Pesona Antagonis Novel
Asha, seorang gadis SMA yang gemar membaca, tanpa sengaja menemukan sebuah novel romantis bergenre dark yang langsung menarik perhatiannya. Awalnya hanya iseng, ia mulai membaca kisah kelam penuh obsesi, cinta yang beracun, dan tokoh antagonis yang kejam namun memikat. Tanpa sadar, ia terbawa suasana hingga larut malam.
Namun saat ia terbangun, dunia di sekelilingnya terasa asing.
Asha terkejut ketika menyadari bahwa dirinya bukan lagi berada di dunianya sendiri, melainkan masuk ke dalam novel yang semalam ia baca. Lebih buruk lagi, ia bukan tokoh utama yang memiliki perlindungan plot, juga bukan antagonis yang berkuasa melainkan hanya seorang figuran.
Seorang figuran yang dalam cerita aslinya dikenal karena satu hal: tergila-gila pada sang antagonis.
Dan yang paling mengerikan, Asha tahu persis bagaimana akhir dari karakter itu nasib paling mengenaskan yang bahkan tak layak disebut sebagai akhir bahagia.
Dijodohkan, Malah Dimanja Tuan Muda
**Naila Kinanti Prasetya** baru delapan belas tahun ketika kedua orang tuanya terbang ke Amerika demi bisnis, lalu menitipkannya di rumah keluarga **Adiwangsa** — keluarga konglomerat yang sudah menjodohkannya dengan putra mereka sejak Naila masih kecil.
Tapi sebelum mereka sempat bertemu, sang tuan muda, **Radhika Arya Adiwangsa**, lebih dulu mengirim tiga aturan lewat WhatsApp:
> 1. Perjodohan ini tidak aku akui.
> 2. Jangan naik ke lantai tiga.
> 3. Jangan dekat-dekat aku.
Naila cuma membalas satu kata: *"oke."*
Enam tahun lebih tua, dingin, dan menyebalkan — Naila pikir "Mas" yang satu ini benar-benar membencinya. Sampai ia sadar: pria yang katanya cuma menganggapnya adik itu diam-diam menanam empat pohon lemon di balkon khusus untuknya, menyimpan diam-diam setiap fotonya sejak kecil, dan menghajar siapa pun yang berani menyakitinya.
*"Katanya jaga jarak,"* Naila mengadu, matanya berkaca-kaca. *"Katanya aku cuma adik…"*
Radhika menyudutkannya ke daun pintu, suaranya rendah dan berbahaya. *"Lari kenapa? Emang Mas bakal makan kamu?"*
…tapi malam itu, Mas ingkar janji.
Kebangkitan Istri
“Kak Miranda dipanggil Bapak.”
“Aku sedang mencuci piring,” jawab Miranda pelan.
“Kata Bapak nanti saja cuci piringnya,” ucap Lusi lagi.
Miranda menghentikan mencuci piring, mencuci tangan lalu melangkah ke ruang tengah.
Tampak di ruang tengah Raka duduk berdampingan dengan seorang perempuan itu.
“Duduklah, Miranda,” ucap Pak Budi dengan wajah serius.
Miranda duduk dengan patuh di kursi paling ujung.
Pak Budi tampak menghela napas panjang lalu berkata perlahan,
“Miranda, ini adalah Lina, dia calon istri Raka.”
Deg, jantung Miranda terasa tertusuk. Semua tenaganya seperti runtuh seketika.
Bangun dari jam tiga malam, bekerja tanpa istirahat, menyiapkan banyak makanan.
Semua itu hanya untuk menyambut calon istri dari suaminya sendiri.
Di Balik Diam yang Melukai
Langkahku terhenti di depan gerbang besi bercat hijau tua yang mulai mengelupas. SMA Negeri 1—sekolah yang sepuluh tahun lalu menyaksikan betapa lugunya aku merajut mimpi, kini menyambutku kembali seb
0
2
Di Bawah Kabut Cikulul
Langit Pangalengan selalu punya cara untuk menyimpan duka. Kebun teh Cikulul yang membentang hijau kerap kali diselimuti kabut tebal saban sore, menyembunyikan ujung jemari siapa pun yang mencoba sali
0
1
Bestie, Staycation Kita Seru Banget!
Malam itu, gerimis membungkus Dusun Bandan Waru dengan kabut tebal yang berbau minyak tanah dan bunga kantil busuk. Di sebuah rumah panggung kayu jati yang lapuk—rumah milik Mbah Kerto, dukun tertua y
0
1
Goresan Luka Di Atas Kanvas Suci
Lampu gantung di atas meja makan memancarkan cahaya kekuningan yang lembut, menimpa dua mangkuk sup ayam yang asapnya perlahan menipis. Di kursi kayu berukir itu, Rani duduk memeluk lututnya sendiri,
0
1