"Sayang,nenek boleh masuk gak?"tanya neneknya yang dari tadi mengetuk-ngetuk pintu kamar Adel,tapi tak ada jawaban terdengar.
"Del,tolong buka pintunya! jangan bikin nenek mu khawatir kayak gini dong.Kalau kamu gak mau keluar juga dari kamar,bibi akan panggil orang untuk dobrak pintu ini." Ucap bi Yati tetangga depan rumah yang datang karena mendengar tangisan nenek.
Entah apa yang membuat Adel tak mau membukakan pintu untuk neneknya.Tak seperti biasanya dia seperti itu.Semenjak kedatangan ibunya kemarin,dia enggan berbicara.Yang saat ini membuat neneknya khawatir akan hal itu.Karena tak ada juga jawaban dari Adel, bi Yati keluar memanggil suaminya untuk mendobrak pintu kamar Adel.Tak lama bi yati datang bersama suami dan dua orang lainnya.
"Gak apa-apa nih pintunya didobrak,bu?"tanya suami bi Yati.
"Iya gak apa-apa.Mending pintu yang rusak daripada cucuku yang kenapa-napa didalam."Jawab nenek yang sedari tadi tak henti-hentinya menangis.
"Langsung aja didobrak pak! takut neng Adel kenapa-napa didalem."Ucap bi Yati sambil menenangkan nenek yang banjir airmata.
dalam hitungan ketiga,pintu itupun didobrak.Alangkah terkejutnya mereka saat melihat penampakan didalam kamar Adel.Begitupun Adel yang terlonjak kaget melihat pintu kamarnya yang hampir mengenai dirinya.
"Oalaaah Adeeeel.Kamu ini bikin nenek khawatir aja."Ucap bi Yati menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Rupanya dengerin musik pake headset to.Makanya gak denger pas nenek manggilin kamu terus dari tadi. " Sambungnya lagi.
"Auuu..sakit nek."Ringis Adel karena telinganya dijewer oleh nenek.
"Ini ada apa sih?kok pada rame sampai bawa pasukan buat ngedobrak pintu segala?"tanya Adel bingung.
"Sadar gak sih,gara-gara kamu gak mau membukakan pintu buat nenek,sampai habis suara teriak-teriak manggil kamu,gak ada jawaban,membuat nenek khawatir tau gak?padahal taunya dengerin musik pake encet."
"Headset nek bukan encet."kata Adel membenarkan ucapan neneknya.
"Terserahlah apa namanya.Tapi jangan ulangi lagi yah membuat nenek khawatir seperti ini."Ucap neneknya lalu menjewer kuping cucunya itu lagi.
"Gara-gara denger musik pake headset,pintu pun jadi rusak.Ujung-ujungnya aku pula yang diminta untuk memperbaikinya."Ucap suami bi Yati menggaruk kepala yang tak gatal.
"Ya harus dong.Kan yang ngerusak pintu kamar Adel,Om dan kawan-kawan.Jadi yah,harus diperbaiki seperti semula." Ucap Adel sambil menaik turunkan alisnya.
"Bisa aja kamu tu yah. Tapi, besok yah baru diperbaikinya? dikarenakan saat ini om masih ada kepentingan mendadak. " Ucap suami bi Yati yang kemudian dianggukin oleh Adel.
Setelah semuanya kembali ke rumahnya masing-masing, Adel memeluk tubuh neneknya dan meminta maaf karena sudah membuat hati neneknya tersebut khawatir.
"Maafin Adel yah,kalo udah bikin nenek khawatir,sampai harus memanggil pasukan dan membuat semuanya ikutan panik seperti tadi..Sungguh bukan maksud Adel seperti itu.Harusnya tadi pintunya gak kukunci,biar nenek bisa masuk." Ucap Adel menyesal.
"Tapi,jangan ulangi lagi yah?kasian nenek kamu.Oya,mau nanya tentang pernikahan kamu,bukannya bulan depan yah?kok diundangan yang tersebar seminggu lagi?"tanya bi Yati yang mendadak muncul mengagetkan keduanya.
"Bibi ngagetin aja deh..hehe..maafin Adel sudah merepotkan bibi dan om yah! dan soal pernikahan, Iya awalnya memang bulan depan acara pernikahannya,tapi keluarga pak Hadi meminta dipercepat."Jawab Adel cengengesan.
"oooo gitu.Ya udah,nanti aku jelaskan pada yang lain.Soalnya mereka masih bingung."Ucap bi Yati mengangguk-angguk lalu pamit kembali untuk pulang.
Malam harinya,
"Nak,seminggu lagi kamu akan menikah.Kamu senang gak?nenek ingin pernikahan kalian didasari oleh cinta.Walaupun nenek tau,kamu belum mengenal Bryan sepenuhnya."Ucap nenek sambil menangis.
"Tuh kan,nangis lagi.Adel bahagia kok dipertemukan dengan mas Bryan.Walaupun belum mengenalnya dengan dekat.Mungkin setelah kami menikah nanti,Kami bisa mengenal karakter satu sama lain,dan mungkin juga rasa cinta tumbuh lebih dalam dihati kami sehingga tercipta keluarga yang bahagia."Ungkap Adel sambil melap airmata neneknya dengan tangannya.
"Dan nenek harap, kamu tidak keberatan kalau kedua orangtuamu yang akan mendampingimu saat pernikahan nanti. Tolong, maafkan kedua orangtuamu demi nenek dan demi lancarnya acara pernikahan mu nanti. Karena yang harus jadi wali nanti adalah bapak kandung mu nak. " Ucap bu Ida menasehati cucunya agar hatinya luluh.
"Tapi nek, Adel masih berat menerima mereka kembali. Apalagi selama ini, mereka tak pernah menjenguk ku. Itu sebagai bukti kalau mereka tak pernah menganggap aku ada. " Ucap Adel mulai terisak.
"Nenek tau, tapi sebagai anak kamu harus menghormati kedua orangtuamu. Nenek yakin ibu dan bapakmu sangat menyayangimu. Nenek mohon, biarkan keduanya yang mendampingimu dihari bahagiamu. " Ucap bu Ida yang kemudian dianggukin oleh cucunya.
Keduanya pun terus menangis sampai lupa untuk menyiapkan makan malam.Lalu,buru-buru mereka kearah dapur memasak mie instan dan telor dadar karena perut sudah keroncongan.Setelah makan, keduanya memutuskan untuk menonton tv.
"Nek,tidur yuk!udah ngantuk nih."Ucap Adel mengajak bu Ida untuk tidur.
"Kalau udah ngantuk,sana tidur duluan! nenek masih nunggu sinetronnya habis dulu."Ucap bu Ida yang matanya masih melototi layar tv.
"Kalau gitu, Adel duluan nek. Nanti kalau udah ngantuk langsung masuk tidur yah nek! jangan kayak kemarin lagi,malah Tv yang nonton nenek."Ucap Adel terkekeh lalu masuk kedalam kamar.
"Kamu juga jangan pake encet,biar kalau nenek manggil,kedengaran."Ucap nenek sambil tertawa kecil.
"Hmmmm....Headset nek, bukan encet. "Ucap Adel dibalik tirai pintu kamarnya.
__________
" Baguslah, lebih cepat lebih baik. "Ucap Shinta saat Bryan menceritakan pernikahannya yang akan dipercepat.
" Kok kamu gak cemburu sih sayang? apa kamu gak mencintaiku sampai berkata seperti itu? "tanya Bryan penuh selidik.
" Lah, kan kalau cepat bisa langsung membuatnya menderita seperti keinginanmu. Aku turut mendukung karena dia telah membunuh adik iparku yaitu Bimo. Yah walaupun kita belum menikah, tapi aku udah nganggap Bimo sebagai adik iparku."Ucap Shinta menghampiri dan memeluk Bryan dari belakang.
"Makasih yah sayang, tapi darimana kamu tau kalau dia yang menyebabkan kematian Bimo? " tanya Bryan menatap wajah kekasihnya itu.
"Aku memang tidak mengenal Bimo dan hanya melihat fotonya dirumah kamu waktu itu. Sebelumnya aku pernah melihat foto Bimo diponsel temanku. Dan ternyata foto yang ada diponsel temanku itu adalah adikmu, karena sama wajahnya dengan foto yang ada dirumahmu dan yang ada diponsel temanku tersebut. Kata temanku juga, Bimo satu kost an dengannya saat magang dikampungya Adel. Dari temanku inilah, aku mengetahui tentang hubungan Bimo dan Adel. "Jawab Shinta panjang lebar.
" Lalu kemana temanmu itu saat ini? bolehkah aku bertemu dengannya? mungkin dia bisa menjelaskan kepadaku semua tentang Bimo sebelum dia meninggal. Kan sebelum kecelakaan itu, dia masih magang dikampungnya Adel. "
"Dia ada diluar kota dan nomornya sudah tak aktif lagi. Jadi lebih baik kamu fokus saja untuk membuat wanita kampung itu menderita. Karena wanita itu, adik kamu satu-satunya meregang nyawa. " Ucap Shinta terus menghasut lelaki itu.
" Yah, aku sudah tak sabar menunggu hari itu tiba. "Ucap Bryan mengepalkan tangannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 96 Episodes
Comments
Naufidax Mama - Abah
haha,orang tua kadang suka keseleo bilang sesuatu yg sulit bagi mereka😌😂,mama ku aja kadang bilang keimas(puskesmas)
2022-02-11
1