Episode 03

Mata Al mengikuti wanita bertubuh semampai yang berjalan mendekat dan duduk di sebelahnya. Jari-jari lentik membalik piring yang tertelungkup di meja, tenang sekali, seakan tidak terpengaruh dengan muka masam ibunya.

Wanita itu menoleh ke arahnya dan tersenyum manis, kemudian bertanya, "Kamu yang bernama Al Farisi Haikal Najid?"

"Cukup Al," jawabnya. "Kamu bukan petugas KTP, kan?"

Al tak lepas memperhatikan, bukan terpesona oleh kecantikan yang menghanyutkan, rasa penasarannya belum terjawab. Siapa perempuan ini? Dia hadir dalam acara makan malam dan kelihatan sudah biasa menghadapi sikap Ibu yang tidak bersahabat.

Al tahu adiknya menyukai wanita lebih tua. Pacar yang terakhir seorang mahasiswi semester enam. Perempuan ini sangat matang. Usianya barangkali selisih beberapa tahun saja dengan ibunya. Jadi tidak mungkin pacar Arya.

Lebih tidak mungkin lagi, jodoh yang disiapkan untuknya. Perempuan lebih tua bukan tipenya. Dia kuatir dalam rumah tangga banyak digurui karena kalah pengalaman, meski belum tentu demikian.

Wanita itu memperkenalkan diri, "Jennifer Nirvana. Cukup Jen."

Dia pasti bukan warga kampung. Namanya ala metropolis. Penampilannya juga. Jennifer sepertinya anggota baru di keluarga ini. Al hapal semua kerabat yang tinggal di kota.

"Atau terserah panggil apa," kata Jennifer dengan senyum tak lepas dari bibirnya.

"Panggil pelakor," bisik Arya di telinganya. "Cocok jadi barbeque buat hidangan utama."

Al melirik sekilas ke ayahnya yang mulai siap-siap makan malam. Ibu patuh melayani, padahal mungkin hatinya berombak.

Ayah memilih wanita tidak berhijab adalah menakjubkan, karena setiap kali berkunjung ke Yogya selalu memberi ceramah tentang pentingnya bergaul dengan gadis berhijab, untuk menjaga mata bermaksiat.

Ada kesan menyalahkan lingkungan, seolah maksiat terjadi karena apa yang tersedia, padahal semua kembali pada diri sendiri. Al tidak perlu menyeleksi lingkungan untuk jadi orang baik, tapi bagaimana jadi orang baik di lingkungan yang ada.

Pelaku maksiat sulit untuk hijrah kalau tak ada lentera yang menuntun langkah mereka untuk keluar dari kegelapan. Orang di dalam kegelapan mustahil mendapatkan cahaya tanpa ada bantuan dari luar.

Maka itu Al tidak membatasi pergaulan. Teman gadisnya banyak yang berpenampilan berani. Yang penting selalu ingat untuk menjaga mata. Dia kehilangan banyak teman kalau menuruti kemauan ayahnya.

Al lebih melihat nasehat itu adalah bentuk kekhawatiran seorang ayah terhadap anaknya, takut terjerumus ke dalam pergaulan bebas.

"Namamu tidak tercatat di surat yang dikirim ke Yogya," kata Al dengan maksud menyindir ayahnya. "Jadi aku tidak tahu harus panggil apa."

Pak Haikal ternyata cukup peka. Dia memandang anaknya dengan selidik, dan bertanya, "Maksudnya apa ya? Apa hal ini perlu disampaikan dalam surat?"

Pantas saja Ayah tidak mau tahu keluh kesahnya hidup di rantau, rupanya dia menghendakinya untuk tidak mau tahu masalah yang terjadi di rumah. Apalah artinya keluarga kalau mereka harus menyelesaikan masalah sendiri-sendiri?

"Uang sudah membuat seorang petani pandai bersandiwara," sindir Al. "Sehingga bisa menciptakan suasana seolah tidak ada masalah."

Pak Haikal menatap tak mengerti. "Bersandiwara apa? Masalah apa?"

Al merasa muak. Tapi ada rasa santun yang membuatnya menahan diri. Dia angkat bahu sedikit. "Sudahlah. Kita makan sebelum hilang selera."

"Sebentar." Pak Haikal mulai membaca kesalahpahaman yang terjadi. "Kayaknya ada yang salah sambung."

Al memandang tanpa gairah. "Ada yang mau Ayah jelaskan? Terlalu banyak yang disembunyikan dariku."

"Begini." Pak Haikal merubah posisi duduknya. "Ayah tahu ke mana arah ucapanmu. Jennifer bukan seperti apa yang ada di pikiranmu. Dia istri muda Opa."

Al terpana, dan segera beristighfar karena sudah menuduh ayahnya macam-macam. Diinjaknya kaki Arya yang memberi informasi menjebak. Anak itu terpekik kesakitan.

"Ada apa?" tatap Bu Haikal kaget. "Kamu makan batu teriak kesakitan?"

Arya tersenyum menahan sakit. "Ada teror di kolong meja."

"Itu baru diinjak sama kaki kakakmu," geram Al pelan. "Belum sama kaki gajah."

Al kehilangan selera untuk makan. Istri muda Ayah atau Opa, tidak mengurangi rasa kecewanya. Ayah seharusnya menyelipkan wanita itu di surat lusuhnya, tidak hanya bercerita tentang anak singkong yang berhasil jadi cukong, dan ternyata itu adalah kisah tentang dirinya sendiri!

Al perlu tahu apa yang terjadi dengan keluarga mereka, mengapa Opa nekat mengambil madu di usia senja. Dia perlu memahami alasannya sehingga tidak keliru dalam menentukan sikap.

Selama ini rumah tangga Opa rukun-rukun saja. Tidak pernah terdengar pertengkaran yang mengganggu keharmonisan hubungan suami istri. Kemudian tiba-tiba saja beliau menikah lagi. Ada masalah apa?

"Aku sengaja datang dari Jakarta untuk bertemu denganmu," kata Jennifer.

Al tersenyum sedikit. "Aku tersanjung."

"Boleh kan aku kepingin kenal?"

"Sudah seharusnya." Al tidak bisa menghakimi seseorang tanpa mengetahui duduk perkara yang sebenarnya, meski seseorang itu sangat dibenci oleh ibunya. "Opa tidak ikut?"

"Giliran di mbaknya."

Al tidak paham, ia menatap sejurus. "Mbaknya?"

"Oma," jawab Arya. "Yang ini Omu."

"Apa itu?" toleh Al.

Arya tersenyum. "Oma muda."

Usia adiknya terlalu belia untuk memahami masalah yang terjadi. Di matanya, kehadiran madu dalam rumah tangga seperti keberadaan madu dalam roti sarapan pagi. Nikmatnya sama, uang jajan makin berlimpah, minta sana sini.

"Kamu tinggal di rumah Opa?" tanya Al.

"Aku istrinya," sahut Jennifer tersenyum. "Masa tinggal di rumah masing-masing?"

"Terus Oma?"

"Bangun rumah dekat-dekat sini."

Al mengangkat sudut bibirnya sedikit. Istri tua tersingkir bukan kabar terkini. Basi banget. Opa seharusnya berlaku adil.

"Bangun sendiri," tukas Bu Haikal ketus. "Opa tidak membuatkan rumah."

"Mas Priyo ingin mbaknya tinggal serumah, tapi mbaknya kepingin sendiri."

Keinginan Opa sulit terpenuhi. Menjaga cinta satu sama lain tidak harus satu atap. Di antara mereka pasti ada cemburu dan bisa mengarah ke emosi kalau tinggal satu atap. Istri Nabi saja memiliki rumah masing-masing. Atau Opa ingin disebut lelaki hebat karena mampu membuat istri-istrinya tinggal satu rumah?

"Siapa yang sudi tinggal satu atap sama madu?" sambar Bu Haikal pedas.

Ibu kelihatannya sudah mengambil garis keras. Dia tidak mau mengakui kalau Jennifer jadi bagian dari keluarga besar.

"Banyak," kata Jennifer santai.

"Siapa?" pandang Bu Haikal sinis. "Kerabatmu?"

Jennifer tersenyum kecil. Senyum itu justru membuat ibunya jijik. Dia harusnya tidak banyak bicara. Apapun yang dikatakan tidak ada benarnya.

Ibu adalah seorang muslimah yang taat. Tapi urusan istri muda bukan perkara yang gampang diterima. Bukan tidak mengimani sunah rasul, tapi apa benar wanita itu hadir karena sunah rasul?

"Ada satu rumah sampai empat," ujar Jennifer. "Dan mereka hidup rukun."

"Perempuan itu pasti kayak kamu!"

Perdebatan makin tidak terkendali. Al  jadi pendengar setia. Dia tidak pernah terlibat dalam perdebatan orang tua kecuali diminta pendapat, apalagi untuk masalah sensitif. Ayahnya saja tidak bisa berbuat banyak.

Makan malam jadi tidak nyaman.

Episodes
1 Episode 01
2 Episode 02
3 Episode 03
4 Episode 04
5 Episode 05
6 Episode 06
7 Episode 07
8 Episode 08
9 Episode 09
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
117 Episode 117
118 Episode 118
119 Episode 119
120 Episode 120
121 Episode 121
122 Episode 122
123 Episode 123
124 Episode 124
125 Episode 125
126 Episode 126
127 Episode 127
128 Episode 128
129 Episode 129
130 Episode 130
131 Episode 131
132 Episode 132
133 Episode 133
134 Episode 134
135 Episode 135
136 Episode 136
137 Episode 137
138 Ucapan Terima Kasih
Episodes

Updated 138 Episodes

1
Episode 01
2
Episode 02
3
Episode 03
4
Episode 04
5
Episode 05
6
Episode 06
7
Episode 07
8
Episode 08
9
Episode 09
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116
117
Episode 117
118
Episode 118
119
Episode 119
120
Episode 120
121
Episode 121
122
Episode 122
123
Episode 123
124
Episode 124
125
Episode 125
126
Episode 126
127
Episode 127
128
Episode 128
129
Episode 129
130
Episode 130
131
Episode 131
132
Episode 132
133
Episode 133
134
Episode 134
135
Episode 135
136
Episode 136
137
Episode 137
138
Ucapan Terima Kasih

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!