"Masuklah!" perintah Dimas kepada Salsa.
Dimas membuka pintu mobil, setelah Salsa masuk ke dalam, Dimas menutup pintu mobilnya kembali.
Mobil Dimas kini telah pergi melaju melintasi jalan raya.
Keduanya sama-sama terdiam, dan tidak ada yang berniat untuk memulai pembicaraan.
Salsa menatap kosong pandangan dari luar kaca mobil, Ia seakan-akan seperti mayat hidup. Wajah yang pucat pasi, serta wajah yang tidak bersemangat.
Ingin rasanya Dimas mengajak Salsa berbicara, namun rasanya ia sangat takut untuk memulainya.
Sayang!" panggil Dimas, namun Salsa tidak merespon. Ia seakan-akan tenggelam di dalam kesedihan, dan sangat susah untuk bangkit lagi.
Dimas mengusap lembut pipi Salsa, Salsa menoleh ke arah Dimas saat merasakan pipinya di sentuh. Dimas tersenyum kearah Salsa, namun Salsa hanya membalas dengan wajah datarnya.
Salsa hanya membiarkan tangan suaminya itu terus mengelus pipi lembutnya.
Hingga akhirnya Salsa tersadar dari lamunanya saat Dimas menggenggam kedua tangan nya, dan berkata:
"Sayang, kita sudah sampai. Apa mungkin kita pulang lagi ke Mansion"
"Tidak." jawab Salsa spontan, dan langsung mengurai genggaman tangan keduanya, dan keluar dari mobil.
Dimas hanya bisa menghela nafas kala melihat, perubahan drastis sikap Istrinya itu.
"Biarkan aku saja!" ucap Dimas langsung mengambil alih barang-barang yang dipegang oleh Salsa.
"Tidak." ketus Salsa.
Dimas tidak menghiraukan penolakan dari Istrinya itu, dan langsung membawa semua barang-barang nya menuju kedalam Apartemen.
CEKELEK. 'suara pintu terbuka'
keduanya langsung masuk kedalam Apartemen Minimalis yang sederhana itu.
Apartemen itu dulunya merupakan tempat tinggal Salsa semasa remaja, sebelum Salsa menikah dengan Dimas.
Dimas meletakan barang-barang Salsa dan menyusunnya.
"Tidak usah kau susun, karena aku masih punya tangan yang masih elok untuk di gunakan." ketus Salsa,
Dimas langsung memeluk tubuh Salsa dari arah belakang. "Dimas, lepas!" pekik Salsa.
"Tidak akan."
"Apa mau mu?"
"Kenapa kau lebih memilih untuk tinggal ditempat kumuh ini, dibanding di Mansion ku. Hem!"
Salsa melepaskan pelukan dari Dimas. Keduanya kini tengah berhadap-hadapan, dan saling bersitatap.
Salsa mencoba untuk memalingkan wajah nya, karena tidak sanggup jika harus di tatap oleh suaminya itu.
"A, aku... Aku hanya, hanya tidak ingin mengganggu malam pengantin kalian."
'Salsa mencoba untuk tegar'
"Bersenang-senanglah malam ini dengan istrimu," ucap nya lagi, namun kali ini Salsa tidak kuat untuk membendung air matanya, tangisnya pun akhirnya pecah.
"Berhentilah, untuk seolah-olah bahwa dirimu baik-baik saja. Percayalah padaku bahwa semuanya ini adalah kesalah pahaman." ucap Dimas, memegang kedua bahu Salsa.
"Lalu aku harus bagaimana?" tanya Salsa lirih.
"Kumohon percayalah padaku. Bahwa sedikitpun aku tidak pernah berniat untuk menduakan mu, semuanya hanyalah kesalah pahaman. Aku akan menjelaskan kronologinya di saat kau sudah pulih nanti. Maka dari itu segera lah untuk kembali, aku sangat mengharapkan akan hal itu." ujar Dimas.
CUP. 'Dimas mengecup kening istrinya'
"Pergilah!" seru Salsa dengan nada lemah.
Dimas menggeleng.
"Pergiiiii aaaaaaa" teriak Salsa histeris,
Dimas terkejut, dan langsung memeluk Salsa kedalam bekapan nya, bertujuan agar Salsa bisa tenang.
"Kumohon, pergilah! Jangan membuat ku semangkin gila Dimas" lirih Salsa.
Dimas tidak punya pilihan lain, dan akhirnya menuruti semua perkataan Salsa untuk menyuruhnya pergi.
Sesungguh nya Dimas tidak tega untuk meninggal kan istrinya, dengan keadaan yang sangat memperihatinkan seperti ini.
Namun dia juga tidak ingin membuat istrinya, semangkin stres akibat dirinya.
"Baiklah, aku pergi. Besok aku akan kembali untuk menjenguk mu." ucap Dimas dan langsung pergi berlalu.
Salsa tidak membalas ucapan Dimas. Ia sangat lelah, lelah hati dan juga pikiran, serta batin.
Kini Dimas telah sampai di parkiran mobil.
Dimas mengambil kacamata hitam, dan memakainya. Dimas membuka pintu mobil dan hendak masuk, namun sebelum itu ia menoleh kembali ke arah gedung Apartemen istrinya. Dimas seperti merasa bahwa ada yang sedang memperhatikan nya dari atas, tapi saat ia melihat tidak ada siapa-siapa disana.
Dimas pun akhirnya memutuskan untuk masuk kembali kedalam mobil, dan pergi meninggalkan Apartemen Sang Istri.
Sementara kini, seorang gadis sedang menangis terisak di balik tirai putih.
Dan orang itu adalah Salsa. Ya Salsa tadi memang sempat memandang Suaminya dari balik tirai putih, dikamar Apartemen nya.
Saat melihat Dimas pergi, Salsa langsung menuju ke kamarnya yang kebetulan jendela nya itu mengarah ke arah parkiran.
Salsa terus saja memandangi Dimas hingga Dimas hendak masuk kedalam mobil. Tapi Dimas malah membalikan badan nya, hingga membuat Salsa menjadi kebelabakan dan langsung menutup jendela nya dengan tirai putih yang tadi ia geserkan. Salsa mencoba untuk melihat keluar melalui celah-celah tirai, dan ia dapat melihat jelas bahwa Dimas tengah memandang ke arah Gedung Apartemen nya.
Salsa terduduk lemas. Ia tidak sanggup, untuk menahan semuanya. Ia ingin hidup bahagia, tanpa harus ada sebuah permasalahan yang menimpa kehidupan nya.
"Ya Tuhan! Kesalahan apa yang telah ku perbuat dimasa lalu, hingga kau harus menghukum ku seperti ini." jerit Salsa sekeras kerasnya.
JEDER. 'suara petir menggema dengan sangat kuat' kilat terlihat jelas di balik tirai putih itu. Dan secara bersamaan seluruh listrik di Gedung itu padam.
Angin kencang, dan juga hujan turun sangat deras mengguyur Kota itu saat ini juga.
Salsa tidak tau harus berbuat apa, dia sangat takut dengan kegelapan, apalagi ditambah dengan hujan deras, serta suara petir yang menggelegar.
Dimas menjadi kalang kabut, saat listrik di Mansion padam. Ia yakin di seluruh daerah Kota Jakarta semua listrik pasti mati, akibat hujan deras. Tapi bukan itu yang dia cemaskan, tapi melainkan keadaan istrinya Salsa, apa yang harus Ia lakukan. Sangat tidak memungkinkan untuk berkendara di saat hujan deras, dan juga petir seperti saat ini.
Dimas sangat yakin Salsa pasti sedang ketakutan, karena lampu sedang mati. Karena sangat mustahil jika Gedung sebesar itu tidak mematikan aliran listrik. mereka pastinya tidak akan mau mengambil resiko jika harus menyalakan listrik tegangan tinggi, di saat petir menyambar dimana mana saat ini.
Dengan penuh keberanian dan tekad, akhirnya Dimas memutuskan untuk kembali ke Apartemen Salsa. Persetan dengan semuanya, yang terpenting saat ini adalah istrinya.
"Dimas, Dimas. Kamu mau kemana Dimas? Ini bahaya kalok kamu harus pergi di saat hujan dan petir kayak gini." cegah Bella, mencoba untuk menyeimbangi langkah kaki Dimas yang sedang menuju ke luar Mansion.
Dimas tidak menghiraukan Bella, dan malah masuk kedalam mobil. "Dimas!" teriak Bella menggedor-gedor kaca mobil.
Dimas sudah sangat pusing mendengar ocehan Bella, Ia membuka kaca jendela mobilnya, dan memandang nyalang ke arah Bella.
"Diam!" bentak Dimas.
"jangan pernah ikut campur dengan urusan ku, urus saja urusan mu sana. Aku tidak membutukan ocehan mu itu." ucap nya lagi, dan langsung menutup kembali kaca jendela mobilnya, dan pergi meninggalkan Bella yang kini tengah menangis, dibawah guyuran hujan yang deras, serta petir yang mengkilat menghiasi langit yang sangat kelam.
Bella basah kuyup, akibat payung yang Ia gunakan tadi telah terbang, secara bersamaan disaat Dimas membentak nya tadi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 77 Episodes
Comments
Riska Wulandari
udah beberapa bab malah bikin puyeng...
ngejrlasin ke istri aja knp susah amat padahal dari kmren udah nyosor mulu udah d tidurin malah
2022-05-24
0
Sukliang
lum jelas
2022-04-18
0