Gurat kekhawatiran terlukis jelas di wajah ketiga wanita yang sedang duduk di ruang tunggu. Fay hanya bisa menangis setelah melihat ayahnya tidak sadarkan diri. Pak Hardi harus masuk ICU untuk mendapatkan penanganan intensif. Pria paruh baya itu tiba-tiba tak sadarkan diri setelah melihat sang istri mencibir Fay.
"Ayah, jangan tinggalkan Fay! Ayah harus sembuh karena Fay tidak punya siapa-siapa lagi selain Ayah." Fay hanya bisa bergumam dalam hati.
Air mata seakan tidak bisa berhenti mengalir. Fay sangat sedih karena membayangkan hal buruk yang mungkin saja menimpa ayahnya. Ia berharap Tuhan akan menunjukkan keajaiban untuk ayahnya.
"Semua ini gara-gara kamu!" Tiba-tiba saja bu Lisa beranjak dari tempatnya. Wanita paruh baya itu kembali memaki Fay di sel-sela tangisnya.
Diam jauh lebih baik daripada harus bicara dengan orang yang membenci kita. Ya, itulah yang sedang dilakukan Fay saat ini. Membela diri di hadapan bu lisa rasanya percuma. Fay hanya bisa menangis sambil mendengarkan setiap kata-kata pedas yang terlontar dari mulut bu Lisa.
"Mau jadi apa kamu? Lulusan seni lukis mana bisa kerja di perusahaan!" Cibir bu Lisa.
"Ma!" Dira menatap bu Lisa penuh arti, wanita berambut cokelat itu memberikan isyarat lewat sorot mata, agar ibunya berhenti bicara.
"Diam kamu, Dira! Jangan ikut campur!" sergah bu Lisa seraya menatap putrinya dengan tatapan nyalang.
Dira memutuskan pergi dari ruang tunggu yang sepi itu. Ia tidak enak hati kepada Fay karena tidak bisa melindungi dari amukan ibunya. Kini, tinggallah Fay dan bu Lisa di sana.
"Apakah kamu bisa mengembalikan semua biaya kuliahmu di Amerika? Apakah pekerjaan menjadi pelukis bisa membuatmu menjadi kaya raya seperti ayahmu?" Bu Lisa terus memaki Fay, seakan wanita tersebut sedang mengeluarkan semua duri yang tersimpan dalam hati.
"Bu, saya pasti bisa mendapatkan pekerjaan yang layak! Tolong, Ibu jangan memaki saya seperti itu! Kekayaan Ayah lebih dari cukup jika untuk membiayai kuliah saya di Amerika! Lagi pula Ayah tidak pernah keberatan membiayai kuliah saya!" Karena tidak tahan, Fay memberanikan diri untuk menjawab ujaran ibu sambungnya itu.
Amarah di dalam diri bu Lisa semakin memuncak setelah mendengar jawaban dari Fay. Beliau berkacak pinggang di hadapan Fay dengan kelopak mata yang melebar sempurna. Bu Lisa benar-benar tersinggung dengan ucapan putri sambungnya itu.
"Oh, ternyata kamu sudah berani melawanku!" ujar bu Lisa dengan rahang yang mengeras, "tahu apa kamu tentang keuangan keluarga? Kamu tidak pernah tahu bagaimana kondisi perusahaan ayahmu! Kamu hanya tahu bersenang-senang di sana bersama kuas dan canvasmu saja!" Bu Lisa semakin emosi saat menatap putri sambungnya itu.
"Jika memang kamu yakin bisa mendapatkan pekerjaan layak dengan lukisanmu itu, buktikan! Besok kamu harus mencari pekerjaan!" tantang bu Lisa mata yang semakin melebar.
Fay semakin heran setelah melihat sikap ibu tirinya yang semakin menjadi itu. Ia merasa tertantang untuk membuktikan jika dirinya bisa mendapatkan pekerjaan yang layak. Fay ingin sekali membalas cacian ibu tirinya itu, akan tetapi bibirnya terkunci.
"Baiklah! Besok saya akan mencari pekerjaan! Saya akan menunjukkan kepada Ibu jika saya bisa mendapatkan pekerjaan yang layak!" ujar Fay dengan tegas. Ia menatap bu Lisa dengan intens.
...♦️♦️♦️♦️...
Tiga hari telah berlalu begitu saja. Hari terus berhenti tanpa mengenal rasa lelah. Dua hari ini, Fay mendatangi beberapa perusahaan di Jakarta Selatan. Namun, lamaran yang ia ajukan selalu ditolak.
"Aku harus kemana lagi?" Fay bergumam setelah masuk ke dalam mobil. Ia mengetuk setir mobilnya beberapa kali sambil memikirkan perusahaan yang mau menerimanya.
Sebenarnya bisa saja Fay bekerja di perusahaan milik ayahnya, akan tetapi bu Lisa melarangnya. Ibu sambungnya itu menyuruh Fay untuk mencari kerja di tempat lain. Entahlah, Fay sendiri tidak mengerti bagaimana jalan pikiran wanita galak tersebut.
Semua angan harus terbang begitu saja ketika Fay mendengar ponselnya berdering. Ia melihat nama Dira di sana, segera ia menerima panggilan itu. Ekspresi wajah cantik itu mendadak berubah setelah panggilan terhubung.
"Aku kesana sekarang," ucap Fay sebelum mengakhiri panggilan tersebut.
Kabar yang disampaikan Dira berhasil membuat Fay tak karuan. Pikiran buruk terus menghantuinya karena saat ini ayahnya dinyatakan kritis. Pak Hardi tadi malam menjalani operasi penyumbatan pembuluh darah di otaknya.
"Ayah harus sembuh! Ayah tidak boleh pergi menyusul bunda ke surga!" ujar Fay di sela-sela tangisnya.
Setelah menempuh perjalanan beberapa puluh menit, pada akhirnya Fay sampai di rumah sakit. Ia berlari menuju ruang ICU, di mana ayahnya berada saat ini. Fay mengatur napasnya setelah sampai di depan ruangan tersebut. Ia hanya menemukan Dira seorang diri di sana.
"Kemana ibu?" tanya Fay setelah duduk di samping Dira.
"Ibu keluar sejak satu jam yang lalu. Aku tidak tahu kemana ibu pergi. Aku sudah menelfon tapi belum ada jawaban," ucap Dira dengan kepala tertunduk.
Dira sangat menyayangi pak Hardi meski pria tersebut bukanlah ayah kandungnya. Kasih sayang yang diberikan pak Hardi berhasil membuat Dira nyaman, karena tidak merasakan perbedaan di antara dirinya dan Fayre.
Sementara itu di tempat lain, bu Lisa sedang berbicara serius dengan seorang pria yang memakai jas berwarna hitam. Ternyata, bu Lisa sedang berada di Firma hukum milik pengacara yang bekerja sama dengan suaminya.
"Rubah isi surat wasiatnya! Aku tidak terima jika gadis tak berguna itu harus menerima semua warisan dari suamiku!" ujar bu Lisa seraya menatap tajam pengacara yang duduk berhadapan dengannya.
Bu Lisa mengeluarkan amplop cokelat dari tasnya. Amplop tersebut terlihat cukup tebal, bisa dikatakan jika isi amplop tersebut pasti jumlahnya fantastis, "ini DP untuk pekerjaan ini! Sisanya akan ku berikan jika semuanya sudah selesai," ujar bu Lisa dengan tatapan penuh arti.
"Jika kamu menolak, pasti kamu sudah tahu bukan apa konsekuensinya!" Bu Lisa tersenyum smirk saat menatap pengacara tersebut.
"Baiklah, saya akan merubah isi surat wasiat tersebut. Nama Fayre akan saya hapus sesuai permintaan Nyonya," jawab pengacara tersebut setelah berpikir beberapa menit.
Seringai jahat terlukis jelas di wajah bu Lisa. Ambisi wanita paruh baya itu satu persatu akan terwujud. Kini, tinggal satu langkah lagi yang harus beliau lakukan untuk membalas rasa sakit yang disebabkan Fayre di masa lalu. Bu Lisa mencengkram ujung dress yang melekat di tubuhnya saat teringat nasib anak pertamanya.
"Lihat saja setelah ini Fayre! Aku akan membuatmu menangis dan merasakan betapa perihnya hatiku sebagai seorang ibu!" gumam bu Lisa dalam hati.
...🌹Selamat membaca🌹...
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
Hallo selamat pagi😍 Othor ada rekomendasi karya keren nih untuk kalian🤭 Yuk, baca karya dari author Uma_bhie dengan judul Pernikahan Penuh Luka. Udah Buruan kepoin karya ini😍Pasti gak bakal nyesel deh❤️
...🌷🌷🌷🌷🌷...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 135 Episodes
Comments
Ghiie-nae
dasar ibu tirinya kejam banget
2022-09-19
1
Nanda Lelo
emang apa salahnya Fay y ma nih Mak tiri ???
2022-09-11
1
Bunda dinna
Lagi2 harta yg jadi pemicu,menjadikan gelap mata dan hati dengki
2022-09-10
1