..."Kita ada untuk saling melengkapi. Bukan memiliki." - Bulan dan Matahari...
..._____________________________...
...Happy Reading...
Tap Tap Tap
Suara langkah kaki yang terburu-buru. Mengejar waktu yang tak mau menunggu.
Aku berlari terburu-buru untuk masuk kelas. Jika kalian menebak bahwa aku bangun kesiangan itu salah besar. Hari ini aku harus berjalan kaki ke sekolah karena you know lah.
Papa mengambil semua uangku, jadi aku tak punya uang untuk naik bus. Rumah dan sekolah ku jaraknya lumayan jauh. Aish... bisa-bisa aku kehilangan berat badan lagi jika seperti ini terus.
Tapi aku harus selalu berusaha tersenyum. Aku ingin menebar aura positif kepada teman-temanku. Aku tak ingin menghancurkan hari indah mereka.
"Hello everybody! Good day!" Aku menyapa dengan penuh keceriaan.
"Cappucino" Guru menjawab dengan wajah datar.
Lah udah ada gurunya. Sial maning, sial maning. Aku langsung menautkan kedua tanganku didepan sambil menundukkan kepala.
"Eh, selamat pagi pak. Maaf saya terlambat datang." Aku membungkukkan badan sungkan. Aku emang malu-maluin tapi masih punya rasa malu tau. Yah walau cuma sedikit.
"Kenapa terlambat?" Pak Guru melipat tangannya didepan dada.
"Maaf pak. Saya tadi ke sekolah jalan kaki. Rumah saya lumayan jauh." Aku menjawab dengan seadanya. Tidak dibuat-buat, aku lelah berbohong.
"Ini peringatan pertama. Lain kali jangan terlambat lagi. Cepat duduk." Titah pak guru.
Syukurlah gurunya masih berbaik hati kepadaku. Gak kayak guru yang itu tu, yang botak bersinar kayak bola lampu.
..."Eh, jangan dicontoh ya teman-teman. Menghina guru itu tidak baik. Nanti ilmunya gak bermanfaat loh" - Author LiDyra....
Aku segera mendudukkan diri. Hari ini aku mandi 2x deh, tadi pagi dan sekarang mandi keringat. Pagi-pagi udah bau keringat aja, eww.
"Tumbenan kamu jalan kaki. Bukannya biasanya naik bus?" Vita mengubah posisi tubuhnya menghadap padaku.
"Hehe, iya nih. Lagi pengen aja." Jawabku...bohong.
Maaf ya, Vita. Aku cuma gak mau bikin kamu khawatir sama aku.
"Itu pipi kamu kenapa? Kok merah gitu?" Vita memegang pipiku yang ditampar papa.
Apakah pipiku semerah itu? Padahal aku sudah berusaha menutupinya dengan cream. Apakah aku harus terus berbohong seperti ini? Aku tak suka. Aku ingin bebas. Aku....lelah.
"Ah, pipi ku? Ini cuma---"
"Anak-anak tolong perhatiannya. Hari ini kita kedatangan murid baru perpindahan sekolah. Silahkan masuk." Pak guru memotong pembicaraan ku.
Seorang siswa masuk ke dalam kelas dengan senyuman yang mengembang di wajahnya. Dunia serasa meluruh, setiap pasang mata tertuju padanya.
"Terimakasih pak. Selamat pagi, Nama saya Tsuki, murid pindahan dari sekolah XX. Salam kenal." Ucapnya dengan senyum yang sangat menawan.
"Tsuki silahkan duduk di bangku yang kosong." Pak guru mempersilahkannya duduk.
Ada 3 bangku kosong di kelasku. Di samping gadis dan bangku kosong di pojok kelas. Aku pikir ia akan duduk di sebelah wanita itu.
But, thats wrong.
Dia duduk di bangku pojok kelas sendirian didekat jendela.
Why?
...~~~...
Ring~
Saatnya istirahat~
Bel dari surga telah berbunyi. Begitu merdu bukan? Bagaikan kicauan burung dipagi hari, merdu dan menenangkan. Membangkitkan semangat murid-murid yang sudah muak akan buku tebal di depannya.
Aku segera memasukkan buku ku ke dalam tas. Mengingat aku tak punya uang jadi aku ingin ke taman dan membaca buku. Lebih tepatnya melihat para pria bermain basket, hehehe.
"Hai, boleh aku tahu namamu?" Tsuki tiba-tiba sudah berada di sampingku. Ia mengulurkan tangannya.
"Boleh." Aku tersenyum manis, "Aku Sonne." Ucapku menjabat tangan besarnya.
"Aku Tsuki, senang berkenalan denganmu." Dia kembali tersenyum. Astaga, senyum itu. Dia memiliki senyum yang benar-benar menawan. Sampai-sampai para gadis di kelasku langsung menatapku sinis.
Tidak biasanya mereka seperti itu.
Usut punya usut ternyata Tsuki bersikap dingin dan acuh kepada mereka. Aish...bukan salahku jika dia dingin kepada mereka bukan?
"Kamu ingin kemana?" Tanya Tsuki mengikuti langkah ku dari belakang.
Aku serasa diikuti sama Titan. Dia benar-benar tinggi dengan bahu yang bidang dan tegap.
"Aku mau ke taman." Jawabku dengan nada riang tetap melangkahkan kakiku.
"Kamu tidak ingin ke kantin?" Dia terus saja mengikutiku. Hahaha dia lucu sekali.
"Enggak, aku mau baca buku aja." Ucapku menunjukkan buku yang ku bawa.
"Kamu tidak lapar? Bukankah ini waktunya makan siang?" tanyanya lagi.
"Enggak, aku gak bawa uang. Tadi kelupaan, hehehe." Bohong, aku bahkan tak punya uang.
Dia langsung menarik tanganku begitu saja, "Ayo, aku akan mentraktir mu."
Dia...Tsuki. Dia benar-benar manis.
Dia terus menggandeng tanganku ke kantin. Berjalan di koridor yang ramai bersamanya membuat kami mendapatkan berbagai macam tatapan. Ada yang terpesona dengan Tsuki, tapi ada juga yang menggunjing ku karena dekat-dekat dengan anak baru ini.
Kami berada di kantin sekarang. Benar saja , Tsuki mentraktirku. Aku jadi tak enak hati. Kita baru saja berkenalan tapi dia sudah mentraktirku.
Lain waktu aku akan mentraktir mu. Aku janji. Kamu udah baik sama aku. Padahal kita baru aja ketemu, haha.
Kami berbincang-bincang. Membahas pelajaran, sekolah sampai hal-hal yang tidak penting lainnya.
Bercanda gurau dengannya ternyata sangat mengasyikkan. Kami tertawa bersama, sampai-sampai menjadi pusat perhatian.
Memalukan memang. Tapi juga menyenangkan.
Kami mengobrol banyak hal dan sekarang aku tau, Dia menyukai hal-hal yang berbau sastra sama seperti ku. Terkadang membuat puisi tentang perasaannya atau sesuatu yang sedang terlintas pikiran.
Mewujudkannya dalam rangkaian kata indah dengan penuh makna. Kesukaannya terhadap rangkain kata indah itu berpengaruh pada gaya bicaranya yang agak kaku, hahaha. Tapi dia lucu.
Dia juga memiliki keluarga yang lengkap dan harmonis. Ibunya yang menyayanginya dan selalu menjaganya. Ayahnya yang menuruti setiap keinginannya. Ia dikelilingi kasih sayang dari orang tercinta.
Tak sepertiku yang--- ah sudahlah.
Mendengar ceritanya membuatku menjadi iri.
"Sonne. Ish kamu nih, ke kantin gak ngajak-ngajak." Vita tiba-tiba datang dan duduk di sampingku.
" Ya maaf, tadi niatnya mau ke taman. Tapi dia menarik ku ke kantin." Aku menunjuk Tsuki menggunakan ibu jariku.
"Eh iya, kita belum kenalan. Namaku Vita." Ucap Vita mengulurkan tangannya.
"Tsuki." Ucapnya tanpa menjabat tangan Vita.
"Umm AC nya dingin sekali ya, hahaha." Ucap Vita sambil menarik kembali tangannya yang tidak dijabat oleh Tsuki sambil membuang pandangannya.
Padahal tak ada AC disini. Yang ada hanya Angin Cepoi- Cepoi.
Suasananya jadi agak canggung sekarang. Tsuki diam saja dan Vita juga. Mungkin efek kejadian tadi kali ya.
"Ayo kembali ke kelas. Sebentar lagi waktunya bel masuk." Aku bangkit dari dudukku diikuti mereka - Tsuki dan Vita-
"Aku ke toilet dulu deh. Bye~ sampai jumpa dikelas." Vita pergi meninggalkan kami.
"Yuk, ke kelas." Ajakku sambil tersenyum.
"Iya. Ayo." Ucapnya diakhiri senyuman.
Padahal dari tadi dia tidak tersenyum sama sekali. Benar-benar unik.
...~~~...
Langit berubah kehitaman. Sang Surya menyembunyikan dirinya dibalik selimut awan yang menghias samudera.
Mendung.
Mungkin sebentar lagi akan hujan.
Menyusuri jalanan kota sendirian. Tanpa teman. Jangan hujan...
Aku tidak suka.
Tinn Tinn
"Sonne, kamu pulang jalan kaki?" Tsuki menghentikan motornya tepat disampingku.
Laki-laki itu, ia mengendarai motor yang mewah. Jaket hitam. Helm hitam. Waw serasa dibawa menjelajah ke dunia Oren.
"Hehe, iya nih. Lagi pengen jalan kaki." Jawabku ngelantur.
"Ayo, aku antar kamu pulang." Dia menawarkan tumpangan.
"Eh gak usah. Aku mau kerja part time dulu." Aku mencoba mencari alasan agar tidak merepotkannya terus.
"Kamu kerja dimana? Aku akan mengantarmu." Dia selalu tersenyum...kepadaku.
"Aku hari ini ada jadwal part time di kedai ramen. Deket sini kok, gak usah dianter." Tolakku halus.
"Aku akan mengantarmu. Sepertinya hujan akan turun. Nanti kamu sakit." Dia tetap memaksa.
Aduh, jangan terlalu baik kayak gitu. Aku jadi gak enak sama kamu nya. Apalagi lihat reaksinya murid-murid tadi yang gak enak banget dilihat. Ngeri ah.
"Gak usah Tsuki. Makasih ya udah nawarin aku."Aku tersenyum manis kepadanya. Dia laki-laki yang baik. Aku tak ingin merepotkannya terus.
"Sonne. Aku suka....
Kamu"
...To Be Continued...
Kalo ada typo kasih tau Dyra ya~
Semoga kalian selalu bahagia
(。◕‿◕。) ♡
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 75 Episodes
Comments