"Riki, ini sudah 4 tahun kepergian Caca. Ayolah, apakah kamu gak ada niatan untuk bangkit dan mencari penggantinya?" tanya Mama Riki sambil mengusap bahu laki-laki yang tengah duduk di taman belakang sambil melihat tanaman yang di rawat Mamanya itu.
Seperti biasanya, Riki memang akan selalu memilih menyendiri ketika ada perasaan atau pikiran yang mengganjal pada dirinya.
Dan taman belakang rumah, menjadi tempat yang akan selalu dikunjunginya. Setelah kepergian Caca.
Riki tak lagi segembira dulu, ia kembali lagi dengan balapannya. Mengisi waktu dengan berbagai macam olahraga.
Memang baik, namun jika dilakukan secara tidak benar atau secara berlebihan maka sama saja menyakiti diri sendiri secara tidak sengaja.
Setelah pulang kerja contohnya, ia akan langsung bergegas untuk ikut futsal. Setelahnya di malam hari ia akan pergi untuk gym di salah satu tempat temannya.
Bahkan, terkadang ia akan ikut balapan jika dirinya mau. Dia yang dulunya menghabiskan waktu malam untuk tidur, sekarang menghabiskan malam untuk sibuk beraktifitas.
Riki menatap Mamanya yang berada di sampingnya dengan wajah datar, "Gak, Ma. Riki akan nunggu Caca."
"Kalo dia di sana udah bahagia gimana?"
"Riki akan melepaskannya jika dia memang sudah bahagia."
Kata Riki dan memalingkan wajah lagi, keadaan Riki yang sangat memperhatinkan membuat Mamanya dan Papanya begitu cemas.
Namun, mereka pun tak bisa berbuat apa-apa. Nomor Caca tak mampu didapat mereka dan media sosial sudah hilang tanpa jejak.
Handphone Riki berbunyi membuat dirinya mengangkat nomor yang masuk dengan malas, "Apa?" tanya Riki dengan singkat.
"Pasfor Bapak sudah siap, serta lokasi di mana sekarang Caca berada dan tempat kerjanya sudah saya dapatkan. Apartemen Caca dan Bapak akan berhadapan nantinya," jelas Farhan yang berada di negeri orang.
"Baik, kalau begitu hari ini kamu pulang," perintah Riki kepada tangan kanannya itu.
"Jadi, siapa yang akan jaga toko-toko Pak?"
"Who else are you?" Riki mematikan panggilan sepihak dan menggenggam handphone-nya kembali.
"Kamu mau nyusul Caca?" tanya Mama Riki menatap wajah anaknya mendengar percakapan Farhan dan Riki tadi.
Riki menatap dan mengangguk pertanda mengiyakan ucapan Mamanya itu, "Berapa lama?" tanya Mama Riki yang sebenarnya sangat khawatir dengan keadaan anaknya itu.
"Sampai Riki mendapatkan kenyataan dan jawaban."
"Kenyataan apa?"
"Kenyataan, dia sudah bahagia di sana atau memang fokus untuk sekolah dan menggapai citanya."
"Setelah itu?"
"Riki akan menunggunya kembali hingga akhirnya menjadikan dia belahan jiwa Riki."
"Lalu, bagaimana dengan Diva?"
"Siapa yang mencintainya?"
"Kamu gak cinta sama dia?"
"Apakah baik kepada seseorang pertanda bahwa orang tersebut mencintainya? Oh, terlalu minim pemikiran seperti itu. Riki mau keluar sebentar, Ma. Mau ngambil pasfor dan siap-siap," jelas Riki dan meninggalkan Mamanya yang masih terpaku dengan sikap Riki yang sekarang sungguh dingin padanya.
Memang dari dulu Riki pun terkenal dingin dan bahkan semasa sekolah tak pernah sekadar menyapa orang tuanya.
Hingga datang Caca yang merubah segala sikap dan jalan pikiran laki-laki itu, tak heran jika kepergian Caca membuat jiwa yang dulu hilang kini kembali lagi.
Bahkan, senyum laki-laki dua puluh delapan tahun itu sudah tak pernah terlihat di wajah yang semakin tampan itu.
Riki keluar dari rumah menaiki mobil miliknya yang berwarna hitam, jika ditanya ke mana motornya. Itu masih ada di garasi.
Ia hanya memakai motor kesayangannya itu pas balap saja, dia berkata bahwa itu dulu dibeli agar sedikit menyusahkan Caca menaikinya.
Sekarang, wanita itu tak ada maka motor tersebut hanya ia masukkan ke dalam garasi dan akan dibuka pas ada pertandingan saja.
Riki terlebih dahulu mengambil pasfor dan ingin mencek data toko-tokonya, dia masih sering kerja meskipun tak sehangat dulu lagi.
"Siang, Pak. Tumben datangnya agak siangan?" tanya pegawai Riki yang tak jera dan mungkin berfikir bahwa Riki sekarang sudah berubah menjadi dirinya yang dulu.
Riki tak menghiraukan sapaan dari karyawatinya itu, ia langsung berjalan menatap ke arah depan dan menuju ruangannya.
"Dih, kirain udah berubah jadi lebih hangat. Ternyata tambah dingin, kirain yang dingin cuma cuaca dan kulkas. Ternyata sikap dia juga," gerutu orang tersebut dengan suara pelan.
Membuka laptop dan mulai bergelud dengan berkas dan beberapa produk, ia harus menyelesaikan beberapa pekerjaan karena mungkin dirinya akan lama berapa di sana.
Atau mungkin akan selamanya? Sangat tidak mungkin, karena bagaimana pun ia tak akan mau berlama-lama di negri orang.
Besok, dirinya akan berangkat pergi. Notif masuk ke handphone dari aplikasi berwarna hijau, Riki langsung mengalihkan pandangannya ke handphone itu.
Ia mencek pesan dari siapa yang masuk, 'Oh, ternyata dirinya benar-benar meraih impiannya,' batin Riki melihat pesan Farhan mengenai Caca.
Beberapa detik kemudian panggilan masuk dari Farhan, "Itu Pak alamat serta pekerjaan Caca sekarang."
"Thanks."
Meskipun, Farhan sudah menikah bahkan dikabarkan sudah memiliki seorang anak perempuan yang amat cantik.
Dirinya masih setia pada Riki dan bertahan dengan laki-laki yang sudah berubah sikapnya dan selalu menyusahkan Farhan.
Entah karena gaji yang besar diberikan Riki, entah karena memang dirinya ingin membalas budi kepada Riki.
Farhan bukanlah dari keluarga yang kaya raya, ia pun hanya seorang laki-laki lulusan SD. Namun, Riki mengajak Farhan untuk kerja bersamanya.
Setahun kerja dengan Riki, Farhan sempat ditawari untuk membuka usaha sendiri bahkan rumah telah dibelikan Riki kepada Farhan.
Rumah di salah satu perumahan yang tak terlalu besar diberikan Riki secara cuma-cuma dan atas nama Farhan langsung.
Itu sebabnya, Farhan tak ingin jika berhenti apalagi dipecat oleh Riki. Sebisa mungkin ia mengikuti apa kata Riki selagi itu bukanlah hal yang terlalu bahaya.
Meskipun terkadang, bahkan hal yang bahaya saja ia ikuti ucapan Riki. Farhan pernah dipaksa untuk balapan liar dan diharuskan Riki agar juara satu.
Setiap hari laki-laki itu harus latihan dengan Riki, pagi, siang dan malam maka harus latihan agar menang di pertandingan.
Pekerjaan telah selesai hampir 80% Riki langsung keluar dari ruangannya, ia pergi begitu saja tanpa memperdulikan tatapan karyawatinya yang mungkin berharap sikapnya berubah.
Ia berhenti di salah satu cafe terlebih dahulu, agar menenangkan diri besok untuk bertemu dengan Caca. Ia fokus pada handphone dan kembali melihat pesan Farhan soal Caca tersebut.
Ia keluar dari chat itu dan membuka galeri, ya, foto dirinya dan Caca di jembatan saat melihat senja untuk terakhir kalinya.
Semenjak kejadian itu, Riki membenci senja karena telah membuat seseorang pergi layaknya senja tersebut.
"Riki, kamu kok ada di sini?" tanya seseorang yang membuat Riki melirik ke arah hells orang itu.
Riki tak menjawab dan kembali fokus kepada wajah wanita yang membawa separuh jiwanya, wanita yang tak disuruh duduk tersebut memilih duduk di samping Riki.
"Kamu kenapa jauhi aku, sih? Bukannya dulu kamu dekat banget sama aku? Kenapa sekarang kamu--" Belum sempat wanita tersebut melayangkan pertanyaannya lagi dan lagi.
Riki bangkit terlebih dahulu dan berjalan ke arah kasir, satu lembar berwarna merah ia letakkan di meja kasir dan langsung keluar dari cafe itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 74 Episodes
Comments
⭐️asteri
thoor, paspor bukan pasfor ;)
2022-10-06
0
Hakim Rahel
aduuhhh g sabar nunggu Riki ktemu Caca.
2022-10-05
0
Nur Adam
lnjjt
2022-10-04
0