3. Gadis itu, Ayra Khairunnisa

Kyai Rohim tertawa mendengar jawaban yang diberikan oleh Bram. Terlihat kyai Rohim mencondongkan tubuhnya ke arah meja dan mengambil 2 buah permen. Kyai Rohim membuka satu permen lalu memasukan nya kedalam mulut, setelah beberapa detik permen tadi dikeluarkan lagi oleh kyai Rohim dan diletakkan di ujung jari jempol dan telunjuk nya.

"Pak Rangga, jika saya menawarkan pada keluarga anda permen yang sangat manis dan enak untuk putra sulung anda. Maka permen manakah yang anda pilih? yang ada di tangan saya ini? atau yang masih terbungkus itu?"

Kyai Rohim menggerakkan permen yang diapit oleh jari telunjuk dan jempolnya.

Tampak Pak Erlangga melihat ke arah Bram dan permen yang ditanyakan oleh kyai Rohim. Pak Erlangga pun memberikan jawaban.

"Tentu saya akan memilih yang masih terbungkus pak Rohim, bagaimana mungkin putra kami memakan makanan bekas orang lain."

Kyai Rohim tersenyum mendengar perkataan pak Erlangga dan melirik ke arah Bram yang masih menatap lurus kearah kyai Rohim.

"Saya rasa pak Erlangga pun akan melakukan hal yang sama dalam memilih menantu. Apakah bapak akan memilih santri yang saya jodoh kepada anak bapak untuk menjadi menantu atau yang mungkin tidak tahu apakah masih terjaga atau tidak?"

Deg!

Seketika wajah pak Erlangga dan Istri pun terlihat malu, bahkan seketika ingatan pak Erlangga dan istri kembali mengingat kejadian beberapa jam lalu.

Sebenarnya pak Erlangga dan istri nya diajak oleh Bram untuk menemui pacarnya yang baru pulang dari Paris. Hal itu Bram lakukan karena mama nya terus menerus menjodohkan nya dengan wanita-wanita yang membuat Bram merasa kesal karena hampir semua gadis yang dikenalkan pada nya hanya membuat moodnya menjadi buruk.

Maksud hati Bram ingin memberikan kejutan pada sang kekasih namun malah dirinya dikejutkan. Ketika Sampai di apartemen nya Bram yang terlanjur mengajak papa dan mama nya masuk harus dikagetkan dengan adegan dimana sang pacar sedang bermesraan dengan lelaki yang tak dikenalnya.

Rasa marah pada Shela dan malu kepada kedua orang tua nya pun masih Bram rasakan hingga detik ini. Saat dimana ia masih ditatap oleh kyai Rohim.

Bram mengangkat kepala nya perlahan ke atas dan menatap kyai Rohim angkuh. Hatinya bertanya kenapa kyai ini bisa tahu siapa dia bahkan kejadian beberapa jam yang lalu pun kyai Rohim tahu. Bukankah hanya mereka bertiga yang melihat kelakuan tak senonoh Shela.

Bram menarik napas dalam.

"Apa tujuan anda sebenarnya pak kyai? Anda sudah seperti seorang dukun saja."

Bram tersenyum mengejek.

"Tujuan ku sedang mencarikan jodoh untuk santri ku yang sudah baligh, asal Anda tahu pak Bramantyo Pradipta. Hampir 20 kali saya menolak lamaran dari beberapa lelaki karena saya merasa mereka tidak pantas untuk dia. Dan saya rasa anda pantas untuk nya selain almarhum Amir. Karena kedatangan anda kemari menandakan bahwa Allah menghendaki kalian berdua berjodoh."

Bram mendengus kesal karena ia disamakan dengan lelaki yang tadi coba diselamatkan oleh nya.

"Jangan samakan aku dengan lelaki itu pak kyai. Dia hanya lelaki cengeng yang lemah. Bahkan ia menangis hanya karena putus asa."

Kembali Bram tersenyum mengejek pada kyai Rohim.

"Tetapi apakah kamu mampu seperti dia menyerahkan calon istri mu pada orang lain saat ajal datang menjemput?"

Kini giliran kyai Rohim yang tersenyum. Jika dari tadi Kyai Rohim masih mencoba cukup sabar menghadapi kesombongan Bram namun tidak kali ini. Bram dibuat malu karena ia sempat berpikir tentang wajah bahagia Amir ketika terjun bebas dari tebing jurang itu ketika terlepas dari tangan nya.

Bram memijat pangkal hidungnya seolah kepalanya terasa pusing. Bram bingung bagaimana kyai Rohim tahu apa yang ia alami bahkan jika Bram masih heran dan terus terbayang akan senyum bahagia Amir, ketika Amir lepas dari genggaman tangan nya. Bram lalu mengangkat kepalanya dan membenarkan posisi duduknya.

"Saya ingin melihat seperti apa wanita yang anda tawarkan kepada saya itu pak kyai."

Kata-kata Bram membuat kedua orang tuanya melongo tak percaya, begitu pun dengan Bu Lukis. Hal ini membuatnya merasa sangat senang. Ia berharap gadis yang ditawarkan pak kyai ini mampu meluluhkan hati anak sulungnya yang hampir menginjak usia 35 tahun.

Sebuah pintu dibuka dan terlihat seorang wanita yang berumur hampir sama dengan kyai Rohim. Wanita itu menundukkan kepalanya ke arah keluarga pak Erlangga.

Sedangkan Burhan masih duduk bersimpuh di depan pintu dengan kepala yang tertunduk.

"Umi, panggilkan Ayra kemari dan suruh dia buatkan teh untuk tamu kita ini."

Kyai Rohim menatap istrinya yang baru saja duduk di sebelah kyai Rohim.

"Nggeh Abi."

"Ayra jadi nama gadis itu Ayra."

Bram bergumam dalam hatinya.

Wanita itu berjalan meninggalkan ruangan itu namun tidak seperti Burhan tadi. Wanita itu berjalan seperti biasa tidak seperti Burhan tadi. Membuat Bram menyimpulkan jika wanita itu pasti istri dari kyai Rohim.

Setelah kepergian Istri kyai Rohim, Bram seolah ingin memanfaatkan kondisi agar menguntungkan dirinya.

"Bagaimana jika gadis itu tidak setuju dengan lamaran ini pak kyai?"

Kyai Rohim kembali tersenyum hal yang dari tadi membuat Bram merasa jengkel karena selama ini tidak ada orang yang berani berbicara padanya dengan tingkah seperti pak kyai Rohim. Bram merasa senyum kyai Rohim adalah senyum ejekan.

Padahal kyai Rohim adalah seorang ulama yang murah senyum. Beliau bahkan hampir tidak pernah marah. Marahnya beliau adalah diam nya beliau.

"Kita akan dengar sendiri apa jawabannya bahkan istri saya tadi belum tahu apa yang barusan kita bicarakan. Keputusan tetap sama semua tergantung anda nak Bram. Jika anda menerima lamaran saya tadi berarti anda akan menikahi nya hari ini juga di pesantren ini."

Bram semakin merasa geram karena seolah terus di desak oleh kyai Rohim. Entah mengapa jika ia biasanya bisa bersikap arogan dan kasar kepada orang yang membuatnya tersudut namun tidak kali ini.

Kali ini seolah ada rasa segan pada kyai Rohim, perasaan pertama yang ia miliki selain rasa hormat kepada kedua orang tuanya dan neneknya.

"Terima saja Bram, daripada sama wanita tadi! mama tidak Sudi punya menantu wanita tadi. Atau kamu menerima perjodohan kamu dengan Helena?"

Bu Lukis akhirnya merasa jengkel karena putra nya dari tadi seolah selalu menghindar. Belum lagi mengingat kejadian ketika melihat wanita yang Bram bilang pacarnya. Mereka menjalani LDR selama 3 tahun. Anak nya ini sudah berkali-kali ia jodohkan dengan gadis-gadis yang ia kenal namun tidak satu pun dilirik oleh putranya itu.

Bram yang mendengar ibunya untuk menerima santri itu atau Helena membulatkan kedua netra yang berada di bawah kedua alis tebal dan hitam. Helena gadis yang sangat manja dan sangat perfeksionis itu akan sangat membuat Bram tidak nyaman.

Bagi Bram bukan hanya cantik untuk menaklukkan hatinya tetapi yang paling penting adalah hatinya bisa merasakan kenyamanan dan ketenangan ketika bersama wanita itu. Namun Helena jauh panggang dari api. Mendengar nama Helena saja Bram sudah merasa malas.

"Sekarang pokok nya kamu pilih Helena atau gadis ini nanti. Kalau tidak mama mau pindah ke Amrik lagi saja."

Bu Lukis mengancam sang putra yang terlihat masih diam tanpa respon.

"Ma, ini pernikahan bukan beli baju. Aku tidak mau menikah dengan sembarang wanita."

Bram mencoba membela diri namun kembali harus terdiam ketika pak Erlangga yang biasa dipanggil Rangga oleh relasi bisnis nya itu bersuara cukup tegas pada Bram.

"Jadi Shela itu bukan wanita sembarangan? Shela itu pilihan kamu kan? Ayolah Bram kita lihat dulu santri pak kyai ini."

Tiba-tiba pintu terbuka dan muncul istri kyai Rohim diikuti satu wanita yang mengenakan jilbab putih cukup panjang menutupi bagian dada dan gamis putih yang cukup besar hingga tak tampak lekuk tubuh gadis itu. Tampak hiasan tipis di wajahnya.

Wanita berbaju putih itu membawa nampan yang berisi 3 cangkir teh dan satu cangkir kopi.

Namun wajah itu tak dapat terlihat jelas oleh keluarga pak Erlangga karena gadis itu terus menunduk bahkan ketika meletakkan teh itu diatas meja, gadis yang mengenakan pakaian gamis itu berjalan dengan ketua lutut nya dan masih menunduk. Selesai meletakkan 3 gelas teh dan 1 gelas kopi ke arah kyai Rohim, gadis itu berjalan mundur masih dengan lututnya dan tanpa memunggungi kyai Rohim.

"Nduk.... Kemari."

Suara Kyai Rohim terdengar cukup tenang. Menghentikan pergerakan gadis itu.

Gadis itu berjalan ke arah kyai Rohim masih dengan wajah yang tertunduk dan masih dengan kedua lututnya ia maju ke arah kyai Rohim.

Buk Lukis melihat gerak gerik gadis itu langsung jatuh hati karena menurut nya gadis yang langka di zaman sekarang. Seorang gadis mampu begitu patuh kepada orang tua. Bahkan begitu pemalu, jangankan menatap melirik Bram dan kedua orang tuanya pun gadis itu tidak lakukan.

Selama ini jika bu Lukis mengenalkan Bram pada gadis-gadis pasti para gadis itu sudah tergila-gila karena ketampanan anak sulungnya itu.

Begitu pun pak Erlangga, pak Erlangga pun langsung merasakan cocok dengan gadis yang ditawarkan untuk menjadi istri Bram hingga ayah dari Bram ini berpikir keras untuk kali ini tidak boleh ada penolakan dari Bram.

Berbeda dengan suami istri itu Bram merasa jengkel karena bagaimana bisa kyai Rohim ingin ia menikah dengan gadis itu. Gadis yang terlihat sangat tidak modis, sangat sederhana serta wajahnya pun masih belum terlihat sudah dianggap memiliki kecantikan yang jelek menurut Bram. Bagi Bram hanya wanita yang berwajah tidak menarik yang tidak berani mengangkat wajahnya dihadapan orang lain.

Ketika gadis itu sudah duduk di sebelah istri kyai Rohim yang biasa di panggil Umi Laila oleh para santri disana.

"Nduk, kamu sudah mendengar berita tentang calon suami mu?"

Suara Kyai Rohim hati-hati.

"Sudah Abi."

"Kamu tidak bersedih?" Tanya Kyai Rohim.

"Setiap yang bernyawa di dunia ini pasti akan menghadapi dan merasakan yang namanya kematian. Tidak ada yang kekal abadi di dunia ini dan semua yang kita nikmati, miliki, saat ini hanyalah titipan. Termasuk orang yang sangat-sangat kita cintai dan sayang pun, akan pergi meninggalkan kita. Sedih yang berlarut hanya akan membawa kita pada keputusasaan. Bukan kah hal itu yang Abi ajarkan kepada kami ketika menghadapi musibah?."  Suara gadis itu begitu lembut jawaban nya lugas dan tegas namun yang membuat Bram heran wanita itu tidak mengangkat kepalanya hingga wajah gadis itu masih tertunduk.

Pak Erlangga dan istri yang biasanya kurang suka jika ada yang menceramahi kali ini manggut-manggut mendengar jawaban sang gadis tanda setuju dan kagum mendengar jawaban dari gadis itu.

"Jika ada yang Abi anggap pantas menggantikan Amir untuk menikahi mu hari ini, apakah kamu akan menerimanya Nduk?"

Kyai Rohim menyeruput kopinya sebelum bertanya kepada gadis itu.

"Apapun yang menjadi keputusan Abi, saya manut. Saami’na Wa Atho’na ya Abi."

"Angkat wajah mu nduk, calon suami mu dan kedua orang tuanya ingin melihat wajahmu. Namanya Ayra Khairunnisa putri dari almarhum adik lelaki ku."

Kyai Rohim memperkenalkan Ayra pada keluarga pak Erlangga.

Ayra mengangkat pelan wajahnya hingga dapat dilihat jelas oleh pak Erlangga dan buk Lukis. Sulung Pak Erlangga bahkan mengakui kecantikan Ayra walau bibirnya tertutup rapat.

"Cantik."

Satu kata yang bersamaan diucapkan oleh Bu Lukis dan Bram. Namun Bram menyebutkan satu kata itu dihatinya bukan di bibir seperti Bu Lukis hingga terdengar oleh semua yang ada diruangan itu.

Terpopuler

Comments

indah

indah

Pasti Cakep lh

2024-04-23

0

Dini Lestari

Dini Lestari

pasti cantik lah kalu gk cantik ,pasti c bram me_no_lak , iya gk ,lanjut .

2024-01-27

1

Laksmi Amik

Laksmi Amik

lanjoot

2024-01-22

1

lihat semua
Episodes
1 1. MELAMAR CEO
2 2. PENOLAKAN BRAMANTYO PRADIPTA
3 3. Gadis itu, Ayra Khairunnisa
4 4. Menerima Lamaran Kyai Rohim
5 5. Sekufu
6 6. Jodoh Ayra
7 7. Dengan atau tanpa Rani.
8 8. Istri Bramantyo Pradipta
9 9 Di balik Kerudung mu
10 10. Pernikahan yang Tak di Inginkan.
11 11. Tiga Orang yang harus Dimuliakan & Dihormati
12 12. Cinta Tanpa Syarat
13 13. Genggam Erat Berlian itu Bram
14 14 Apa ini Namanya Cinta?
15 15 Kecerdasan untuk Menyenangkan Hati Suami.
16 16. Mendidik Hati dan Membersihkan Hati
17 17. Perdebatan di Meja Makan
18 18 Menggoda Ayra
19 19 Keromantisan Pak Erlangga
20 20 Pertemuan Keluarga Pradipta dengan Rani
21 21 Tugas Setiap Manusia Muslim
22 22 Pesona Ayra Khairunnisa di Keluarga Pradipta
23 23 Islam itu MERANGKUL bukan MEMUKUL
24 24 Tampil Cantik Untuk Suami Itu Ibadah
25 25 Cinta Dari Mata Turun Ke Hati #Bram
26 26. Berbelanja
27 27. Hati yang disakiti
28 28 Perjuangan Cinta Ayra
29 29 Satu Nama diantara Kita
30 30 Aku Akan Bersabar Menunggu mu
31 31 Onani dan Masturbasi
32 32 Berhias Tanpa Melanggar Syariat
33 33 Istri CEO
34 34 Ayra Tunjukkan Pesona Mu
35 35 Kecerdasan Ayra bukan Suatu Kesombongan
36 36 Siapa Perempuan Itu?
37 37 Ketakutan Ayra
38 38 Video Berdurasi 44 Detik
39 39 Saling Menerima Masalalu
40 40 Bahagia tak Harus Mengambil Milik Orang Lain
41 41 Jadilah Sahabat untuk Kami
42 42 Tuduhan Pada Bram
43 43 Shela bersama Hoaks dan Buzzer.
44 44. Sebaik-Baik Tempat Curhat Hanya lah Pada Allah.
45 45 Hati-Hatilah Bersuci bagi Perempuan
46 46 Sepele Tapi Membuat Tak Sahnya Wudhu
47 47 Tirakat Sebagai Tanda Cinta Kasih
48 48 Kejujuran Yang Dilarang, Menceritakan Kita Pernah Berbuat Maksiat.
49 49 Kesetiaan Seorang Istri Sedang Diuji
50 50 Lelaki Pertama Dalam Hidup Ayra
51 51 "Ay-Ay-Ayra"
52 52 Limited Edition
53 53 Ulet Berkaki Dua
54 54 Filosofi Lemper
55 55 Air Yang Tenang pun Bisa Menenggelamkan Orang
56 56 Aku Datang Dengan Dosa Aduhai Pencipta POV Ayra
57 57 Apa Aku Pantas Untuk Mu, Ay?
58 58 Jangan Sering Lewat Jalan Pintas
59 59 Pentingnya Menjaga Hati sebelum Menikah
60 60 Debaran Hati Bram
61 61 Ruang Hati CEO MIKEL Group
62 62 Cintai Aku Karena Allah
63 63 Suami istri itu adalah Partner
64 64 Anak-anak Nabi Ada Tujuh Orang
65 65 Pakaiannya Dulu Baru Airnya.
66 66 Ayra dan Suaranya
67 67 Bucin Ayra Bram 1
68 68 Bucin Ayra Bram 2
69 69 Gosip tentang Ayra
70 70 Bucin Ayra Bram 3
71 71 Hoaks Tercipta Karena Buzzer.
72 72 Satu Rasa Dua Hati
73 73 10 Syarat Membaca Surah Al Fatihah
74 74 Liona VS Rani dan Ayra
75 75 Amarah Nyonya Lukis
76 76 Cinta Anak Pada Seorang Ibu
77 77 Masalalu Nyonya Lukis
78 78 Bramantyo Kecil
79 79 Tiga Rasa Tiga Hati
80 80 Video Masalalu Ayra
81 81 Ulat-ulat Keket
82 82 Prasangka Rani
83 83 Dua Hati Dalam Balutan Satu Rasa Untuk Satu Hati.
84 84 Istri Rasa Atasan
85 85 Ayra Si Drum Bodol
86 86 Ayra di Kediaman Yeni
87 87 Ayra Terombang-Ambing
88 88 Penyelamatan Ayra
89 89 Pandangan Pertama
90 90 Terkuaknya Masalalu Ayra
91 91 Perpisahan Yeni dan Ayra
92 92 Semua Akan Indah Pada Waktunya
93 93 Puncak Bucin Bram Ayra 1
94 94 Puncak Bucin Bram Ayra 2
95 95 Pesona Cinta Bram
96 96 Jebakan Batman Bram
97 97 Sesal Di Hati Nyonya Lukis
98 98 Puncak Bucin Bram Ayra 3
99 99 Ayra dan Bram Di Kali Bening
100 100 Bram dan Jas Hitamnya
101 101 Welcome to Bali Ayra Bram
102 102 Ayra dan Bram Edisi di Pantai
103 103 Kamu Takkan Terganti Ayra
104 104 Kecemburuan Ayra
105 105 Ayra dan Bram di Kediaman Nenek Indira
106 106 Processor Cinta Ayra
107 107 Tangis Keluarga Pradipta
108 108 Nada Nada Kehidupan
109 109 Beni dan Liona 1
110 110 Beni dan Liona 2
111 111 Kabar Duka untuk Keluarga Pradipta
112 112 Liona Tanpa Sanak Saudara
113 113 Kenyataan Hidup Liona
114 114 Sebuah Kebaikan Yang Disembunyikan
115 115 Sesal di Dada Liona
116 116 Romantisme Ala Ayra dan Bram
117 117 Tangis Penyesalan Liona
118 118 Garis Dua
119 119 Sebuah Keputusan
120 120 Setiap Orang berhak Berubah
121 121 Dua Orang Perempuan berhati Lembut
122 122 Ayra dan Kehamilannya
123 123 Membesuk Bram
124 124 Kerinduan Bram
125 125 Pak Uban dan Lelaki Berkacamata
126 126 Bram Dan Demamnya
127 127 POV Nuaima dan Munir
128 128 Nuaima dan Rasa Dihatinya (POV Nuaima & Munir)
129 129 POV Nuaima dan Munir di kali Bening
130 130 POV Nuaima dan Munir 'Nasihat Umi Laila
131 131 Pak Bagas dan Obsession Love Disorder
132 132 Prasangka Munir dan Rasa Dihati Nuaima
133 133 Rasa Syukur Membuat Hidup menjadi Bahagia
134 134 Kejadian Tragis Nuaima dan Munir
135 135 Ayra Yatim Piatu
136 136 Bram dan Tempe Penyet
137 137 Ayra dan Rasa Mualnya
138 138 Tangis Pak Uban
139 139 Ayra dan Rasa Sesak di dadanya
140 140 Pak Uban dan Taubatnya
141 141 Dua Rasa dari Sepasang Suami Istri
142 142 Bukti Cinta Sebagai Umatnya
143 143 Ayra Bertemu Pak Bagas
144 144 Suka dan Duka Dua Keluarga
145 145 Kembali Bertemu
146 146 Tangis Pak Bagas
147 147 Ikhtiar, Doa dan Tawakal
148 148 Senyum Untuk Bambang
149 149 Pak Bagas VS Pak Uban
150 150 Kecurigaan Bram
151 151 Kebakaran
152 152 Kabar Duka Untuk Ayra
153 153 Kado Untuk Ayra
154 154 Senyum Untuk Ayra
155 155 Melepas Rindu
156 156 Penyesalan Pak Bagas
157 157 Tentang Aisha
158 158 Pesona Ayra
159 159 Ayra dan Duo Jomblo
160 160 Kebebasan Bram
161 161 Shela dan Takdirnya
162 162 Beni dan Liona di Kanada
163 163 Merah Putih Mikel Group
164 164 Rasa Di Hati Beni
165 165 Beni dan Liona di Indonesia
166 166 Isi Hati Seorang Ayah
167 167 Penyesalan Beni
168 168 Ayra dan Bram Terjebak
169 169 Perangkap Rafi untuk Aisha
170 170 Rafi dan Aisha
171 171 Aisha dan Rasa takutnya
172 172 Penyelamatan Ala Rafi
173 173 Perdebatan Aisha dan Rafi
174 174 Cemburu itu Wujud lain dari Cinta
175 175 Prasangka Aisha
176 176 Keputusan Aisha
177 177 Kekhawatiran Ayra
178 178 Bahagia itu Kita Yang Menciptakan bukan Pasangan
179 179 Ayra Bertemu Aisha
180 180 Aisha bertemu Ibu Panti
181 181 Duka Aisha dan Satu Rasa Di Hati Rafi
182 182 Teriakan Alifah
183 183 Rasa Untuk Aisha
184 184 Tuduhan pada Aisha
185 185 Kepoloson Duo Asisten
186 186 Duo Asisten SAH
187 187 Rafi Menerima Kekurangan Aisha Karena Cinta di Hatinya
188 188 Bersatunya Dua Jomblo
189 189 Kebahagiaan Aisha dan Rafi
190 190 Obrolan Bermakna dari Ayra dan Bram
191 191 Indahnya Cinta Bram Dan Ayra
192 192 Mengantar Lilis dan Nurul ke Kali Bening
193 193 Rencana Nyonya Lukis dan Pak Erlangga
194 194 Shela Kritis
195 195 Kesedihan Liona
196 196 Sepucuk Surat
197 197 Almahyra Mahfuzhah
198 198 Bram Yang Terus Belajar
199 199 Rafi dengan Kegelisahannya
200 200 Ayra Kontraksi
201 201 Perjuangan Seorang Ibu
202 202 Nama Untuk Si Kembar
203 203 Istri dan Ibu
204 204 Kekhawatiran Ayra
205 205 Jagalah Hati
206 206 Ammar Dan Qiya
207 207 Muliakan Orang Tua Kita
208 208 Penyesalan Bram
209 209 Pesta Pernikahan
210 210 Bram Melatih Kesabaran nya
211 211 Rasa dihati Ayra
212 212 Baiti Jannati
213 213 Kebaikan Akan Mendatangkan Kebaikan
214 214 Keluarga Ayra dan Aisha
215 215 Ayra Ziarah
216 216 Takkan Lekang Kebaikan Selama Hidup
217 217 Ada Suka Ada Duka
218 218 Ammar dan Karakternya
219 219 Interaksi Ayra dan Bram
220 220 Interaksi Ayra dan Bram 2
221 221 Kabar tentang Alma
222 222 Ulah Bram
223 223 Tiga Orang Suami untuk Tiga Orang Istri
224 224 Lagi Ingin Dimanja
225 225 Bukan Bram Yang Dulu
226 226 Kekaguman Rafi pada Si Kembar 1
227 227 Kekaguman Rafi Pada Si Kembar 2
228 228 Kekaguman Rafi Pada Si Kembar 3
229 229 Ciplukan
230 230 Ciplukan 2
231 231 Kediaman Kyai Rohim
232 232 Masalah Beni dan Liona
233 233 Hati Ammar yang Masih Keras
234 234 Kediaman Pak Erlangga
235 235 Bertemu Dokter Sarah
236 236 Harapan Liona
237 237 Semua akan Kembali Pulang
238 238 Kepergian Kyai Rohim
239 239 Mengenang Kyai Rohim
240 240 Cinta Ayra dan Bram
241 241 Cinta Ayra dan Bram 2
242 242 Menggoda Bram
243 243. Pertanyaan Si kembar
244 Bayi Ke-tiga Ayra
245 245 Kejutan Untuk Bram dan Keluarga
246 246 Ucapan Ibu Adalah Doa
247 247 Ayra dan Komunitas nya
248 248 Panggilan Untuk Ayra
249 249 Setiap Yang Memiliki Pesona Pasti Penuh Perjuangan
250 250 THE END
251 PENGUMUMAN
252 PENGUMUMAN AMMAR DAN QIYA
253 Promo Novel Because I'm Your Wife
Episodes

Updated 253 Episodes

1
1. MELAMAR CEO
2
2. PENOLAKAN BRAMANTYO PRADIPTA
3
3. Gadis itu, Ayra Khairunnisa
4
4. Menerima Lamaran Kyai Rohim
5
5. Sekufu
6
6. Jodoh Ayra
7
7. Dengan atau tanpa Rani.
8
8. Istri Bramantyo Pradipta
9
9 Di balik Kerudung mu
10
10. Pernikahan yang Tak di Inginkan.
11
11. Tiga Orang yang harus Dimuliakan & Dihormati
12
12. Cinta Tanpa Syarat
13
13. Genggam Erat Berlian itu Bram
14
14 Apa ini Namanya Cinta?
15
15 Kecerdasan untuk Menyenangkan Hati Suami.
16
16. Mendidik Hati dan Membersihkan Hati
17
17. Perdebatan di Meja Makan
18
18 Menggoda Ayra
19
19 Keromantisan Pak Erlangga
20
20 Pertemuan Keluarga Pradipta dengan Rani
21
21 Tugas Setiap Manusia Muslim
22
22 Pesona Ayra Khairunnisa di Keluarga Pradipta
23
23 Islam itu MERANGKUL bukan MEMUKUL
24
24 Tampil Cantik Untuk Suami Itu Ibadah
25
25 Cinta Dari Mata Turun Ke Hati #Bram
26
26. Berbelanja
27
27. Hati yang disakiti
28
28 Perjuangan Cinta Ayra
29
29 Satu Nama diantara Kita
30
30 Aku Akan Bersabar Menunggu mu
31
31 Onani dan Masturbasi
32
32 Berhias Tanpa Melanggar Syariat
33
33 Istri CEO
34
34 Ayra Tunjukkan Pesona Mu
35
35 Kecerdasan Ayra bukan Suatu Kesombongan
36
36 Siapa Perempuan Itu?
37
37 Ketakutan Ayra
38
38 Video Berdurasi 44 Detik
39
39 Saling Menerima Masalalu
40
40 Bahagia tak Harus Mengambil Milik Orang Lain
41
41 Jadilah Sahabat untuk Kami
42
42 Tuduhan Pada Bram
43
43 Shela bersama Hoaks dan Buzzer.
44
44. Sebaik-Baik Tempat Curhat Hanya lah Pada Allah.
45
45 Hati-Hatilah Bersuci bagi Perempuan
46
46 Sepele Tapi Membuat Tak Sahnya Wudhu
47
47 Tirakat Sebagai Tanda Cinta Kasih
48
48 Kejujuran Yang Dilarang, Menceritakan Kita Pernah Berbuat Maksiat.
49
49 Kesetiaan Seorang Istri Sedang Diuji
50
50 Lelaki Pertama Dalam Hidup Ayra
51
51 "Ay-Ay-Ayra"
52
52 Limited Edition
53
53 Ulet Berkaki Dua
54
54 Filosofi Lemper
55
55 Air Yang Tenang pun Bisa Menenggelamkan Orang
56
56 Aku Datang Dengan Dosa Aduhai Pencipta POV Ayra
57
57 Apa Aku Pantas Untuk Mu, Ay?
58
58 Jangan Sering Lewat Jalan Pintas
59
59 Pentingnya Menjaga Hati sebelum Menikah
60
60 Debaran Hati Bram
61
61 Ruang Hati CEO MIKEL Group
62
62 Cintai Aku Karena Allah
63
63 Suami istri itu adalah Partner
64
64 Anak-anak Nabi Ada Tujuh Orang
65
65 Pakaiannya Dulu Baru Airnya.
66
66 Ayra dan Suaranya
67
67 Bucin Ayra Bram 1
68
68 Bucin Ayra Bram 2
69
69 Gosip tentang Ayra
70
70 Bucin Ayra Bram 3
71
71 Hoaks Tercipta Karena Buzzer.
72
72 Satu Rasa Dua Hati
73
73 10 Syarat Membaca Surah Al Fatihah
74
74 Liona VS Rani dan Ayra
75
75 Amarah Nyonya Lukis
76
76 Cinta Anak Pada Seorang Ibu
77
77 Masalalu Nyonya Lukis
78
78 Bramantyo Kecil
79
79 Tiga Rasa Tiga Hati
80
80 Video Masalalu Ayra
81
81 Ulat-ulat Keket
82
82 Prasangka Rani
83
83 Dua Hati Dalam Balutan Satu Rasa Untuk Satu Hati.
84
84 Istri Rasa Atasan
85
85 Ayra Si Drum Bodol
86
86 Ayra di Kediaman Yeni
87
87 Ayra Terombang-Ambing
88
88 Penyelamatan Ayra
89
89 Pandangan Pertama
90
90 Terkuaknya Masalalu Ayra
91
91 Perpisahan Yeni dan Ayra
92
92 Semua Akan Indah Pada Waktunya
93
93 Puncak Bucin Bram Ayra 1
94
94 Puncak Bucin Bram Ayra 2
95
95 Pesona Cinta Bram
96
96 Jebakan Batman Bram
97
97 Sesal Di Hati Nyonya Lukis
98
98 Puncak Bucin Bram Ayra 3
99
99 Ayra dan Bram Di Kali Bening
100
100 Bram dan Jas Hitamnya
101
101 Welcome to Bali Ayra Bram
102
102 Ayra dan Bram Edisi di Pantai
103
103 Kamu Takkan Terganti Ayra
104
104 Kecemburuan Ayra
105
105 Ayra dan Bram di Kediaman Nenek Indira
106
106 Processor Cinta Ayra
107
107 Tangis Keluarga Pradipta
108
108 Nada Nada Kehidupan
109
109 Beni dan Liona 1
110
110 Beni dan Liona 2
111
111 Kabar Duka untuk Keluarga Pradipta
112
112 Liona Tanpa Sanak Saudara
113
113 Kenyataan Hidup Liona
114
114 Sebuah Kebaikan Yang Disembunyikan
115
115 Sesal di Dada Liona
116
116 Romantisme Ala Ayra dan Bram
117
117 Tangis Penyesalan Liona
118
118 Garis Dua
119
119 Sebuah Keputusan
120
120 Setiap Orang berhak Berubah
121
121 Dua Orang Perempuan berhati Lembut
122
122 Ayra dan Kehamilannya
123
123 Membesuk Bram
124
124 Kerinduan Bram
125
125 Pak Uban dan Lelaki Berkacamata
126
126 Bram Dan Demamnya
127
127 POV Nuaima dan Munir
128
128 Nuaima dan Rasa Dihatinya (POV Nuaima & Munir)
129
129 POV Nuaima dan Munir di kali Bening
130
130 POV Nuaima dan Munir 'Nasihat Umi Laila
131
131 Pak Bagas dan Obsession Love Disorder
132
132 Prasangka Munir dan Rasa Dihati Nuaima
133
133 Rasa Syukur Membuat Hidup menjadi Bahagia
134
134 Kejadian Tragis Nuaima dan Munir
135
135 Ayra Yatim Piatu
136
136 Bram dan Tempe Penyet
137
137 Ayra dan Rasa Mualnya
138
138 Tangis Pak Uban
139
139 Ayra dan Rasa Sesak di dadanya
140
140 Pak Uban dan Taubatnya
141
141 Dua Rasa dari Sepasang Suami Istri
142
142 Bukti Cinta Sebagai Umatnya
143
143 Ayra Bertemu Pak Bagas
144
144 Suka dan Duka Dua Keluarga
145
145 Kembali Bertemu
146
146 Tangis Pak Bagas
147
147 Ikhtiar, Doa dan Tawakal
148
148 Senyum Untuk Bambang
149
149 Pak Bagas VS Pak Uban
150
150 Kecurigaan Bram
151
151 Kebakaran
152
152 Kabar Duka Untuk Ayra
153
153 Kado Untuk Ayra
154
154 Senyum Untuk Ayra
155
155 Melepas Rindu
156
156 Penyesalan Pak Bagas
157
157 Tentang Aisha
158
158 Pesona Ayra
159
159 Ayra dan Duo Jomblo
160
160 Kebebasan Bram
161
161 Shela dan Takdirnya
162
162 Beni dan Liona di Kanada
163
163 Merah Putih Mikel Group
164
164 Rasa Di Hati Beni
165
165 Beni dan Liona di Indonesia
166
166 Isi Hati Seorang Ayah
167
167 Penyesalan Beni
168
168 Ayra dan Bram Terjebak
169
169 Perangkap Rafi untuk Aisha
170
170 Rafi dan Aisha
171
171 Aisha dan Rasa takutnya
172
172 Penyelamatan Ala Rafi
173
173 Perdebatan Aisha dan Rafi
174
174 Cemburu itu Wujud lain dari Cinta
175
175 Prasangka Aisha
176
176 Keputusan Aisha
177
177 Kekhawatiran Ayra
178
178 Bahagia itu Kita Yang Menciptakan bukan Pasangan
179
179 Ayra Bertemu Aisha
180
180 Aisha bertemu Ibu Panti
181
181 Duka Aisha dan Satu Rasa Di Hati Rafi
182
182 Teriakan Alifah
183
183 Rasa Untuk Aisha
184
184 Tuduhan pada Aisha
185
185 Kepoloson Duo Asisten
186
186 Duo Asisten SAH
187
187 Rafi Menerima Kekurangan Aisha Karena Cinta di Hatinya
188
188 Bersatunya Dua Jomblo
189
189 Kebahagiaan Aisha dan Rafi
190
190 Obrolan Bermakna dari Ayra dan Bram
191
191 Indahnya Cinta Bram Dan Ayra
192
192 Mengantar Lilis dan Nurul ke Kali Bening
193
193 Rencana Nyonya Lukis dan Pak Erlangga
194
194 Shela Kritis
195
195 Kesedihan Liona
196
196 Sepucuk Surat
197
197 Almahyra Mahfuzhah
198
198 Bram Yang Terus Belajar
199
199 Rafi dengan Kegelisahannya
200
200 Ayra Kontraksi
201
201 Perjuangan Seorang Ibu
202
202 Nama Untuk Si Kembar
203
203 Istri dan Ibu
204
204 Kekhawatiran Ayra
205
205 Jagalah Hati
206
206 Ammar Dan Qiya
207
207 Muliakan Orang Tua Kita
208
208 Penyesalan Bram
209
209 Pesta Pernikahan
210
210 Bram Melatih Kesabaran nya
211
211 Rasa dihati Ayra
212
212 Baiti Jannati
213
213 Kebaikan Akan Mendatangkan Kebaikan
214
214 Keluarga Ayra dan Aisha
215
215 Ayra Ziarah
216
216 Takkan Lekang Kebaikan Selama Hidup
217
217 Ada Suka Ada Duka
218
218 Ammar dan Karakternya
219
219 Interaksi Ayra dan Bram
220
220 Interaksi Ayra dan Bram 2
221
221 Kabar tentang Alma
222
222 Ulah Bram
223
223 Tiga Orang Suami untuk Tiga Orang Istri
224
224 Lagi Ingin Dimanja
225
225 Bukan Bram Yang Dulu
226
226 Kekaguman Rafi pada Si Kembar 1
227
227 Kekaguman Rafi Pada Si Kembar 2
228
228 Kekaguman Rafi Pada Si Kembar 3
229
229 Ciplukan
230
230 Ciplukan 2
231
231 Kediaman Kyai Rohim
232
232 Masalah Beni dan Liona
233
233 Hati Ammar yang Masih Keras
234
234 Kediaman Pak Erlangga
235
235 Bertemu Dokter Sarah
236
236 Harapan Liona
237
237 Semua akan Kembali Pulang
238
238 Kepergian Kyai Rohim
239
239 Mengenang Kyai Rohim
240
240 Cinta Ayra dan Bram
241
241 Cinta Ayra dan Bram 2
242
242 Menggoda Bram
243
243. Pertanyaan Si kembar
244
Bayi Ke-tiga Ayra
245
245 Kejutan Untuk Bram dan Keluarga
246
246 Ucapan Ibu Adalah Doa
247
247 Ayra dan Komunitas nya
248
248 Panggilan Untuk Ayra
249
249 Setiap Yang Memiliki Pesona Pasti Penuh Perjuangan
250
250 THE END
251
PENGUMUMAN
252
PENGUMUMAN AMMAR DAN QIYA
253
Promo Novel Because I'm Your Wife

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!