" Sebenarnya Mas itu_..." ucap Azzam sambil nyengir.
" Opo sih, Mas! Jangan aneh - aneh," sungut Zahra.
" Mmm... Mas itu haus, Dek. Malu mau minta minum... hehehee..."
" Astaghfirullah... Maaf ya, Mas? Adek lupa, sebentar ya?"
Zahra segera berlari ke dapur untuk membuatkan teh hangat untuk suaminya. Dia merasa sangat bersalah karena sudah lalai dalam melayani suaminya.
" Maaf ya, Mas? Zahra belum bisa menjadi istri yang baik." ucap Zahra menangis seraya bersimpuh di lantai di depan suaminya.
" Ya Allah, Dek... kamu kenapa? Jangan menangis begitu, kamu jangan bicara seperti itu. Kamu tidak salah apa - apa, kamu adalah istri terbaik di dunia dan akhirat." rayu Azzam.
" Jangan merayu, nanti aku malah ketawa." lirih Zahra.
" Masya Allah... pasti lapar nih kalau ngomongnya udah ngalor - ngidul begini." ledek Azzam.
Azzam langsung menarik tubuh Zahra ke dalam pangkuannya. Diciumnya berkali - kali pipi sang istri dengan gemas.
" Makan yuk? Mas udah beli nasi padang buat makan malam." bisik Azzam.
" Benarkah? Adek sudah lama tidak beli nasi padang, tempatnya jauh dari desa." sahut Zahra girang seraya melonjak di pangkuan Azzam.
" Auwww...!" rintih Azzam menahan sakit.
" Mas... kenapa?"
Zahra langsung turun dari pangkuan Azzam dan memeriksa seluruh tubuh Azzam dari bagian depan. Zahra sampai membuka jaket yang belum sempat dilepas suaminya serta kemeja putih hingga memperlihatkan dada bidangnya.
" Dek... kamu ini kenapa sih? Kalau minta jatah di kamar, bukan disini sayangku." goda Azzam.
" Apa sih! Mana yang sakit?"
" Perutnya yang sakit, Dek. Belum makan habis perjalanan jauh."
" Bohong...!"
" Bunda kalau marah serem..."
" Jangan drama di malam hari deh Mas!"
" Masya Allah... cantiknya istriku, makan dulu yuk? Nanti kalau Mas pingsan tidak ada yang gendong."
" Tapi Mas sakit apa?"
" Nanti kalau sudah selesai makan, baru Mas akan ceritakan semua. I'm seriously, honey..."
" Baiklah, adek siapin dulu makanannya..."
Zahra menyiapkan piring untuk suaminya dan dirinya sendiri beserta dua gelas air putih. Zahra membawa makanannya ke ruang tamu karena Azzam tak berniat beranjak dari sana.
" Ayo Mas, kita makan dulu. Habis itu janji cerita sama Zahra!"
" Iya, sayang..." Azzam masih saja tersenyum manis di depan istrinya.
Selesai makan, Zahra segera membersihkan gelas dan piring lalu kembali menempel pada suaminya. Tatapannya begitu aneh menurut Azzam.
" Mas... katakan sekarang! Bagian mana yang sakit?" cecar Zahra.
" Sabar, bidadariku yang cantik... tadi Mas beli kue tolong kasih ke Agus dan Cahyo, sekalian suruh kesini sekalian."
" Kenapa disuruh kesini? Sudah malam, Mas..."
" Nurut sama perintah suami, cepat sana istriku yang cantik..."
Zahra mengambil bungkusan kue yang ia letakkan di meja dapur. Ada tiga kue bolu yang dibeli Azzam, satu untuk istri dan anaknya, sisanya untuk Agus dan Cahyo.
" Adek keluar sebentar ya, Mas? Titip Rama kalau bangun." ucap Zahra.
" Iya, sayangku... lagian rumah Cahyo dan Agus itu cuma di depan. Mau berapa lama kamu pergi?"
" Hehehee... mmuuaacchhh... Assalamu'alaikum," pamit Zahra sambil nyengir.
" Wa'alaikumsalam." jawab Azzam tersenyum kecil dengan tingkah istrinya.
Setelah istrinya keluar dari rumah, Azzam mencoba menggerakkan tubuhnya namun terasa perih. Punggungnya terasa sangat sakit sehingga dirinya tak mampu berdiri. Azzam tidak langsung memberitahu Zahra tentang sakitnya karena takut malah jadi heboh nantinya.
" Kau sudah membuatku sadar artinya kasih sayang, ketulusan cintamu yang tak pernah menilai apapun dari harta dan tahta. Semoga kita berjodoh sampai akhir hayat, aku mencintaimu karena kesederhanaanmu. Kalimat yang selalu kau ucapkan saat berdua, 'bahagia tak harus kaya'. Kata yang selalu membuatku semakin jatuh cinta padamu setiap waktu." batin Azzam.
Tak lama Zahra datang bersama Agus dan Cahyo. Setelah mengucap salam, mereka bertiga masuk ke dalam rumah.
Zahra kaget karena mendengar suara Rama menangis di dalam kamar sedangkan Azzam hanya diam saja tak beranjak sedikitpun dari tempatnya duduk.
" Mas... itu Rama menangis kok dibiarkan saja?" tanya Zahra heran.
" Maaf, Dek... Mas tidak bisa menjaga Rama." lirih Azzam.
Zahra langsung masuk ke dalam kamar, sedangkan Azzam hanya bisa menatapnya dengan sendu. Azzam tak mampu menggerakkan tubuhnya walau sudah berusaha dengan keras.
" Mas Azzam kenapa to?" tanya Agus.
" Punggungku sakit, Gus. Tadi hampir saja jadi korban perampokan." jawab Azzam pelan.
" Innalillahi... coba saya lihat lukanya, Mas..." kata Cahyo.
" Coba dipakai rebahan bisa tidak, Mas?"
" Susah, Gus. Dari tadi juga sudah pengen rebahan namun kaku, tidak bisa bergerak."
" Sini... biar kamu bantu pelan - pelan. Tengkurep aja Mas biar ngobatinnya gampang."
Setelah sedikit dipaksakan, akhirnya Azzam bisa juga berbaring dengan tengkurep. Zahra kembali keluar setelah berhasil menidurkan Rama kembali.
" Astaghfirullah... Mas, punggung kamu kenapa begitu?" pekik Zahra.
" Pelan - pelan, Dek. Nanti Rama bangun lagi." peringat Azzam.
" Tidak apa - apa, mbak. Saya mau cari tukang urut dulu takutnya syarafnya yang kena." kata Agus.
" Terimakasih, Gus. Cepat ya carinya?" sahut Zahra cemas.
Cahyo keluar dari dapur dengan baskom berisi air dingin yang ia campur dengan batu es. Lukanya harus di kompres supaya nyerinya berkurang.
" Mbak Zahra, ada handuk kecil buat kompres lukanya mas Azzam?" tanya Cahyo.
" Ada, sebentar aku ambil di kamar." jawab Zahra.
Setelah mengambil handuk kecil, Zahra langsung duduk bersimpuh di lantai samping Azzam. Sementara Cahyo yang mengompres punggung Azzam.
" Mas... kok tidak bilang kalau habis kerampokan?" tanya Zahra cemas.
" Ini cuma luka kecil, sayang... besok juga udah sembuh kok." jawab Azzam santai.
" Hhh... luka begitu kok kecil."
Azzam menceritakan secara detail tentang perampokan itu. Tak ada rasa trauma sama sekali di benak Azzam karena dalam perkelahian itu dirinya yang menang.
Tak lama tukang urut datang bersama dengan Agus. Pria paruh baya itu langsung mengobati Azzam. Syaraf - syarafnya memang ada yang salah karena hantaman yang cukup keras itu. Setelah dirasa selesai, Agus kembali mengantarkan tukang urut itu pulang.
" Mas kok bisa pulang sendiri kalau punggungnya sakit?" tanya Zahra.
Kini Azzam dan Zahra hanya tinggal berdua saja. Agus dan Cahyo sudah pulang karena sudah hampir jam dua belas. Azzam juga sudah di pindahkan ke kamarnya.
" Tadi itu sakitnya belum terasa, Dek. Cuma sedikit nyeri dan kaku. Tapi setelah sampai di rumah, tubuhnya seakan lumpuh dan sakit di seluruh tubuh."
" Mau dipijitin lagi, Mas?"
" Tidak usah, kamu juga pasti lebih capek dari Mas. Kamu bekerja seharian tanpa mengeluh. Kamu adalah wanita yang hebat, Mas jadi insecure deket sama kamu."
" Ish... gombal...!"
" Ini kenyataannya, sayang. Yoa are a wonder woman in my heart."
" Udah ah, kebanyakan gombalnya kamu, Mas!"
" Hahahaa... pasti mukanya udah merona? Coba aja nggak sakit, bisa lima ronde sampai pagi." kelakar Azzam.
" Opo sih, Mas! Ora jelas blas pikirane," ketus Zahra.
Azzam tak bisa berhenti tertawa melihat istrinya yang sudah sangat kesal padanya. Sangat menyenangkan bisa menggoda istrinya.
" Dek, tolong ambilkan jaket Mas di ruang tamu ya?"
" Buat apa? Mas kedinginan...?"
" Tidak, ada sesuatu yang mau kuambil."
" Sebentar, Zahra ambil dulu."
Setelah menyerahkan jaket suaminya, Zahra segera berbaring di samping putranya yang sangat lelap dalam tidurnya.
.
.
TBC
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 88 Episodes
Comments