Ayra dan Bik Asih tergopoh-gopoh setengah berlari menuju ruang ganti. Bram sedang berdiri di depan sebuah cermin besar. Lelaki itu tidak mengenakan baju.
Dada bidangnya terekspos dengan jelas dari pantulan cermin. Kedua Netra Ayra yang memiliki bulu mata lentik terpesona sekian detik melihat sesuatu yang pertama kali menjadi pemandangan sesuatu yang dulu haram dan kini menjadi halal bahkan sekalipun disentuh oleh jari-jemari lembut Ayra.
Bram melihat bayangan dirinya pada cermin dengan sedikit memiringkan kepalanya. Ia begitu kaget karena ada banyak tanda merah di lehernya. Bahkan ketika dirinya berbalik dan melihat ke arah tanda merah yang berloreng seperti loreng harimau ia makin frustasi dan menarik-narik rambutnya.
"Apa yang kamu lakukan pada diriku semalam Hah!?"
Ayra hanya menunduk kan kepalanya. Ia tak berani mengeluarkan suara bahkan menatap suaminya.
"Den.... Sabar. Itu mungkin semalam Non Ayra panik. Jangan marah-marah sama istri nanti rezekinya jadi sempit loh den...."
"Aaa..... Diam Asih! kamu mau ikut membela wanita ini? Sama seperti papa dan mama?!"
Bram mendengus kesal dan keluar dari ruang ganti. Lalu menghilang dari kamarnya entah kemana.
"Sabar ya Non. Den Bram memang suka begitu. Ndak bisa mengontrol omongan dan emosi."
Ayra tersenyum pada bik Asih. Tak terlihat gurat kesedihan atau kecewa karena baru saja mendapat amarah dari sang suami hanya terlihat sekilas raut wajah sedih namun cepat tergantikan dengan senyum manis yang menghiasi wajah nya.
"Iya bik. Ayra ingat pesan Umi. Seorang istri atau suami harus bersabar menghadapi suami atau istri yang akhlak nya belum baik. Tujuannya agar kita bisa membersihkan dan mendidik hati kita, agar menjadi lebih sabar dan lebih baik."
"Sampai kapan Non. Bibi ga tega kalau terus-terusan den Bram begitu sama Non Ayra."
Suara bik Asih terdengar lirih.
"Sampai akhlak suami atau istri kita itu menjadi baik atau bersih karena kebersihan hati kita. Sampai akhlak suami atau istri kita yang belum baik akhlaknya tadi berubah menjadi baik akhlaknya bik. Insyaallah. Doakan semoga Ayra diberikan kesabaran sampai saat itu tiba."
Ayra tersenyum manis.
Sebuah senyum manis terukir pula diwajah wanita yang menjadi nyonya utama dirumah itu. Dilantai dua terdapat salah satu kamar utama yang dihuni oleh pak Erlangga dan nyonya Lukis.
Nyonya lukis sedang memeluk erat tubuh suaminya yang masih gagah diusianya.
"Terima kasih Pa. Terimakasih. Aku mencintaimu Pa. Jangan pisahkan lagi aku dengan salah satu putra ku terlepas kesalahan apapun yang mereka lakukan."
"Cup"
Pak Erlangga mencium dahi istrinya.
"Kamu tahu Ma, Entah mengapa menatap wajah Ayra ada keteduhan. Mendengar kata-kata nya seperti sebuah siraman rohani. Sikapnya yang lemah lembut membuat Papa merasa tidak tega jika wanita sebaik dia menjadi korban keegoisan putra sulung mu."
Nyonya Lukis mendongakkan kepala karena tubuh suaminya lebih tinggi dari tubuhnya.
"Apa Papa merasakan rasa hangat dicintai dan diperhatikan oleh seorang anak?"
Pak Erlangga menarik Nyonya Lukis Kembali kedalam pelukannya.
"Hem. Papa merasa menjadi orang tua yang dituakan dihadapan Ayra. Suatu perasaan yang baru papa rasakan ketika bertemu Ayra."
"Bukan demi Bambang Pa?"
"Mungkin merasakan kasih sayang dan perhatian dari dua menantu akan membuat kita melambat dalam menua ma. Hehehe."
"Tiga Pa."
"Dua ma. Yang satu hanya mementingkan karier bukan keluarga."
"Pa.... Jangan ucapkan itu di depan Beni. Hubungan nya dengan Bram tak pernah membaik."
"Hari ini akan membaik, bukan karena rasa cinta seperti yang dimiliki Bram tapi karena putra kedua mu itu akan mendapatkan sesuatu yang didapat bukan dari hasil kerja keras seperti yang Bram peroleh."
Nyonya Lukis menaikkan satu alisnya.
"Ah. terserah kalian para lelaki. Aku mohon coba tahan ego dan emosi mu. Ayra sepertinya tidak terbiasa dengan perdebatan yang mengedepankan emosi. Mama melihat jelas beberapa kali ekspresi nya begitu kaget dengan keributan Papa dan Bram."
Sepasang suami istri itu akhirnya melerai pelukan nya dan bersiap untuk turun kelantai satu. Mereka akan menjemput putra ketiga mereka Bambang Pradipta dan istrinya Maharani Kuncoro yang hampir satu tahun ini tak diakui sebagai bagian dari keluarga Pradipta. Karena menikahi cucu perempuan dari orang yang telah merebut perusahaan dari ayah Pak Erlangga dulu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 253 Episodes
Comments
Dini Lestari
ooh gitu ya cerita ny pantas aja papa ny cbram , gk merestui anak ny dgn rani ,wajarlah karna ada alasan ny yg cukup rumit ,tpi moga aja kdepan ny pda lbh baik .ok .
2024-01-27
3
ciru
cakeep.
2023-09-29
4
Imas Ratnasari
maaf kak. hubungan kartu nama Bram dalam jas Pak kyai dgn Bram yang sekarang apa yaa! atau saya kelewat bacanya.. heee 😂
2023-05-05
1