Adam pun membawa Erika pergi dari kediaman rumahnya bersama Aisyah itu. Ia mencekal tangan Erika dengan sedikit keras, membuat pergelangan tangan Erika terasa sakit.
"AWW! Mas lepasin aku! Sakit mas!" Ucap Erika kesakitan ketika Adam yang kembali mencekal lengannya saat sampai di apartemen.
"Mas! Lepasin mas! Sakit!"
Erika terus menerus mengeluh kesakitan ketika Adam menariknya masuk ke dalam apartemen.
Ketika mereka berdua sudah masuk ke dalam apartemennya, Adam langsung saja melepaskan cekalannya pada lengan Erika dengan sedikit kasar.
Erika sedikit terkejut dengan sikap Adam yang baru kali ini memperlakukannya dengan sedikit kasar.
"Ya ampun mas!"
"KAMU INI! KAMU GAK SADAR DENGAN SIKAP KEKANAK-KANAKKAN KAMU! HAH!" Bentak Adam padanya dengan sorot mata tajam.
Erika yang mendengar bentakan Adam menjadi sedikit murung. Suaminya yang dulu selalu bersikap manis padanya. Kini berubah, menjadi pria yang tak ia kenal.
"Apa! Salah aku apa mas!" Ucap Erika merasa tak ada yang salah dengan sikapnya.
Adam mengacak rambutnya frustasi, ia merasa kesal dengan sikap satu istrinya ini. Adam tahu Erika juga kesal namun sikapnya tadi sangat kekanak-kanakkan sampai harus membawa bawa Ali.
"Kamu gak sadar dengan apa yang sudah kamu lakukan!" Ucap Adam dengan membawa kedua tangannya ke pundak Erika.
"Apa salahku mas! Dia kan memang benar anakmu! Anakmu adalah anakku juga kan mas! Apa yang salah dariku mas!" Balas Erika tak kalah emosi.
"Erika!" Ucap Adam dengan sangat kesal.
"Kamu egois mas! Apa salahku! Lagipula benarkan semua yang aku ucapkan!"
"Lambat laun anak itu harus tahu bahwa aku ini adalah istrimu juga! Yang nantinya akan menjadi ibunya juga, toh kita gak tau apa Aisyah akan selamanya ada, bisa saja Aisyah nanti sakit dan mati, dan aku kan yang akan jadi ibu penggantinya Ali! Iya kan mas!" Ucap Erika yang kini membuat Adam membelakak tak percaya dengan apa yang Erika ucapkan.
"ASTAGHFIRULLAH! Jangan bicara sembarangan!" Bentak Adam.
"Lagipula kamu itu egois mas! Bagaimana bisa aku baik-baik saja disaat tahu bahwa kamu dan wanita itu sudah memiliki anak!" Ucap Erika dengan emosi yang meluap luap.
"Sedangkan aku! Kamu malah menyuruhku untuk menunda kehamilanku! Aku juga ingin mempunyai anak denganmu mas! Tapi kenapa?"
"Kenapa kamu selalu enggan dan menyuruh aku untuk selalu memakai kontrasepsi mas! Aku ini juga istrimu mas!" Teriak Erika, mengeluarkan semua keluh kesahnya kepada Adam.
Ia merasa diperlakukan tidak adil sebagai seorang istri.
"Aku juga ingin memiliki anak darimu mas!" Lirih Erika dengan tangisannya yang kini tak bisa ia bendung.
Adam yang melihat Erika kini duduk bersimpuh di lantai apartemen merasa iba. Merasa ia telah gagal menjadi suami yang baik bagi istrinya ini.
Adam pun mencoba mendekati Erika, membawa wanita itu ke dalam pelukannya.
"Maafkan mas, maafkan mas," ucap Adam dengan sendu. Ia sadar sudah sangat menyakiti hati istrinya ini.
"Kenapa mas? Kenapa mas tidak membiarkan aku hamil! Sedangkan di belakangku kamu malah sudah memiliki anak dengan wanita itu!" Ucap Erika lagi masih dengan Isak tangisnya.
"Bukan begitu," ucap Adam.
"Lalu apa? Apa memang mas tidak mau memiliki anak dariku mas? Agar mas bisa dengan mudah menceraikan aku dan hidup bahagia dengan keluarga kecilmu itu!" Erika semakin menangis sejadi jadinya, takut bila apa yang ia ucapkan benar-benar terjadi.
"Astaghfirullah! Tidak, mas tidak mungkin melakukan hal itu, jangan berpikir yang tidak-tidak!" Elak Adam.
"Lalu kenapa mas! Kenapa! Aku juga ingin memiliki anak darimu mas!" Lirih Erika.
"Mas tidak pernah berpikir seperti itu, mas hanya takut kamu belum siap, jika itu yang kamu inginkan, mas akan ijinkan." Balas Adam mencoba meyakinkan Erika bahwa dirinya benar-benar menyayanginya.
Jadi siapa yang benar-benar Adam cintai, nyatanya Adam benar-benar menyayangi kedua istrinya itu. Ia berharap bisa menjadi suami yang adil bagi kedua istrinya, namun nyatanya hal itu bukanlah hal yang mudah untuk ia lalui.
"Maafkan mas, jika itu yang kamu inginkan, mas akan ijinkan." Ucapnya lagi sembari memeluk hangat Erika.
"Aku ingin kita memiliki anak mas, aku ingin anak darimu." Balas Erika dalam pelukan Adam.
Dan malam itu pun Adam lewati dengan malam panas bersama Erika, mencoba menenangkan Erika.
Di malam ini, Adam yang baru bangun dari tidurnya dengan tubuhnya yang hanya ditutupi selimut tebal, ia menatap wajah Erika yang terlihat kelelahan akibat kegiatan panasnya tadi.
Adam menghembuskan nafasnya dengan berat, ia teringat akan istrinya yang satunya.
"Aisyah," ucap Adam dengan kecil.
Ia tahu begitu menyakitkannya ucapan Erika tadi, baru kali ini Adam melihat Aisyah sampai semarah tadi. Adam merasa bersalah meninggalkan Aisyah sendirian kini, ia pasti sudah menangis lagi batin Adam.
Adam sadar, ia sudah sangat lama meninggalkan Aisyah, dibandingkan dengan Erika.
Sebulan kemarin Adam tak pulang karena Erika yang selalu melarangnya dan mengancamnya akan melakukan hal yang tidak tidak jika Adam pergi meninggalkannya.
Maka dari itu baru seminggu kemarin Adam bisa pulang dan menemani Aisyah. Rasa bersalah pun Adam akui, ia sudah sangat tidak adil.
Namun, apa boleh buat, Adam juga sudah melakukan semua hal sebisanya. Adam kira akan mudah menjalani semua ini, nyatanya jauh dari kata mudah.
"Aku sudah sangat gagal sebagai seorang suami." Lirih Adam.
Ia membawa tangannya mengusap lembut puncak kepala Erika yang sudah terlelap. Wanita yang sudah mengambil hatinya untuk yang pertama kali.
"Maafkan aku," ucap Adam sembari terus menatapi wajah Erika.
Tanpa ia tahu disisi lain, Aisyah tengah terduduk di atas ranjangnya sembari mengusap puncak kepala Ali dengan lembut.
Aisyah yang malam ini ditinggalkan suaminya lagi. Hanya bisa duduk menatapi buah hatinya itu, yang bukannya membuat hati Aisyah sedikit tenang, namun semakin Aisyah menatap Ali, semakin teringat wajah Adam suaminya itu.
Yang semakin membuat Aisyah terluka.
"Mas, apa aku bisa kuat menjalani ini?" Lirih Aisyah, tetes demi tetes air mata pun jatuh.
"Lagi lagi aku ditinggalkan sendirian,"
"Rasanya sakit memikirkan kamu kini bersama wanita lain." Lanjutnya.
"Aku ingin kamu kembali mas, aku ingin hanya aku istrimu ini mas, apa bisa kita kembali seperti dulu?" Aisyah terus menerus mengeluarkan isi hatinya yang kini tengah terluka.
Ia tak ingin mengakui kenyataan jika kini suaminya tengah bersama wanita lain, sakit rasanya. Disaat ia butuh sandaran untuk mengeluarkan segala kekesalannya, disaat ia butuh sosok pria di sisinya.
Namun, pria itu kini tengah bersama wanita lain, menjadi sandaran untuk wanita itu.
Sakit, tak tahu berapa banyak luka yang ada di hatinya ini. Satu hal yang ia tahu dapat mengobati semuanya ini adalah, pria itu.
Ia ingin suaminya kembali, menjadi mas Adam yang dulu selalu ada di sampingnya.
Apa bisa?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 48 Episodes
Comments
Arny Saputri
Semangat kak🤗💪
2022-10-22
1