Follow Ige author : Shalsyala
Zahrani Alya Putri.
Bukan siapa siapa yang bersalah dalam kisah ini
Daun yang jatuh pun tak pernah menyalahkan laju angin
Seperti aku,
Seperti kisahku,
Bukan aku, kamu ataupun dia
Tak ada siapapun yang harus tersudut dengan kata "Salah"
Hanya takdir yang membawa kita sampai pada titik ini.
Reno Akbar Pratama. "Selamanya tak akan ada wanita lain selain Alya dihatiku."
Romansa penuh cinta antara dua anak manusia yang harus diuji oleh berbedaan kasta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shalsyalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. OB bukan?
Akbar dan Alya tengah duduk di kursi teras rumah. Berbincang sedikit mengenai Akbar yang ternyata Anak bu Tari.
"Jadi bapak udah tau kalau saya anak bu Heni, temennya tante Tari? "..tanya Alya dengan canggung membuka obrolan. Akbar hanya mengangguk.
"Sebelum ini aku sering nganterin mama ke rumah kamu, baru tau kemaren kemaren kalau kamu anaknya Tante Heni",, ujar Akbar.
Mereka mengobrol diteras depan cukup lama kemudian Bu Tari dan Nana diantar bu Heni keluar untuk berpamitan karena sudah malam. Akbar juga berpamitan pada bu Heni mencium punggung tangan wanita itu, kemudian beralih berpamitan pada Alya.
"Al.. aku pamit dulu ya,, sampai ketemu besok di kantor!,, Akbar mengulurkan tangannya dan disambut oleh Alya.
Alya terlihat begitu canggung setelah tau Akbar anak bu Tari. Alya juga tidak mengerti dengan dirinya sendiri kenapa tiba tiba menjadi secanggung ini
Dari dalam mobil bu Tari memanggil Alya hendak turun tapi Alya mendahului menghampiri.
"Iya tante ada apa? Apa ada yang ketinggalan? " tanya Alya.
Bu Tari tersenyum dan segera menyentuh pipi Alya dengan penuh kasih sayang.
"Enggak ada yang ketinggalan, tante cuma lupa mau ngucapin makasih,,ujar bu Tari.
"Makasih untuk apa tante? "
"Makasih udah buat anak tante sering tersenyum akhir akhir ini.. Makasih ya sayang " ucap bu Tari melirik ke arah Akbar.
Akbar berdehem canggung kenapa ibunya harus bicara seperti itu pada Alya, tapi memang kenyataannya seperti itu semenjak mengenal Alya, ia kadi sering tersenyum.
"Alya enggak nglakuin apa apa ke pak Akbar tante",, jawab Alya bingung dengan menatap ke arah Akbar berfikir ia melakukan apa sampai bikin Akbar banyak senyum.
"Tante mengerti,, ya sudah kalau begitu tante pulang ya"..pamit bu Tari kembali. Dan Alya mengangguk.
"Kak,, jangan ngeliatin kak Alya muluu,, ntar diabetes lho",, sahut Nana yang melihat kakaknya tidak berhenti menatap Alya.
Kalimat Nana dari kursi belakang membuat Akbar sedikit salah tingkah yang memang dari tadi ia tengah memandang Alya berbicara dengan ibunya.
"Apaan siih Na?,, ucap Akbar seraya menghidupkan mesin mobil.
"Kak Alya manisnya kebangetan, kalau diliatin terus bisa diabetes.. Kak Akbar mau kena diabetes?" tanya Nana meledek dan membuat Bu Tari tertawa mendengarnya. Alya dan Akbar menjadi salah tingkah sendiri membuat rona merah dipipi keduanya. Kemudian Bu Tari benar benar berpamitan pada Alya.
Mobil pun melaju meninggalkan rumah Alya.
Di dalam kamar Alya merebahkan tubuhnya, bersiap siap hendak tidur. Hampir saja masuk ke alam mimpinya, Alya terbangun oleh suara ponselnya. Ia mengambil ponselnya. Sebuah pesan masuk dari nomor baru.
"Al..??? kamu udah tidur?
Alya hanya membaca pesan itu dan tidak membalasnya. Ia sudah tidak bisa menahan rasa kantuknya. Ia tertidur dengan ponsel yang masih ada di gengamannya.
Di kamarnya Akbar menggegam erat ponselnya sesekali melihat layar ponselnya. Ia merasa gelisah menunggu pesan jawaban dari Alya. Ia mencoba mememejamkan mata, yang terlintas di pikirannya hanya Alya.
Tak lama ia pun tertidur.
***
Pagi ini langit sangat cerah matahari juga tidak malu malu untuk menampakkan dirinya. Berbeda dengan hari hari biasanya yang selalu mendung di pagi hari.
Alya berlari kecil memasuki kantor menuju ruangan staff yang menaungi divisinya. Alya membawa tumpukan map berisi laporan kerjanya selama seminggu ini. Kinerjanya sebagai admin produksi sejauh ini menunjukkan perkembangan yang bagus, atasannya selalu puas dengan kerja Alya, tidak hanya pujian yang Alya terima melainkan juga tambahan tugas tugas lain yang kadang membuat ia kewalahan namun tetap sanggup ia selesaikan.
Setelah menuju ke ruang atasannya ia menuju mesin fotocopy yang terletak disudut ruangan itu, ia tengah sibuk memfoto copy kertas kertas di tangannya. Disela sela kegiatannya ia melihat Akbar dengan tampannya berjalan dengan beberapa staff penting perusahaan ini. Seketika jantungnya berdegup kencang. Akhir akhir ini ia selalu merasa aneh pada dirinya sendiri setiap melihat Akbar ia merasa gugup berdebar debar. Padahal awal ketemu perasannya biasa saja.
Alya mengerjap menggeleng gelengkan kepalanya pelan mengusir pikirannya yang sudah kemana mana. Kemudian ia beranjak kembali ke area kerjanya.
"Shin..!! lo tau gak bagian apa dikantor ini yang kerjaannya cuma bantu bantu staff lain kayak bantu bantu foto copy?? ",,tanya Alya pada Shinta yang tengah sibuk menulis laporan pekerjaannya.
Alya masih kepikiran dengan apa yang dilihatnya tadi. Ia melihat Akbar berjalan dengan Bu Monica selaku orang penting di perusahaan ini dan manager produksinya yang kala itu seperti sedang membahas pekerjaan. Ia berfikir masa iya bagian bantu bantu aja kok bisa diskusi sama petinggi perusahaan pikir Alya.
"Tau gue..? jawab Shinta yang masih sibuk mencoret coret kertas dihadapannya.
"Bagian apa Shin? ",, tanya Alya kembali.
"Bagian OB, didalem kantor sana ada beberapa OB yang bantuin staff lain buat foto copy,, mindahin tumpukan berkas ke gudang yah bantu bantu lah namaya juga OB",, jelas Shinta kemudian menatap wajah Alya yang termenung dengan pandangan kosong.
"Kenapa sih Al? lo ada kenalan OB disini? tanya Shinta.
Alya menggeleng hendak menceritakan apa yang ada dipikirannya tapi ia urungkan. Sebenernya Akbar ada dibagian apa di perusahaan ini?? Alya masih sibuk dengan pikirannya dengan tangan sembari menata tumpukan kertas didepannya.