Telah di Tetapkan

"Seger...!" seru Aryo yang terus menatap Sri yang sibuk membenarkan rambutnya yang tertiup angin.

(Segar)

"Ha...! a.apanya yang seger mas?" tanya Sri yang penasaran.

"Oh, anu..e..es degan iki sing seger!" jawab Aryo sedikit kelabakan.

(Oh, itu..e...es kelapa muda ini yang segar)

"Ohw, kan mas Aryo belum minum? kok bisa bilang segar?" tanya Sri sambil mengulas senyum karena memang melihat Aryo belum meminum es kelapa mudanya.

"Ya kan sudah di lihat dari penampilannya!' jawab Arya sekenanya namun memang ada benarnya juga.

Karena es kelapa mudanya sangat menggoda tenggorokan yang meminta untuk segera di basahi.

"Hm...bukannya sedari dulu es kelapa muda itu memang segar, mas?" tanya Sri seraya mengaduk es kelapa mudanya biar gulanya tercampur rata.

"Ya, iya nanyanya juga minuman apalagi es! segar, seperti kamu dik Sri!" ucap Aryo yang terus menatap Sri dengan mengulas senyumnya.

"Ah, gombal!" seru Sri yang kemudian menyeruput minumannya.

Tak berapa lama pelayan Warung makan itu membawakan hidangan ikan yang di pancing mereka.

"Wah mantap, ikannya di masak bumbu rujak asam pedas semua!" seru Aryo dan setelah berdoa mereka makan dengan lahapnya.

"Mas Aryo, kenapa mas melamarku?" tanya Sri di sela-sela makannya, karena penasaran.

"Aku sangat menyukaimu sejak dulu dik Sri, sejak pertama kita berjumpa!" jawab Aryo yang sudah mencuci tangannya.

"Kalau aku tidak mau, bagaimana mas?" tanya Sri sedikit berhati-hati.

"Apa kamu tak menyukai aku Sri?" tanya Aryo sedikit kecewa.

"Bukannya tidak suka sama mas Aryo, siapa sih yang nggak kenal mas Aryo? Sri hanya ingin melanjutkan sekolah. Sri ingin kerja cari uang buat Sri sendiri, tanpa meminta pada Bapak, dan simbok. Sri ingin menikmati masa muda Sri lebih dulu. Agar kelak Sri nggak menyesal!" jelas Sri yang membuat Aryo tersentak dengan pengakuan Sri.

"Kalau itu maumu, kita tunangan dulu nggak apa-apa kan dik Sri!" kata Aryo yang tak ingin melepaskan gadis di depannya, yaitu Sri Sutini.

"Tunangan? itu sama saja masih membelengguku mas!" seru Sri yang kemudian menghabiskan es kelapa mudanya.

"Tapi aku sangat mencintaimu dik Sri, kita Tunangan dulu. Agar tak ada yang mendekatimu Sri!" jelas Aryo yang juga menghabiskan es kelapa mudanya.

"Huh...! tak ada gunanya juga aku menentang. Malah semakin mendesak ke arah pernikahan!" gumam Sri dalam hati.

Sri hanya diam dan mendengarkan Aryo yang terus merayunya.

Dan sesekali Sri menghela nafasnya.

"Ayo dik Sri, kita pulang sudah sore! nanti takut dimarahi bapak" ucap Aryo yang kemudian bangkit dari duduknya dan dia melangkahkan kaki menuju ke pemilik warung untuk membayar makanan dan es kelapa mudanya.

Sri mengangguk dan kemudian bangkit dari duduknya lalu mengikuti Aryo.

Kemudian mereka berjalan menuju ke tempat parkir sepeda Aryo.

Dengan kecepatan sedang Aryo mengemudikan sepeda motornya menuju ke rumah keluarga Sri.

Sesampainya di rumah Sri, kedua orang tua Sri dan orang tua Aryo, mereka telah membuat kesepakatan.

"Assalamu'alaikum...!" ucap salam Sri saat masuk ke rumah dan mencium punggung tangan kedua orang tuanya dan dilanjut kedua orang tua Aryo.

"Wa'alaikumsalam..!' jawab kedua orang tua Sri dan Aryo bersamaan.

Aryo pun juga mencium punggung tangan Kedua orang tua Sri dan juga kedua orang tuanya.

"Sri dan Aryo, kami telah bersepakat kalau bulan depan kalian menikah!" ucap Bapaknya Sri.

Aryo mengulas senyumnya, sementara Sri tersentak kaget.

"Apa nggak bisa mundur pak? satu tahun lagi begitu?" Sri yang mencoba menawar.

"Ora iso, pokoke sasi ngarep awakmu nikah karo Aryo!" seru bapaknya Sri yang tidak mau di bantah.

(Tidak bisa, pokoknya bulan depan kamu menikah dengan Aryo)

Sri hanya bisa diam, tak berani membantah. Dia hanya menjadi pendengar setia mana kala kedua oang tuanya , kedua orang tua Aryo dan juga Aryo yang saling cerita dan bersendau gurau, hingga tak terasa sampai waktu menjelang maghrib.

"Wah sudah sore, kami pamit. Takut kelamaan di sini malah merepotkan keluarga calon besan. he..he..!" ucap Bapaknya Aryo.

"Ah, nggak apa-apa. Kan jarang-jarang kita bisa kumpul-kumpul begini!" ucap Bapaknya Sri.

"Wah sepertinya malah di suruh menginap! " kelakar Aryo dan semua tertawa karenanya.

"Ha..ha..! bisa saja kamu Yo..Aryo..!!" ucap Bapaknya Sri.

"Makanya cepat menikah!" ucap ibunya Sri yang juga ikut nimbrung.

Kemudian Arya dan kedua orang tuanya bangkit dari duduk mereka dan saling bersalaman dengan Sri dan kedua orang tua Sri.

"Assalamu'alaikum..!" salam pamit keluarga Aryo.

"Wa'alaikumsalam..!" balas keluarga Sri.

Bapak, ibu dan Sri mengantarkan para tamunya sampai ke depan pintu rumah.

Setelah itu, Sri membereskan semua gelas dan makanan yang berada di atas meja.

"Sri, kami sudah tidak boleh keluar rumah, kamu sudah dalam prosesi di pingit."kata Ibunya Sri.

"Umbah-umbah wonten kali nggih mboten angsal Bu?" tanya Sri.

(Nyuci baju di sungai juga nggak boleh Bu?)

"Yo ora oleh!" jawab ibunya Sri.

(Ya tidak boleh)

Sri kecewa sekali, walaupun begitu diavtak berani menentang keinginan kedua orang tuanya itu.

Gadis itu kemudian mencuci piring dan gelas.

Setelah selesai dengan pekerjaannya, Sri segera mandi dan berganti pakaian.

Kemudian di lanjut menunaikan sholat Ashar.

"Ya Allah, berikanlah petunjuk-Mu.Apa yang harus hamba lakukan?" salah satu doa Sri saat selesai sholat.

Sri terus mengurung diri hingga tiba waktu sholat Maghrib.

Gadis itu keluar dari kamarnya untuk mengambil wudhlu dan kemudian kembali lagi ke kamarnya untuk sholat Maghrib.

Dan tetap dia tidak keluar lagi dari kamarnya.

Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamarnya.

"Tokk...Tokk....tokkk...!"

"Sri ayo makan dulu, kamu jangan sampai telat makan nanti bisa sakit lho!" ucap suara di balik pintu.

"Iya Bu" sahut Sri yang kemudian dia keluar dari kamarnya.

Sri ikut dalam makan malam keluarganya yang hanya berjumlah empat orang.

Dirinya bapak ,ibunya dan adiknya Martani.

"Aku harus bagaimana ini?" tanya dalam hati Sri yang terus berkecamuk.

"Pokoknya aku harus segera pergi dari kampung ini secepat." ucap dalam Sri saat sudah berada kamarnya.

Setelah sholat Isya, Sri kembali termenung.

Gadis itu sudah membulatkan tekatnya untuk pergi dari rumahnya.

Sri mengemasi barang-barang yang sekiranya dibutuhkan saat dia meninggalkan rumah nantinya.

Setelah itu Sri membaringkan tubuhnya untuk mengistirahatkan tubuh dan pikirannya sejenak dari beban hidupnya

Dan kedua mata gadis itu lama-kelamaan menutup mata dan sudah berada di alam mimpinya.

...~¥~...

Terima kasih telah hadir di novel ke-8 saya ini.

...Mohon dukungan para Readers untuk memberi like/komentar/favorite/rate 5/gift maupun votenya untuk novel MBAK JAMU NAIK LEVEL ini....

...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....

...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....

...Terima kasih...

...BERSAMBUNG...

Terpopuler

Comments

‼️n

‼️n

Kayknya bagus ni....bhsnya enak, ceritanya ckp menarik, cma agk terganggu dgn translate nya....maklum aq org Jawa jd kayak pengulangan yg ga perlu🤭

2023-05-24

0

fifid dwi ariani

fifid dwi ariani

trus sukses

2023-03-03

0

auliasiamatir

auliasiamatir

semangat Sri

2022-09-12

1

lihat semua
Episodes
1 Perkenalan
2 Telah di Tetapkan
3 Sri Minggat
4 Bertemu dengan Sumilah
5 Sampai di Rumah Jamu Sumilah
6 Pengetahuan tentang Jamu Kunyit Asam
7 Jamu Sinom
8 Berangkat Mendaftar Sekolah
9 Tak mendapat kesempatan bersekolah
10 Manfaat Jamu Beras Kencur
11 Belajar berjualan Jamu
12 Di Tolong Pemuda Tampan
13 Mengantarkan Dompet
14 Minah Pulang Kampung dan Jamu Cabe Puyang
15 Si Pangeran Tampan
16 Bima yang mengantarkan Sri
17 Empet-empetan
18 Bertemu Sakti di Taman
19 Di panggil Mama
20 Menerima Tawaran Rafael
21 Meminta Ijin Pada Sumilah
22 Kedatangan Rafael
23 Di Studio RAFA
24 Sri Menjadi Cherry
25 Di Bully Empat Model
26 Perjalanan ke Restoran
27 Modus Rafa
28 Cerita Rafael
29 Meninggalkan Rumah Jamu Sumilah
30 Sri Menerima Rafa
31 Berada di Apartemen
32 First kiss yang Mendadak
33 Suasana malam di keluarga Rafa
34 Pesan Terakhir Papanya Rafa dan Bima
35 Rafa Salah Pergaulan
36 Petaka buat Sri
37 Petaka buat Sri ll
38 Belanja di Pasar Tadisional,
39 DiTinggalkan Rafa
40 Pernikahan Rafa dan Talina
41 Merasa Dihianati
42 Mengingat Awal Jumpa
43 Ungkapan Hati Bima
44 Sarapan Berdua Dengan Bima
45 Perjalanan Pulang Kampung
46 Kenangan Sri
47 Masih kenangan Sri
48 Mampir ke Angkringan
49 Manfaat Wedang Jahe Kencur
50 Sampai di Kampung Halaman
51 Akibat dari Sri yang Kabur dari Rumah
52 Sarapan Bersama di Kampung Halaman
53 Ke Rumah Sakit
54 Persiapan pernikahan
55 Sah!
56 Munculnya Kenangan Buruk
57 Malam pertama yang Gagal
58 Menerima Dengan Apa Adanya
59 Sarapan Nasi Goreng
60 Perencanaan Liburan Berdua
61 Persiapan meninggalkan kampung Halaman
62 Perjalanan Bertamasya Berdua
63 Akhirnya Terjadi Juga
64 Melanjutkan Perjalanan Wisata
65 Melanjutkan Perjalanan Wisata ll
66 Menuju ke Restoran Hotel
67 Sate Landak dan Sate Kelinci
68 Membeli Oleh - oleh
69 Perjalanan ke Jakarta
70 Sri Pingsan
71 Tiba di Rumah keluarga Bima
72 Pertama kalinya di rumah Mertua
73 Bertemu Sakti
74 Mengantar Sekolah
75 Bertemu Minah
76 Pulang Sekolah
77 Bermimpi Masa Lalu
78 Bima yang Pulang Kerja
79 Di Ruang Keluarga
80 Malam terakhir sebelum Pergi
81 Kepergian Bima
82 Curhat dengan Sahabat
83 Pulang Sekolah bersama Sakti
84 Kedatangan Rafa dan Talina
85 Pertemuan Sri dengan Rafa
86 Rafa Yang Mengharap Kembali
87 Kecemburuan Rafa
88 Kata bijak Naruto
89 Tingkah Sakti
90 Morning Sickness
91 Dini hari di dapur
92 Saran dari Mbok Ni dan Minah
93 Menumpahkan perasaan
94 Berpamitan
95 Tiba-Tiba Menabrak Ibu-ibu
96 Membuat Jamu Kunci Suruh
97 Mulai Berjualan
98 Perjalanan ke Pasar
99 Menetap di kontrakan Bu Karti
100 Enam Bulan Berlalu
101 Mendapat kabar Sakti Sakit
102 Menemui Sakti
103 Menemui Suami dan Mertua
104 Talina yang Mengancam
105 Bertemu di Rumah sakit
106 Dua kali air mata Jatuh di pipi
107 Talina Membuat Bangkrut Bima
108 Jalan Keluar dari kebangkrutan
109 Rima Putri Hadiah dari Surga
110 Mbak Jamu Naik Level
Episodes

Updated 110 Episodes

1
Perkenalan
2
Telah di Tetapkan
3
Sri Minggat
4
Bertemu dengan Sumilah
5
Sampai di Rumah Jamu Sumilah
6
Pengetahuan tentang Jamu Kunyit Asam
7
Jamu Sinom
8
Berangkat Mendaftar Sekolah
9
Tak mendapat kesempatan bersekolah
10
Manfaat Jamu Beras Kencur
11
Belajar berjualan Jamu
12
Di Tolong Pemuda Tampan
13
Mengantarkan Dompet
14
Minah Pulang Kampung dan Jamu Cabe Puyang
15
Si Pangeran Tampan
16
Bima yang mengantarkan Sri
17
Empet-empetan
18
Bertemu Sakti di Taman
19
Di panggil Mama
20
Menerima Tawaran Rafael
21
Meminta Ijin Pada Sumilah
22
Kedatangan Rafael
23
Di Studio RAFA
24
Sri Menjadi Cherry
25
Di Bully Empat Model
26
Perjalanan ke Restoran
27
Modus Rafa
28
Cerita Rafael
29
Meninggalkan Rumah Jamu Sumilah
30
Sri Menerima Rafa
31
Berada di Apartemen
32
First kiss yang Mendadak
33
Suasana malam di keluarga Rafa
34
Pesan Terakhir Papanya Rafa dan Bima
35
Rafa Salah Pergaulan
36
Petaka buat Sri
37
Petaka buat Sri ll
38
Belanja di Pasar Tadisional,
39
DiTinggalkan Rafa
40
Pernikahan Rafa dan Talina
41
Merasa Dihianati
42
Mengingat Awal Jumpa
43
Ungkapan Hati Bima
44
Sarapan Berdua Dengan Bima
45
Perjalanan Pulang Kampung
46
Kenangan Sri
47
Masih kenangan Sri
48
Mampir ke Angkringan
49
Manfaat Wedang Jahe Kencur
50
Sampai di Kampung Halaman
51
Akibat dari Sri yang Kabur dari Rumah
52
Sarapan Bersama di Kampung Halaman
53
Ke Rumah Sakit
54
Persiapan pernikahan
55
Sah!
56
Munculnya Kenangan Buruk
57
Malam pertama yang Gagal
58
Menerima Dengan Apa Adanya
59
Sarapan Nasi Goreng
60
Perencanaan Liburan Berdua
61
Persiapan meninggalkan kampung Halaman
62
Perjalanan Bertamasya Berdua
63
Akhirnya Terjadi Juga
64
Melanjutkan Perjalanan Wisata
65
Melanjutkan Perjalanan Wisata ll
66
Menuju ke Restoran Hotel
67
Sate Landak dan Sate Kelinci
68
Membeli Oleh - oleh
69
Perjalanan ke Jakarta
70
Sri Pingsan
71
Tiba di Rumah keluarga Bima
72
Pertama kalinya di rumah Mertua
73
Bertemu Sakti
74
Mengantar Sekolah
75
Bertemu Minah
76
Pulang Sekolah
77
Bermimpi Masa Lalu
78
Bima yang Pulang Kerja
79
Di Ruang Keluarga
80
Malam terakhir sebelum Pergi
81
Kepergian Bima
82
Curhat dengan Sahabat
83
Pulang Sekolah bersama Sakti
84
Kedatangan Rafa dan Talina
85
Pertemuan Sri dengan Rafa
86
Rafa Yang Mengharap Kembali
87
Kecemburuan Rafa
88
Kata bijak Naruto
89
Tingkah Sakti
90
Morning Sickness
91
Dini hari di dapur
92
Saran dari Mbok Ni dan Minah
93
Menumpahkan perasaan
94
Berpamitan
95
Tiba-Tiba Menabrak Ibu-ibu
96
Membuat Jamu Kunci Suruh
97
Mulai Berjualan
98
Perjalanan ke Pasar
99
Menetap di kontrakan Bu Karti
100
Enam Bulan Berlalu
101
Mendapat kabar Sakti Sakit
102
Menemui Sakti
103
Menemui Suami dan Mertua
104
Talina yang Mengancam
105
Bertemu di Rumah sakit
106
Dua kali air mata Jatuh di pipi
107
Talina Membuat Bangkrut Bima
108
Jalan Keluar dari kebangkrutan
109
Rima Putri Hadiah dari Surga
110
Mbak Jamu Naik Level

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!