“Pak Richard, ini sistem operasinya yang lagi eror sejak kemarin, Pak,” kata Vani pegawai perpustakaan sambil menunjukan laptop ke arah Richard.
“Pak.. Pak Richard.” Vani mengulang panggilannya karena Richard masih dengan tatapan iba ke salah satu sudut ruangan tersebut.
“Hm. Kenapa memanggil saya, Bu?” tanya Richard kaget.
“Bapak sakit? Wajah Bapak lesu begitu,”
tanya Vani khawatir.
“Saya baik-baik saja, Bu. Ada keperluan apa memanggil saya. Saya lagi ada kelas sekarang,” jawab Richard.
“Oh begitu. Ini Pak masalahnya,” jawab vani sambil menunjukan laptopnya.
“Laptopnya saya bawa, Bu. Saya akan memperbaikinya di ruangan saya sambil memantau siswa saya yang lagi kuis. Permisi.” Richard beranjak pergi tanpa mempedulikan Vani yang masih ingin berlama-lama dengannya.
Vani sudah lama memendam rasa dengan Richard. Semua bermula sejak Richard berkunjung ke perpustakaan untuk meminjam buku. Richard yang tampan dan mempunyai gelar yang jarang orang miliki membuat Vani jatuh hati padanya. Namun Richard masih tetap dingin dan bersikap acuh tak acuh kepadanya. Vani bertekad akan mencari segala cara agar Richard dapat menemuinya di perpustakaan dan mengambil hatinya.
Sambil menyusuri lorong menuju ke ruangannya Richard masih dengan wajah sendu memikirkan apa yang dilihatnya di perpustakaan tadi.
Seorang gadis yang sejak lama diam-diam diamati oleh Richard sedang menangis tak karuan di perpustakaan. Beberapa siswa menegurnya namun tidak dihiraukannya. Dalam benaknya menyalahkan diri sendiri karena sudah membuat gadis itu sedih sampai menangis sejadi-jadinya. Richard menarik napas panjang lalu menghembuskannya berusaha mengusik rasa gusar di dada sebelum memasuki ruangannya.
Ketika duduk di ruangannya, Richard membuka laptop yang di berikan Vani kepadanya untuk diperbaiki sistem operasinya. Ketika berusaha memperbaiki laptop tersebut lagi-lagi konsentrasi Richard terganggu. Pikirannya teringat dengan apa yang dialami Yuni. Berusaha menganalisa masalah yang sedang dialami Yuni. Richard yakin masalah yang dihadapi Yuni bukan karena dirinya diusir dari ruangan kuliahnya tapi juga masalah lainnya. Teringat memori dua tahun lalu.
Flashback On
Sore itu Richard ingin menghabiskan waktu santainya untuk menikmati senja. Maka berangkatlah dia menuju sebuah pantai di batas kota. Sudah menjadi kebiaasaanya sejak SMA untuk menikmati senja. Senja menjadi inspirasi baginya di kala jenuh dan saat mendapatkan masalah. Senja menjadi waktu yang pas untuk berpikir karena suasananya sepi hanya hati yang sedang meronta dan alunan ombak yang menderu.
Sesekali dia melihat keadaan sekitar. Ada sepasang anak muda yang berjalan beriringan, ada satu keluarga yang sedang berenang, ada sekelompok anak muda yang bercanda ria sambil memainkan gitar.
Seketika matanya terhenti di sebuah lopo, seorang gadis berambut hitam panjang dan berhidung mancung sedang bernyanyi sambil memainkan gitar. Gadis itu dengan sepenuh hati menyanyikan lagu It Will Rain miliknya Bruno Mars yang samar-samar di dengar oleh Richard. Selain memiliki paras yang cantik gadis itu bersuara merdu dan pandai memainkan gitar. Nada demi nada dimainkannya, seolah-olah menjadi pengantar sang surya menuju peraduan malamnya. Dalam batin Richard menerka-nerka suasana hati gadis itu. Senja yang begitu indah mengapa gadis itu bernyanyi dengan nada sedih. Richard mengambil handphonenya lalu memotret gadis itu.
Flashback off
“Permisi, Pak. Ini hasil kuisnya sudah saya kumpulkan seperti permintaan Bapak tadi," kata Rangga sebagai ketua tingkat.
"Makasih,” jawab Richard kaget.
“Kalau begitu saya pamit, Pak,” ucap Rangga lalu melangkah ke luar ruangan milik Richard.
“Rangga, bagi yang tidak ikut Kuis tadi, kesempatan sampai jam 10 malam ini. Kabarkan ke teman-teman kamu,” ucap Richard sebelum Rangga menghilang di balik pintu ruangannya.
“Iya, Pak.” Rangga kembali melangkah keluar ruangan dan merasa aneh kepada dosennya hari ini. Karena biasanya Richard tidak pernah memberikan kesempatan kepada mahasiswanya.
🌼🌼🌼
Aty memasuki ruang perpustakaan untuk mencari Yuni sekaligus mengajaknya makan karena sekarang lagi jam istirahat. Tidak membutuhkan waktu lama untuk menemukan Yuni karena Aty mengetahui tempat favorit Yuni untuk menghabiskan waktunya di perpustakaan. Walaupun lebih banyak digunakan untuk tidur daripada membaca buku. Kemudian Aty berjalan mendekati Yuni dan membangunkannya. Namun niatnya terhenti karena melihat mata Yuni yang sembab dan beberapa buku yang sudah basah karena air matanya.
“Yun..” panggil Aty lembut sambil menepuk bahu Yuni pelan.
“Ngghh..nnggh.” Yuni menggeliat namun belum membuka matanya.
“Yuni.. ayo makan," ajak Aty kembali menepuk bahu Yuni.
“Aty, jam berapa sekarang?” tanya Yuni masih dengan nada khas bangun tidur.
“Jam satu, Yun.. kamu kenapa? Apakah gara-gara Goblin tadi?”
“Salah satunya sih. Tapi ya sudahlah. Toh salah gue juga kan.”
“Salah satunya? Kok mata Lo sampai bengkak gitu. Ada apa, Yun?”
“.......”
Air mata kembali menetes di pipi Yuni.
“Yun... Everything is gonna be okay.” Aty memeluk Yuni untuk menenangkannya.
“Ty, dia permalukan gue kemarin depan umum dan banyak orang. Malu banget gue,” ucap Yuni dipelukan Aty.
“Dia lagi dia lagi. Yun, dari dulu kan gue udah bilang. Dia nggak baik buat Lo.” Aty dengan nada membujuk.
“Iya, Ty. Sudah gue mutusin dia kemarin. Tapi hati gue masih sakit, Ty. Dua tahun kita sudah bersama.” Lagi-lagi Yuni meneteskan air mata.
“Yun.. sesulit apapun jika takdirnya milik Lo, pasti Tuhan mudahkan jalannya. Tapi jika bukan takdir Lo, pasti Tuhan akan kasi dengan cara lain yang lebih baik,” jawab Aty puitis.
“Iya, Ty. Makasih yah selalu ada buat gue,” jawab Yuni merasa terhibur dan membereskan buku-buku di atas meja.
“Iya, Yun. Lo juga selalu ada kok buat gue. Sahabat gue kan Lo doang,” jawab Aty sumringah.
“Iya juga yah. Kalau dipikir-pikir sahabat gue juga cuma Lo doang, ” jawab Yuni sambil tertawa yang menampakan giginya namun senyum itu terasa aneh di mata Aty karena mata bengkak Yuni tidak selaras dengan senyumannya.
“Lo seketika seperti orang Korea, Yun,” kata Aty menampakan wajah serius.
“Oh ya? Gue tahu lanjutannya dari kata-kata Lo.”
“Apa coba?”
“Seperti orang Korea yang sama ke pupuk urea kan.”
“Pupuk urea apaan, Yun? Lo itu cantik ditambah mata bengkak Lo itu seketika jadi orang Korea. Lagian kata pupuk urea itu Lo dapat dari mana sih?”
“Dari meme di sosmed. Anak-anak di kompleks apartemen gue biasa ganggu pakai meme itu ke gue.”
“Baru tahu gue. Makan yuk. Lapar banget,” ajak Aty .
“Ayo. Tapi ke kamar mandi dulu basuh muka.”
Keduanya menuju ke kamar mandi perpustakaan. Dalam hati Yuni kembali merenungi nasibnya.
Tuhan mengijinkan kita mengalami titik-titik terendah dalam hidup untuk mengajarkan kepada kita pelajaran yang tidak bisa kita pelajari dengan cara lain, batin Yuni optimis.
🍁🍁🍁
Jangan Lupa Tap Jempol, Vote dan Rate yah
I Love You❤
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 66 Episodes
Comments
Li Na
suka diksinya seakan nyata
Tetap semangat Yuni.😍
2020-06-29
1
Isu💟THY
mampir y...
2020-06-27
1
.
mampir yah Thor 🤩
2020-06-26
1