"Kenapa ada suara gamelan lagi di kepalaku? Dan helm ini kenapa menempel ke kepalaku?" pikir Ryuga yang mencoba melepaskan mask of god namun tidak bisa dilepas.
"Anak itu ternyata punya kemampuan tersembunyi, ternyata bola itu sudah aktif. Tuan pasti senang," guman Kira menyeringai licik. "Mode crossbow!"
Blackball yang sudah berubah menjadi tombak berbilah ganda kini berubah menjadi crossbow. Tubuh Kira berkedip dan muncul 10 meter dari Ryuga dan menembakan anak panah sangat cepat dari crosbow miliknya.
Ryuga yang melihat anak panah mengarah pada dirinya langsung mendorong Josephine, agar menjauh. Ryuga melihat dari dalam topeng ada gambaran seseorang sedang menggunakan kuasa earth.
"Earth wall!" Ryuga menghentakan kedua telapak tangannya ke permukaan tanah, muncul dinding tanah setebal 1 meter, tinggi 5 meter, dan panjang 8 meter. Anak panah itu terhalang oleh dinding tanah, dan tidak mengenai Ryuga.
"Hebat juga bocah sampah itu, bisa mengeluarkan kuasa yang langka," cibir Vanya menyeringai sinis dan tatapan merendahkan.
"Aneh sekali, padahal dia di level satu. Tapi bisa mengeluarkan kuasa sekuat itu, dan itu juga bola sepak itu berubah jadi topeng cyborg? Apa jangan-jangan dia menyembunyikan kekuatanya?" pikir Rany sambil mengelus dagunya. Kemudian melanjutkan, "Tapi tidak mungkin, mesin Batanga bisa mengetahui semuanya, walaupun ada divya yang bisa menyembunyikan levelnya pasti akan terbaca di mesin Batanga."
"Huff ... huff ... huff ... sungguh capek sekali!" ujar Ryuga dengan nafas tak beraturan, karena baru pertama kali menggunakan kuasa.
"Kita hentikan acara penyambutan ini. Maaf membuat kalian repot, kalian kemarilah!" seru Kira memanggil satuan tim yang akan dibimbingnya.
Mereka berempat berbaris rapi, Rany sudah menyarungkan katananya, Vanya menaruh double dagger di pinggang, dan Ryuga membuka topeng dewa yang menutupi mukanya.
"Hai! Perkenalkan, aku Kira Yamato. Umur 31 tahun, hal yang kusukai tidak ada, cita-citaku ingin melatih orang menjadi super soldier elite sepertiku," sapa Kira dengan mulut melengkung membentuk senyuman. "Silahkan kalian perkenalkan diri, seperti yang aku lakukan! Dimulai dari kau rambut jabrik kuning!" serunya menunjuk Josephine.
"Perkenalkan, namaku Josephine Rosala. Umur 17 tahun, hal yang kusukai adalah makan chocolate cake, cita-cita menjadi divya terkuat di level 7," sapa Josephine dengan mulut melengkung membentuk senyuman.
"Bagus, ini yang aku suka. Sekarang kamu rambut helm!" tunjuk Kira pada Vanya.
"Hai semuanya! Perkenalkan namaku Vanya Veriska. Umur 17 tahun, hal yang kusukai membuat ramuan, cita-cita menjadi alkemis nomor satu di dunia," sapa Vanya, matanya berkedip-kedip dengan cepat.
"Mantap! Sebagai garis pertahanan terakhir dalam tim, cita-citamu itu bisa menjadi kartu truf dalam tim kalian. lanjut, sekarang kamu gadis rok mini yang centil!" tunjuk Kira pada Rany.
"Perkenalkan namaku Rany Citra Pratama. Umur 17 tahun, hal yang kusukai ... (melirik ke arah Ryuga), cita-cita tidak ada tapi aku ingin mengalahkan seseorang," sapa Rany sorot matanya tajam dengan raut muka datar.
"Oke, tak masalah. Sekarang kamu topeng monyet, sun gokong yang berumur 10.000 tahun!" tunjuk Kira pada Ryuga.
"Sial kau guru laknat! Namaku Ryuga Himura, bukan topeng monyet. Umurku 17 tahun bukan 10.000 tahun, hmph...!" ujar Ryuga mendengus kesal.
"Ya, ya, ya, sudah lanjutkan!" seru Kira.
"Hal yang kusukai kekuatan, cita-citaku ingin menjadi Sangakama," ujar Ryuga dengan sorot mata yang tajam.
"Hahaha ... Ryuga mimpimu itu terlalu besar, Sangakama itu kumpulan orang yang kuat. Kalau kau bisa mengalahkannya baru kau bisa menjadi Sangakama, kopimu kurang kental!" ejek Vanya sambil tertawa sinis.
"Ok, tidak apa-apa. Semua orang punya mimpi masing-masing, sah-sah saja. Tapi ingat! Jangan hanya jadi isapan jempol belaka, buktikan!" ujar Kira.
"Baik guru, aku mohon bimbinganmu!" ujar Ryuga sambil membungkuk hormat.
"Kami juga guru, mohon bimbinganmu!" ujar Josephine, Vanya, dan Rany sambil membungkuk hormat serentak.
"Baik, kita akan memulai latihan esok hari disini. Jangan sampai telat, sekarang bubar!" seru Kira.
"Siap guru!" ujar mereka berempat serentak lalu kembali ke dormitori masing-masing.
"Tuan Agito pasti senang jika melihat Ryuga sudah bertumbuh besar dan kuat, tapi kerjasama tim ini sangat hancur," batin Kira.
***
Keesokan paginya.
Mereka berempat sudah berkumpul di training field, "baik latihan hari ini adalah latihan untuk memperkuat tubuh sekaligus stamina. Kita akan berlari dari sini sampai atas bukit, melewati danau, padang pasir tandus, padang lumpur, lalu naik ke atas bukit dan kembali lagi, hanya satu putaran," jelas Kira.
"Kacang saja!" ujar Vanya meremehkan, baginya latihan seperti itu sudah biasa ia lakukan di dojo milik keluarganya.
"Oh kacang ya, baiklah. Ambil jam tangan ini, pasang di tangan kanan kalian dan tekan tombolnya. Itu adalah jam tangan gravitasi, aku sudah menyetel beban gravitasinya sesuai level kalian. Level 1 delapan kali gravitasi bumi, level 3 enam kali gravitasi bumi, level 4 lima kali gravitasi bumi, dan level 5 tiga kali gravitasi bumi. Hukumannya yang terlambat kembali setelah jam 12.00, tidak ada jatah makan siang, bubar!" titah Kira.
Mereka berempat memasang jam itu di pergelangan tangan kanan mereka masing-masing, lalu menekan tombol jam tangan itu.
Klik!
Josephine, Vanya, dan Rany sudah terbiasa dengan latihan berat di klan masing-masing tapi tidak dengan Ryuga yang harus berlari dengan beban delapan kali gravitasi bumi.
"Aku ingin lihat kerjasama kalian dalam memecahkan latihan ini," ujar Kira lalu tubuhnya berkedip hilang dari pandangan mata.
Vanya, Rany, dan Josephine sudah berlari melewati padang pasir. Tim yang lainnya juga hari ini latihan tapi di training field yang berbeda-beda. Ryuga berjalan tertatih-tatih dengan menggertakan gigi menahan beban delapan kali gravitasi, satu langkah saja membutuhkan waktu 1 menit.
[Blangtungpak blaem-blaem]
[Misi : selesaikan latihan dari Kira
Hadiah : 10.000 experience dan uang 1.000 kiga
hukuman : -]
[Semua misi yang muncul dari sistem otomatis di terima]
[Selamat menyelesaikan misi]
"Misi?!" batin Ryuga membulatkan mata yang masih terus mencoba berlari. "baiklah, meski aku tak tahu dengan suara ini, atau kokobot apalah. Tapi jika bisa memberikan manfaat, aku akan melakukannya."
Josephine, Rany, dan Vanya sudah sampai di danau, mereka siap berenang. Sedangkan Ryuga sekuat tenaga berjalan masih berada di padang rumput, training field yang diberikan akademi pada Kira adalah training field dengan medan paling lengkap untuk latihan para taruna.
"Aku harus memikirkan cara agar bisa melewati latihan ini, tapi bagaimana dengan beban yang sangat berat ini?" pikir Ryuga yang masih mencoba berjalan
"Tenang Ryuga, tenang. Pasti ada jalan," batin Ryuga yang terus berpikir.
"Teman-teman apa kalian tidak berpikir tentang latihan ini? Bukankah kita ini satu tim, tapi malah meninggalkan teman satu tim kita yaitu Ryuga sendirian," ujar Rany yang khawatir pada Ryuga yang sudah tertinggal jauh.
"Biarkan saja, biar dia tidak menjadi beban buat timnya. Jadi orang itu jangan manja, sebagai anggota tim itu yang paling dasar bisa melindungi dirinya sendiri, ketika musuh menyerang, baru memikirkan orang lain disekitarnya," ujar Vanya dengan menyeringai jutek.
"Kamu ini teman satu tim macam apa, tega meninggalkan teman satu timnya? Dasar muka tong sampah!" umpat Rany dengan raut muka menyeringai kesal.
Josephine terbayang Ryuga kemarin yang mendorong dirinya agar tak terkena anak panah, karena sengaja melindungi dirinya. "Perkataan Rany benar, aku ini teman macam apa?" pikir Josephine yang membalikan badan lalu mulai berlari ke arah Ryuga yang masih di padang rumput.
"Josephine tunggu!" seru Rany juga ikut mengejar Josephine, sedangkan Vanya terus melanjutkan larinya ke arah bukit.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 361 Episodes
Comments
Mr. Blue
dafuq 🤣
2023-01-25
0
Harman LokeST
Ryuga semangat semangat semangat
2022-10-30
1
yudi dosantoz
ryuga anak si yosep kan thoor?
2022-10-20
3