Aku dan Naila menatap Linea dengan tatapan heran. Meskipun menurut ku mimpi ini memang agak tidak normal, tapi aku masih berpikir ini adalah mimpi, karena aku ingat dengan jelas bahwa aku sedang tidur sebelumnya.
"Kamu tidak perlu terlalu terkejut, Saya akan menjelaskannya padamu perlahan. Tapi sebelum itu, Saya harus melakukan satu hal yang sangat penting."
Linea lalu berjalan perlahan ke sisiku, dan kemudian tanpa peringatan apa pun dan dengan senyum yang cerah, dia menendang barang ku yang berharga dengan keras.
Rasa sakit yang bukan main membuat aku membungkuk seperti udang, dan keringat dingin muncul di dahi ku.
"Saya sekali lagi peringatkan, Kamu tidak boleh memelukku, apalagi menciumku, tanpa izin dari ku."
Linea yang mengira itu adalah mimpi sebelumnya, dan ketika dia menciumku, dia pikir itu semacam mimpi memalukan.
Selain itu, dia juga memiliki kesan yang baik tentang aku, dan tentu saja menikmati manfaat yang dibawa oleh mimpi itu.
Tapi ketika dia menyadari itu bukan mimpi, rasa malu sebelumnya langsung berubah menjadi amarah.
“Ugh..." Bahkan Naila tidak tahan melihat ekspresi sedihku.
Dari segi struktur fisiologis, Naila adalah masternya. Dia sangat menyadari betapa menyakitkan hal yang baru saja aku alami. Menurut penelitian, rasa sakit sesaat dari rasa sakit telur, bisa melebihi rasa sakit wanita saat melahirkan.
"Baiklah, Ini jelas bukan mimpi.”
Dalam sekejap aku langsung percaya ni bukan mimpi walau tanpa penjelasan sekalipun. Pikirku dengan gigi terkatup. Melihat bahwa aku yang kembali berdiri, Linea menjelaskan kepada kami mengapa ini bukan mimpi.
"Pertama, semua yang ada di sini mulai berkembang dan bertambah terus menerus. Kedua, semua yang ada di sini sejalan dengan pikiran Kita. Singkatnya ketika Kita bermimpi Kita pernah berpikir untuk melompat tapi Kita yang di dalam mimpi tidak bisa melompat.”
“Ketiga, kognisi atau indra Kita terasa sangat nyata, dan perasaan atau emosi kita tidak menipu dapat menipu Kita."
"Tiga karakteristik mimpi!"
Naila dan aku langsung mengerti bahwa mimpi memiliki tiga karakteristik mimpi yaitu diskontinuitas, inkoordinasi, dan ketidakpastian kognitif, dan yang kami alami saat ini tidak sejalan dengan ketiga hal itu, jadi kami tidak bermimpi.
Suasana menjadi aneh saat ini, sebelumnya kami tidur di gua tapi sekarang kami tiba-tiba muncul di tempat aneh ini, dan kami merasa sangat gelisah.
"Haku, Kamu adalah yang pertama datang ke sini, coba Kamu beri tahu Kami apa yang Kamu ketahui.” Kata Linea.
"Yah, Aku berada rumah kaca yang tidak memiliki pintu keluar, dan hanya ada tiga kamar kecil, tidak ada yang lain. Aku mencoba memecahkan kaca, tetapi tidak berhasil.”
Linea juga mencoba mengetuk penutup kaca, tetapi tidak ada perubahan.
"Kalau begitu hanya tiga ruangan ini yang belum dijelajahi.”
Linea membuka rumah di paling kiri dan berjalan masuk, lalu pintu tiba-tiba tertutup, aku dan Naila tidak bisa membukanya.
"Hei, Linea, apa Kamu baik-baik saja?"
"Saya baik-baik saja, Kamu bisa menungguku selama beberapa menit."
Sekitar 3 menit kemudian, Linea berjalan keluar ruangan tanpa cedera, dengan tambahan mata mekanis keren di mata kirinya.
"Apa yang terjadi di dalam?" Naila dan aku bertanya dengan cemas.
“Um, baiklah. Saya tidak bisa menggambarkannya. Kamu akan tahu ketika kamu memasuki dua ruangan lain. Tenang di dalam sangat aman. Kamu tidak perlu khawatir tentang bahaya. Kamu bisa masuk dengan percaya diri."
"Eh, oke." Kami berdua sedikit kebingungan
Aku lalu membuka pintu di tengah dan berjalan masuk dan setelah beberapa saat. Naila juga memasuki pintu di sebelah kanan.
Saat aku melangkah melewati pintu, aku tidak bisa menjelaskanya dengan benar, aku merasa seperti berada di tempat yang disebut surga, sebuah keindahan yang tak terlukiskan.
Ruang di dalam kamar jauh lebih besar daripada ruang kaca, dan di tengahnya ada tempat tidur tunggal berwarna putih bersih. naluri ku memberi tahu ku bahwa aku perlu berbaring di tempat tidur ini.
Aku tidak ragu-ragu untuk merebahkan diri di tempat tidur, menikmati kenyamanan yang sangat langka dan sebelum aku menyadarinya, aku telah tertidur, dan cahaya aneh menyelimuti seluruh tubuh ku, rasanya seperti janin masih di dalam perut ibu.
Dalam mimpi itu, aku bertemu Harimau salju, seperti yang kami bunuh. Tapi tidak hanya itu aku juga melihat binatang lain.
Singa, elang, burung hantu dan masih banyak lagi. Aku tidak takut, dan semua hewan itu tidak menyakiti ku, mereka hanya berjalan ke arah ku dan mengelilingiku ada yang mencoba menjilat, mematuk, mengusapkan tubuhnya, lalu melebur ke dalam tubuh aku seperti cahaya bintang kecil.
Tapi belum berakhir, tiba-tiba pemandangan di sekitar berubah, aku sekarang berada di tengah pusat kota, di sekitarku banyak sekali orang berlalu lalang. Memang kota tidak seindah tempat sebelumnya namun, itu membangkitkan rasa rindu ku untuk segera pulang.
Setelah bangun tidur, seluruh ruangan menjadi kamar tidur di rumah ku, bahkan detailnya sama persis. Aku mencari di seluruh ruangan dan tidak menemukan apa pun yang berharga. Melangkah keluar dari kamar lagi, Linea dan Naila sudah menunggu di luar.
"Bagaimana, apakah ada perbedaan?" Naila bertanya.
"Aku tidak bisa menggambarkannya. Bagaimana denganmu?"
“Tak terlukiskan."
"Haku, wajahmu!" seru Naila..
"Apa yang salah dengan wajahku?"
Aku menyentuh wajahku dengan gelisah, dan tiba-tiba menemukan bahwa ada enam kumis di sudut mulutku. Ini bukan kumis manusia, tetapi jenis kumis pada kucing.
[Eh, aku tidak tidak berubah menjadi harimau salju kan?] Aku merasa sedikit panik.
"Linea, apakah Aku punya perubahan lain?"
“Tidak ada apa-apa selain kumis itu."
[Ok. Tenang diriku, tidak terjadi apa-apa. Aku masih manusia.] sekarang Aku merasa sedikit lega.
"Saya punya tebakan kasar bahwa ini bukan dunia nyata, tapi juga bukan mimpi, tetapi proyeksi dari lubuk hati Kita." Linea menganalisis.
"Bagaimana Kamu bisa mencapai kesimpulan itu?" Tanyaku.
"Ingatan kami bertiga dibagikan, tetapi di sini Kami tidak dapat berbagi memori, yang menunjukkan bahwa kesadaran Kami terputus dari otak."
"Tunggu, kesadaran manusia harus melekat pada aktivitas otak. Pemisahan kesadaran dan tubuh tidak sejalan dengan dasar ilmiah."
Aku tidak begitu percaya penjelasan yang diberikan oleh Linea. Terlalu aneh untuk berbicara tentang kesadaran tanpa tubuh.
"Lalu maksudmu jiwa Kita terpisah dari tubuh, dan kemudian jiwa melayang ke dunia imajinasi yang kesadaran Kita bangun sendiri?"
Sebagai keturunan Yahudi, Naila memiliki pemahaman mendalam tentang jiwa manusia dan cepat mengerti maksud dari Linea.
"Benar, itu maksudku."
"Tidak-tidak, ini terlalu non-materialistis. Kenapa ini berhubungan dengan jiwa lagi."
Aku masih belum terlalu percaya.
"Kitab Para Nabi saja telah muncul, dan tidak ada yang tidak mungkin. Terlebih lagi, keberadaan jiwa memiliki banyak bukti ilmiah untuk diverifikasi, yang juga masuk akal dengan materialisme."
Naila menyatakan pembenarannya.
"Baiklah kalau begitu."
Aku tidak bisa membantah mereka berdua, jadi aku harus setuju dengan pandangan mereka.
"Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana Kita kembali ke kenyataan, dan pertanyaan tentang jiwa akan dibahas nanti."
"Ini sebenarnya sangat mudah. Kita bisa kembali ke cara kita datang."
"Maksudmu tidur lagi?" aku bertanya.
"Yah, ada teori bahwa kenyataan orang sebenarnya adalah mimpi dari kenyataan lain. Selama Kita memasuki mimpi di sini, Kita bisa bangun dalam kenyataan." Linea melemparkan teori lain yang sangat metafisik untuk menjelaskan padaku.
"Ini benar-benar metafisik."
(Metafisika adalah cabang filsafat yang membahas persoalan tentang keberadaan (being) atau eksistensi (existence).
Kami bertiga tidak terlalu memperhatikannya, kami berbaring di tanah dan tertidur. Kami hanya memejamkan mata dan memasuki mimpi.
Aku langsung terbangun di dalam gua. Dadanya sesak sekali. Perasaan tidak enak melanda otak aku, dan sepertinya ada bagian dari tubuh aku yang hilang.
Aku melihat ke Linea, dan tiba-tiba menemukan Linea masih terbaring di sana, Linea yang juga menatapku.
[Lin?] tanyaku ragu-ragu di kepala.
[Haku?]
“ini Aku." jawabku dengan gemetar. Aku melihat melalui ' mata Linea dan melihat bahwa 'Linea sedang menatap Linea.’
Untuk memastikan sesuatu, aku meremas dadaku dengan keras. Sentuhan ini nyata.
Aku menjadi Linea.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 143 Episodes
Comments
Del-lKaiser
😱😱😱😱😱😱😱😱
2022-07-05
1
Del-lKaiser
mungkin karena lagi panik duo orang ini tidak logika saat berpikir🗿🗿
2022-07-05
1
Ranran Miura
ah masa sih? coba cowok melahirkan, biar tau perbandingan sakitnya kek apa
2022-06-11
1