Bab 3 ( Pulang ke rumah)

Pukul sepuluh malam Farah tiba di rumah milik orangtuanya di daerah kemayoran. Sebenarnya ia enggan untuk datang kesana namun karena dirinya kangen dengan kedua adik tirinya dan sudah berjanji untuk menginap, maka ia terpaksa datang.

Berulang kali Farah mengetuk pintu rumahnya namun tidak ada jawaban dari dalam rumah, ia pun duduk di teras dan menelepon adiknya. Tidak ada jawaban.

Ia melihat sebuah sepeda motor yang ternyata dikendarai adik dan ayahnya kini masuk ke dalam halaman. Farah pun merasa lega karena hampir saja ia berencana untuk pulang.

"Kakak, sudah lama menunggu? Tadi adek sama bapak beli martabak dulu. Kok kakak tidak masuk kan di rumah ada ibu dan Aisyah." Fadil mencium takzim tangan kakaknya. Walaupun ia adik tiri namun sikapnya selalu hangat terhadap Farah. Hanya kepada Farah, Fadil mencurahkan segalanya, sedangkan pada orangtuanya Fadil tidak berani bicara dari hati ke hati karena sudah dipastikan ibunya tidak memberi solusi malah akan menambah beban dengan teriakan nya. Sedangkan ayah, ia jarang sekali berada di rumah karena sibuk bekerja.

" Baru lima belas menit, mungkin ibu dan Aisyah sudah tidur, sejak tadi kakak panggil tidak ada jawaban." Farah mendekat kearah ayahnya dan mencium takzim. Walaupun hubungannya tidak terlalu baik, Farah masih punya sopan santun untuk menghormati ayahnya.

"Bapak sehat?" tanya Farah

"Hmm..., masuklah" hanya itu yang pak Ilham katakan. Sudah seperti biasanya ia tak banyak bicara ataupun sekedar basa - basi.

"Bapak beli apa?" tanya Farah lagi, ia melihat bungkusan yang bapak bawa

"Martabak dan baso." jawabnya singkat, " Ayo kita makan."

Tak terduga ibu tirinya membuka pintu dan ternyata ia belum tidur. Ia sepertinya sengaja agar Farah menunggu lebih lama di luar teras. " Oh kamu datang?" ucapnya dengan sinis.

Farah hanya tersenyum kecut, ia sudah biasa mendapatkan sambutan dengan nada tidak menyenangkan oleh ibu tirinya.

" Bawa piring bu, kita makan sama - sama?" pinta pak Ilham

"Sama dia juga?" bu Yanah masih bicara dengan nada sinis dan melihat Farah dengan kebencian.

" Tidak usah memikirkan aku, aku tidak lapar." Farah hanya menghela nafas panjangnya, ia berjalan masuk ke dalam kamarnya.

"Farah, kemarilah duduk bersama bapak sekarang. Kita makan bersama." pinta pak Ilham lagi

Farah menuruti permintaan ayahnya dan duduk di seberang. Seolah orang asing, mereka pun canggung untuk duduk bersama.

" Kalau mau minum ambil sendiri, disini tidak ada tamu. Masih tahu kan dimana letak dapurnya. " bu Yanah membuka martabak di piring sembari melirik anak tirinya.

" Tentu aku masih tahu dimana letak dapurnya, karena aku anak ayah bukan TAMU. " Farah sengaja menekankan kata terakhir

" Ingat yah, pernikahan kamu jangan terlalu memberatkan kami selaku orangtua. Kamu pasti punya tabungan kan untuk nikah."

Bu Yanah menatap kesal kearah Farah, ketidaksukaanya pada anak tirinya itu terlihat begitu jelas. Farah pun begitu heran, apa yang menyebabkan ibu tirinya itu tidak suka padanya padahal sejak dulu Farah tidak melakukan suatu kesalahan yang fatal.

" Tante tidak perlu khawatir, pernikahanku akan dilakukan sederhana. Aku akan berusaha mendanai pernikahanku sendiri bukan dari uang ayah."

"Ibu masuklah, bawa satu martabak ini ke dalam. Makanlah disana." perintah pak Ilham pada istrinya

"Tapi Pak?"

"Jangan membantah!" tegas pak Ilham, matanya kali ini berani menatap tajam sang istri yang menurutnya sudah kelewatan.

Dengan terpaksa dan malas bu Yanah masuk ke dalam dapur sesuai perintah suaminya.

" Fadil, ikutlah bersama ibu. Bapak ingin bicara dengan kakakmu."

"Ah, bapak nggak asyik. Fadil kan kangen sama kak Farah." dengan mengerucutkan bibirnya Fadil masuk ke dalam dapur mengikuti sang ibu.

"Makanlah." pak Ilham menatap putrinya yang sedikit kurus. Tidak seperti tiga bulan yang lalu, Farah terlihat segar dan sehat.

Farah mengambil satu potong martabak keju kesukaannya. Ia melahapnya dengan cepat.

"Makan yang banyak, jangan pedulikan ucapan ibumu itu."

Pak Ilham tahu anaknya sangat menyukai keju, saat ia mendengar dari Aisyah bahwa Farah akan datang menginap ia sengaja membeli makanan untuk anaknya.

"Bapak tidak makan?" Farah masih mengunyah kembali beberapa potong martabak.

"Bapak sudah kenyang."

" Jadi menikah tahun ini dengan Hilman?" tanyanya

"Jadi pak, insyaallah akhir tahun ini."

" Sudah ada persiapan?"

" Masih mempersiapkan segalanya, do'akan saja semoga lancar. Bapak tidak perlu khawatir, Farah tidak akan membebani bapak untuk urusan uang. Farah hanya butuh bapak sebagai wali Farah."

Pak Ilham hanya tersenyum kecut, ingin rasanya dia membelai rambut anaknya namun hubungan yang sejak dulu tidak baik membuat dirinya enggan. Ia sadar diri, semuanya terjadi karena sikapnya yang dulu tidak pernah hangat pada Farah hingga anaknya tumbuh mandiri, kurang kasih sayang dari orang tua. Sosoknya sebagai seorang ayah tidak pernah ada disaat anaknya membutuhkan dan sekarang hanya penyesalan yang tersisa.

Ada satu hal penting yang ingin pak Ilham katakan pada anaknya, namun melihat wajah Farah yang saat ini masih tidak bersahabat dan melihat istrinya yang belum tidur, kini ia urungkan.

"Maaf, ayah bukan seorang ayah yang baik untuk kamu." satu kalimat yang membuat Farah menoleh kembali kearah ayahnya. Sejak dulu, tidak pernah satu kali pun ayahnya meminta maaf padanya.

" Sejak dulu, Ayah kurang memperhatikan kamu hingga kamu tumbuh menjadi gadis yang keras kepala dan mandiri. " lanjutnya lagi

" Ayah berharap Hilman akan menjadi imam yang baik untuk kamu, ayah yakin dia bisa memberimu kabahagiaan yang tidak pernah bisa ayah beri untukmu. "

" Apa aku tidak salah dengar? Ini beneran ayah? " Farah tersenyum sinis, ia tidak menyangka ayahnya akan meminta maaf tentang kesalahannya selama ini.

" Ayah, sampai detik ini Farah masih bingung. Kenapa ayah sejak dulu tidak menyukaiku, ibu tiriku juga membenciku. Apa salahku yah? Selama ini aku tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari orangtua dan hanya tante Nana yang sayang denganku. Kenapa yah, kenapa aku tidak pernah mendapat dukungan darimu bahkan untuk aku hidup aku harus mencari makan sendiri dan pergi dari rumah ini. "Farah mencurahkan segala kerisauan hatinya selama ini. Beban yang mengganjal dihatinya kini terasa sedikit berkurang.

" Maaf... " hanya satu kata yang keluar dari mulut sang ayah." Suatu saat kamu akan tahu yang sebenarnya. "

" Apa yah? Katakan padaku!" pinta Farah. Namun mata pak Ilham melirik kearah dapur, istrinya pasti sedang mencuri dengar.

" Aku rasa pembicaraan ini tidak akan pernah selesai, toh ayah tidak akan memberikan aku penjelasan apapun." Farah bangkit dari tempat duduknya dan masuk ke kamarnya sendiri.

Pak Ilham hanya menghembuskan nafas panjangnya, hubungannya dengan Farah sangat buruk bahkan anaknya selalu menganggap dirinya ayah yang tidak baik dan ia mengerti kenapa Farah bersikap seperti itu.

Episodes
1 Bab 1 ( Awal mula bertemu)
2 Bab 2 ( Dua cewek stress)
3 Bab 3 ( Pulang ke rumah)
4 Bab 4 ( Cerita Fadil)
5 Bab 5 ( Pergi ke toko sepatu)
6 Bab 6 (Rumah bagai neraka)
7 Bab 7
8 Bab 8 ( Bertemu pangeran baik)
9 Bab 9 ( Persahabatan tiga wanita)
10 Bab 10 (Curhat malam hari)
11 Bab 11 ( Tiga teman gila)
12 Bab 12 ( Kencan bersama Hilman)
13 Bab 13 ( Bertemu pria gila lagi)
14 Bab 14 ( Ternyata dia bos)
15 Bab 15 ( Merasa diabaikan)
16 Bab 16 ( Berdebat dengan Pria Songong)
17 Bab 17
18 Bab 18
19 Bab 19
20 Bab 20 ( Bertemu Nona Inha)
21 Bab 21
22 Bab 22 ( Drama yang tidak lucu)
23 Bab 23 ( Princess kembar di apartemen)
24 Bab 24 ( Debatnya Kakak beradik )
25 Bab 25
26 Bab 26 ( Sakit)
27 Bab 27 ( Impian bersama Hilman)
28 Bab 28
29 Bab 29 ( Ingin mengurus proyek Utara)
30 Bab 30 ( Putus dari Michelle)
31 Bab 31 ( Komplen masakan)
32 Bab 32 ( Debat dengan Dini)
33 Bab 33 ( Rumah sakit)
34 Bab 34
35 Bab 35 ( Perasaan yang campur aduk)
36 Bab 36 ( Papih dan anak yang sama gilanya)
37 Bab 37 (Berbuat ulah di restoran lagi)
38 Bab 38 ( Bertemu Nyonya besar )
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41 (Si gadis bunuh diri)
42 Bab 42
43 Bab 43 (Debat di ruang kerja)
44 Bab 44 (Membuat cake)
45 Bab 45 ( Jauhi Dia)
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48 ( Pria menyebalkan)
49 Bab 49
50 Bab 50 ( Berkata jujur)
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53 (Pergi bersama untuk yang terakhir kalinya)
54 Bab 54
55 Bab 55 (Kecewa kedua kalinya)
56 Bab 56 ( Kisah dimasa lalu)
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59 ( Bisikan Setan)
60 Bab 60
61 Bab 61
62 Bab 62 ( Gejala Kehamilan)
63 Bab 63 ( Janin ini milik pria itu)
64 Bab 64 (Aku tidak ingin mengandung bayi ini!)
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68 ( Ikut dengan pengawal)
69 Bab 69 ( Bertemu Nyonya Besar lagi)
70 Bab 70
71 Bab 71 ( Kembali dari Malang)
72 Bab 72
73 Bab 73 (Kita harus berpisah)
74 Bab 74 (Bertemu lagi)
75 Bab 75
76 Bab 76 ( Terpuruk)
77 Bab 77
78 Bab 78 ( Pingsan)
79 Bab 79 ( Aku membencimu!!)
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83 ( Cerita versi bapak)
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86
87 Bab 87
88 Bab 88 (Maaf)
89 Bab 89 ( Ayo kita menikah)
90 Bab 90 (konsep pernikahan yang tidak masuk akal)
91 Bab 91 ( Pernikahan)
92 Bab 91.2 ( Biduan yang aneh)
93 Bab 92 (Teman gila)
94 Bab 93
95 Bab 94
96 Bab 95
97 Bab 95.2 ( Dia istriku)
98 Bab 96
99 Bab 97
100 Bab 98
101 Bab 99
102 Bab 100
103 Bab 101
104 Bab 102
105 Draft
106 Bab 104
107 Bab 105
108 Bab 106
109 Bab 107
110 Bab 108 ( Angkot)
111 Bab 109
112 Bab 110 ( Ghibahin Tetangga)
113 Bab 111
114 Bab 112
115 Bab 113
116 Bab 114
117 Bab 115 (Temen Setan)
118 Bab 116
119 Bab 117
120 Bab 118 (Mie instan)
121 Bab 119
122 Bab 120
123 Bab 121
124 Bab 122
125 Bab 123
126 Bab 124 (Gara - gara cerita putri salju)
127 Bab 125
128 Bab 126
129 Bab 127
130 Bab 128 (Kamu pihak ketiga, bukan dia!)
131 Bab 129
132 Bab 130 ( Dikasih hati minta jantung)
133 Bab 131
134 Bab 132
135 Bab 133
136 Bab 134 (Bertemu Wina)
137 Bab 135 (Di rumah keluarga Farah)
138 Bab 136 (Hadiah)
139 Bab 137 ( Kamar)
140 Bab 138 ( Gangguan dua adik Farah)
141 Bab 139
142 Bab 140
143 Bab 141
144 Bab 142
145 Bab 143
146 Bab 144 ( Bertemu Hilman lagi)
147 Bab 145
148 Bab 146
149 Bab 147
150 Bab 148 ( Di Cafe Michelle)
151 Bab 149
152 Bab 150
153 Bab 151 (Wina lagi)
154 Bab 152 ( Hatiku begitu sakit)
155 Bab 153
156 Bab 154
157 Bab 155 (Aku mau...)
158 Bab 156
159 Bab 157 (Aku yang kurang tampan)
160 Bab 158
161 Bab 159
162 Bab 160
163 Bab 161
164 Bab 162
165 Bab 163 ( Bantu aku)
166 Bab 164 (Mengeluh)
167 Bab 165 ( Merayu suami ala Farah)
168 Bab 166
169 Bab 167
170 Bab 168 ( Amarah papih Feri)
171 Bab 169 (Kesempatan kedua)
172 Bab 170
173 Bab 171
174 Bab 172 (Pasar)
175 Bab 173 ( Memasak ala Dini)
176 Bab 174
177 Bab 175 (Pasar malam)
178 Bab 176
179 Bab 177
180 Bab 178
181 Bab 179
182 Bab 180
183 Bab 181
184 Bab 182
185 Bab 183 (Pembalasan dari Hilman)
186 Bab 184
187 Bab 185
188 Bab 186
189 Ban 187
190 Bab 188
191 Bab 189
192 Bab 190 ( Hilangnya Keken)
193 Bab 191 (Mencari Keken)
194 Bab 192
195 Bab 193
196 Bab 194 ( Hanya aku yang tidak tahu)
197 Bab 195
198 Bab 196
199 Bab 197
200 Bab 198
201 Bab 199
202 Bab 200 ( Menemukan Keken)
203 Bab 201
204 Bab 202
205 Bab 203
206 Bab 204
207 Bab 205
208 Bab 206
209 Bab 207
210 Bab 208
211 Bab 209
212 Bab 210
213 Bab 211
214 Bab 212
215 Bab 213
216 Bab 214
217 Bab 215
218 Bab 216
219 Bab 217
220 Bab 218
221 Bab 219
222 Bab 220
223 Bab 221
224 Bab 222
225 Bab 223
226 Bab 224
227 Bab 225
228 Bab 226
229 Bab 227
230 Draft
231 Bab 229
232 Bab 230
233 Bab 231
234 Bab 232
235 Bab 233
Episodes

Updated 235 Episodes

1
Bab 1 ( Awal mula bertemu)
2
Bab 2 ( Dua cewek stress)
3
Bab 3 ( Pulang ke rumah)
4
Bab 4 ( Cerita Fadil)
5
Bab 5 ( Pergi ke toko sepatu)
6
Bab 6 (Rumah bagai neraka)
7
Bab 7
8
Bab 8 ( Bertemu pangeran baik)
9
Bab 9 ( Persahabatan tiga wanita)
10
Bab 10 (Curhat malam hari)
11
Bab 11 ( Tiga teman gila)
12
Bab 12 ( Kencan bersama Hilman)
13
Bab 13 ( Bertemu pria gila lagi)
14
Bab 14 ( Ternyata dia bos)
15
Bab 15 ( Merasa diabaikan)
16
Bab 16 ( Berdebat dengan Pria Songong)
17
Bab 17
18
Bab 18
19
Bab 19
20
Bab 20 ( Bertemu Nona Inha)
21
Bab 21
22
Bab 22 ( Drama yang tidak lucu)
23
Bab 23 ( Princess kembar di apartemen)
24
Bab 24 ( Debatnya Kakak beradik )
25
Bab 25
26
Bab 26 ( Sakit)
27
Bab 27 ( Impian bersama Hilman)
28
Bab 28
29
Bab 29 ( Ingin mengurus proyek Utara)
30
Bab 30 ( Putus dari Michelle)
31
Bab 31 ( Komplen masakan)
32
Bab 32 ( Debat dengan Dini)
33
Bab 33 ( Rumah sakit)
34
Bab 34
35
Bab 35 ( Perasaan yang campur aduk)
36
Bab 36 ( Papih dan anak yang sama gilanya)
37
Bab 37 (Berbuat ulah di restoran lagi)
38
Bab 38 ( Bertemu Nyonya besar )
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41 (Si gadis bunuh diri)
42
Bab 42
43
Bab 43 (Debat di ruang kerja)
44
Bab 44 (Membuat cake)
45
Bab 45 ( Jauhi Dia)
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48 ( Pria menyebalkan)
49
Bab 49
50
Bab 50 ( Berkata jujur)
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53 (Pergi bersama untuk yang terakhir kalinya)
54
Bab 54
55
Bab 55 (Kecewa kedua kalinya)
56
Bab 56 ( Kisah dimasa lalu)
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59 ( Bisikan Setan)
60
Bab 60
61
Bab 61
62
Bab 62 ( Gejala Kehamilan)
63
Bab 63 ( Janin ini milik pria itu)
64
Bab 64 (Aku tidak ingin mengandung bayi ini!)
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68 ( Ikut dengan pengawal)
69
Bab 69 ( Bertemu Nyonya Besar lagi)
70
Bab 70
71
Bab 71 ( Kembali dari Malang)
72
Bab 72
73
Bab 73 (Kita harus berpisah)
74
Bab 74 (Bertemu lagi)
75
Bab 75
76
Bab 76 ( Terpuruk)
77
Bab 77
78
Bab 78 ( Pingsan)
79
Bab 79 ( Aku membencimu!!)
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83 ( Cerita versi bapak)
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86
87
Bab 87
88
Bab 88 (Maaf)
89
Bab 89 ( Ayo kita menikah)
90
Bab 90 (konsep pernikahan yang tidak masuk akal)
91
Bab 91 ( Pernikahan)
92
Bab 91.2 ( Biduan yang aneh)
93
Bab 92 (Teman gila)
94
Bab 93
95
Bab 94
96
Bab 95
97
Bab 95.2 ( Dia istriku)
98
Bab 96
99
Bab 97
100
Bab 98
101
Bab 99
102
Bab 100
103
Bab 101
104
Bab 102
105
Draft
106
Bab 104
107
Bab 105
108
Bab 106
109
Bab 107
110
Bab 108 ( Angkot)
111
Bab 109
112
Bab 110 ( Ghibahin Tetangga)
113
Bab 111
114
Bab 112
115
Bab 113
116
Bab 114
117
Bab 115 (Temen Setan)
118
Bab 116
119
Bab 117
120
Bab 118 (Mie instan)
121
Bab 119
122
Bab 120
123
Bab 121
124
Bab 122
125
Bab 123
126
Bab 124 (Gara - gara cerita putri salju)
127
Bab 125
128
Bab 126
129
Bab 127
130
Bab 128 (Kamu pihak ketiga, bukan dia!)
131
Bab 129
132
Bab 130 ( Dikasih hati minta jantung)
133
Bab 131
134
Bab 132
135
Bab 133
136
Bab 134 (Bertemu Wina)
137
Bab 135 (Di rumah keluarga Farah)
138
Bab 136 (Hadiah)
139
Bab 137 ( Kamar)
140
Bab 138 ( Gangguan dua adik Farah)
141
Bab 139
142
Bab 140
143
Bab 141
144
Bab 142
145
Bab 143
146
Bab 144 ( Bertemu Hilman lagi)
147
Bab 145
148
Bab 146
149
Bab 147
150
Bab 148 ( Di Cafe Michelle)
151
Bab 149
152
Bab 150
153
Bab 151 (Wina lagi)
154
Bab 152 ( Hatiku begitu sakit)
155
Bab 153
156
Bab 154
157
Bab 155 (Aku mau...)
158
Bab 156
159
Bab 157 (Aku yang kurang tampan)
160
Bab 158
161
Bab 159
162
Bab 160
163
Bab 161
164
Bab 162
165
Bab 163 ( Bantu aku)
166
Bab 164 (Mengeluh)
167
Bab 165 ( Merayu suami ala Farah)
168
Bab 166
169
Bab 167
170
Bab 168 ( Amarah papih Feri)
171
Bab 169 (Kesempatan kedua)
172
Bab 170
173
Bab 171
174
Bab 172 (Pasar)
175
Bab 173 ( Memasak ala Dini)
176
Bab 174
177
Bab 175 (Pasar malam)
178
Bab 176
179
Bab 177
180
Bab 178
181
Bab 179
182
Bab 180
183
Bab 181
184
Bab 182
185
Bab 183 (Pembalasan dari Hilman)
186
Bab 184
187
Bab 185
188
Bab 186
189
Ban 187
190
Bab 188
191
Bab 189
192
Bab 190 ( Hilangnya Keken)
193
Bab 191 (Mencari Keken)
194
Bab 192
195
Bab 193
196
Bab 194 ( Hanya aku yang tidak tahu)
197
Bab 195
198
Bab 196
199
Bab 197
200
Bab 198
201
Bab 199
202
Bab 200 ( Menemukan Keken)
203
Bab 201
204
Bab 202
205
Bab 203
206
Bab 204
207
Bab 205
208
Bab 206
209
Bab 207
210
Bab 208
211
Bab 209
212
Bab 210
213
Bab 211
214
Bab 212
215
Bab 213
216
Bab 214
217
Bab 215
218
Bab 216
219
Bab 217
220
Bab 218
221
Bab 219
222
Bab 220
223
Bab 221
224
Bab 222
225
Bab 223
226
Bab 224
227
Bab 225
228
Bab 226
229
Bab 227
230
Draft
231
Bab 229
232
Bab 230
233
Bab 231
234
Bab 232
235
Bab 233

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!