Malam sebelumnya. Terlihat Elena dan Xander yang sedang makan malam disebuah restoran yang begitu mewah. Mereka biasa makan malam berdua, ketika merayakan hari spesial mereka. Seperti hari perayaan hubungan mereka atau hari ulang tahun mereka dan merayakan hari yang menurut mereka spesial. Malam sebelum pernikahan mereka sekarang, adalah malam ulang tahun dari Elena.
Karena mereka memutuskan untuk bertemu setelah beberapa bulan lamanya Xander pergi untuk urusan bisnisnya. Sepanjang hari ini merdka menghabiskan waktu berdua seperti menonton film di bioskop dan hal-hal lainnya seperti orang yang sedang berkencan pada umumnya. Mereka tampak bahagia. Dengan sesekali canda tawa menghiasi perjalanan kencan hari ini.
Hingga puncaknya ialah, Xander meminta untuknya tidur bersama. Karena memang selama 2 tahun bertunangan kedua pasangan itu memutuskan tidak melakukan hubungan panas setelah malam pertama di hari pernikahan mereka. Namun malam itu, malam yang begitu membahagiakan untuk Elena. Setelah makan malam bersama, Xander mengantarkannya untuk pulang.
Pria yang dipacari Elena selama beberapa tahun dan kemudian bertunangan. Elena tak pernah sekalipun berpacaran dengan pria lain, karena Xander adalah pacarnya pertama dan untuk pelabuhan terakhir dalam hidupnya. Pria yang bernama lengkap Ervan Xander itu adalah merupakan pegawai di perusahaan sang ayah. Ia perlahan naik jabatan karena memang kemampuannya yang begitu menonjol di perusahaan yang bergerak dibidang bahan baku properti.
Sepanjang perjalanan mereka terus berpegangan tangan. Memang Xander lelaki dingin dan tak mudah tersenyum. Tetapi, jika ia berada di dekat Elena, ia akan terlihat beberapa kali tersenyum bahkan terkadang menyembunyikan tawa karena kelakuan Elena yang kekanakan. Mereka bercakap dan merencanakan masa depan mereka.
Hingga, mobil putih milik Xander pun tiba di depan pintu gerbang tinggi yang kokoh dan indah. Pintu gerbang itu terdapat cctv yang akan memantau keluar masuknya kendaraan ke rumah besar milik keluarga Elena. Pintu gerbang pun secara otomatis akan terbuka jika cctv itu telah mendeteksi keberadaan kendaraan yang dikenali. Akhirnya Xander pun melajukan kembali mobilnya dan masuk kedalam pekarangan rumah mewah.
Setelah mobil itu berhenti dan tersimpan rapi, mereka pun masuk kedalam rumah dengan masih bergandengan tangan. Memang setelah kecelakanan kedua orang tuanya beberapa bulan yang lalu, Xander pun meminta Elena agar ia bisa mempersuntingnya lebih cepat. Karena Xander berjanji untuk menjaga Elena pada kedua orang tuanya. Karena Itulah keputusan yang terbaik menurut Xander.
Malam semakin larut setelah Xander berniat untuk menginap di rumah besar itu. Karena bagaimanapun mereka akan menjadi sepasang suamI istri esok hari. Akhirnya, karena gejolak asmara dari keduanya, Xander pun yang tadinya hanya berniat untuk membuat Elena tertidur lebih cepat malam ini karena esok ia tak ingin acar pernikahan mereka tertunda, malah sebaliknya.
Tiba-tiba Xander mengecup bibir Elena. Seketika itu juga Elena terkejut dan menjauhkan wajahnya dari Xander. Namun, pria berdarah dingin yang terkenal kejam dan disiplin di tempat kerjanya itu kini terlihat berbeda. Ia begitu terlihat begitu lembut dan penyayang. Bahkan ucapan yang Xander bisikkan pada telinga Elena membuatnya tak bisa menolak rasa di dadanya yang saling bergejolak.
Hingga kecupan itu bertubi-tubi di daratkan pada tubuh Elena. Wanita cantik bermanik mata coklat terang itu pun tak kuasa menolak kecupan itu. Ia pun segera memeluk Xander dan ******* bibir pria yang dicintainya itu. Kecupan demi kecupan pun berganti dengan keinginan lainnya. Perlahan jemari tangan Xander merayap lembut, diatas permukaan kulit halus milik Elena. Beberapa saat kemudian mereka pun telah melepaskan pakaian yang sedari tadi dikenakan satu sama lain.
Akhirnya, mereka melewati malam panas penuh dengan keringat dan gejolak kenikmatan duniawi. Hingga Elena tertidur dan Xander pun pergi dari sana. Untung saja Elena terbangun ketika Xander hendak pergi. “Ada apa? Apa kau akan pergi?” tanya Elena dengan berusaha terbangun dari tidurnya.
“Ya, aku harus pergi sebentar... ada hal yang harus ku bereskan sedikit sebelum upacara pernikahan kita, pagi nanti.”
“Oh, baiklah! Aku harap kakak tak terlambat di upacara pernikahan kita nanti,” ujar Elena dengan masih terduduk diatas ranjang tidur besar miliknya.
Setelah Xander berpakaian, pria itu pun memeluk Elena dan mengecup bibir ranum milik calom istrinya tersebut. “Aku akan kembali secepatnya, sayang!” bisik Xander yang mengelus punggung Elena lembut. Elena tersenyum kecil dan mengangguk perlahan, seraya menjawab perkatana sang kekasih. Dengan bergeras Xander melepaskan pelukan dari tubuh mungil Elena. Ia melambaikan tangan dan dibalas oleh lambaian tangan dari Elena.
Tepat pukul delapan pagi. Bahkan Elena telah sarapan pagi dan sedari satujam yang lalu, ia berusaha menghubungi Xander puluhan kali. Tak lupa Elena pun mengirimkan pesam ratusan kali pada Xander. Namun hingga sekarang, waktunya tiba untuk upacara pernikahan mereka Xander, sang kekasih tak muncul juga. Bahkan batang hidungnya pun tak terlihat sama sekali. Dan biasanya ia bersama sang Asisten pribadinya dalam urusan bisnis pun kini, sang asisten pun tak mengetahui keberadaan dari sang atasnnya, Xander.
Elena memerintahkan pada sopirnya dan pada sang asisten pribadi keluarganya untuk pergi dan menyusul ke rumah Xander. Karena kediaman Xander tak terlalu jauh dari rumah keluarganya, hanya memerlukan waktu sekitar setengah jam jika tidak terjadi kemacetan di jalan. Dengan perasaan gelisah dan bercampur aduk, Elena berusaha menenangkan diri dengan meminum beberapa gelas air putih sedari tadi.
Semua orang telah menunggu upacara pernikahan mereka. Beberapa menit berlalu. Hampir satu jam lamanya Elena menunggu kabar dari Xander. Karena sekarang waktu telah menunjukkan pukul 09.15 menit. Dan telah satu jam lewat upacara pernikahan yang seharusnya dilakukan. Meskipun Elena tak mengundang banyak orang, hanya saudara dan rekan terdekat dari keluarganya dan juga sang kekasih Xander.
Sampai, sang sopir beserta sang asisten pun menghubungi Elena bahwa mereka tak menemukan Xander dikediamannya. Walau pun di rumah Xander tak ada barang atau pun koper yang dibawa Xander untuk pergi. “Nona, semuanya masih lengkap! Pakaian kerja dan barang-barang yang biasa ia bawa jika perjalana bisnis pun masih tersimpan rapi di lemari,” ucap sang asisten pribadi keluarga Elena.
“Astaga! Baiklah! Kalian selidiki kemana perginya... jika dirasa kalian mendapat petunjuk, tolong kabari saya!” ucap Elena dengan segera menutup panggilan itu.
Waktu pun berganti siang. Bahkan cuaca matahari kini mulai menyengat kearah Elena. Sehingga sang pelayan berusaha memayungi Elena dan mengipas-ngipaskan kearahnya. Sedari dini hari Elena telah merias wajahnya dan mengenakan pakaian yang begitu berat karena batuan berharga yang ia kenakan di seluruh penampilannya itu. Keringatnya mengucur deras. Tetapi, pandangan wajahnya masih terlihat tenang.
Begitulah cara Elena yang memang di ajarkan oleh kedua orang tuanya semasa hidup mereka. Dalam keadana genting pun, seorang yang berkedudukan tinggi harus tenang dan berpikiran jernih. Tetapi usaha harus terus di upayakan sampai titik darah penghabisan. Saat ini, dalama benak Elena ia berpikir segala hal yang dapat menimpa sang kekasih hati Xander. Seketika, jemari tangannya kembali meraih ponsel dan menghubungi seseorang. Elena meminta untuk menemukan Xander bagimanapun keadaannya, ia harus mengetahui kabar dari sang calon suaminya itu.
Beberapa jam berlalu. Kini saatnya 1makan siang dimulai. Semua orang yang hadir disana, terlihat kebingungan. Karena mereka tak tahu apa yang terjadi pada sang calon pengantin pria. Akhirnya, Elena harus mengambil keputusan saat ini juga. Terlebih lagi, para tamu yang di undang adalah orang-orang yang penting, yang memang waktu mereka begitu berharga walau pun hanya satu menit.
Saat ini Elena masih terdiam dengan mencoba memecahkan masalah ini sendirian dalam pikirannya. Walaupun sang pelayan pribadinya menganjurkan, untuk menghentikan acaranya tetapi Elena masih terdiam dengan pandangan kosong kedepan. “Ya, Tuhan... Apa yang harus kulakukan sekarang?” batinnya bergejolak. Setelah beberapa saat, Elena pun bangkit berdiri dari duduknya. Ia berjalan menuju Altar dam berdiri tenang menatap kearah semua orang yang juga melihat kearah dirinya.
To be continue...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments
miknik👾r*b*t
ok fine
2021-09-29
0
violeta arnes
Lucy
2021-08-26
0
burd
ternyata ini otor berbakat
2021-08-26
0