Sebelum Edewina berusia 17 tahun.....
Sebagai seorang gadis yang memiliki segudang prestasi bahkan pernah menjadi paskibraka Nasional, tentu saja banyak lelaki yang menyukai Edewina.
Namun tanpa Edewina ketahui, semua lelaki itu mundur karena diancam oleh anak buah Reo yang mengawasi Edewina jika ia keluar rumah.
Hari ini Reo ingin menemui Edewina secara langsung. Ia yang kini berusia 24 tahun dan Edewina yang telah berusia 16 tahun.
Reo menjadi tamu istimewa di sekolah itu. Ia akan memperkenalkan tentang salah satu universitas yaitu Oxford university, tempat Reo menuntut ilmu dan menjadi salah satu mahasiswa terbaik di sana.
Para murid sudah berkumpul aula sekolah. Reo sendiri sudah ada di ruang kepala sekolah.
Beberapa murid mulai asyik berbincang tentang cowok tampan yang ada di ruang kepsek.
"Wina, sudah tahu profil tamu kita yang ada di ruang kepsek?" tanya Sinta, sahabatnya.
"Belum. Aku baru mau ke ruangan kepsek karena dipanggil ke sana."
"Orangnya tampan. Katanya sih dia blesteran Inggris-Indonesia. Namun lebih kental bulenya. CEO muda dari Manchester, penyelam, peselancar, dan termasuk dalam 50 pria tertampan di dunia menurut majalah Times."
Edewina mengerutkan dahinya. "Komplit banget."
"Aku menghayal jika dia adalah pacarku. Tapi orangnya terlalu tinggi. 185 cm. Sedangkan aku 158 cm."
Edewina hanya tersenyum. Ia kemudian melangkah menuju ruang kepala sekolah. Setelah mengetuk pintu, ia pun membukanya perlahan.
"Selamat pagi....!" sapa Edewina sambil melangkah masuk.
Jantung Reo langsung berdetak sangat kencang saat melihat gadis pujaannya memasuki ruangan kepala sekolah. Rambut yang hitam, sedikit bergelombang, diikat satu. Lesung Pipit dan mata yang indah. Mengingatkan Reo atas pertemuan mereka pertama di pesawat. Pandangan mata Edewina yang membuatnya terpesona.
"Tuan Almond, ini Edewina Moreno. Ketua OSIS kami. Dia siswa teladan dan berprestasi. Ia baru saja menjadi paskibraka tingkat nasional sebagai pembawa bendera." kata Kepsek Julian sambil menunjukan foto Edewina yang ada di dinding ruangannya.
"Apa kabar Edewina!" Reo mengulurkan tangannya dan Edewina menyambutnya dengan hangat. Mereka saling bertatapan. Sama-sama saling tersenyum dan Reo sungguh merasakan bahwa ia jatuh cinta pada gadis ini.
"Baik, tuan Christensen Haireo Almond."
Reo terkejut. "Kau tahu nama lengkap ku?"
"Seluruh murid di sekolah ini, khususnya yang perempuan sudah menghafal profil anda, tuan."
Reo hanya terkekeh sedangkan kepsek mengangkat tangannya. "Begitulah dunia sekarang ini. Tak ada yang bisa kita sembunyikan."
"Edewina, panggil saja namaku. Jangan ada sebutan tuan. Atau kebiasaan di sekolah dengan sebutan kak Reo. Begitulah nama kecilku."
"Rasanya tak sopan. Kalau kulihat profilnya, usia tuan kan sekarang 24 tahun."
"Apakah aku terlihat tua?" tanya Reo. Cukup cemas karena tak ingin gadisnya itu menganggap dia sudah tua.
Edewina terkekeh. Sangat cantik di mata Reo. Giginya yang putih dan rapi semakin menambah kecantikannya.
"Tidak. Dilihat dari cara berpakaiannya, wajahnya. Masih pantas dipanggil kakak." ujar Edewina sambil mengangkat kedua jempolnya.
Reo menjadi gemas. Ingin rasanya ia menyibakkan rambut-rambut halus yang ada di dahi gadis itu. Menggenggam jemarinya dan membagikan rasa hangat diantara mereka.
"Terima kasih." ujar Reo merasa sedikit bangga.
Mereka pun sama-sama tertawa. Setelah itu kepala sekolah meminta Edewina untuk berkeliling memperkenalkan lingkungan sekolah mereka yang merupakan sekolah terbaik di kota ini. Tentu saja hal itu membuat Reo menjadi sangat bersemangat. Ia bisa lebih dekat dengan gadis pujaannya.
Mereka bahkan tukaran email dan nomor WA.
"Sebenarnya aku tak sembarangan memberikan nomor pribadiku pada orang lain. Biasanya aku memberikan nomor asistenku. Namun untuk Edewina, aku bersedia." ujar Reo selesai memberikan nomor WA nya pada gadis pujaannya itu.
"Terima kasih, kak. Nanti kita saling memberikan kabar misalkan aku juga ingin kuliah di sana."
"Ok. Sekarang kita pergi ke aula?"
Edewina mengangguk. Ia senang berbicara dengan pria tampan ini. Ia sangat rendah hati dan selalu menemukan topik pembicaraan yang menarik untuk dibahas.
Dari percakapan itulah, Reo tahu mobil kesukaan Edewina jika dia sudah memiliki surat ijin mengemudi. Dan Reo berjanji akan memberikan mobil itu jika waktunya sudah tiba.
"Sangat bahagia, tuan?" tanya Mark saat mereka meninggalkan sekolah.
"Ya. Dia bukan hanya cantik tapi juga pintar dan smart. Aku suka caranya memimpin percakapan tadi. Dan aku semakin yakin kalau aku memang harus memperjuangkannya."
"6 tahun tuan sudah menunggunya."
"Aku siap menunggu dua tahun lagi. Setelah itu aku akan berjuang untuk memenangkan hatinya."
"Tuan, bagaimana jika dia jatuh cinta dengan pria lain?"
"Aku akan tetap berusaha memilikinya. Entahlah, hati kecilku mengatakan kalau dia adalah milikku."
Sekali lagi Mark hanya mengangguk. Ia tahu bagaimana Reo menahan diri selama ini untuk tak berbuat nekat dan menculik Edewina karena rasa cintanya pada gadis itu.
Acara di aula pun sukses di gelar dengan Edewina yang menjadi moderator.
Para murid SMA ini banyak histeris karena ketampanan atlet peselancar ini. Reo memang mengikuti jejak sang ayah yang adalah seorang peselancar.
Acara foto bersama pun digelar dan tentu saja hal yang paling membahagiakan Reo adalah mendapatkan kesempatan foto berdua dengan bintang cantik di sekolah ini.
"Terima kasih ya. Senang hari ini bisa bertemu datang ke sekolah ini dan memperkenalkan universitas tempat aku sekolah."
"Sama-sama juga kak Reo." Edewina membalas jabatan tangan Reo.
"Sebenarnya aku lebih suka memanggil kakak dengan sebutan kak Sen. Bagian akhir nama yang pertama."
"Oh boleh juga. Kedua kakak perempuan ku memanggil aku dengan sebutan Sen."
"Oh ya? Jadi anggaplah aku sebagai adik juga ya. Karena aku juga perempuan dan suka dengan nama itu."
Reo hanya tersenyum. Aku tak ingin menjadikanmu sebagai adikku, cantik. Tapi sebagai istriku.
Setelah itu Reo pun pamit pulang.
Mark sang asisten langsung membawa mereka menuju ke bandara karena sore ini Reo harus ada di Surabaya untuk menghadiri hari ulang tahun ponakannya. Anak dari kakaknya, Arma.
**********
Sejak saat itu, Reo dan Edewina pun sering berkomunikasi. Walaupun sebenarnya yang lebih banyak bicara adalah sahabat-sahabatnya Edewina namun pria itu tetap menanggapinya dengan baik.
Apalagi di malam ulang tahun Edewina, saat Reo Videocall dan menyampaikan selamat ulang tahun, Edewina mengangkat kunci mobil yang dihadiahkan oleh Reo tanpa Edewina ketahui.
"Kak, aku akhirnya bisa mendapatkan mobil impianku."
"Oh ya?"
Edewina melangkah ke arah jendela dan menunjukan mobil impiannya yang terparkir di sana. "Cantik kan?"
"Ya. Secantik pemiliknya."
Edwina tersenyum senang. "Namun aku bingung Kak. Entah siapa yang memberikannya. Papi sebenarnya nggak suka jika aku menerima hadiah dari orang yang tak dikenal. Aku juga sempat bertanya-tanya, siapa sih orang tak waras yang memberikan hadiah semahal itu. Aku cek harganya sekitar 6 M."
Hati Reo bergetar melihat bagaimana senangnya gadis itu. "Nikmati saja. Itu adalah rezeki mu diusia yang ke-17 tahun. Tapi jangan lupa, buat SIM dulu baru bisa membawanya, ya?"
"Siap, kak." kata Edewina sambil mengangkat tangan kirinya dan memperlihatkan cincin berlian pemberian Kennard. Cincin itu menarik perhatian Reo.
"Cincin baru ya?"
"Oh..., yang ini...." Edewina mengusap permukaan cincin nya. "Karena kakak sudah ku anggap seperti kakakku sendiri, aku akan mengatakannya. Ini hadiah dari pacarku. Namanya Kennard Lim. Cowok asal Korea namun mamanya juga orang Indonesia. Sama kayak kita berdua yang memiliki mama orang Indonesia."
Hati Reo sangat sakit mendengarnya. Namun ia berusaha tersenyum. "Oh ya? Sudah lama kenalnya?"
"Sudah dua tahun lebih. Kami kenalnya secara tak sengaja. Aku salah menelepon. Dari sanalah kami dekat. Aku suka orangnya yang lembut. Kami baru jadian semalam kak saat Ken menelpon. Karena ia tahu kalau aku tak mau pacaran sebelum usiaku 17 tahun. Tapi kami belum pernah ketemu. Hanya melalui telepon saja."
"Oh...selamat ya?"
"Terima kasih, kak. Oh ya, aku tutup dulu ya? Ken menelepon. Da...kakak."
Reo mengepalkan tangannya. Ia menatap Mark yang sedang duduk tak jauh darinya.
"Dia sudah punya pacar dan kalian tak mengetahuinya?" tanya Reo menahan marah.
"Tuan, kalau mereka pacaran hanya melalui telepon, email dan lain sebagainya, tanpa ada pertemuan langsung, jelas saja kami tak tahu. Karena kan CCTV di rumah itu hanya ada di ruang tamu, dapur dan bagian halaman rumah. Pastilah nona bertemu dengan lelaki itu dari laptop yang ada di kamarnya."
"Aku butuh informasi tentang Kennard Lim."
Mark mengangguk. "Baik tuan."
Reo memejamkan matanya. Sungguh ia tak pernah menyangka kalau mengetahui Edewina mencintai pria lain akan sesakit ini.
*************
Terima kasih sudah membaca part ini. semoga suka ya
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 78 Episodes
Comments
gia nasgia
Rep posesif plus pemaksa😂
2024-04-06
0
Nadia
kakak author kalau tidak salah saat jumpa di pesawat itu di ceritakan Reo usia nya 19 Edewina 9 th,,di Cinta Rahasia Edmond,,jadi beda 10 th dong,jika Wina usia 16 berarti Reo 26 bukan 24
2023-04-25
0
nonik
pertemuan prtama setelh 6 thun pasti reo hatinya bahagia bgeet ..kejutanya dr wina bkin reo emosi😅😅😅
2022-10-03
1