Rania dengan tergesa-gesa dan dengan wajah cemberutnya dia keluar dari ruangan interview, dan saat berjalan dia tidak memperhatikan langkahnya karena menunduk, saat dia menuju arah lift diapun menabrak seseorang lelaki siapa lagi kalau bukan si William yang hendak menuju kearah ruangan interview untuk menemui Devan, sontak saja Rania terkejut begitu juga dengan William, saat William mau mengutarakan suaranya, namun terdahulu Rania.
" Makanya kalau jalan pakai mata, jangan pakai dengkul!jadinya nabrakkan huh!! Orang-orang dikantor ini membuat kesal aja.!" Ucapnya sembari berlalu dari hadapan William.
" Hah?! Yang benar saja nih cewek, masa dia yang nabrak dia yang marah, Aneh!jangan-jangan nih cewek lagi dapet kali ya, biasanya kalau seorang cewek lagi datang tamu bulannanya ya gitu tuh, emosi tingkat dewa, nggak mau salah benar terussss!" Ucap William sembari menatap langkah Rania memasuki Lift dan mata Rania sempat mendelik kearah William.
" Apa jangan-jangan dia dapat ceramah dari Bos Devan ya? Kan dia keluar dari ruangan interview, hari inikan interview pelamar baru, Bos tadikan ingin dia sendiri yang menginterview pelamar-palamar baru itu, tapi berhubung ada rapat dengan client jadi kebagian satu atau dua orang saja yang diinterviewnya." Ucap William sembari melangkah menuju kearah ruangan tersebut.
Kemudian diapun membuka pintu ruangan itu dan dia terkejut melihat Bosnya itu tidur terlentang dengan berbantalkan kedua tangannya dengan kaki kiri menopang kaki kanan.
" Bos...ada apa dengan mu Bos? Sudah bosan kah rebahan dikasur yang empuk? Sampai rela tidur dilantai ubin keramik kaya gini, inilah orang kaya yang aneh." Ucap William terkekeh, Devan hanya melirik kearah William, dan diapun langsung bangun dari rebahannya seraya mengebas-ngebaskan jasnya serta mengancingkannya.
" Rapikan Berkas yang ada dimeja itu,dan berikan pada bagian penyimpan berkas." Ucapnya hendak berjalan menuju kearah pintu.
" Bos mau kemana?"
" Aku mau menemui client sekalian makan siang nantinya." Ucapnya tidak berhenti langkahnya dan tidak menoleh sedikitpun kearah William, Wiliam berjalan menuju kearah meja yang menumpuk berkas para pelamar kerja sembari dia menggelengkan kepalanya.
" Dasar orang kaya, kalau sudah bosen jadi kaya bilang ke aku,biar aku yang akan menggantikan posisi jadi orang kaya, hehehe lumayankan jadi orang kaya dadakan." Ucapnya sembari merapikan berkas tersebut kemudian dia melangkah keluar ruangan membawa berkas itu dan saat dia mau menuju arah lift seorang Wanita menemuinya.
" Maaf pak Wil, apakah itu berkas yang tadi?"
" Iya, nih sekalian bawa ya."
" Oh iya pak, tapi maaf pak kok semuanya diserahkan ke saya? Apakah semuanya lulus seleksi?"
William mengekpresikan ketidak tahuannya dengan mengangkat kedua bahunya.
" Aku tidak tahu, karena Bos tidak mengatakannya padaku,. Aku hanya diperintahnya membawa berkas itu aja, sebaiknya simpan aja dulu, dan mungkin besok pak Bos akan memberitahukan siapa yang lolos." Ucap William dianggukkan wanita tersebut, dan mereka berdua beriringan mamasuki lift dan menuju kelantai tiga.
Setelah sampai dilantai tiga mereka berdua berpisah arah dan William menuju kearah ruangan karyawan yang lain karena kebetulan dia berada dilantai tiga, untuk mengambil beberapa berkas yang diperlukannya, sebelum sampai diruangan yang dituju dia melewati ruangan Cctv utama dan dia menengok kearah dalam, tapi tidak ada penunggunya.
" Waduh! Kenapa ruangan ini kosong? Kemana pak Yanto ya?" Ucapnya sembari berjalan masuk keruangan tersebut dan melihat semua aktifitas digedung itu.
Kemudian dia hendak berjalan keluar kembali tapi dia melihat ada keanehan di kamera Cctv nomer sepuluh, dan diapun langsung mendekati layar tersebut dan dia mencoba mengulangnya.
" Astaga?!" Ucapnya singkat dan mengamati kembali rekaman itu.
Dia tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepalanya.
" Rupanya ini yang membuat wanita tadi meradang dan marah-marah tanpa aku tahu sebabnya, dan karena ini juga pak Bos tiduran dilantai ubin keramik, mantap! Ini akan aku pinta rekaman itu dan akan aku tunjukkan pada ibunda ratu, hehehehe, akhirnya ada juga wanita yang berani melawan pak Bos dan melumpuhkannya sehingga terjadi adegan yang so sweet seperti itu hehehehe." Ucapnya sembari mematikan kamera layar nomer sepuluh, agar tidak ada yang mengetahui kejadian barusan terjadi.
Diapun langsung berbalik arah hendak keluar untuk mencari pak Yanto yang bertugas diruangan Cctv utama,dan kebetulan pak Yanto datang dengan membawa segelas kopi dan sepiring kue dari luar.
" Pak William?" Sapanya terlihat terkejut dengan kehadiran orang kepercayaan keluarga pak Bosnya itu.
" Kemana aja pak? Kan ada OB pak, kalau perlu apa aja tinggal hubungi aja, nggak usah bapak keluar, keluar boleh tapi pintu ditutup." Tegurnya pada pak Yanto.
Pak Yanto pun hanya menganggukkan kepalanya.
" Iya pak maafkan saya, lain kali saya nggak akan ulangi lagi pak " ucapnya sembari menundukkan kepalanya.
" Ya sudah, tolong pak lepaskan rekaman kamera Cctv layar sepuluh dan ganti dengan yang baru." Ucapnya.
" Siap pak..." Ucap pak Yanto langsung melaksakan perintah William dan memberikan rekaman Cctv yang diinginkan William.
" Terimakasi pak..". Ucapnya tersenyum dan dianggukkan pak Yanto.
" Ada apa ya, kok dipinta segala sih, padahalkan baru dua hari diganti, Ahch!...sudahlah yang terpenting aku tidak kena marah, salah aku juga sih karena meninggalkan ruangan tanpa ditutup." Ucapnya sembari kembali duduk dikursinya dan menikmati kopi dan kuenya sesekali dia mengamati layar-layar yang ada dihadapannya itu.
Dengan senyumannya yang hanya dimengerti William seorang, diapun melangkah keruangan yang awalnyanya ingin ditujunya, setelah mengambil berkas yang penting diapun langsung menuju kearah ruangannya yang berada dilantai tujuh.
Devan yang berada didalam mobilnya itu tidak langsung menjalankannya, dia menyandarkan tubuhnya dijok mobilnya dan kedua tangannya memegang stir mobilnya itu, matanya lurus menatap kedepan.
" Ya Tuhan...apa yang aku lakukan pada gadis itu, ini sangat memalukan, semoga saja tidak ada yang melihat kejadian itu." Ucapnya sembari menghela nafasnya dengan pelan dan saat dia menatap kearah samping kirinya dia melihat Rania yang sedang berdiri sembari menengok kiri dan kanan seperti menunggu seseorang.
Devan menatap kearah Rania dan dia terus menatap Rania tanpa berpaling sedikit pun dari Rania.
" Siapa dia sebenarnya,kenapa saat bertemu dia saat ini sangat menggetarkan hati ini, padahal awal pertama kali dijalan itu aku tidak merasa apa-apa, setelah kejadian itu perasaan hati ini bergetar melihatnya." Ucapnya bicara sendiri sembari terus melihat kearah Rania.
Kemudian datang seorang gadis menggunakan motor menghampiri Rania, dan terlihat Rania tersenyum lalu diberikan sebuah helm padanya, terlihat juga Rania memakainya beberapa saat kemudian Rania meninggalkan depan kantor Devgroup.
Mata Devan terus menatap kepergian Rania bersama temannya itu, kemudian dia dikejutkan suara dering ponselnya, dan seperti biasa dia menjawab secara otomatis dengan si pemanggil, beberapa saat berbicara diapun langsung melajukan kendaraannya dan meninggalkan halaman parkir kantornya itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 75 Episodes
Comments
Ana
cieeee devan tertarik nih sama rania 😁😁😁
2022-11-08
0
budane daffa
di tunggu kelanjutanya lagi
2022-11-08
0
🍊𝐂𝕦𝕞𝕚
William kamu cerewet juga ya ☺️☺️
Rania kamu memang bikin resah bapak boss Devan 😊😊😊
apa yang kamu rasakan sepertinya berbanding terbalik dengan apa yang Rania rasakan Dev 😁😁😁😁
2022-11-08
1