Akbar kembali menyusup diantara penduduk desa hantu, mencari siswa yang masih hidup. Dia melihat seorang bocah menjerit karena kakinya ditarik oleh hantu. Akbar menarik tangan bicah itu dan Xiayu menyemburkan racun ke arah hantu itu.
Hantu itu mundur, Akbar sedikit penasaran namun masih sempat memanfaatkan celah untuk mengeluarkan bocah itu dari lubang tanah gelap.
Pada saat ini, matahari bersinar semakin terik secara otomatis hantu desa itu mundur di antara bayangan gelap bangunan dan pepohonan, Akbar berteriak memberi kode, bocah itu dan kedua siswa segera berlari ke utara desa, para hantu hanya bisa mengapaikan tangannya dengan raungan pilu.
Akbar terhenti.
Terkejut melihat hantu itu sepertinya tidak mau melepaskannya, dalam sekejap, namun di detik berikutnya, auman seperti suara naga tiba-tiba datang, dan pada saat yang sama, suara ombak laut terus bergema.
"Aaaaaaaaaa——!."
Hantu itu tiba-tiba berteriak dengan sedih, dan di mata yang penuh dengan pupil vertikal yang padat itu, ada tatapan ngeri yang kental. Mereka berusaha menarik tubuh Akbar tapi raungan itu mencabik roh mereka menjadi debu.
Hanya ada dua pilihan di depan Akbar.
Salah satunya adalah kehidupan masa lalu dan yang lainnya adalah kehidupan sekarang.
"Sialan!!."
Di dalam hatinya, kebencian Akbar pada hantu desa ini melebihi lautan.
Sudah tidak terhitung.
"Lari ! Lari sekuat tenaga kalian! Jangan menoleh ke belakang lagi."
Dan kebencian ini, termasuk beberapa emosinya, juga terungkap dalam energi yang memancar.
"Aaaaaaaaaaa—, tetaplah hidup !! Segera temui kami !!." Mereka berlari dengan memejamkan mata menahan air mata untuk akbar.
Kemudian, hantu-hantu itu menyerap energi Akbar dan secara alami terpengaruh oleh emosi amarah Akbar itu.
Membunuh teman-teman Anda, membunuh roh penjaga Anda, membunuh orang-orang yang Anda sayangi membuat hati Anda sakit.
Setelah mengetahui situasi seperti itu, ekspresi Wajah Akbar langsung tenggelam. Pada saat ini, api kemarahan di hatinya benar-benar menyala. Ini adalah hal yang paling tak tertahankan untuk dilakukan kepada orang-orang di sekitar Anda.
Kekasihnya, Saudaranya, Sahabatnya itu adalah titik berbahaya baginya!
"Karena kamu ingin datang, kamu harus siap untuk mati, kan?."
Akbar memandangi hantu di tangannya yang penuh dengan pupil vertikal, dan menyeringai di sudut mulutnya, memperlihatkan seteguk gigi putih.
"Ingin memakanku, membunuhku, mencabik tubuhku, kan? AKU JUGA SAMA !!."
Detik berikutnya, Akbar membuka mulutnya dan menggigit kepala hantu itu secara tiba-tiba.
"Aaaaaaaaaaaaaa—!!."
Mereka tetap berlari meski terkejut dengan teriakan sedih itu. Bukankah metode anak itu dalam berurusan dengan hantu menjadi semakin kejam.
Huuu!
"AKU INGIN KALIAN MUSNAH!!." Emosi Akbar kian memuncak. Xiayu tidak ada pilihan selain menggigit leher Akbar.
BITE !!
"Bangun! Sadarlah !."
Akbar membeku, suara Xiayu berhasil menariknya dari kegilaan itu.
Hantu itu menjerit semakin keras.
Dia kehilangan kepalanya, dan terus-menerus dibakar oleh matahari putih yang terik, dan akhirnya meledak, berubah menjadi energi hantu yang kuat.
Begitu Akbar keluar, sesosok manusia berjubah berdiri dihadapan Akbar.
"Berhasil? apakah kamu sudah kembali?."
Inilah yang dia katakan, tetapi Akbar merasa ada sesuatu yang salah.
"Pergilah, bantu yang lain."
"Jangan marah, baiklah aku pergi sekarang."
Akbar memandang Xiayu dengan rasa ingin tahu.
Dia memandang Akbar dan bertanya, "Apakah kamu tidak tahu saudara kembar Kirana adalah reinkarnasi jiwaku dalam kehidupan ini?."
"...." Akbar terdiam beberapa saat. Dia mengangguk, dan kemudian memandang Xiayu : "Ya, ini dia. Jadi ... apakah kamu punya ide menguasai tubuhnya?."
Xiayu berkata, "Saya tidak akan punya ide sampai dia mencapai akhir hidupnya. Sekarang selama dia masih hidup, saya tidak akan melakukan apa pun padanya."
Akbar menatapnya khawatir, "Kalau begitu, apakah kamu akan melindunginya?" Dia bertanya.
Xiayu menoleh pada Akbar.
"Perlindungan?," Xiayu terkejut sejenak, “Bukankah kamu selalu melindunginya? Apakah kamu pikir dia masih membutuhkan perlindunganku?.”
Giliran Akbar terdiam, “Tetapi pada akhirnya, kamu sendirian,” kata Akbar.
"Jadi, kamu ingin aku melindunginya juga?." tanya Xiayu.
“Ya.” Akbar mengangguk dan berkata, “Kamu adalah satu tubuh pada awalnya, jadi kamu tidak perlu dengan sengaja membedakan antara kamu dan aku." Akbar membelai kepala Xiayi, "Bukankah lebih baik melindunginya dan membiarkannya menjalani hidupnya dengan baik?. "
Mendengar ini, Xiayu terdiam beberapa saat, dan menatap ekspresi Akbar dengan serius.
"Haruskah?."
Melihat keseriusan di matanya, dia mengangguk dan berkata, "Oke! Karena kamu bersedia, maka aku akan berjanji padamu!."
Mendengar ini, Akbar juga tersenyum.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 139 Episodes
Comments