Keke masuk ke dalam kamar, ambil bingkai foto yang ia letakan di atas meja kecil. Foto yang masih mengenakan pakaian putih abu-abu, saat berdua bersama Tara selalu ia bawa ke mana-mana.
Selama ini Tara selalu memperhatikan dirinya, dimana ada Keke disitu ada Tara. Lalu apa artinya semua ini? itulah pertanyan Keke.
Keke selama ini mengartikan bahwa Bumantara mencintai dirinya, tapi nyatanya Tara justeru menikah dengan wanita lain.
Sedih, kecewa, itu yang dirasakan Keke saat ini. Ia meletakkan bingkai kembali lalu berjalan ke ranjang telungkup di tempat tidur. Ia menangis di atas bantal flashback masa-masa indah bersama Tara, tapi kini semua tinggal mimpi.
********
"Maaf ya Bang, badanmu sampai kecapek-an begini," ucap Bulan memijit pelan kaki Tara, kasihan melihat suaminya yang tampak lelah bersandar di tembok padahal saat ini sudah dini hari.
"Nggak apa-apa, justru aku yang minta maaf, gara-gara aku, tempat tidur kamu jadi runtuh" jawab Tara. "Sekarang tidur saja, yuk,"
"Iya Bang,"
Tragedi runtuhnya tempat tidur membuat keduanya bekerja sama membereskan kayu membawanya ke luar kamar. Belum lagi menyapu, mengepel, membuat mereka berdua kelelahan.
Ia terpaksa tidur di lantai menggelar kasur lepek, malam pertama mereka pun gagal total.
Keesokan harinya masih dalam keadaan gelap, Bulan sudah bangun lebih dulu, menimba air mengisi tiga ember hingga penuh kemudian mandi.
Setelah berpakaian rapi ia kembali ke kamar menjalankan shalat subuh. Bulan berniat membangunkan suaminya mengajak shalat bersama, tapi Tara masih meringkuk menutup tubuhnya dengan selimut hingga kepala. Bulan tidak tega, lebih baik sholat sendiri.
"Dingin..." rintih Tara badanya tampak bergetar karena menggigil.
"Kenapa Bang," Bulan saat sedang melipat mukena melihat Tara yang tidak baik-baik saja, ia cepat-cepat menghampiri lalu membuka selimut.
"Kepala aku pusing, Lan," ucapnya lirih.
Bulan menempelkan punggung tangan ke dahi. "Ya Allah... Abang panas sekali, ini pasti gara-gara Abang tidur di lantai."
"Sebentar Bang," Bulan berlari ke dapur.
"Kenapa Bulan? kok kamu lari-lari?" tanya Fatimah saat mereka berpapasan.
"Bang Tara badanya demam Bu," jawab Bulan kemudian ambil langseng yang di gantung memasak air.
"Ya Allah... kemarin tidak apa-apa. Apa karena makan masakan kita, terus nggak cocok ya Bul," Fatimah merasa khawatir.
"Kayaknya bukan itu masalahnya Bu, semalam kami tidur di lantai, mungkin Abang masuk angin,"
Bulan menuang air hangat ke dalam baskom.
"Tidur di lantai? Memang kenapa?" tanya Fatimah memandang Bulan dengan kening melipat.
"Tempat tidur aku roboh Bu, itu kayunya, kami tumpuk di situ," Bulan menunjuk tumpukan kayu.
"Astagfirlullah... apa suara tadi malam itu Bul?"
Bulan mengangguk kemudian membawa baskom dan sapu tangan ke kamar.
"Bang" ucap Bulan kemudian membuka selimut penutup kepala Tara lalu menempelkan sapu tangan di keningnya berulang-ulang, hingga panasnya turun.
Bulan kembali ke dapur mengangkat air panas yang ia tebus tadi untuk mandi Tara. lalu ia bawa ke sumur menuangkan ke dalam ember. Seperti tidak ada rasa lelah, Bulan mondar-mondar kesana kemari.
"Bangun Bang, Abang mandi dulu, terus shalat subuh," titah Bulan.
"Dingin Lan," lirih Tara.
"Pakai air hangat Bang, sudah aku siapin, mandi dulu terus aku mau daftar ke puskesmas,"
"Nggak usah mandi," rengek Tara seperti bocah kecil.
"Iihh... Abang... harus mandi wajib," Bulan malu- malu.
"Kan tadi malam nggak jadi Lan," jawab Tara memelas.
"Jangan banyak tanya, sekarang aku bantu ke belakang," Bulan menutup pembicaraan kemudian memapah suaminya ke kamar mandi.
Di belakang masih gelap karena baru jam lima, tidak ada pendar selain lampu 5 watt untuk menerangi kamar mandi. Sebenarnya tidak bisa di sebut kamar mandi, hanya sebuah kontak di kelilingi kayu tanpa atap, jika musim hujan tentu harus memakai payung.
Di kamar mandi sudah ada kursi peranti duduk yang di siapkan Rembulan khawatir suaminya tidak kuat berjongkok.
"Duduk sini, ini air hangat nya," Bulan menyerahkan gayung.
"Lan... mandi'in, aku nggak kuat." Tara menatap Bulan menghiba.
"Apa?!" Bulan melotot kaget. "Ihh! Yang benar saja Bang, masa di suruh mandi'in, sih!" gerutu Bulan.
"Bulan... please... tanganku nggak kuat memegang gayung," ujar Tara manja.
"Cek! si Abang, ada-ada saja, deh!" Bulan terpaksa menurut.
"Sekarang Abang wudhu dulu pakai air dingin," Bulan membantu Tara wudhu di padasan, setelah membuka lubang kecil untuk pancuran air.
Tara kemudian membuka kaos dan celana hingga tubuhnya polos.
Bulan menutup mata.
"Sudah Lan, buka mata kamu," Tara menyampirkan pakaian di pintu seng.
"Tuh kan, tadi bilangnya tanganya nggak kuat, tapi buka baju bisa," protesnya.
"Lan, cepat mandi'in aku, keburu siang, jangan ngomel-ngomel terus, lagian kita kan suami istri nggak usah malu," oceh Tara.
"Iya" Bulan tidak banyak bicara lagi, kemudian menyiduk air hangat dengan gayung, mengguyur kepala Tara.
Bulan ambil sampoo menggosok kepala Tara, kemudian beralih, ke badan menyabuni. Jangan di tanya, Tara merem melek rasa pusing di kepala sedikit berkurang karena sentuhan-sentuhan lembut tangan lentik Bulan.
Bu Fatimah, selesai shalat bergegas ke kamar mandi ingin segera buang hajat. Tanpa memindai sekeliling Fatimah berjalan cepat.
Greeendeeeng
"Ibuuu..."
Praak
Bulan terlonjak kaget hingga gayungnya terpental jauh.
"Maaf... Ibu tidak tahu kalau ada kalian," Fatimah kembali ke dalam rumah ambil senter untuk penerang kemudian berlalu ke kali.
Sementara di kamar mandi saking malunya ke pergok sang Ibu, Bulan ransanya ingin menutup kepalanya dengan ember.
"Bulan... dingin..." Tara terus merengek. Menyadarkan lamunan Bulan.
"Iya..." Bulan ambil handuk menggosok kepala Tara.
Punya suami orang kota ternyata begini manjanya. Untung ganteng.
*******
"Sekarang Abang tidur lagi, aku bikin bubur dulu buat, Abang," Bulan menyelimuti suaminya setelah Tara selesai shalat subuh kembali tidur di lantai, tapi kali ini di bawah kasur sudah diberi alas terpal oleh Bulan agar sakitnya Tara tidak semakin parah.
"Bulan" Tara menahan tangan Bulan. "Terimakasih..." ucapnya dan hanya di angguki Bulan.
Bulan segera ke dapur mencuci beras kemudian membuat bubur dengan api kecil. Ketika berpapasan dengan bu Fatimah ia menghindar segera ke belakang mencuci pakaian masih malu saat kejadian tadi.
*******
"Bang, sarapan dulu," Bulan membawa mangkok ke kamar meletakkan di samping Tara.
"Suapin," ucap Tara manja. Membuat Bulan gemas.
Bulan segera menyuapi bubur yang hangat hingga habis. "Bang, aku mau daftar ke puskemas dulu" ijin Bulan sambil membersihkan mulut suaminya.
"Bareng saja berangkatnya," usul Tara sambil terpejam.
"Kalau bareng suka antri Bang, kasihan, nanti Abang kelamaan menunggu," ucap Bulan memang benar.
Setelah diberi ijin, Bulan pamit Fatimah sang Ibu, menggoes sepeda menuju puskesmas.
"Tunggu!" wanita berkulit putih, dan bermata sipit, menghentikan langkah Bulan.
"Ada apa, Kak?" Bulan turun dari sepeda mengangguk sopan.
"Kamu kan?! Istrinya Bumantara?!" wanita yang tak lain adalah Keke itu menatapnya tidak suka.
"Iya, kenapa Kak?" tanya Bulan sudah bisa menangkap tatapan sinis wanita di depanya.
"Kamu sudah berani, menikah dengan Bumantara, apakah kamu tahu siapa Dia, sebenarnya?" cecar Keke.
"Saya tidak tahu, tapi siapapun Tara, Dia orang baik," jawab Bulan lugas.
"Hahaha... siap-siap saja! Kamu akan menghadapi ribuan masalah di belakang nanti," Keke tersenyum miring.
"Maaf Kak, jika sudah tidak ada keperluan, saya permisi," Bulan kembali menggoes sepedanya menjauh dari Keke, melanjutkan tujuanya ke puskesmas.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
auliasiamatir
babang tata anak sultan gak pernah susah sih , jadi manja
2023-01-23
0
Astuty Nuraeni
kasian lagi demam
2022-12-02
1
VLav
hmmm, jadi tara cuma modal ganteng doang yaa, hihihi
2022-11-29
1