Malam itu, gerimis membungkus Dusun Bandan Waru dengan kabut tebal yang berbau minyak tanah dan bunga kantil busuk. Di sebuah rumah panggung kayu jati yang lapuk—rumah milik Mbah Kerto, dukun tertua yang tubuhnya sudah membungkuk sembilan puluh derajat—suasana terasa mencekam. Di tengah ruangan, terikat pada empat tiang jati, duduk seorang gadis belia berusia tujuh belas tahun bernama Maya.
Maya adalah generasi Z sejati. Ia mengenakan kaus oversized hitam, rambut dipotong wolf cut acak-acakan, dan tindik perak menghiasi hidungnya. Matanya yang tajam dan berani memancarkan kebencian murni pada tradisi desa yang dianggapnya gila. Di depannya, melingkar di atas lantai tanah yang dingin, terbentang Janur Ireng—daun kelapa berwarna hitam legam seperti arang, yang konon tumbuh dari pohon kelapa yang tersambar petir di atas kuburan massal korban pembantaian tahun 1965.
Di desa itu, Janur Ireng adalah simbol kutukan puncak. Siapa pun yang dililit Janur Ireng dipercayai sebagai wadah pesugihan tumbal darah yang akan diserahkan kepada Mbah Ratu, entitas penguasa rawa mistis.
"Kalian semua gila! Ini zaman modern, Bangsat!" teriak Maya dengan nada tinggi, ludahnya menyembur ke arah Mbah Kerto. "Gue cuma staycation sama temen-temen gue di vila atas! Kenapa gue yang kalian seret ke sini, hah?!"
Di sudut ruangan, tiga remaja Gen Z lainnya—Aris, Raka, dan Vanya—terikat pada kursi kayu dengan mulut dibekap kain hitam. Mata mereka membelalak ketakutan. Kamera ponsel mereka yang masih menyala tergeletak di tanah, memancarkan cahaya biru redup yang merekam seluruh mimpi buruk itu.
Mbah Kerto menyalakan kemenyan. Asap putih tebal membumbung tinggi, menguar bau daging busuk yang membakar tenggorokan.
"Janur Ireng ora pernah salah milih darah," bisik Mbah Kerto dengan suara parau yang terdengar seperti gesekan batu kuburan. "Pohon Janur Ireng cuma berbuah kalau ada jiwa yang sengaja mengundang kematian. Salah satu dari kalian... sudah menjual tiga sisanya demi harta tanpa batas."
Ruangan itu seketika hening. Hanya ada suara gesekan angin yang meniup daun jati di luar.
Maya tertawa keras, tawa sarkastik yang bergema dingin. "Harta? Duit?! Hati-hati, Mbah! Otak lo udah karatan! Kita ini anak-anak kaya! Ayah gue punya saham di mana-mana! Buat apa gue atau temen-temen gue mainan tumbal kampung kayak gini?!"
Mbah Kerto tak menghiraukan cemoohan Maya. Ia mengambil sebilah keris kecil dengan ukiran ular berkepala manusia. Dengan gerakan cepat dan tanpa belas kasihan, Mbah Kerto menggores paha Maya. Darah segar berwarna merah pekat memancarkan aroma manis yang tidak wajar.
Maya menjerit histeris. Jeritannya membelah malam, begitu memilukan. Darah itu menetes tepat di atas Janur Ireng. Seketika, daun kelapa hitam yang tadinya mati itu bergetar. Serat-serat Janur Ireng perlahan bergerak hidup seperti ratusan cacing pita yang kelaparan, merayap mendekati luka di paha Maya, lalu menyerap darahnya hingga warna daun itu berubah menjadi merah kehitaman yang berkilat.
"Lihat..." gumam Mbah Kerto, matanya yang memutih menatap ke langit-langit. "Janur Ireng sudah mengenali darah sang dalang."
Di saat yang sama, ikatan tali pada tubuh Maya mendadak putus begitu saja.
Maya berdiri pelan. Jeritan kesakitannya yang tadi memekik telinga mendadak berhenti total. Wajahnya yang semula tampak seperti korban yang teraniaya perlahan berubah. Sudut bibirnya terangkat, membentuk senyuman miring yang begitu mencekam dan mengerikan. Tidak ada lagi raut ketakutan. Yang ada hanya tatapan dingin, kosong, dan sangat kejam.
Aris dan Raka di sudut ruangan meronta-ronta ketakutan, menyadari ada yang salah.
Maya berjalan santai mendekati Aris. Ia mencabut kain bekap dari mulut Aris.
"May... tolongin gue, May! Dukun tua ini gila!" jerit Aris gemetar hebat.
Maya membungkuk, berbisik tepat di telinga Aris dengan suara yang sangat tenang—suara datar khas anak muda yang sedang membicarakan hal biasa, namun kata-katanya mengalirkan es ke dalam darah Aris.
"Lo tahu gak, Ris? Konten TikTok kita yang kemaren views-nya cuma sepuluh ribu," kata Maya sambil membelai pipi Aris dengan jemarinya yang berdarah. "Tapi video snuff ritual penumbalan real-time yang lagi dialirkan dari HP gue di tanah itu... sekarang lagi live di dark web. Viewer-nya udah tiga juta orang. Dan taruhannya? Duit kripto ratusan miliar."
Aris melotot. "L-lu... lu yang ngerencanain ini?!"
PLOT TWIST SANGAT KEJAM DAN SADIS
Maya tidak ditangkap oleh warga desa. Mayalah yang membayar Mbah Kerto dan seluruh warga desa Dusun Bandan Waru untuk menggelar ritual Janur Ireng.
Maya adalah pemilik sejati dari kutukan Janur Ireng. Bagi generasi tua, pesugihan adalah tentang menyembah makhluk halus demi sawah dan emas. Namun bagi Maya—seorang remaja nihilistik yang bosan dengan kekayaan orang tuanya dan haus akan sensasi ekstrem—pesugihan adalah transaksi bisnis paling murni: mengorbankan teman-teman terdekatnya demi konten pembunuhan paling otentik di dunia gelap internet, sekaligus menyerap aura keabadian dari Mbah Ratu.
"Mbah Kerto ini cuma aktor, Ris," kekeh Maya manis, suara tawanya bikin bulu kuduk berdiri. "Dan Janur Ireng? Ini bukan daun mistis biasa. Ini parasit purba yang cuma mau makan darah orang-orang yang merasa dirinya paling tidak bersalah."
Maya mengambil keris dari tangan Mbah Kerto. Tanpa ragu, dengan gerakan yang amat cepat dan sadis, Maya menancapkan keris itu tepat ke tenggorokan Aris.
CRACK!
Suara remukan tulang leher dan semburan darah kental mengaliri lantai tanah. Aris kejang-kejang hebat, matanya membelalak menatap Maya sebelum akhirnya terkulai kaku.
Vanya meronta histeris di sampingnya, air mata dan keringat bercampur di wajahnya yang pucat pasi. Maya melangkah mendekati Vanya, menyeret Janur Ireng yang kini menjalar hidup mengikuti setiap langkah kakinya seperti kawanan ular hitam.
Janur Ireng itu merayap naik ke tubuh Vanya, masuk melalui mulut dan hidungnya secara paksa, menyumbat pernapasan Vanya hingga gadis itu tewas dalam penderitaan yang amat lambat dan mengerikan. Bunyi remukan iga dan sedotan darah bergema pekat di dalam rumah kayu itu.
Setelah Raka, Aris, dan Vanya tewas mengenaskan dalam genangan darah mereka sendiri, Maya berdiri di tengah ruangan. Rambutnya kini bersimbah darah. Janur Ireng merayap naik, melilit tubuh Maya, menyatu dengan kulitnya, membentuk pola tato hitam permanen yang berkilau mistis.
Mbah Kerto berlutut di depan Maya, menundukkan kepalanya dalam-dalam ke tanah. "Gusti Ratu... janur telah meresap sempurna. Keabadian milikmu."
Maya mengambil ponselnya dari tanah. Ia menatap layar yang menunjukkan angka transferan kripto masuk beruntun tanpa henti, serta jutaan komentar histeris penonton yang terpukau oleh pertunjukan pembunuhan paling sadis tahun ini.
Maya menyapu darah dari bibirnya dengan punggung tangan, lalu tersenyum manis ke arah kamera ponselnya.
"Gays, live stream malam ini selesai ya," bisik Maya dingin ke kamera. "Sampai ketemu di staycation berikutnya. Jangan lupa subscribe... atau kalian yang bakal jadi tumbal gue selanjutnya."