5. Terbongkarnya Penipuan

"Apa yang kamu lihat dari tas ku, dek?" tanya mas Anang lemah, aku tak tahu kemana perginya seluruh tenaga yang tadi ia gunakan untuk memelukku.

Tanpa menjawab aku berjalan keluar kamar dan melangkahkan kaki menuju ruang tamu. Aku nyalakan lampunya, sengaja aku keluar kamar, agar anakku tak terbangun dengan pembicaraan ku dan mas Anang. Tak berselang lama, mas Anang duduk di sampingku setelah aku duduk. Aku masih diam dengan air mata yang terus mengucur tanpa henti.

"Jawab aku dek, kamu lihat apa?" tanya mas Anang sekali lagi dengan menangkup wajahku dengan kedua tangannya.

"Pikirkan sendiri mas, kira-kira aku kenapa bisa begini setelah melihat isi tas mu? Kenapa kamu masih tanya aku?" jawabku dengan mata yang nanar. Sungguh tak bisa aku jelaskan apa yang aku rasakan kini. Rasanya aku bagaikan debu di tengah kota, hadirku ada, namun hanya untuk diinjak, kepanasan dan tak dianggap.

"Aku bisa jelaskan, ini semua hanya salah paham." Mas Anang masih berkilah di saat dirinya sedang terjepit seperti ini.

"Jelaskan dimana kesalah pahaman aku mas. Apa kamu akan bilang, kalau dua benda yang kamu gunakan untuk berhubungan badan itu bukan milikmu? Kertas yang berisikan cek in di hotel bintang lima itu juga apa kebetulan ada di tasmu?" Se emosi apapun aku saat ini, aku masih bisa mengendalikan dan aku masih menjaga ucapan ku, aku masih menjaga intonasi ku saat bicara dengannya. Karena aku sadar, emosi bukanlah pilihan yang tepat saat ini. Kalau aku mengikuti setan-setan yang meracuni pikiran dan hatiku, mas Anang juga akan emosi dan akan menambah goresan luka di hatiku.

Aku melihat wajah mas Anang yang bingung, merasa bersalah dan entahlah, mungkin saja dia sudah menyesal karena meletakkan benda-benda itu di sembarang tempat. Mungkin dalam hatinya juga ia memaki dirinya sendiri karena sudah sebodoh ini. Tidak-tidak, bukan dia yang bodoh, tapi aku. Aku yang bodoh, bagaimana bisa aku kecolongan seperti ini. Bagaimana bia aku di kelabuhi mas Anang dengan begitu mudah.

Sungguh saat ini pikiranku tak bisa memikirkan hal yang positif. Aku jadi meragukan mas Anang, aku ragu soal gajinya yang kecil, memang selama ini aku tak pernah melihat buku tabungan mas Anang. Karena terlalu percaya padanya itulah yang mungkin saja membawa aku ke situasi seperti ini.

"Dengar aku, apa yang kamu lihat bukan berarti itu kenyataannya." Mas Anang masih saja berbelit-belit, entah dia sedang mengacaukan pikiranku atau memang dia masih memikirkan alasan yang tepat untuk semua benda yang aku temui di tasnya.

"Terus kenyataan yang benar bagaimana?"

Mas Anang kembali diam. Dan diamnya, membuat kau berpikir bahwa apa yang aku pikirkan adalah kebenaran.

"Diamnya kamu sudah menjawab semuanya mas. Kenapa kamu mengkhianati aku? Apa salahku mas?" Aku kembali terisak, dadaku terasa sesak hingga aku sulit bernafas.

"Kamu nggak salah, aku yang salah. Maaf aku khilaf." Akhirnya kata-kata itu aku dengar dari mulutnya.

"Berapa lama kamu melakukan ini? Dan kenapa? Orang yang khilaf tidak akan sejauh itu mas, menginap berdua di hotel, melakukan hubungan badan, dan kamu bilang khilaf? Khilaf yang kamu lakukan berkali-kali? Yang namanya perselingkuhan itu tidak ada yang khilaf mas."

"Iya maaf sayang, maaf. Sumpah aku hanya sekali menginap di hotel dan tidur dengannya. Sumpah sayang, aku nggak bohong."

Sudah sejak tadi aku berusaha untuk menahan amarahku, tapi mas Anang masih saja berbelit-belit. Aku menghapus kasar pipiku yang sudah basah karena air mata. Aku menggeret mas Anang ke kamar Alif dan Agil.

"Kamu lihat mereka mas! Lihat mereka! Kamu pernah bawa meraka jalan-jalan? Pernah kamu beli mainan untuk mereka? Pernah mas?" Aku mulai sedikit menaikkan nada bicara ku. Aku geram jika mengingat suamiku membawa wanita lain ke hotel bintang lima. "Kamu aja nggak pernah bawa kami jalan-jalan meskipun hanya ke taman, aku ikut banting tulang biar bisa memenuhi kebutuhan, biar kita nggak banyak hutang. Dan kamu dengan mudah dan entengnya bawa wanita lain menginap di hotel? Apa yang kamu tutupi dari aku mas?" aku masih terus menghujani nya dengan pertanyaan.

"Sudah cukup kamu bicara Ayu. Aku sudah jelaskan diawal kalau ini hanya salah paham dan aku sedang khilaf. Kenapa kamu jadi merembet kemana-mana seakan kamu berjasa sekali dengan usaha sosis gorengmu itu." Mas Anang sudah nampak mulai emosi denganku. Aku dibuatnya semakin kesal saja.

"Bukannya aku memang berjasa mas? Kehidupan yang sekarang aku jalani sangat menyimpang dari janji yang pernah kamu katakan ke aku. Perlu aku ingatkan? Bahkan sampai sekarang pun aku nggak tahu atas dasar apa kamu nyakitin aku diam-diam begini, mas."

"Sudah aku katakan aku khilaf."

"BOHONG! Kamu sadar betul dengan kondisi kita yang pas-pas an. Dan kamu menghamburkan uang untuk wanita ****** diluar sana. Itu bukan khilaf, tapi sebuah tindakan KESENGAJAAN!" Entah setan apa yang sedang menguasai diriku. Dengan beraninya dan  tidak ada sopan santunnya aku berteriak di depan wajah mas Anang. Tak pernah aku sebelumnya seperti ini, bahkan mas Anang pun terlihat terkejut dan tak percaya aku bisa semurka ini.

"Terserah, sesuka hati kamu aja mikir aku bagaimana." Mas Anang menjawab ucapan ku dengan secuek itu. Tanpa rasa bersalah atau berniat menenangkan aku, dirinya justru melangkahkan kakinya keluar rumah di jam yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.

Aku hanya bisa menangis tersedu, rasanya hatiku hancur lebur, hidupku pun rasanya tak menggairahkan. Aku merosotkan tubuhku ke lantai dengan air mata yang tarus mengucur. Aku menekuk kedua lututku dan menyembunyikan kepalaku di lutut. Sebisa mungkin aku menyamarkan suara isakanku agar tak terdengar anak-anak.

Aku menghabiskan banyak menit dengan duduk terpuruk menyembunyikan wajah dan tangisanku. Aku lalu beranjak dari kamar dan berniat untuk membongkar lemari, aku ingin tahu buku tabungan mas Anang yang dari awal menikah hingga detik ini tak pernah aku lihat bentuknya.

Aku obrak-abrik seluruh isi lemari, aku keluarkan semua baju dan berkas-berkas seperti sertifikat rumah dan surat motor mas Anang. Lama aku mencari, namun yang kunjung aku temui. Aku tak mau menyerah, aku harus menemukan benda itu sekarang juga.

Tak ada satupun sudut kamar yang aku lewatkan. Hingga aku akhirnya menemukan buku tabungan mas Anang di bawah kasur tempat kami tidur. Dengan bergetar aku mengambil buku itu dan membukanya dengan pelan. Aku takut jika aku mengetahui isinya aku akan semakin terpuruk, namun jika tak di lihat aku sangat penasaran. Dan lagi pula mas Anang akan terus membohongi ku jika aku diam saja.

Mata dan mulutku terbuka lebar saat aku melihat deretan angka yang tertera di buku tabungan mas Anang. Hatiku terasa semakin ngilu saja. Aku menghapus kasar pipiku yang kembali di basahi air mata. Aku geram dan sangat sakit hati dengan apa yang disembunyikan dari mas Anang.

Terpopuler

Comments

niken babyzie

niken babyzie

judul novelnya cocok di beri judul.. ternyata aku baru sadar telah menikahi suami pelit

2025-01-22

2

UmiLovi ✨ IG : LaLoviiii

UmiLovi ✨ IG : LaLoviiii

Sunad aja laki model gituan, Yu!!

2022-09-18

2

lihat semua
Episodes
1 1. Tak Adil
2 2. Suami Tak Pengertian
3 3. Ibu Mertua Menyebalkan
4 4. Fakta Tersembunyi
5 5. Terbongkarnya Penipuan
6 6. Mulai Usaha Baru
7 7. Suami Tak Tahu Malu
8 8. Winda Ku
9 9. Ketahuan
10 10. Karma Kecil Ibu Mertua
11 11. Hinaan Suami
12 12. Bertemu Lagi
13 13. Terungkap
14 14. Misi Rahasia
15 15. Luka Yang Dalam
16 16. Cahaya Dalam Gelap
17 17. Suami Tak Tahu Diri
18 18. Babak Belur
19 19. Pergi
20 20. Teman Rasa Keluarga
21 21. Karma Instan
22 22. Ada Yang Berbeda
23 23. Kehilangan
24 24. Sakit
25 25. Dara
26 26. Dipermalukan Lagi
27 27. Kenapa Jadi Sewot?
28 28. Berubah Pikiran
29 29. Perhatian
30 30. Misterius
31 31. Bertemu Om Lagi
32 32. Penolakan
33 33. Wanita Tua Kembali Berulah
34 34. Kehilangan Anak
35 35. Terkejut
36 36. Murka
37 37. Kritis
38 38. Pamit
39 39. Bertemu
40 40. Janji Alif
41 41. Mulai Merasa Kehilangan
42 42. Insecure
43 43. Tenggelam Dalam Penyesalan
44 44. Membawa Perubahan
45 45. Jaka Patah Hati
46 46. Pendirian Yang Masih Sama
47 47. Bucin
48 48. Aneh
49 49. Merindukan Ibu
50 50. Ulang Tahun
51 51. Melamar
52 52. Karma Tak Semanis Kurma
53 53. Penyesalan Tiada Akhir
54 54. Penolakan
55 55. Sekarat
56 56. Duka
57 57. Sudah Takdir
58 58. Gara-gara Maling
59 59. Janji Jaka
60 60. Di Luar Rencana
61 61. Sudah Dewasa
62 62. Harga Diri Rifki Terluka
63 63. Kekasih Semalam
64 64. Ribut
65 65. Sah
66 66. Rintihan Malam
67 67. Modus
68 68. Bertemu
69 69. Hampir
70 70. Terus Terang
71 71. Dara Kumat
72 72. Firasat
73 73. Rumah Sakit
74 74. Kelahiran Dan Kematian
75 75. Surat
76 76. Caper
77 77. Caper Berakhir Baper
78 78. Kumpulan Keluarga
79 79. Musibah
80 80. Ditemukan
81 81. Ujian
82 82. Sentuhan Rindu
83 83. Sayang Kembali
84 84. Bahaya
85 85. Bahaya 2
86 86. Khawatir
87 87. Usaha Yang Gagal
88 88. Kecurigaan Jaka
89 89. Hilang
90 90. Terlantar
91 91. Serba Salah
92 92. Trauma
93 93. Histeris lagi
94 94. Diuji untuk kuat
95 95. Hancurnya Hati Seorang Kakak
96 96. Nekat
97 97. Awal Yang Baik
98 98. Rasa Sesungguhnya
99 99. Cinta Seorang Kakak
100 100. Sekarang Jam Berapa, Bu?
101 101. Seperti Lahir Kembali
102 102. Bertemu
103 103. Aku Sayang Kamu
104 104. Jalan-jalan
105 105. Taman
106 106. Dek
107 107. Bertemu Lagi
108 108. Lamaran
109 109. Kekhawatiran Dara
110 110. Belum siap
111 111. Hampir
112 112. Dara Yang Polos
113 113. Selesai Sudah
Episodes

Updated 113 Episodes

1
1. Tak Adil
2
2. Suami Tak Pengertian
3
3. Ibu Mertua Menyebalkan
4
4. Fakta Tersembunyi
5
5. Terbongkarnya Penipuan
6
6. Mulai Usaha Baru
7
7. Suami Tak Tahu Malu
8
8. Winda Ku
9
9. Ketahuan
10
10. Karma Kecil Ibu Mertua
11
11. Hinaan Suami
12
12. Bertemu Lagi
13
13. Terungkap
14
14. Misi Rahasia
15
15. Luka Yang Dalam
16
16. Cahaya Dalam Gelap
17
17. Suami Tak Tahu Diri
18
18. Babak Belur
19
19. Pergi
20
20. Teman Rasa Keluarga
21
21. Karma Instan
22
22. Ada Yang Berbeda
23
23. Kehilangan
24
24. Sakit
25
25. Dara
26
26. Dipermalukan Lagi
27
27. Kenapa Jadi Sewot?
28
28. Berubah Pikiran
29
29. Perhatian
30
30. Misterius
31
31. Bertemu Om Lagi
32
32. Penolakan
33
33. Wanita Tua Kembali Berulah
34
34. Kehilangan Anak
35
35. Terkejut
36
36. Murka
37
37. Kritis
38
38. Pamit
39
39. Bertemu
40
40. Janji Alif
41
41. Mulai Merasa Kehilangan
42
42. Insecure
43
43. Tenggelam Dalam Penyesalan
44
44. Membawa Perubahan
45
45. Jaka Patah Hati
46
46. Pendirian Yang Masih Sama
47
47. Bucin
48
48. Aneh
49
49. Merindukan Ibu
50
50. Ulang Tahun
51
51. Melamar
52
52. Karma Tak Semanis Kurma
53
53. Penyesalan Tiada Akhir
54
54. Penolakan
55
55. Sekarat
56
56. Duka
57
57. Sudah Takdir
58
58. Gara-gara Maling
59
59. Janji Jaka
60
60. Di Luar Rencana
61
61. Sudah Dewasa
62
62. Harga Diri Rifki Terluka
63
63. Kekasih Semalam
64
64. Ribut
65
65. Sah
66
66. Rintihan Malam
67
67. Modus
68
68. Bertemu
69
69. Hampir
70
70. Terus Terang
71
71. Dara Kumat
72
72. Firasat
73
73. Rumah Sakit
74
74. Kelahiran Dan Kematian
75
75. Surat
76
76. Caper
77
77. Caper Berakhir Baper
78
78. Kumpulan Keluarga
79
79. Musibah
80
80. Ditemukan
81
81. Ujian
82
82. Sentuhan Rindu
83
83. Sayang Kembali
84
84. Bahaya
85
85. Bahaya 2
86
86. Khawatir
87
87. Usaha Yang Gagal
88
88. Kecurigaan Jaka
89
89. Hilang
90
90. Terlantar
91
91. Serba Salah
92
92. Trauma
93
93. Histeris lagi
94
94. Diuji untuk kuat
95
95. Hancurnya Hati Seorang Kakak
96
96. Nekat
97
97. Awal Yang Baik
98
98. Rasa Sesungguhnya
99
99. Cinta Seorang Kakak
100
100. Sekarang Jam Berapa, Bu?
101
101. Seperti Lahir Kembali
102
102. Bertemu
103
103. Aku Sayang Kamu
104
104. Jalan-jalan
105
105. Taman
106
106. Dek
107
107. Bertemu Lagi
108
108. Lamaran
109
109. Kekhawatiran Dara
110
110. Belum siap
111
111. Hampir
112
112. Dara Yang Polos
113
113. Selesai Sudah

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!