Hari itu setelah jam sekolah usai, seperti biasa Riko hendak pulang dengan motor kesayangannya. Tetapi di sepanjang perjalanan pulang, ia melamun dikarenakan banyak hal yang tiba-tiba muncul di benak Riko, seakan menganggu fokusnya dalam berkendara. Sadar melamun dalam berkendara dapat mengakibatkan kecelakaan serta bahaya lain yang mungkin bisa mengancam keselamatannya dan orang lain, Riko pun beberapa kali berhenti guna untuk mengembalikan fokusnya saat berkendara.
Saat sedang berhenti sejenak di pinggir jalan guna untuk mengembalikan fokus, Riko masih saja melamun. "Sekarang masa hukumanku dari Kak Julian telah usai, harusnya dia tak punya alasan lagi untuk menindas dan memanfaatkanku" Ucap Riko dalam hati sambil menghela nafas panjang. Karena belakangan ini uangnya banyak terpakai untuk menraktir Julian beserta teman-temannya. Bahkan karena itu, Riko jadi mengkesampingkan kepentingan pribadinya.
Apalagi keadaan diperburuk dengan hpnya yang dicuri sehari sebelum hari pertamanya bersekolah di sekolah itu, dan dompetnya yang hilang entah kemana. Riko hanya bisa melapangkan dada, ia percaya di balik nasibnya yang belakangan ini selalu apes, Tuhan pasti telah menyiapkan sesuatu hal besar untuknya. Ia sangat meyakini hal itu.
Dan entah kenapa semenjak sehari sebelum Riko bersekolah di sekolah itu, setiap malam ia selalu memimpikan orang yang sama, yaitu Dinda alias si gadis manis. Setiap bangun pagi dari tidurnya di benak Riko di penuhi tanda tanya, mengapa si gadis manis selalu datang di mimpinya? Seolah ada hal besar yang akan ia bawa ke kehidupan Riko, apakah hal itu adalah hal yang membahagiakan? Atau malah hal yang menyedihkan?
"Ahh aku harus berpikir positif, karena aku percaya hal apapun yang aku pikirkan baik positif maupun negatif, besar kemungkinan hal itu juga yang akan terjadi" Katanya dalam hati. Ia mesugestikan dirinya ke arah yang positif.
"Tolong tolong!!" teriak seorang gadis kencang yang sontak menyadarkan Riko dari lamunannya. Terlihat disebrang jalan dengan jarak beberapa meter, seorang gadis dengan seragam SMP di ganggu beberapa orang preman. Riko tak tinggal diam dan langsung bergegas ke arah gadis yang di ganggu preman itu. "Woii jangan ganggu dia! " Bentaknya ke preman preman itu. "Haha anak kecil bisa apa? Jangan sok jadi pahlawan kesiangan, pergi sana minta susu sama mamamu dek! " Saut salah satu preman yang menanggapi Riko dengan ledekan.
Ketika perhatian preman-preman itu teralihkan oleh Riko, si gadis SMP memanfaatkan situasi dengan berlari dan berlindung dibelakang Riko sembari memegangi baju belakangnya. Sambil gemetaran ia berkata terhadap Riko "kak kabur aja yuk, mereka preman, pasti berbahaya". " Tenang aja dek, kamu aman kok sekarang. Aku akan memberi mereka pelajaran! " Ucap Riko dengan rasa percaya diri yang tinggi. Mendengar perkataan Riko yang percaya diri dan seolah meremehkan mereka semua, para preman itu naik pitam dan mulai bertindak anarkis terhadap Riko.
Riko percaya diri, bukan tanpa sebab. Di umurnya yang masih terbilang muda, Ia merupakan ahli salah saru aliran bela diri dengan sabuk hitam yang termuda. Di banding preman-preman yang biasanya hanya unggul dalam postur tubuh saja, tentu Riko lebih di unggulkan disini jika berbicara soal kemampuan bertarung. Setelah mengisyaratkan si gadis SMP untuk menjauh dan mencari tempat aman, Riko pun menghajar preman-preman itu dengan sangat mudah, hingga para preman berlarian layaknya anak kecil yang sedang ketakutan.
"Wah kakak keren sekali, terimakasih banyak ya kak telah melindungi ku dari para preman tadi" Ucap si gadis dengan seragam SMP itu sambil memeluk erat tubuh Riko. "Iya sama-sama dek, lain kali lebih hati-hati lagi ya. Jangan pulang sendirian, daerah sini rawan kejahatan" Saut Riko sambil tersenyum ramah. "Iya kak, oh iya namaku Sinta. Kakak siapa? " Imbuh si gadis lagi sambil menjulurkan tangannya dengan semangat ke arah Riko. "Aku Riko dek" Saut Riko singkat.
Dinda alias si gadis manis yang pulang sekolah dengan menumpang taksi, tak sengaja melihat adegan Riko di peluk tadi. "Dasar play boy, bisa-bisanya pelukan di depan umum dengan gadis SMP! " Ucapnya dalam hati.
Keesokan harinya, adalah hari pertama Riko yang terbebas dari hukuman Julian di sekolahnya. Hari-harinya pun terasa semakin menyenangkan disekolah itu. Pasalnya selain melaksanakan kewajiban belajar sebagai seorang siswa, ia juga hanya perlu fokus kepada Dinda si gadis manis.
Pagi itu Riko baru tiba disekolahnya, ia berjalan dari area parkir menuju ke gerbang sekolah sembari memikirkan kira-kira srategi seperti apa yang ia butuhkan untuk meluluhkan hati si gadis manis, hingga ia berjalan dengan melamun. Banyak mata cewek-cewek memandanginya seolah menggoda tapi terabaikan begitu saja.
"Riko" tiba-tiba terdengar suara lembut Dinda sama-samar memanggilnya dari arah belakang, Itu kali pertama si gadis manis memanggil nama Riko disekolah seolah mengundangnya untuk berbincang-bincang. Tapi Riko tak menoleh walaupun ia mendengar panggilan itu, bukannya apa-apa, ia hanya tak percaya gadis yang ia cintai dan selalu berusaha menghindar darinya mau memanggil namanya. "Riko Riko!!" Panggilan yang tadinya samar kini terdengar semakin keras menandakan panggilan itu nyata bukan halusinasi Riko semata. Riko pun menoleh, "Kamu budek atau gimana?, dari tadi aku panggil gak noleh-noleh" tanya Dinda kesal, "eh sorry Din aku gak dengar, ada perlu apa? Kok tumben? " Riko penasaran dengan alasan Dinda yang baru kali ini mau mengawali percakapan dengannya.
Dinda tiba-tiba membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah dompet. "Ini punyamu kan? " Tanya Dinda lagi sembari memberikan domet itu. yuupss itu adalah dompet Riko yang beberapa hari lalu hilang, entah bagaimana ceritanya kini dompet itu kembali dengan gadis yang Riko cintai sebagai perantaranya. "Wahh iyaa, kok bisa ada di kamu?" Tanya Riko yang semakin penasaean, ia tak bisa menyembunyikan perasaan senang bercambur lega yang hebat dalam hatinya. Pasalnya banyak surat dan hal-hal penting lain yang ada di dalam dompet itu, ditambah lagi yang menemukan dan mengembalikan dompetnya yang hilang adalah orang yang belakangan ini selalu ia pikirkan. Bisa dibayangkan seberapa bahagianya dia.
"Iya aku nemu di bawah meja kantin" Jawab Dinda singkat lalu langsung menuju ke kelas meninggalkan Riko yang belum sempat mengucapkan terimakasih sendiri disana. sebenarnya Dinda tak langsung pergi dari hadapan Riko begitu saja, ia pergi karena melihat Riko bengong dengan mata yang berbinar. "Dasar cowok play boy aneh!" Katanya dalam hati.
"Hii Riko" Sapa Lia yang menyadarkan Riko dari bengongnya, "eeh hi Lia, Dinda mana?" tanya Riko bingung melihat Dinda yang tiba-tiba hilang dari hadapannya, "hah kok nanya Dinda sih? Ya mana aku tau" Jawab Lia kesal dengan respon Riko yang tiba-tiba menanyakan Dinda, "tadi aku ngobrol dengannya disini, udah ngilang aja tuh orang" Ujar Riko, "ohh gitu, daripada ngebahas Dinda mending kita langsung ke kelas aja yuk, ntar telat lo" ajak Lia, mereka pun bergegas menuju ke kelas mereka, sambil berbincang-bincang di tengah perjalanan.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments