"Heera bisakah kamu mendongakkan kepalamu nak" kata Nyonya Anggara dengan lembut, perlahan Heera pun mendongakkan kepalanya dan melihat pada sepasang suami istri itu,
" Kau cantik, baik, pekerja keras dan sopan, kami menyukaimu, maka dari itu dengarkan baik baik apa yang akan kami katakan padamu" lanjut nyonya anggita mulai serius, Heera pun sama, di mulai serius sangat terlihat dari air mukanya,
" Kamu sedang butuh uang dalam jumlah yang tidak sedikit bukan? untuk pengobatan ibumu yang sedang sakit kangker dan ingin membebaskan ayahmu dari penjara, benar begitu Heera? " mendengar apa yang tuan anggara ucapkan itu memang benar adanya,dia sedang membutuhkan uang sekitar 1,5M untuk pengobatan ibunya dan sebagai uang jaminan untuk membebaskan ayahnya, Heera sangat terkejut, dari mana tuan anggara mengetahuinya? beribu ribu pertanyaan muncul di kepala Heera,
" Kamu tidak perlu berpikir keras sayang, darimana kami tahu masalah pribadi mu, maaf sebelumnya kami lancang telah menyelidiki latar belakang kamu dan keluarga mu, tapi sebenarnya dari awal kami berniat baik, dan tidak bisa dipungkiri saya juga butuh bantuan kamu " jelas Tuan Anggara panjang lebar
"Maksud tuan? " Heera yang mulai berani bertanya
" Begini kami akan memberikan kamu uang sesuai dengan jumlah yang kamu butuhkan, kami juga bisa mengirim ibu kamu keluar negri untuk berobat dan membebaskan ayah kamu sekarang juga" mendengar penuturan dari tuan Anggara seketika itu juga mata Heera langsung berbinar
" Tapi dengan 1 syarat " lanjut tuan anggara
" Syarat apa tuan? " tanya Heera bingung
" Kamu Harus menjadi menantuku " mata Heera membulat sempurna, syarat macam apa ini, kenapa menjadi menantu? aku kira akan menjadi chef pribadi mension Anggara, tapi nyatanya lebih dari itu, Apakah akun harus menerima nya? kalau aku menolak aku bingung harus mendapatkan uang dari mana untuk pengobatan ibu dan jaminan ayah!
Heera yang bergulat dengan pikiran nya, di sisi lain dia juga belum siap untuk menikah, disisi lainnya dia sangat membutuhkan uang itu.
" Kamu masih bisa memikirkan nya, tapi kami harap jawaban yang akan kamu berikan pada kami tidak akan mengecewakan, ini kartu nama keluarga Anggara, kalau kamu sudah mempunyai jawabannya segera hubungi kami, kalau begitu kami permisi dulu" mendengar bahwa atasannya akan pulang sontak Heera langsung berdiri dan menundukkan badan nya, tapi siapa sangka Nyonya Anggita langsung memegang bahu Heera dan mencium kening nya lembut, Heera terkejut atas apa yang dilakukan Nyonya besar keluarga Anggara, mencium kening seorang pelayan rendahan yang bekerja disalah satu bisnisnya, itu adalah hal yang sangat langka!
" Jaga dirimu baik baik nak, kami menunggu kabar baik darimu " kata terakhir dari nyonya Anggita berlalu meninggalkan ruangan VIP itu, stelah kepergian atasannya Heera" ikut keluar juga dari ruangan itu dengan membawa kartu nama yang telah Nyonya Anggita berikan, dengan langkah lunglai Heera kembali ke dapur untuk melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda tadi, sesampainya Heera di dapur dia langsung di brondong Dengan pertanyaan yang membuat dia pusing dari beberapa teman kerjanya, pasti mereka tahu kalau yang mengajak ia bertemu tadi itu adalah Tuan besar dan Nyonya besar Anggara, pemilik restoran ini, tapi Heera mengelak dan lebih memilih menghindar dari mereka semua, karena diapun masih butuh menjernihkan pikiran nya, karena dari tadi yang melayang dipikirkan nya itu adalah kata " Kau harus menjadi menantuku " kata itu yang membuat Heera frustasi dan memilih izin pulang, untung saja sang manager langsung paham akan keadaan Heera dan mengizinkannya untuk pulang, seperti biasa Heera pulang dengan menggunakan sepeda maticnya sampai di pertengahan jalan ia mampir ke warung bubur kacang hijau kesukaan ibunya membeli seporsi untuk dibawa pulang, sesampainya di rumah Heera mengucapkan salam dan memanggil nama ibunya, namun yang dipanggil tidak kunjung menjawab,
"ibu kemana ya? kok tumben gak jawab salam ku, Bu.... ibuu... " panggil Heera sembari mencari ke segala arah, berharap ibunya ada di suatu tempat namun disaat ia membuka tirai dapur dia sangat terkejut mendapati ibunya tergeletak tak berdaya sudah bersimbah darah yang keluar dari mulut dan hidungnya.
" Astaga ibu.... " teriak Heera histeris langsung memangku ibunya
" Ibu bangun bukk..., ibu bangun, ini Heera" buk, ibuk...., tolong..., tolong... " teriak Heera kehilangan arah mencari bantuan warga..
" Neng Heera ada apa? kenapa neng Heera teriak teriak" kata warga mendatangi Heera
" Tolong ibu saya, ibu saya pingsan dan banyak darah keluar dari mulut dan hidungnya, saya harus segera membawa ibu ke rumah sakit" jelas Heera sambil menangis
" Ayo bapak bapak cepat bantu ibu Anjani, kata warga yang lain dan ada yang mencari mobil untuk mengantar mereka ke rumah sakit, akhirnya setelah warga menolong ibu anjani sekarang dia sudah bisa ditangani. oleh dokter yang sudah biasa menangani penyakit ibu Heera tersebut,
30 menit kemudian dokter keluar dari ruang rawat ibu anjani,
"Bagaimana keadaan Ibu saya dok? apakah ibu saya baik baik saja? " tanya Heera tetap dengan tangisnya
" Tenanglah dulu Heera, kamu harus tenang baru saya akan menjelaskan keadaan ibu kamu" kata dokter itu berusaha menenangkan Heera yang kelihatan nya sudah sangat kalut, mendengar ucapan dokter itu Heera berusaha tenang dan mengatur nafasnya
" Ok kamu sudah tenang? "
" Sudah lumayan dokter?"
" Baiklah saya akan menjelaskan secara detail bagaimana keadaan ibu kamu saat ini, seperti sebelum-sebelumnya yang sudah saya katakan bahwa ibu kamu harus segera di operasi Heera, waktu itu saya mengatakannya disaat kanker ibu kamu masih stadium 2, tapi siapa sangka kanker itu menyebar dengan sangat cepat dan langsung menggerogoti paru-paru ibu kamu, kalau dalam dunia medis ibu kamu akan sulit untuk bertahan bila kanker itu tidak segera diangkat" mendengar penjelasan dokter Sony, dunia Heera seakan. runtuh serasa ia sudah tidak menemukan tempat berpijak lagi, karena dunianya adalah sang ibu, bila sang ibu tiada ia akan pulang kemana?
" Biarkan saya berpikir sebentar dokter" Heera yang mencoba kembali tenang, disaat pikiran nya sudah benar-benar buntu ia kembali teringat dengan kartu nama yang diberikan oleh nyonya anggita tadi siang, tanpa berpikir lagi Heera langsung mengambil kartu nama itu dan menghubunginya.
tuuuut.... tuuut....
panggilan tersambung dan klek...
"Halo selamat malam, dengan Anggita disini" suara penuh wibawa itu langsung terdengar jelas ditelinga Heera, setelah menghubungi nomer ini sama saja Heera menjual dirinya pada keluarga Anggara, namun dia sudah tidak perduli lagi, yang terpenting saat ini adalah keselamatan ibunya, harga dirinya sudah tidak berarti lagi kalau menyangkut keselamatan ibunya.
" Nyonya ini aku, Zaheera"! " mendengar suara Zaheera nyonya Anggita langsung tersenyum penuh arti, dia bahagia tapi sayang dia tidak bisa berbagi kebahagiaan nya dengan Tuan Anggara karena tadi sore Tuan Anggara pergi ke kota A untuk mengurus proyek barunya.
" Ini sungguh kamu nak? "
" Iya Nyonya ini aku, aku menerima tawaran Nyonya yang tadi siang" kata Heera penuh keyakinan
" Secepat inikah Kim Heera? "
" Ini semua aku lakukan demi ibuku nyonya, ibuku harus segera di operasi, dan biaya nya sangat besar, aku tidak memiliki uang sebanyak itu, tabungan ku tidak cukup" Kim Heera" yang mulai tak kuasa menahan tangisnya dan hal itu sontak membuat nyonya anggita ikut sedih.
"Dimana sekarang ibumu dirawat? "
" Di Anggara hospital, nyonya"
" Baiklah aku akan segera kesana nak, kau tenanglah, ibumu pasti selamat" kata terakhir dari nyonya anggita mematikan ponsel nya.
lanjut pada bab lainnya ya guys, kisah yang ini cukup sampai disini dulu, lanjut di partai 4 ya 👌oke!
salam cinta ❤dari aqoh...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 104 Episodes
Comments