintu pun terbuka lebar, Nara masuk dengan wajah gugupnya, bahkan ia merasa tubuhnya panas dingin.
"Tutup pintunya." ujar Alvin masih dengan wajah datarnya.
Nara pun menutup pintu itu rapat-rapat. Dan setelah itu ia menghampiri Alvin dan berdiri di sampingnya.
"Duduk di sana." Alvin menunjuk kursi yang ada di hadapan mejanya.
Nara pun hanya bisa menurut, ia duduk di kursi yang ditunjuk oleh Alvin. Ia duduk dengan tubuh yang tegak, karena sangking tegangnya.
Alvin menatap wajah Nara yang pucat, ia tau, mungkin saat ini Nara tengah takut berhadapan dengannya. Padahal Alvin juga tak mungkin membunuh Nara. Tapi kenapa wanita di hadapannya ini sampai setakut ini.
Alvin hanya diam, ia terus memperhatikan wajah Nara yang begitu cantik, bahkan kulitnya pun terlihat halus dan terawat.
"Nara," panggil Alvin lagi.
"Iya, Tuan," sahut Nara sambil menatap wajah Alvin.
Mereka pun saling bertatap-tatapan. Jika kini jantung Alvin berdetak kencang seperti orang jatuh cinta, berbeda dengan Nara. Ia berdetak kencang karena terlalu takut dan gugup.
"Aku akan memberikan kamu uang lima milliar," ujarnya tanpa basa basi membuat Nara terkejut.
"Li ... lima milliar?" tanyanya dengan terbata-bata.
"Hm ... tapi dengan satu syarat," papar Alvin.
"Syarat?" ulang Nara yang sudah berfikir yang negatif.
"Ya, kamu harus jadi istriku." pungkas Alvin.
"I ... istri?" entah kenapa, Nara menjadi gagap seperti ini.
"Iya, tapi bukan istri sungguhan. Melainkan istri kontrak. Kamu harus jadi istri aku selama tiga tahun. Gimana?" tanyanya.
"Setelah tiga tahun, apakah kita akan bercerai?" tanya Nara.
"Iya, tapi bisa lanjut jika kamu mau," sahut Alvin.
"Lima milliar, menjadi istri kontrak selama tiga tahun lamanya. Apakah saya harus hamil juga?" tanyanya.
"Tidak, tapi jika kamu mau hamil dan melahirkan anak buat aku, maka aku akan kasih kamu uang sebesar dua milliar untuk satu anak. Jika kamu melahirkan tiga anak, maka enam milliar yang bisa kamu dapatkan."
Mendengar hal itu, Nara merasa tergiur. Jika ia melahirkan tiga anak dalam tiga tahun, maka ia akan mendapatkan uang sebesar sebelas milliar. Dan ia akan menjadi seorang miliarder muda. Ia bisa membuatkan rumah yang bagus untuk orang tuanya, menyekolahkan semua adik-adiknya hingga mereka pada sukses. Ia juga bisa membuka usaha sehingga tak perlu lagi pergi merantau dan bekerja sebagai pembantu. Dan ia juga bisa membawa saudara dan orang tuanya untuk umroh bahkan naik haji. Nara juga bisa mengajak mereka semua untuk keliling dunia, pergi ke negara satu ke negara lainnya. Mencicipi semua makanan di seluruh dunia dan melihat pemandangan yang lagi trend di sosial media.
Saat Nara memikirkan itu semua, membuat ia semangat untuk menjadi istri dari majikannya itu.
"Gimana?" tanya Alvin yang melihat wajah Nara yang tengah berbinar.
"Saya mau. Tapi uang lima milliar itu, kapan akan saya dapatkan?" tanyanya.
"Saat kamu resmi jadi istriku. Uang lima milliar itu akan jadi mahar kamu dan langsung kamu dapatkan saat ijab qobul selesai di ucapkan."
"Apakah saat pernikahan, saya harus mengundang orang tua saya?" tanyanya lagi memastikan.
"Tentu, bukankah untuk seorang perempuan nikah butuh seorang wali?" tutur Alvin.
"Jadi ini nikah sungguhan?" tanya Nara lagi.
"Ya, nikah sungguhan hanya saja ada batasannya. Cuma tiga tahun."
"Apakah setelah saya menikah, saya masih harus bekerja?"
"Tidak. Kamu cukup diam di rumah dan setiap bulannya aku akan memberikan kamu uang seratus juta."
"Se ... seratus juta?"
"Iya, itu untuk biaya hidup kamu dan biaya rumah tangga kita. Tapi untuk bayar asisten rumah tangga, tetap aku yang akan menanggungnya."
"Astaga, aku mimpi apa semalam. Aku akan mendapatkan uang lima milliar dan aku juga masih mendapatkan uang setiap bulannya sebesar seratus juta," gumam Nara dalam hati.
"Gimana?" tanya Alvin.
"Saya mau, Tuan," jawab Nara dengan penuh semangat. Alvin sudah menyangkanya, jika Nara gak akan menolak, mengingat jumlah yang ia tawarkan cukup besar.
"Baik, besok aku akan memberikan surat kontraknya yang harus kamu tanda tangani. Dan selama kamu jadi istri aku, kamu gak boleh dekat dengan laki-laki manapun. Karena saat kamu nikah sama aku, maka kamu akan menyandang sebagai Nyonya Muda Sanjaya. Jadi kamu harus menjaga sikap dan tingkah laku kamu saat di dalam rumah ataupun di luar rumah. Jangan sampai kamu bertingkah yang membuat keluarga Sanjaya menanggung malu atas ulah kamu. Faham?" tanyanya dan Nara pun menganggukkan kepala.
"Faham, Tuan."
"Okay, bagus. Dan satu lagi, tidak ada yang boleh tau tentang surat kontrak itu. Cukup aku, kamu dan pengacara aku yang tau."
"Iya, Tuan."
"Lusa aku akan mempertemukan kamu dengan Mama aku. Apa kamu siap?"
"Siap, Tuan."
"By the way, umur kamu berapa?"
"Sembilan belas tahun, Tuan?"
"Sembilan belas, kamu yakin?" tanyanya. Tadinya ia fikir, umur Nara itu sudah dua pulu lima tahun dan karena awet muda, makanya terlihat seperti anak-anak remaja. Namun siapa sangka, ternyata Nara emang masih muda bahkan umurnya pun belum genap dua puluh tahun. Itu artinya ia dan Nara selisih sembilan tahun.
"Yakin, Tuan. Karena saya lulus SMA saat umur delapan belas tahun dan setelah itu saya langsung merantau ke Jakarta dan bekerja di sini. Di rumah ini pun saya sudah bekerja selama satu tahun, itu artinya umur saya sembilan belas, kan?" tanyanya dan Alvin pun menganggukkan kepalanya.
"Apa kamu mau kuliah?"
"Mau. Tapi saya tidak ada biaya," jawabnya.
"Aku yang akan membiayai semua kuliah kamu. Lagian aku kan sudah memberikan kamu uang lima milliar dan uang perbulan seratus juta, emang masih kurang? Kok kamu masih bilang tidak ada biaya?" tanya Alvin heran.
"Oh ya, saya lupa Tuan," jawab Nara tersenyum malu. Melihat hal itu, Alvin pun hanya geleng-geleng kepala.
"Tapi tenang aja, untuk uang kuliah, akan di tanggung olehku. Tapi jika kamu hamil, kamu harus mengajukan cuti saat sudah hamil besar. Gimana?" tanyanya.
"Baik, Tuan."
"Dan satu lagi, jangan panggil aku Tuan. Nanti apa kata orang, masak kita mau nikah tapi manggil Tuan, seperti pembantu dan majikan saja," sungguh Alvin kesal, karena dari tadi di panggil Tuan terus menerus.
"Tapi kan saat ini, saya masih menjadi pembantu, Tuan." balas Nara yang membuat Alvin melotot padanya. Nara yang takut pun, langsung menundukkan kepalanya.
"Hhhh ... bener juga. Tapi saat kamu menyetujui untuk menjadi istri kontrak aku, maka saat itu juga kamu sudah resmi menjadi calon istri aku atau calon Nyonya Muda Sanjaya. Jadi, jangan panggil aku Tuan lagi."
"Lalu saya harus panggil apa?"
"Terserah kamu?"
"Abang?"
"No."
"Kakak?"
"No."
"Mas?"
"No."
"Lalu apa? Kenapa semuanya, NO?" tanyanya kesal.
"Sayang."
"What!" Nara kaget sampai tanpa sadar dia mengucap kata bahasa inggris.
"Kenapa? Bukannya bentar lagi kamu akan jadi istri aku. Wajar kan jika suami istri manggil Sayang?" tanyanya membuat Nara bungkam.
"Tapi apa gak terlalu cepat manggil Sayang?" tanya Nara yang kembali gugup. Lagian apa kata-temannya sesama pembantu di sini, jika dirinya tiba-tiba memanggil Alvin dengan sebutan Sayang.
"Anggap saja latihan, biar saat nikah nanti, sudah gak gugup dan gak kaku lagi," sahut Alvin santai. Membuat Nara hanya bisa menghela nafas kasar.
"Ba ... baiklah." Nara pun tak berani membantahnya demi uang lima milliar dan uang seratus juta tiap bulannya.
"Coba kamu panggil aku 'Sayang' sekarang," pintanya.
"Sa ... sayang." Nara merasa gugup bahkan lidahnya pun mendadak kelu.
"Hhhh ... masih kaku tapi gak papa deh, semoga nantinya semakin lancar, okay."
"I ... iya."
"Dan satu lagi, jangan gugup jika ngomong sama aku, dan jangan ngomong terlalu formal. Anggap aja aku pacar kamu atau teman kamu, agar kita bisa ngobrol santai," tuturnya.
"Iya." Nara pun berusaha untuk tak terlihat gugup lagi. Saat ini pikirannya penuh dengan uang dan ia gak sabar untuk mendapatkan uang itu dan memberikannya kepada orang tuanya agar bisa memperbaiki rumah di kampung dan membeli beberapa aset di sana seperti sawah, pekarangan dan memperbaiki rumah sebagus mungkin, hingga tak ada lagi orang yang menghinanya dan yang penting, Nara ingin saudara-saudaranya itu punya sepeda motor masing-masing dan Ayahnya mempunya mobil biar saat jalan-jalan gak kepanasan.
"Oh ya, Lusa kan aku akan mengajak kamu ke rumah Mama aku. Nanti jika di tanya tentang hubungan kita, kamu mau jawab apa?" tanya Alvin penasaran.
"Saya, eh maksudnya, aku akan bilang kalau aku yang jatuh cinta lebih dulu karena melihat ketampanan kamu. Dan kamu pun membalas perasaan aku karena melihat kecantikan aku."
"Emang kamu merasa diri kamu cantik?" ledek Alvin walaupun kenyataannya emang iya, Nara cantik, bahkan sangat cantik sekali. Apalagi saat di poles, pasti akan semakin cantik bak seorang model.
"Bukannya semua wanita itu pasti cantik ya?" tanya Nara yang membuat Alvin diam. Nara ternyata pandai menjawab pertanyaan orang lain, ia tidak sepolos kelihatannya.
"Iya juga sih. Bagaimana jika hari ini kita keluar?" tanyanya.
"Keluar? Bareng?" tanya Nara memastikan.
"Iyalah, kan aku bilang 'KITA'."
"Emang mau kemana? Aku belum menyelesaikan pekerjaan aku."
"Pekerjaan kamu, biar di urus yang lain aja. Kamu bukan lagi pembantu di rumah ini, tapi calon Nyonya di rumah ini. Artinya kamu bentar lagi akan jadi majikan di rumah ini, dan kamu tidak perlu melakukan pekerjaan kasar."
"Hueft, aku jadi gak enak sama yang lain."
"Sudahlah, kamu ngapain mikir yang lain. Yang penting kan, kamu tidak merugikan mereka semua."
"Bener juga sih. Lalu kita mau keluar kemana?" Nara ternyata bisa menyesuaikan keadaan, ia sudah tak terlihat gugup sekali dan bisa ngobrol santai. Dan Alvin yang merasakan hal itu pun bernafas lega karena Nara, tidak sekaku di awal ataupun merasa takut lagi saat berhadapan dengannya.
"Ke salon, kamu harus pergi ke salon agar tampil lebih cantik. Membeli baju, dan semua perlengkapan kamu. Bagaimanapun, mulai hari ini kamu harus tampil elegant. Jadi harus pandai membawa diri dan menjaga tampilan," sahut Alvin.
Mendengar hal itu, Nara pun mengangguk setuju. Ia tau, jika sudah menjadi calon Nyonya Muda Sanjaya, itu artinya, sikap, tata cara bicara, tata cara berpakaian, dan semuanya harus mulai di ubah. Nara harus bisa menyesuaikan dengan yang lainnya agar tidak timpang saat duduk bersama mereka yang memang lahir dari sendok emas.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 65 Episodes
Comments
Anita Anita
Nara tiba2 kaya b👍
2024-01-13
0
etna winartha
mimpi apa lo nara
2023-11-28
0