"Aline, ayo bangun sayang. Nanti kamu telat ke kampus." itu suara bunda Aline, Anita Dirgantara. Janda kaya dari keluarga Dirgantara ini memiliki usaha yang tidak bisa dianggap remeh. Beberapa butik, salon kecantikan dan juga restoran. Meskipun begitu dia tidak melupakan tugasnya sebagai ibu rumah tangga. Entah mengapa putrinya justru tidak menyukai dunia fashion seperti dirinya. Justru Aline menyukai bidang mengajar. Namun Aline masih mau memegang usaha restoran milik Anita.
"Alin, segera bangun, kakakmu sudah di meja makan,"seketika ucapan sang bunda membuat Aline bangun. Memang kalau kakaknya yang turun tangan bisa habis nanti Aline.
"Benarkah Bun?"tanya Aline sambil mengucek-ucek matanya.
"Lihat saja sendiri kalau tidak percaya,"sahut sang bunda. Aline pun bergegas ke kamar mandi dan bergegas berganti pakaian.
Aldo Putra Dirgantara, putra tertua dari keluarga Dirgantara. Sejak sang ayah meninggal dunia. Semua urusan bisnis di handle oleh nya. Dia bekerja keras demi menstabilkan usaha sang ayah. Dia tidak ingin perusahaan yang telah susah payah dibangun sang ayah jatuh begitu saja.
Ketika sang ayah baru saja meninggal. Kondisi perusahaan tidak cukup baik. Anita mencari cara agar perusahaan tidak sampai jatuh bangkrut. Saat itulah pertolongan dari sahabat baiknya, Monita dan juga Keanu membuat Anita dan anak-anaknya bisa bertahan sampai sekarang.
Dan kini Aldo sudah bisa mengendalikan perusahaan dengan baik. Semakin bertambah usia kemampuan yang aldo dapatkan juga bertambah. Kini perusahan sudah berada dalam kendalinya.
Oleh karena itu, ketika monita bercerita tentang putranya yang bermasalah dengan pelajaran matematika di sekolah. Seketika Anita meminta bantuan sang putri, Aline. Untuk mengajari Kenzo agar bisa mengerjakan matematika dengan baik. Dan berkat kebaikan keluarga Darmawan kepada keluarganya dulu, Aline juga tidak bisa menolak permintaan dari Monita.
"Selamat pagi, bunda," Aldo mengecup kening bundanya.
"Pagi juga, sayang,"sahut bunda Anita.
"Aline belum turun?" tanya Aldo.
Bunda Aline menarik napas panjang," kamu seperti tidak tahu kelakuan adikmu saja. Dia masih mandi."
Aldo tersenyum, adik perempuan satu-satunya itu memang suka terlambat bangun.
Aline tampak terburu-buru menuruni tangga.
"Pelan-pelan sayang, kamu bisa jatuh nanti." Bunda aline tampak khawatir karena melihat anak nya menuruni tangga dengan terburu-buru padah sedang menggunakan sepatu berhak tinggi.
"Maaf Bunda, Aline terburu-buru. Aline baru ingat kalau harus mengumpulkan revisi skripsi ke dosen pembimbing,"ujar Aline sambil meminum susu tanpa duduk terlebih dahulu.
"Biar Pak Ardan yang mengantar mu,"ujar kakak nya, Aldo.
"Tidak perlu, kak, aku naik taksi online saja."
"Vazo tidak menjemputmu?" tanya Aldo.
Aline hanya nyengir saat di singgung kakaknya soal Vazo Aldriansyah, kekasihnya.
"Dia sibuk sepertinya kak. Tidak apa-apa, aku berangkat naik taksi saja,"jawab Aline.
"Tidak perlu, biar pak Ardan yang mengantar mu,"putus kakaknya.
"Tapi kak...."
"Aku bisa menunggumu. Lagian ini masih terlalu pagi juga,"kali ini Aline tidak bisa membantah lagi jika kakaknya sudah membuat keputusan maka Aline tidak akan pernah menang jika melawannya.
"Iya, lin. Biar diantar pak Ardan saja ya. Bunda takut ada kenapa-napa," sahut bunda Anita mengkhawatirkan kondisi putrinya.
"Baikah. Aku berangkat dulu ya Bunda, kakak." Aline berpamitan kepada bunda dan juga kakaknya.
**
Di kampus.
"Kamu sibuk sekali sepertinya, lin" tanya Sisil, teman baik Aline selama ini. Mereka kebetulan sekali mendapatkan pembimbing skripsi yang sama.
"Iya, aku tiap pulang kuliah mengajar les privat matematika pada anak teman bundaku,"ujar Aline apa adanya.
"Ouh..pantesan sekarang jarang banget ada waktu keluar. Anak usia berapa? TK? SD? Atau smp?" tanya Sisil penasaran.
"SMA sil, udah kelas dua belas,"Jawab Aline santai.
"Wow.. Tampan tidak , lin," Sisil tampak begitu penasaran.
"Biasa aja deh menurutku, malah dia itu cukup gila, masak dia mengajak seorang cewek berkencan di dalam kamar rumahnya saat aku akan mengajar."
"Hah!!" Sisil seakan tidak percaya mendengar cerita Aline.
"Gila juga ya itu bocah."
"Beneran, anak seusia itu coba bayangin, sil. Bagaimana kalau orang tuanya tahu dia berbuat seperti itu."
Sisil malah tertawa melihat sikap Aline atas ceritanya.
"Seharusnya kamu belajar dari dia, lin."
"Gila," aline menoyor lengan Sisil.
"Aku tidak gila, buat apa aku belajar hal-hal seperti itu padanya,"ujar Aline tidak sependapat dengan ucapan sahabatnya tersebut.
"Eh, tapi lin, katanya kalau kita melakukan hal itu dengan kekasih kita maka dia akan semakin sayang pada kita lho. Kamu beneran tidak mau mencobanya dengan vazo. Siapa tahu dia akan semakin sayang dan perhatian padamu,"saran sisil.
"Apa? Aku dan Vazo?" Aline menggeleng dengan cepat.
"Pemikiranmu aneh sil, iya kalau aku semakin dicintainya tapi kalau aku nanti justru ditinggalkan nya bagaimana? Sama saja dong aku telah merusak hidupku sendiri,"sahut aline tegas.
"Kamu emang parno, lin." Sisil tertawa mendengar jawaban Aline.
"Biar saja, sil. Aku emang parno, tetapi aku ingin menyerahkan ini kepada suami ku yang sah," ujar Aline mantap.
"Eh, kamu sudah hubungi Vazo belum? Katanya tadi mau pulang bareng dia."
"Ouh iya, aku lupa," Aline nyengir di depan Sisil. Sisil hanya tertawa melihat tingkah sahabat nya itu.
Kring... kring...
"Halo."
"Halo, vazo. Apa kamu jadi menjemputku siang ini?"tanya Aline penuh harap.
"Maaf, sayang, aku tidak bisa. Aku masih sibuk."
"Ouh,begitu ya,"ujar Aline tampak kecewa.
"Lain kali aku usahakan bertemu ya, sayang. Maafkan aku."
"Ya, tidak apa-apa."
"Maafkan aku ya, sayangku."
"Oke, nggak masalah. Met kerja ya."
Saluran telepon pun sudah dimatikan keduanya setelah tidak ada kesepakatan yang terjadi.
"Bagaimana? Dia tidak bisa lagi, ya," tebak Sisil sejak melihat wajah Aline yang manyun.
"Iya, dia sibuk ada meeting katanya."
"Dia sudah sering memberikan alasan yang sama padamu. Apa kamu tidak curiga?"tanya Sisil.
"Curiga tentang apa maksudmu, sil,"tanya Aline tidak paham.
"Apa kamu tidak curiga, misalnya saja vazo memiliki kekasih lain di luar sana, tetapi bilangnya padamu dia sedang meeting."
Aline menggeleng, dia tidak mau berpikir jelek. Karena bisa saja dari pemikiran kita yang buruk. Suatu hari nanti justru akan menjadi sebuah kenyataan.
"Aku berpikir positif saja, sil."
"Ya, sudah kalau begitu, aku pergi dulu ya, Lin. Aku ada janji dengan mamaku untuk belanja,"pamit Sisil.
"Ya, hati-hati, sil."
"Oke. Oya, salam untuk berondongmu itu."
"Siapa?"tanya Aline bingung.
"Itu muridmu yang masih muda,"ujar Sisil sambil tertawa.
"Kamu apaan sih, sil."
Kini Aline hanya sendirian duduk di taman kampus. Dia sedang merevisi beberapa kesalahan skripsinya. Sampai handphone nya bergetar. Sebuah panggilan dari nomor yang tidak dikenal.
"Halo."
"Aku di depan kampusmu."
"Kamu..."
"Aku tunggu di pintu gerbang kampusmu."
"Apa? Halo? Halo?" Aline tidak percaya sambungan teleponnya sudah dimatikan oleh si bocah bengal itu.
"Dasar Kenzo!"
***
Iklan Author
Jangan lupa like, vote dan juga kirim komentar kalian sebanyak-banyaknya.
Terimakasih 😁
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 86 Episodes
Comments
Nur Lizza
lanjut
2021-11-27
0
Wati_esha
Nyimak ya.
2021-10-28
1
,🥀shandy nizha🥀
aq syukaa brondong jagung 🤣🤣🤣
semangatt thor nulisnya 😍💪🏻
2021-07-22
1