[Kau adalah gadis paling menganggu yang pernah kutemui seumur hidupku. —Blue Hawkins]
Blue berbaring di atas kasurnya sambil menatap langit-langit kamarnya. Sama seperti hari-hari sebelumya, hari ini ia tak berniat melakukan kegiatan apapun. Untuk apa ia melakukan sesuatu jika pada akhirnya dia juga akan mati? Semenjak dinyatakan mengidap HIV, Blue tak lagi memiliki motivasi hidup. Orang-orang yang awalnya ia pikir adalah orang terdekatnya, mendadak pergi menjauhinya. Tak terkecuali mantan pacarnya-Sarah.
Sarah merupakan orang yang pertama kali mengetahui bahwa Blue mengidap penyakit HIV, dan juga merupakan orang pertama yang menjauhinya. Sarah juga yang meberitahukan tentang penyakitnya kepada orang-orang yang awalnya Blue anggap sebagai teman. Sehingga satu-persatu dari mereka perlahan menjauh dari Blue dan tak ingin terlibat dengan Blue. Bagi mereka, Blue tak lagi bisa dimanfaatkan. Mereka memandang Blue seolah-olah Blue adalah virus HIV itu sendiri.
Hal yang lebih menyakitkan adalah, mantan kekasihnya—Sarah, secara terang-terangan mengencani sahabat baiknya, usai putus dengannya. Fakta yang membuat Blue terpukul. Ternyata Sarah selama ini hanya mencintai hartanya karena ia adalah anak dari pengusaha terkenal.
Dulu ia merupakan fotografer muda yang cukup sukses. Hidupnya bebas. Ayahnya juga tak pernah menghentikan aliran dana ke akun banknya. Hal itu membuat Blue memiliki banyak orang di sekitarnya. Muda, sukses, berbakat, memiliki koneksi, dan kaya. Paket lengkap untuk bisa dimanfaatkan.
Setelah semua penghianatan yang ia dapat, Blue tak lagi percaya dengan semua orang. Menurutnya semua orang di bumi ini munafik. Mereka semua adalah aktor dan aktris yang memainkan peran di panggung kehidupan. Dari semua orang yang Blue kenal, ada satu orang yang masih terus mengusiknya. Yaitu Samuel Miller, atau yang akrab Blue sapa dengan panggilan Kakek Sam.
Kakek Sam merupakan sahabat mediang kakeknya. Mereka berdua sering bermain catur hingga larut malam. Jika Blue sedang tidak bepergian dan sedang berada di rumah, maka ia sesekali menemani kedua orang tua itu bermain catur, sambil ikut mengobrol. Semenjak kakeknya meninggal, Kakek Sam tak berhenti memperhatikannya. Ia selalu meninggalkan makanan untuk Blue yag ia letakkan di depan pintu rumah Blue. Ia juga selalu menyapa Blue dengan senyum cerahnya, jika sesekali Blue keluar dari rumahnya. Walaupun Blue sudah bersikap sinis kepada Kakek Sam, namun lelaki tua itu tak pernah sekalipun marah padanya maupun menjauhinya. Hingga akhirnya terkadang tingkahnya sendiri membuatnya merasa bersalah pada akhirnya.
Tapi, bukankah Kakek Sam masih bersikap baik kepadanya karena ia tidak mengetahui bahwa Blue mengidap HIV? Jika ia mengetahui tentang penyakit yang diderita Blue, Blue yakin seratus persen bahwasannya Kakek Sam juga akan menjauhinya sama sseperti orang-orang lain. Blue tak ingin merasa kecewa lagi. Jadi,ia memutuskan untuk menjauhi siapapun termasuk Kakek Sam.
Tiba-tiba suara bel membuyarkan lamunan Blue. “Itu pasti Kakek Sam,” batin Blue. Karena hanya Kakek Sam yang sampai sekarang masih selalu menekan bel rumahnya.
Blue hanya diam dan tidak beranjak dari kasurnya. Karena ia tau, Kakek Sam akan pergi setelah menekan bel dan meletakkan makanan di depan pintu rumahnya. Setidaknya itulah yang selalu Kakek Sam lakukan sebulan belakangan.
Namun, tak seperti yang Blue duga, bel rumahnya malah berbunyi berulang-ulang kali hingga membuatnya kesal. Ia pun akhirnya memutuskan untuk turun dari kasurnya dan berjalan menuju pintu rumahnya. Blue memasang wajah datarnya sebelum ia membuka pintu rumahnya.
Nampak seorang gadis tersenyum lebar di hadapannya. Menurut Blue, senyum gadis di depannya ini terlihat sangat konyol. Ia memandang gadis asing itu tanpa menunjukkan emosi di wajahnya sedikit pun. Walau benaknya bertanya-tanya siapa sebenarnya gadis ini? Apa maunya?
Blue mengamati gadis asing yang sekarag sedang menyodorkan seloyang pie kepadanya. Gadis dengan rambut bergelombang, berpotongan pendek sebahu dan berwarna pirang ini benar-benar aneh. Ia nampak seperti seorang penganggu yang suka ikut campur.
Ngomong-ngomong apa gadis pirang ini adalah orang baru di sini? Karena Blue tak pernah melihatnya sebelumnya.
“Kenalkan, aku Hope. Hope Miller. Cucu dari Samuel Miller, kakek yang tingga di seberang rumahmu ini.” Hope menunjuk ke arah rumah Kakek Sam. Sementara Blue masih tak menanggapi Hope dan malah menatapnya dengan tatapan sinis. Ia akan secara terang-terangan menunjukkan ketidak sukaannya kepada Hope agar gadis di hadapannya ini menjauh darinya. Ia tidak butuh seseorang masuk ke dalam hidupnya yang sebentar lagi akan berakhir.
“Kudengar namamu Blue, dan kita seumuran. Kurasa kita bisa lebih cepat akrab karena kita seumuran,” ujar Hope yang masih terdengar ceria. Blue masih tak menanggapi ocehan Hope yang terdengar seperti burung gereja. Ia juga tak kunjung mengambil pie yang disodorkan oleh Hope.
“Aku tidak bertanya! Dan aku tidak ingin tau siapa namamu! Apa dia bilang tadi? Akrab? Jangan harap aku mau akrab denganmu. Bukan hanya karena kita seumuran lantas bisa membuat kita menjadi akrab. Aku tidak mau berurusan dengan orang-orang tak penting terutama gadis konyol berpikiran sederhana sepertimu,” batin Blue sinis.
Setelah Hope berhenti mengoceh, Blue akhirnya membuka mulutnya untuk bertanya, “Apa kau sudah selesai bicara?” sindir Blue secara halus. Gadis ini tidak akan berhenti bicara jika ia tidak menyindirnya.
Hope menaikkan satu alisnya. Gadis itu nampak tak mengerti dengan maksud dari pertanyaan Blue kepadanya. “Sudah,” jawabnya seadanya.
“Kalau sudah… pergilah. Kau tahu jalan pulang, bukan?” usir Blue. Tanpa menunggu jawaban Hope, Blue segera menutup pintu rumahnya rapat-rapat tepat di depan wajah Hope.
Blue melangkahkan kakinya menjauh dari arah pintu depan rumahnya. Samar-samar ia mendengar suara Hope yang menyuruhnya memakan pie yang ia letakkan di depan pintu rumahnya. Tunggu! Bukankah gadis itu tadi berkata bahwa ia adalah cucu dari Samuel Miller? Blue melangkahkan kakinya kembali menuju pintu, untuk memastikan bahwa Hope adalah cucu dari Kakek Sam.
Blue membuka pintu rumahnya. Ia menundukkan kepalanya ke bawah. Menatap seloyang pie di lantai. Pandangannya lalu ia lemparkan ke arah Hope yang nampak sudah menaiki anak tangga kembali untuk mendekat ke arahnya.
“Kau bilang tadi, kau cucu dari Kakek Sam?” tanya Blue kepada Hope. Ia hanya ingin memastikan.
“Ya!” jawab Hope yang terlihat sangat antusias.
“Pantas saja,” gumam Blue sekilas. “Kalian sama menganggunya,” imbuh Blue dalam hati. "Apa setelah lelah menganggunya, Kakek Sam sekarang berniat melibatkan cucunya untuk membantunya mengangguku?”
Hope nampak tak mendengar apa yang digumamkan oleh Blue. “Apa kau bilang?” tanya Hope sambil berjalan semakin mendekat.
“Bawa pulang makananmu. Dan katakan kepada kakekmu untuk berhenti mengusik dan mengurusi hidupku. Aku tidak butuh makanan dari kalian.” Blue menatap sinis ke arah pie di lantai. “Apakah aku harus bertindak sejauh ini agar mereka berhenti mengusikku?” Blue kemudian menendangnya pie di bawah kakinya hingga menyebabkan pie tersebut terlempar menjauh dari depan pintu. Sekali lagi, ia menutup pintu rapat-rapat di depan wajah Hope tanpa menunggu gadis itu berbicara kembali kepadanya.
Dari dalam rumah, samar-samar Blue mendengar suara Hope yang terus mengomel di depan rumahnya. Blue tidak peduli, yang penting gadis itu dan kakeknya berhenti mengusik hidupnya. Ia tidak ingin sebelum ia mati, ia harus merasakan rasa sakit hati lagi. Setidaknya dengan tidak berinteraksi dengan siapapun membuatnya terhindar dari rasa sakit yang disebabkan oleh manusia-manusia yang pada akhirnya hanya menebarkan rasa kecewa kepadanya.Blue menghentikan langkahnya di depan sebuah kalender yang terpasang di dinding rumahnya. matanya mengamati lingkaran merah yang ia tambahkan sebagai pengingat hari kematiannya. Hanya tersisa sembilan puluh tujuh hari lagi sebelum ia terbang ke Swiss dan melakukan euthanasia¹ untuk mengakhiri kehidupannya yang menyedihkan ini.
.
.
.
.
.
.
Note\= 1. Euthanasia adalah tindakan mengakhiri hidup seseorang secara sengaja untuk menghilangkan penderitaannya. Euthanasia dapat dilakukan pada kasus tertentu, misalnya pada penderita penyakit mematikan yang tidak dapat disembuhkan atau pada pasien yang merasa kesakitan dan kondisi medisnya tidak bisa lagi diobati. Permintaan untuk euthanasia bisa dilakukan oleh pasien sendiri atau keluarga pasien (Sumber: Alo Dokter). Negara Swiss merupakan salah satu negara yang melegalkan praktek euthanasia. Swiss mengizinkan euthanasia yang dibantu dokter tanpa persyaratan usia minimum, diagnosis, atau keadaan gejala (Sumber: Kompas.com).
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments
☠ᵏᵋᶜᶟ༄༅⃟𝐐𝐌ɪ𝐌ɪ🧡ɪᴍᴏᴇᴛᴛ𝐀⃝🥀
HIV belum ada obatnya kah
2022-02-09
1
Cara Ostrander
baca sampai bab 3, sejauh ini alur cerita dan penulisannya bagus. tak ketemu typo.
lanjuttttt!
2021-12-31
2
Evitha Junaedy
othor kereeen
2021-12-09
2