Bab 3 Aku yang baru

Weni sedari tadi melihat jam. Neyza masih belum pulang sejak jam 1 siang tadi. Pesan terakhir yang Neyza terima ternyata menjadi sebuah petunjuk besar menemukan siapa pelakunya. Ia pergi bersama Pak Daniel ke kantor polisi. Nampaknya seseorang sudah ditetapkan menjadi tersangka. Weni hanya mendapatkan pesan singkat dari Neyza bahwa ia baik-baik. Tapi tidak dengan keadaan Weni yang tidak baik-baik saja.

Suara mobil masuk dari arah pagar rumah besar Neyza. Weni berlari ke depan untuk menemui Neyza. Pak Daniel keluar disusul Neyza dengan wajah berbinar.

Weni : "Ih... Orang lagi khawatir kamu malah senyum-senyum. Gimana?"

Pak Daniel memberikan kode OK pada Weni dan berlalu masuk ke dalam rumah. Sedangkan Neyza hanya tersenyum tanpa ada komentar.

Weni mengikuti sahabatnya dan Pak Daniel ke ruang tengah. Seorang asisten rumah meletakkan tiga cangkir teh dan potongan kue coklat.

Weni : "Akhirnya gimana?"

Pak Daniel : "Sudah diduga. Orang iri sama mbak Neyza."

Weni : "Mahasiswa kampus? Terus kejadian di.."

Pak Daniel : "Semua itu cuma settingan. Mereka sudah tahu keperluan Mbak Neyza dengan Bu Mei. Mereka kirim pesan agar mbak Neyza menemui Bu Mei di restoran yang juga di setting agar pengunjung tidak datang lebih dahulu. Para pelayan juga turut andil. Setelah minum kopi yang diberi obat tidur dengan dosis tinggi, mereka membopong mbak Neyza ke sebuah apartemen kosong. Yang membuka bajunya pun perempuan. Tidak ada campur tangan laki-laki. Dan mereka mengaku itu hanya sebuah gertakan."

Weni : "Ih.. Jahat banget."

Neyza : "Dan orang itu pun juga sama sekali aku gak kenal. Aneh kan? Dia baru ketemu aku tuh ya kemarin itu. Katanya sih temannya lagi. Halah muter-muter situ aja."

Weni : "Pindah kampus aja kenapa sih, Ney?"

Neyza : "Nanggung ah. Dikit lagi semester akhir. Lagian kalo gak kuat udah lama aku pindah. Gampang aja aku pindah."

Pak Daniel : "Saya juga menyarankan gitu. Mungkin mbak Neyza punya pertimbangan lain."

Neyza : "Pak Daniel. Di jalan tadi sempat kepikiran keinginan sebulanan ini."

Pak Daniel : "Apa itu, mbak?"

Neyza : "Mau tinggal di kontrakan aja."

Pak Daniel : "Kontrakan apa mbak? Maksudnya?"

Neyza : "Iya. Mau tinggal di lingkungan sederhana. Yang gak kayak gini. Semua-mua diatur, disediain, tinggal ambil. Pingin bisa atur hidup sendiri."

Weni : "Ih. Ada-ada aja kamu ini ah. Rumah ini kurang besar apa buat kamu?"

Neyza : "Bukan besarnya, Wen. Pingin ngerasain hidup yang beda dari hidup sekarang."

Pak Daniel : "Nanti kalo Bapak Ibu tahu saya dimarahi lho, mbak."

Neyza : "Nggak, Pak. Tenang aja. Saya kan pake alasan yang logis. Semoga mereka bisa menerima."

Weni : "Emang apaan?"

Pak Daniel : "Jadi saya mesti cari sekarang, mbak?"

Neyza mengangguk disusul Pak Daniel yang segera berdiri dan keluar untuk mengerjakan tugas dari Neyza.

Neyza tersenyum melihat Weni.

Neyza : "Percaya deh. Semoga berjalan lebih baik. Weni di sini dulu ya? Aku sendirian."

Weni : "Lha ada banyak gini lho yang bantu urus rumah, nona."

Neyza : "Gak ada yang bisa dikibulin. Hahaha..", Neyza berlari ke lantai 2. Weni pun mengejarnya.

**********

Siang itu, Rion dan Bili mengunjungi beberapa rumah kontrakan yang berada di sekitar kampung Bili. Satu jam lamanya Rion dan Bili mengelilingi kampung dengan bertanya kepada para tetangga. Mereka berhenti di sebuah kawasan kontrakan. Nampak seperti rumah kontrakan kecil namun sepertinya sangat cocok untuk keluarga.

Kontrakan kecil dengan 1 kamar, 1 kamar mandi dan dapur kecil sangatlah pas untuk dihuni sendirian. Harga per tahun yang menurut Bili sangat terjangkau.

Rion : "Gak ada yang lebih mahalan dikit?"

Bili : "Eh, anak sultan. Kita bukan mau liburan, ya. Lagian kan elu cuma mau cek ricek doang kan buat tugas kampus."

Rion terkekeh.

Rion : "Iya iya. Ini aja dah gue ambil."

Bili menemui seseorang yang nampaknya pemilik kontrakan. Seminggu lagi Rion bisa menempati kamar yang sedang kosong.

***********

Pagi itu Weni dan Neyza sedang berenang. Weni yang penasaran dengan tugas Pak Daniel nampaknya mendesak Neyza dengan banyak pertanyaan.

Weni : "Dari kemarin aku capek lho nanyain mulu. Jawab kek. Pak Daniel disuruh ngapain sih?"

Neyza yang sedari berenang dengan gaya bebas berhenti di pinggir kolam. Weni memberikannya segelas infuse water melon dingin kesukaan Neyza.

Neyza keluar dari kolam. Memakai baju handuk dan duduk di kursi panjang.

Neyza : "Aku mau tinggal di lingkungan sederhana, Wen."

"Apaaaa?", Weni terkejut bukan main dengan perkataannya sahabatnya itu.

Neyza : "Dengan apa yang terjadi beberapa tahun belakangan. Kayaknya aku pingin jadi orang yang biasa aja."

Weni : "Kamu tuh uda emang orang biasa. Yang gak biasa orang pake sayap. Gimana sih?"

Neyza tertawa lepas.

Neyza : "Gak gitu, Weni Putri Dama. Aku pingin tinggal di kosan atau rumah kontrakan gitu."

Weni : "Bentar-bentar. Aku gak bakal pernah ngerti apa yang kamu omongin. Ini antara otakku yang gak begitu yahud atau memang kamu orangnya aneh. Detail, please."

Neyza : "Intinya aku pingin hidup di lingkungan kayak kampung gitu. Pingin rasain gimana rasanya kehidupan yang gak pernah aku tahu. Ngerjain semua sendiri. Masak, cuci baju, belanja, ke kampus naik ojek. Ah kayak gitu deh kalo lihat temen-temen kampus yang hidup sederhana kayak mereka hidup santai aja. Seloow. Gak ada haters."

Weni : "Terus semua orang malah pingin jadi kayak kamu. Pintar, kaya, cantik, tapi aneh."

Neyza : "Hahahaa.... Ya mereka bisa kok tukar kehidupan. Masalahnya kan mereka lihat yang enaknya doang. Padahal imbang sama gak enaknya, kan?"

Pak Daniel masuk ke taman belakang. Ia menemui Neyza dengan selembar kertas.

Pak Daniel : "Mbak Neyza, sejauh ini. Rumah kontrakan ini yang paling baik. Lingkungan, jumlah orang, fasilitas terdekat."

Neyza melihat kertas yang dibawa Pak Daniel. Ia mengangguk dan tersenyum.

Neyza : "Yasudah ini aja. Kapan bisa ditempati, pak?"

Pak Daniel : "Besok bisa, mbak."

Neyza : "Oke, saya siapkan apa-apanya dulu deh. Minta tolong saya diantar ya, pak."

Pak Daniel mengganggu dan berlalu.

Weni melihat kertas yang terdapat foto lingkungan kontrakan keluarga tersebut.

Weni : "Kamu cari kontrakan biar bisa urus sendiri?"

Neyza mengangguk.

Weni : "Mandiri kan gak harus keluar rumah, Ney."

Neyza : "Tapi ini beda. Udah ah. Bantuin ngepak baju. Ah. Gak. Beli baju biasa dimana ya?"

Weni : "Toserba nhoo. Banyak."

Weni menemani Neyza untuk menyiapkan baju yang akan dibawa.

Keesokan harinya Neyza diantar Pak Daniel untuk menempati rumah kontrakannya.

Neyza masuk dengan melihat-lihat rumah barunya. Satu kamar yang cukup ia tempati. Ada kamar mandi, dan dapur untuk memasak.

Pak Daniel : "Kita butuh Ac, mesin cuci dan kulkas, kompor, mbak."

Neyza : "Hmm.. kayaknya kompor sama kulkas aja, pak. Masa orang baru tiba-tiba pasang ac bawain tv dan sebagainya? Kan nanti tetangga pada ngomongin."

Pak Daniel : "Kan pindahan, mbak. Gpp."

Neyza : "Kipas angin aja, Pak. Nyesuaiin sama tetangga sekitar. Gak enak. Sama tivi flas yang kecil. Nanti kalo ada yang pasang ac baru deh pasang ac."

Weni menggeleng.

Weni : "Aku ikutan tinggal sini, Ney?"

Neyza : "Gak gak. Ribet makanmu banyak. Gak sanggup akuuu. Hahahaha..."

Weni : "Dasar bocah."

Setelah membuat list keperluan rumah dan menaruh koper, Neyza, Weni dan Pak Daniel menuju toserba terdekat.

Malam ini, adalah malam pertama Neyza tinggal sendirian di lingkungan yang baru. Suara berisik dari kanan dan kiri dinding membuatnya tak bisa tidur. Belum lagi perut yang tak kunjung berhenti berteriak.

Segal keperluan sudah lengkap. Kasur, kompor, kipas angin, ember, dan hal kerumahtanggaan lainnya pun sudah ada. Masalah yang saat ini terjadi adalah...

Neyza tidak tahu harus memulai dari mana.

Terpopuler

Comments

missYara

missYara

menarik...

2020-10-13

1

Alyssa Kevin

Alyssa Kevin

hahhhh

2020-08-26

0

Sasa (fb. Sasa Sungkar)

Sasa (fb. Sasa Sungkar)

aq sukaa 😍👍
seeru thor

aq sudah bawa 3 like yaaa

2020-07-26

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Nasib
2 Bab 2 Dunia (bakal) terbalik
3 Bab 3 Aku yang baru
4 Bab 4 Tetanggaku
5 Bab 5 Minyak Air
6 Bab 6 Berbunga
7 Bab 7 Bareng
8 Bab 8 Teman
9 Bab 9 Tamu tak diundang
10 Bab 10 Sana, Rion
11 Bab 11 Siapa kamu?
12 Bab 12 Bukan aku
13 Bab 13 Kejutan
14 Bab 14 Hancur
15 Bab 15 Pilihan Sulit
16 Bab 16 Jangan Lari
17 Bab 17 Jangan Sakit
18 Bab 18 Manji, ayo beli martabak.
19 Bab 19 Kita gak apa-apa
20 Bab 20 Tinggal
21 Bab 21 Selamat Datang
22 Bab 22 Harus bagaimana?
23 Bab 23 Pilihan
24 Bab 24 Double Trouble
25 Bab 25 Jadi siapa?
26 Bab 26 Kamu dimana?
27 Bab 27 Tidak apa-apa
28 Bab 28 Menangislah
29 Bab 29 Pamit
30 Bab 30 Alam penyembuh
31 Bab 31 Hanya sebentar
32 Bab 32 Terkuak
33 Bab 33 Pertemuan awal
34 Bab 34 Bangkit lagi?
35 Bab 35 Terbuka
36 Bab 36 Beda
37 Bab 37 Satu tujuan
38 Bab 38 Dia ternyata
39 Bab 39 Teman Selamanya?
40 Bab 40 Waktu Neyza
41 Bab 41 Kabar Mengejutkan
42 Bab 42 Kenapa datang lagi?
43 Bab 43 Nuansa Putih
44 Bab 44 Sedekat ini
45 Bab 45 Curhat
46 Bab 46 Malam Nanti
47 Bab 47 Malam Bersama
48 Bab 48 Kembali lagi
49 Bab 49 Cerita Malam
50 Bab 50 Mau kamu apa?
51 Bab 51 Tinggal berdua
52 Bab 52 Izin
53 Bab 53 Mama dan Papa
54 Bab 54 Restu Hani
55 Bab 55 Masa Lalu itu
56 Bab 56 Password : Cemburu
57 Bab 57 Jangan Ganggu Anakku!
58 Bab 58 Jujur
59 Bab 59 Kota Baru
60 Bab 60 Runyam
61 Bab 61 Sadar
62 Bab 62 Reuni
63 Bab 63 Maaf ya, Ney
64 Bab 64 Tanteku
65 Bab 65 Perkasa
66 Bab 66 Recovery
67 Bab 67 Kelam
68 Bab 68 Sayonara
69 Bab 69 Sebuah cerita
70 Bab 70 Kedatangan Tamu
71 Bab 71 Kabar Kabar Bahagia
72 Bab 72 Ta, jangan tinggalin Mama.
73 Bab 73 "Kak, aku di kantor Polisi"
74 Bab 74 Butuh Bantuan
75 Bab 75 Tenang, bersenang-senanglah dulu
76 Bab 76 Akting
77 Bab 77 Merekam jejak
78 Bab 78 Restoran malam ini
79 Bab 79 Jelaskan!
80 Bab 80 Terbuka
81 Bab 81 Pertanyaan-pertanyaan
82 Bab 82 Mungkin nanti
83 Bab 83 Tak disangka
84 Bab 84 Dua berita
85 Bab 85 Kusut
86 Bab 86 Gerak cepat.
87 Bab 87 Tambah rumit
88 Bab 88 Minta tolong
89 Bab 89 Cinta mati
90 Bab 90 Ijin sahabat
91 Bab 91 Paruh waktu
92 Bab 92 Sambut atau tinggalkan
93 Bab 93 Berbunga-bunga
94 Bab 94 Ulang tahun pernikahan
95 Bab 95 Berdebar
96 Bab 96 Selamat Datang
97 Bab 97 Kotak rahasia
98 Bab 98 Pria itu
99 Bab 99 Tuan Bayangan
100 Bab 100 Ayo lari!
101 Bab 101 Apakah kamu?
102 Bab 102 Serunai bersuara
103 103 Tegas!
104 104 Patah Hati (lagi)
105 105 Cinta segitiga
106 106 Bayangan Maliq
107 107 Takdir apalagi?
108 108 Pertemuan tak terduga
109 109 Sebuah jawaban
110 110 Harapan itu ada
111 111 Ikat
112 112 Ikut
113 113 Hari ini
114 114 Lelah
115 115 Kamu kenapa?
116 116 Bersama
Episodes

Updated 116 Episodes

1
Bab 1 Nasib
2
Bab 2 Dunia (bakal) terbalik
3
Bab 3 Aku yang baru
4
Bab 4 Tetanggaku
5
Bab 5 Minyak Air
6
Bab 6 Berbunga
7
Bab 7 Bareng
8
Bab 8 Teman
9
Bab 9 Tamu tak diundang
10
Bab 10 Sana, Rion
11
Bab 11 Siapa kamu?
12
Bab 12 Bukan aku
13
Bab 13 Kejutan
14
Bab 14 Hancur
15
Bab 15 Pilihan Sulit
16
Bab 16 Jangan Lari
17
Bab 17 Jangan Sakit
18
Bab 18 Manji, ayo beli martabak.
19
Bab 19 Kita gak apa-apa
20
Bab 20 Tinggal
21
Bab 21 Selamat Datang
22
Bab 22 Harus bagaimana?
23
Bab 23 Pilihan
24
Bab 24 Double Trouble
25
Bab 25 Jadi siapa?
26
Bab 26 Kamu dimana?
27
Bab 27 Tidak apa-apa
28
Bab 28 Menangislah
29
Bab 29 Pamit
30
Bab 30 Alam penyembuh
31
Bab 31 Hanya sebentar
32
Bab 32 Terkuak
33
Bab 33 Pertemuan awal
34
Bab 34 Bangkit lagi?
35
Bab 35 Terbuka
36
Bab 36 Beda
37
Bab 37 Satu tujuan
38
Bab 38 Dia ternyata
39
Bab 39 Teman Selamanya?
40
Bab 40 Waktu Neyza
41
Bab 41 Kabar Mengejutkan
42
Bab 42 Kenapa datang lagi?
43
Bab 43 Nuansa Putih
44
Bab 44 Sedekat ini
45
Bab 45 Curhat
46
Bab 46 Malam Nanti
47
Bab 47 Malam Bersama
48
Bab 48 Kembali lagi
49
Bab 49 Cerita Malam
50
Bab 50 Mau kamu apa?
51
Bab 51 Tinggal berdua
52
Bab 52 Izin
53
Bab 53 Mama dan Papa
54
Bab 54 Restu Hani
55
Bab 55 Masa Lalu itu
56
Bab 56 Password : Cemburu
57
Bab 57 Jangan Ganggu Anakku!
58
Bab 58 Jujur
59
Bab 59 Kota Baru
60
Bab 60 Runyam
61
Bab 61 Sadar
62
Bab 62 Reuni
63
Bab 63 Maaf ya, Ney
64
Bab 64 Tanteku
65
Bab 65 Perkasa
66
Bab 66 Recovery
67
Bab 67 Kelam
68
Bab 68 Sayonara
69
Bab 69 Sebuah cerita
70
Bab 70 Kedatangan Tamu
71
Bab 71 Kabar Kabar Bahagia
72
Bab 72 Ta, jangan tinggalin Mama.
73
Bab 73 "Kak, aku di kantor Polisi"
74
Bab 74 Butuh Bantuan
75
Bab 75 Tenang, bersenang-senanglah dulu
76
Bab 76 Akting
77
Bab 77 Merekam jejak
78
Bab 78 Restoran malam ini
79
Bab 79 Jelaskan!
80
Bab 80 Terbuka
81
Bab 81 Pertanyaan-pertanyaan
82
Bab 82 Mungkin nanti
83
Bab 83 Tak disangka
84
Bab 84 Dua berita
85
Bab 85 Kusut
86
Bab 86 Gerak cepat.
87
Bab 87 Tambah rumit
88
Bab 88 Minta tolong
89
Bab 89 Cinta mati
90
Bab 90 Ijin sahabat
91
Bab 91 Paruh waktu
92
Bab 92 Sambut atau tinggalkan
93
Bab 93 Berbunga-bunga
94
Bab 94 Ulang tahun pernikahan
95
Bab 95 Berdebar
96
Bab 96 Selamat Datang
97
Bab 97 Kotak rahasia
98
Bab 98 Pria itu
99
Bab 99 Tuan Bayangan
100
Bab 100 Ayo lari!
101
Bab 101 Apakah kamu?
102
Bab 102 Serunai bersuara
103
103 Tegas!
104
104 Patah Hati (lagi)
105
105 Cinta segitiga
106
106 Bayangan Maliq
107
107 Takdir apalagi?
108
108 Pertemuan tak terduga
109
109 Sebuah jawaban
110
110 Harapan itu ada
111
111 Ikat
112
112 Ikut
113
113 Hari ini
114
114 Lelah
115
115 Kamu kenapa?
116
116 Bersama

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!