BAB 10

POV DIMAS

Perkenalkan, namaku Dimas Aditya Rahman. Aku anak pertama dari dua bersaudara. Aku bekerja di Salah satu perusahaan yang lumayan bonafit. Memang, aku tak memilik jabatan bagus disana, bisa di bilang aku hanya pekerja rendahan. Posisi ku hanya ssbagai seorang office boy disana.

Tapi aku bersyukur bisa bekerja disana, selain bisa menghidupi diri sendiri. Aku juga bisa membantu ekonomi keluargaku. Bapak ku hanya bekerja sebagai tukang martabak mini keliling, penghasilan tak seberapa, hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Maka setelah aku menyelesaikan sekolah SMA ku, aku langsung mencari pekerjaan guna meringankan beban Bapak, selain itu bisa membantu biaya sekolah Riri, adikku satu-satunya.

Tak apa bekerja sebagai OB yang penting uang yang aku hasilkan halal. Beruntung aku bisa bekerja di perusahaan ini, karyawan-karyawan disini rata-rata orangnya baik, tak pernah membedakan kasta. Setiap hari aku bekerja membersihkan ruangan pemilik perusahaan, dan rata-rata aku hanys melayani para petinggi perusahaan. Selain kerjaku Yang cekatan, pekerjaan yang ku lakukan pun selalu rapih, maka tak ayal aku di tugaskan untuk melayani para petinggi perusahaan.

Hari ini aku ditugaskan untuk membersihkan ruang meeting, karena hari ini katanya akan ada anak pemilik perusahaan datang kesini. Entahlah mungkin nanti dia akan menggantikan Pak Handoko memimpin perusahaan ini. Ku bersihkan dengan teliti setiap sudut ruangan yang ada disini, jangan sampai ada debu sedikit pun.

Setelah kurang lebih 30 menit aku membersihkan ruang meeting. Aku kembali ke pantry untuk membuatkan minuman untuk para petinggi perusahaan. Karena acara perkenalan putri pemilik perusahaan akan segera di mulai. Ku hitung lagi jumlah minum yang sudah tersaji dan beberapa camilan. Jangan sampai ada yang terlewat. Setelah semua dirasa sudah selesai, gegas ku bawa nampan berisi minuman dan cemilan ke ruang meeting dibantu oleh Ardy rekan kerjaku.

Tok, tok.

Ku ketuk pintu ruang meeting, tak berselang Lama Pak Radit membuka kan pintu dan mempersilahkan aku dan Ardy masuk. Setelah sampai di dalam ruang meeting, aku terpana melihat kecantikkan putri Pak Handoko. Tinggi semampai, kulit putih bersih, hidung mancung dan bulu mata lentik menghiasi wajahnya. Aku cukup terpana untuk beberapa saat, sampai akhirnya Ardy menyenggol lenganku memberi tanda agar aku segera menyuguhkan minuman dan camilan.

Sambil memberikan minuman pada para pegawai, Pak Handoko masih bicara mengenai putrinya. Namanya Mentari, ah sungguh nama yang indah. Ternyata Mentari akan memulai bekerja disini. Masih dibawah bimbingan Pak Radit, karena dia masih harus belajar tentang cara memimpin perusahaan. Pak Radit memang orang yang sangat di percaya oleh Pak Handoko.

Saat akan memberikan minuman kepada Tari, hatiku sungguh tak karuan. Detak jantung berpacu lebih cepat. Keringat dingin mulai membasahi dahiku. Ya tuhan, apakah ini Yang di namakan cinta pada pandangam pertama? Dengan hati-hati ku letakkan secangkir teh manis panas dihadapan Mentari.

"Terima Kasih mas"

Deg! Seketika jantungku rasanya berhenti mendadak, mendengar suaranya membuat hati ini diliputi rasa bahagia.

"E, eh i-iya bu sama-sama" jawabku gugup.

Setelah memastikan semua sudah mendapatkan minuman, aku dan Ardy pun pamit kembali bekerja. Cepat ku langkahkan kaki, lama-lama menatap Mentari tak sehat untuk jantungku. Hah!

"Anak bos cantik ya Dim" ucap Ardy padaku

"E, eh iya. Cantik banget malahan" jawabku kikuk

"Pasti selera cowoknya tinggi ya. Apalagi dia anak pemilik perusahaan"

Ya benar, mana mungkin seorang anak pemilik perusahaan mau dengan karyawan rendahan sepertiku. Kasti kita saja sudah berbeda. Hah, impianku terlalu tinggi untuk bisa dekat dengan Mentari.

Sadarlah Dimas, kau dan dia bagaikan langit dan bumi! Gumamku dalam hati.

"Eh, malah bengong lu Dim"

"Hehe ya ngga papalah Dy. Yok lah kita balik kerja. Semangaaaaat!" Ucapku sambil berlalu meninggalkan Ardy.

Sudahlah, aku harus mengubur keinginanku untuk bisa dekat dengan Mentari. Kalaupun Mentari mau denganku, sudah di pastikan Pak Handoko tak akan setuju. Lagian aku terlalu PD jika Mentari juga bisa tertarik padaku.

Sudahlah, lebih baik aku fokus saja bekerja agar bisa membahagiakan Ibu, Bapak dan Riri.

Bersambung....

Terpopuler

Comments

Lina aja

Lina aja

lanjut n semangat y thor

2023-01-15

1

Diastin

Diastin

next....

2022-05-17

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!