Matahari siang ini begitu meluap-luap, seolah tengah berada di titik paling bersemangat dalam sebulan terakhir. Nanda berlari kecil dari arah kantornya. Terburu-buru karena Rio dan Niko sudah menunggunya di warung Bu Yuni hampir dua puluh menit.
"Sori, mba Mona minta aku selesaikan ngeprint dua akta pengikatan dulu, mau dia bawa habis istirahat siang ini"
Kata Nanda dengan nafas terengah-engah. Rio menepuk kursi di dekatnya untuk menyuruh Nanda duduk. Sementara Niko hanya tersenyum santai saja.
Warung Bu Yuni seperti hari biasanya selalu ramai pengunjung. Hampir setengah karyawan di perkantoran kawasan itu sepertinya makan siang di warung Bu Yuni.
"Udah aku pesenin dengan menu yang sama dengan kita."
Kata Rio begitu Nanda duduk di sebelahnya, di atas meja terhidang paket nasi, ayam goreng dengan sambal lalabannya dan satu mangkuk kecil sop iga sapi.
"Banyak banget, aku kan lagi hemat." Lirih Nanda membuat Rio dan Niko tertawa.
"Jangan dipikir, jangan dipikir, nanti kamu tambah kecil." Rio menepuk bahu Nanda.
"Ah minum dulu... minum..." Rio juga menyodorkan segelas es jeruk yang sudah ia pesankan juga untuk Nanda.
"Kita udah selesai makan, kamu makan dulu aja, aku udah denger dari Rio garis besarnya, nanti kita obrolin, masih ada waktu setengah jam sampai jam istirahat selesai." Ujar Niko.
Nanda yang sejatinya memang sangat lapar karena pagi tadi belum sarapan, akhirnya memutuskan untuk tidak malu-malu lagi, ia menikmati makan siangnya dengan lahap, sementara Rio dan Niko bicara soal keadaan cewek Rio di Rumah Sakit sambil menghabiskan rokok mereka.
**----------**
Sepuluh menit berlalu, Nanda akhirnya menyelesaikan makan siangnya. Ini makan siang paling nikmat buat Nanda.
SOP Iga Sapi di warung Bu Yuni ternyata memang sangat lezat, pantas sejak bolak balik makan di warung itu, banyak orang yang pesan. Sayang harganya cukup lumayan, kalau Nanda harus pesan sendiri terlalu sering, Nanda akan kehabisan uang sebelum tanggal gajian.
"Udah tamat?" Tanya Rio ke arah Nanda yang sedang menyeruput es jeruknya, ritual akhir setelah menghabiskan santapannya
Nanda tampak mengangguk, lalu tersenyum malu karena piringnya bersih sempurna.
"Nan, tadi malam kok kamu ngga nanyain langsung saja ke aku?" Tanya Niko sambil mematikan sisa rokoknya di asbak.
"Tadi Niko kaget pas aku nyebut nama kamu, ternyata kalian udah kenal?"
"Kemarin ngga sengaja aku ketemu Niko di jalan, pas mau nolong anak kucing." Nanda menjelaskan.
"Aku semalam juga bener-bener ngga inget kalo Niko yang udah Rio ceritain pernah satu komplek sama Bu Ratna. Lagipula semalam aku baru kenal banget, ngga enak juga misal langsung tanya ini itu. Tadi pagi baru kepikiran mau nanya tapi keadaannya ngga memungkinkan, Niko bawa motornya aja udah ngeri banget." Ujar Nanda jujur, membuat Niko tertawa.
"Jadi kamu takut, pantes kamu pucat banget pas turun dari boncengan tadi pagi."
Niko terus tertawa.
"Dia hobi balap Nan, makanya dia pindah ke Bogor biar bisa deket sirkuit.. Maklum." Kata Rio, Nanda nyengir mendengarnya.
"Oke... kita serius nih. Gini Nan, kalo yang kamu cari itu bener Bu Ratna yang aku kenal, mungkin aku juga bisa ikut bantu."
Niko kemudian menyerahkan kartu nama Bu Ratna yang sudah cukup kusam karena sudah lebih dari sebelas tahun, kartu nama itu yang beberapa hari lalu Nanda berikan pada Rio untuk mencarikan alamat Bu Ratna untuknya.
Nanda menerima kartu nama itu dari tangan Niko, nama Ratna Kusumarini Widjaya dengan alamat kantornya saja yang tertera disana. Sementara dua nomor hp yang ada disana sudah tidak bisa dihubungi lebih dari satu tahun lalu.
"Tapi aku udah pindah ke Bogor tujuh tahun lebih sejak Papa meninggal. Mama memutuskan jual rumah kami di Menteng dan pindah rumah ke Bogor, jadi aku ngga tau banyak soal Bu Ratna sekarang, apa beliau masih tinggal dirumah lamanya atau enggak."
"Dulu kami satu SMA, pas Niko masih tinggal di Menteng. Jadi pas aku ke alamat kantor Bu Ratna, ternyata bener tuh kantor itu udah lama tutup, jadi mereka dulunya sewa gitu. Aku cari info kesana kemari, akhirnya nemu alamat kantor baru mereka, ternyata udah ganti pemilik katanya. Trus karena pegawainya orang baru semua jadi pada ngga tau soal Bu Ratna. Tapi untungnya ada satu tuh Office Boy yang bilang Bu Ratna tinggal di Menteng, dia dulu ikut sejak di kantor lama, jadi aku langsung kepikir Niko, dia kan anak Menteng, dan ternyata bener dia kenal " Kata Rio panjang lebar
"Oooh" Nanda mantuk-mantuk.
"Kalau mau, besok saja weekend aku anter ke rumah Bu Ratna, kalau dia masih tinggal disana, mungkin dia masih inget aku, dia cukup kenal baik kok sama Mama." Ujar Niko pula.
"Nah cocok itu." Rio menyambut senang.
"Gimana?" Tanya Niko pada Nanda.
"Yah, baiklah." Nanda mengangguk setuju.
Jelas, Nanda tidak punya alasan untuk menolak, ini kesempatan yang terlalu bagus. Sudah hampir dua bulan, dia tidak tahu harus mencari alamat rumah Bu Ratna dimana.
Dia pernah ke kantor lama Bu Ratna juga, tapi dia tidak bisa menemukan apapun selain memang kantor itu sudah tutup.
Sebagai pendatang dari daerah, Nanda tidak cukup berani untuk mengeksplor Jakarta seorang diri. Langkahnya seolah buntu sejak itu. Sementara Selli sepertinya hanya basa basi saja mengatakan akan membantu. Ia terlalu sibuk dengan urusannya sendiri.
Yah, mungkin ini sudah jadi jalan dari Tuhan, memberikan kemudahan untuk Nanda menemukan Bu Ratna lewat Rio dan Niko.
"Nek, sebentar lagi Nanda akan ketemu Bu Ratna, tunggu yah Nek."
Batin Nanda penuh syukur.
**---------**
Hari yang panjang itu akhirnya berlalu. Langit diluar sana sudah mulai menurunkan layarnya. Cahaya matahari sudah meredup layaknya lampu-lampu panggung sandiwara yang hampir segera usai.
Nanda menggeliatkan tubuhnya. Rasa lelah mulai menjalar. Diliriknya jam dinding kantor yang sudah mulai mendekati pukul enam petang.
Suasana kantor kini sudah benar-benar sepi. Teman-temannya sudah pulang sejak pukul empat sore tadi, dan hanya Nanda yang tersisa sekarang.
"Nan, kamu selesain nih dua akta yayasan."
Mona meletakkan dua map berkas milik yayasan diatas meja Nanda yang baru bersiap untuk pulang sore tadi.
"Sekarang?" Tanya Nanda bingung menatap Mona.
"Iya dong sekarang, kamu ambil lembur kek, tulis saja tuh di dinding, nanti Bu Dewi akan lihat, bagus kan kalau sering lembur bisa diangkat pegawai tetap." Kata Mona.
Nanda mengambil salah satu map berkas milik yayasan di atas mejanya.
"Pelajari dulu yang bener, jangan sampai salah ketik nama pengurus dan lain-lain. Jangan diprint dulu, biar besok aku koreksi. Dua-duanya harus selesai ya." Mona tersenyum, tapi senyuman mengintimidasi.
"Aku juga nitip satu berkas, cuma perjanjian kerjasama Apoteker. Jangan diprint juga, aku koreksi dulu, ntar salah buang-buang kertas."
Bela menambahkan daftar tugas lemburan Nanda.
"Hhh... Cewek kalo udah mulai cemburu, selalu bakat nenek sihirnya pada muncul." Sindir Bang Radit dari tempatnya sambil bersiap pulang.
"Apaan sih Bang, cemburu apanya, kita justru baik sama Nanda biar dia bisa diangkat jadi pegawai tetap dengan ngerjain ini itu dan ambil jam lembur." Mona berdalih.
"Iya, lagian dengan begini dia jadi bisa sekalian belajar ngerjain kerjaan selain mengurutkan nomor legalisasi dan waarmerking." Ujar Bela pula.
"Yah... yah... yah... terserah kalianlah... aku pulang." Bang Radit menenteng helmnya dan berlalu.
"Kerjain yang bener." Kata Mona lalu setelah itu menyusul keluar kantor bersama Bela, meninggalkan Nanda untuk mengerjakan seabrek tugas seorang diri hingga akhirnya terjebak di sana sampai pukul enam petang.
Rio sendiri tadi hanya tidak kurang dari dua jam di kantor. Sepertinya dia hanya menyelesaikan beberapa pekerjaan saja, lalu setelah itu ijin lagi untuk kembali ke Rumah Sakit.
Setelah Nanda memindahkan file yayasan ke flashdisk milik Mona dan akta perjanjian ke flashdisk milik Bela, Nandapun bersiap pulang.
Nanda mematikan lampu seluruh ruang di kantor, dari ruangan Bu Dewi, ruang staf, toilet dan pantri. Hanya lampu depan kantor saja yang dibiarkan tetap menyala.
Gerimis turun rintik-rintik saat Nanda keluar dari kantor. Dikuncinya pintu kantor lalu Nanda berlari kecil menuju halte yang tak jauh dari kawasan perkantoran.
Harapannya ada metromini menuju pasar Minggu yang segera lewat, ia takut pulang kemalaman.
"Nanti kalau di Jakarta hati-hati, jaga diri, jaga harga diri, jaga nama baik keluarga."
Nasehat Nenek selalu terngiang di telinga Nanda menjelang hari keberangkatannya.
"Jaman sudah berganti, perilaku manusia sudah banyak berubah. Tapi kita tidak usah ikut-ikut."
"Enggih Nek." Nanda mengangguk.
"Cah ayu, sabar ya, hidupmu iki berat bukan karena Tuhan nda sayang, tapi sebaliknya, kasih sayang Tuhan itu kadang justeru lewat hal yang kelihatan berat buat manusia."
Nanda menatap jalanan yang dipenuhi kendaraan berlalu lalang. Sebuah metromini mendekat, Nandapun segera bersiap.
**-------------**
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
Lisa Aulia
ada apa dng Bu Ratna sebenar nya....masih bingung aku....
2021-11-20
0
♡♕ᶜᶠ •Rfka Stvny• 🐧☮✡࿐
Yeaaay mawar meracunnnya aku buang disini aja kak. semangatt nandaa!!
2021-06-10
2
Titik pujiningdyah
like kak
2021-05-28
2