Sudah puas dengan hanya menikmati hembusan angin dari balkon, Kavin kembali berjalan masuk ke dalam kamarnya, dan pria itu tidak lupa untuk kembali menutup pintu balkon motel yang dia sewa selama dia tinggal disini. Kavin melirik jam dinding yang menunjukkan pukul lima lebih empat puluh lima menit, pagi.
Dengan celana pendek training yang masih melekat, Kavin berjalan mendekati lemari baju yang sudah disediakan oleh pihak motel. Pria itu membuka salah satu pintu lemari itu, mengambil sebuah baju singlet warna hitam, dan langsung dia kenakan begitu saja. Tidak merapikan rambut coklatnya yang berantakan, Kavin mengambil langkah berjalan keluar kamar.
Sesampainya diluar, pria tampan itu, langsung berjalan menuruni anak tangga, demi anak tangga menuju lantai satu, dan setibanya di sana, Kavin kembali melangkah menuju pintu belakang motelnya, agar langsung sampai ke pantai, tanpa harus memutar jika keluar dari pintu utama motel itu.
Tidak memerlukan waktu yang lama. Hembusan angin kembali menyambut Kavin yang sudah keluar dari dalam rumah, dan sekarang sedang berdiri di teras.
"Segar," cicit pria itu dengan seutas senyum yang tersungging di wajahnya.
Dengan kedua tangan terlentang ke atas, Kavin bergerak memakai sendal rumahannya, dan perlahan melangkah, menginjakkan kaki di paving blok yang terpasang rapi di depannya. Baru saja Pria itu menapakkan kedua kaki di paving blok, tiba-tiba tubuhnya seperti tertabrak oleh seseorang, dan setelah dia menundukkan kepala. Mata beriris hitam kecoklatan itu, langsung menangkap sosok wanita yang terjatuh dengan memunggunginya.
Marah? Tentu saja, walau dia tidak terjatuh. Kavin tetap marah, karena sang penabrak tidak berhati-hati, "dasar anak desa menyebalkan, apa kau tidak punya mata," gerutu Kavin, tapi tidak membuat wanita didepannya itu bersuara sedikitpun.
Rasa kesal semakin dirasakan pria itu, karena ucapannya dianggap angin lalu oleh sang tersangka penabrak dirinya, "Tuli! Kau mendengar apa yang aku katakan bukan? Di mana matamu itu? Apa kau berjalan sambil tidur bodoh?" kesal Kavin mengumpat wanita yang masih saja diam, dan terlihat bergerak memunguti pernak-pernik'nya yang terjatuh.
Gadis itu masih tak bergeming, dan itu membuat Kavin semakin naik pitam. Kemarahan sudah memenuhi rongga dada Pria sombong itu, "apa kau bisu?" tanya Kavin, dan pertanyaan itu membuat wanita didepannya itu menghentikan aktivitasnya beberapa saat, tapi kembali memunguti semua pernak-pernik'nya yang berceceran itu dengan cepat.
"Apa kau tidak punya rasa bersalah? Kau sudah menabrak 'ku dengan tubuh kotor itu brengsek! Dan, dimana kata maafmu?" Kavin semakin dibuat kesal, tapi wanita yang masih berjongkok itu seolah menghiraukan semua perkataan yang dia lontarkan, entah itu perkataan halus, ataupun kasarnya.
Kavin menaikkan satu alisnya saat melihat wanita di yang menabraknya tadi mulai berdiri, tapi masih dalam posisi memunggunginya. Dengan raut wajah angkuhnya Kavin, menatap punggung tegap yang di hiasi oleh rambut hitam halus itu. Di pikiran pria itu sekarang, sudah menggambarkan kalau, wanita di hadapannya ini akan berbalik dan meminta maaf, tapi matanya membulat terkejut saat dia melihat wanita itu, tanpa rasa bersalah meninggalkan dirinya tanpa sepatah kata maaf pun yang terucap dari mulutnya.
"Hai kau! Kau sudah berbuat salah, tapi kenapa tidak minta maaf! Apa gadis desa memang tidak punya sopan santun seper-" Pria itu berhenti berbicara saat melihat sebuah kertas yang tergeletak di atas paving blok. Tubuhnya yang tinggi, mulai menunduk untuk mengambil sepucuk kertas itu.
Tidak ada tulisan apapun di kertas itu, tapi di sana terdapat sebuah gambar emoticon yang tengah tersenyum sangat lebar, "apa gadis itu yang meninggalkannya?" gumam Kavin, dan pria itu mengangkat pandangannya kembali, untuk melihat wanita aneh yang tadi melarikan diri tanpa seutas kata maaf pun yang terucap.
"Dasar aneh. Lihat saja jika kita bertemu, kau harus meminta maaf terlebih dulu, baru setelah itu kita impas." Niatnya yang tadi ingin berjalan santai, akhirnya dia urungkan, karena moodnya seketika hancur oleh wanita itu.
Dengan masih membawa sepucuk kertas bergambar emoticon senyum itu, Kavin kembali masuk ke dalam motel, dan bersiap-siap untuk menjelajahi pantai Kuta ini.
Sementara itu, Mika yang bersembunyi di balik bunga-bunga yang tumbuh lebat itu, mendengar ucapan Kavin, tentang dia yang tidak akan dilepaskan begitu saja, sebelum minta maaf, 'ceroboh! Kau ceroboh Mika. kenapa kau membuat masalah untuk diri sendiri lagi sih,' gerutu gadis bisu itu dalam hati, dan langsung pergi meninggalkan area Motel itu, untuk bersiap-siap menyambut pagi tiba, agar bisa menjajarkan dagangannya ke wisatawan nanti.
T.B.C
Langsung aja like, vote, gift, komen, dan ini yang paling penting! BANTU SHARE!
Bay!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 141 Episodes
Comments
Sweet Girl
ya gambar senyum itu mewakili permintaan maaf, pak Kevin ....
2022-02-24
0
💜jiminaa💜🐣
a was darting kmu riz. 😄
2022-01-06
0
delviana
pqntesan gk ada yg mau,emosian mulu😄
2021-09-20
1