~Bahkan, goresan peluru sekalipun tak pernah sesakit ini...
Pandu tak pernah menyangka akan terjebak dalam permainan seorang wanita licik penuh rahasia bernama Celine.
Terikat dalam pernikahan bersama wanita itu tak pernah memberikan bahagia untuk Pandu. Hingga lama kelamaan, perlahan kebencian itu mulai menghilang dan menghadirkan rasa yang asing di hati Pandu.
Namun, ketika Pandu memutuskan untuk mengutarakan isi hatinya, Celine malah berpamitan pergi. Tidak hanya dari rumah Pandu tetapi juga dari kehidupan lelaki itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bali dan dirinya
Malas. Celine hanya memandangi koper kecil yang belum terisi apa-apa di atas tempat tidurnya. Ia tidak ingin ke mana-mana jika tanpa Bima. Ia terlalu takut jika anak buah Madam Chu akan benar-benar membawa ia kembali ke tempat wanita jahat itu. Apalagi, ia hanya akan berangkat bersama Pandu. Lelaki yang sudah hampir beberapa kali melenyapkan nyawa Celine. Tidak menutup kemungkinan Pandu hanya akan membiarkan Celine sendirian karena terlalu membenci Celine.
Di tengah keputusasaan, Celine tiba-tiba teringat akan kata-kata tegas dari Bima tempo hari.
Pergi ke Bali atau tinggalkan kantor ini selamanya.
Hanya dua pilihan itu yang Celine miliki. Tentu, resiko pertama jauh lebih kecil di banding yang kedua bukan? Ya, lebih baik ke Bali bersama Pandu daripada harus resign dari kantor Bima. Bisa jadi, ia juga akan di minta resign dari hidup Pandu jika Bima merasa tidak senang dengan keputusan yang Celine ambil. Hiihhh... Memikirkannya saja, sudah membuat bulu kuduk Celine berdiri.
Ketukan di luar pintu kamar membuat lamunan Celine terjeda. Ia dengan cepat menghampiri pintu, membukanya dengan sedikit pelan.
Sebuah kotak makanan terulur tiba-tiba di hadapan Celine. Gadis cantik itu tersenyum ketika menjumpai Pandu dengan wajah malu-malu memberikannya untuknya.
"Buat aku?"
"Hmm," jawab Pandu tanpa memandang wajah Celine.
"Terima kasih," ucap Celine dengan gembira.
"Gak usah Ge-er. Itu bukan dari gue. Tapi, dari Nona Ellena," ujar Pandu ketus.
Hal itu membuat Celine sedikit kecewa namun tetap merasa senang. Tak apa. Setidaknya, Pandu malam ini sepertinya tidak sedang berniat menyiksanya.
***
Singapore
Di ruangan dengan cahaya temaram, seorang pria baru saja babak belur karena di pukuli oleh anak buah Madam Chu. Sementara, wanita Medusa itu duduk dengan bersilang kaki di sofa berwarna merah sambil menghisap sebatang rokok dengan angkuhnya.
Puas memandangi pria itu kesakitan, Madam Chu meminta seseorang untuk melepaskan ikatannya. Tak berselang lama, pria itu merangkak cepat mendekat pada Madam Chu.
"Madam, apa yang terjadi? Kenapa anda menyiksa saya begini?" tanya pria itu ketakutan.
Madam Chu menghisap rokoknya sekali lagi sebelum membuangnya ke sudut ruangan. Wanita dengan lipstik merah darah itu menyeringai sambil menuang sebotol wine ke dalam gelas bertangkai tinggi miliknya.
"Putrimu baru saja membuat kekacauan yang hampir melenyapkan usahaku, Mr. Lee. Apa kau tidak tahu?" Madam Chu menyesap wine-nya dengan perlahan.
"Celine? Apa yang anak itu lakukan?" tanya pria yang di panggil Mr. Lee itu.
"Dia kabur dariku dan membuat lelaki yang sudah membelinya marah besar. Dan, kau tahu apa yang paling membuatku kesal?"
Mr. Lee tertunduk.
"Dia melarikan diri ke Indonesia dan berhasil memperoleh perlindungan dari Bima Dirgantara."
"A-apa? Mustahil Celine bisa ke sana, Madam! Apalagi, sampai bisa mendapat perlindungan dari Bima Dirgantara" geleng Mr. Lee tak percaya.
"Sayangnya, itu memang benar. Dan, berkat dia, aku mengalami kerugian besar yang harus kau ganti dengan harga yang tidak sedikit."
Kedua bola mata Mr. Lee membulat sempurna. Darimana dia akan mendapatkan uang untuk membayar kerugian Madam Chu? Uang yang ia dapatkan dari hasil menjual putrinya saja waktu itu hanya bertahan beberapa hari akibat kebiasaan buruknya yang suka main judi dan perempuan.
"Ma-Madam Chu! Saya mohon! Ampuni saya!" Mr. Lee bersujud di bawah kaki Madam Chu dengan ketakutan. Ia tak mau jika Madam Chu sampai berpikiran untuk membayar ulah Celine dengan nyawanya.
Madam Chu tertawa sinis. Harga diri lelaki yang bersujud di kakinya memang benar-benar nol.
"Ku beri waktu 6 bulan untuk menyeret putrimu kembali kepadaku, Mr. Lee. Jika kau tidak mampu melakukannya, maka nyawamu yang akan menjadi gantinya," tukas Madam Chu dengan suara rendah.
"Apa yang ingin Madam lakukan pada Celine?" tanya Mr. Lee penasaran.
Lagi-lagi Madam Chu tertawa sinis. Di sesapnya anggur yang masih berada di tangan kanannya dengan santai.
"Sejak kau menjual putrimu padaku, bukankah nasibnya bukan lagi menjadi urusanmu, Mr. Lee?"
Mr. Lee kembali menunduk. Perkataan Madam Chu benar. Seharusnya, ia tak perlu mengurus apa-apa lagi yang berkaitan dengan Celine sejak ia memutuskan menjual gadis malang itu.
"Aku hanya butuh kau membawanya kembali padaku, Mr. Lee. Karena, hanya kau satu-satunya orang yang tidak akan bisa di sentuh oleh anggota keluarga Dirgantara karena kau ayah kandung Celine," ucap Madam Chu dengan seringai puas.
Kini, Celine bukan lagi kesayangan baginya. Sejak gadis itu memutuskan kabur dan membuat bisnis Madam Chu hampir hancur, Celine telah menjadi target pelenyapan Madam Chu. Tentu bukan dengan cara mudah. Tapi, dengan cara yang akan membuat gadis nakal itu menyesal di penghujung umurnya.
"Kita lihat saja, Celine! Sampai kapan kau akan terus bersembunyi di balik cangkang Bima Dirgantara. Akan ada masanya kau keluar karena kau memang bukan bagian dari lelaki itu," imbuh Madam Chu lagi.
****
Hari keberangkatan ke Bali akhirnya tiba. Celine menggeret kopernya hati-hati keluar dari kamar. Berniat lebih dulu menuju bandara karena takut kecewa jika Pandu menolak pergi bersamanya.
"Mau kemana?" cegat lelaki yang sedang sarapan di meja makan.
Celine memang sengaja bangun memasak pagi-pagi sekali. Berpikir, bahwa mungkin saja Pandu akan memakan masakannya jika ia tidak ada di sana untuk memperhatikan. Dan, ternyata tebakannya benar. Lelaki itu benar-benar lahap memakan hasil masakan Celine. Ia bahkan tidak sadar sedang merekah kan senyum seterang mentari ke arah Pandu.
"Gue makan karena gue laper. Bukan karena doyan," kilah Pandu bersilat lidah begitu sadar Celine sedang memperhatikan dirinya yang sedang menikmati masakan wanita itu.
Celine tak menjawab. Perempuan dengan kemeja putih itu hanya terus tersenyum.
"Lo mau berangkat duluan tanpa gue?" tanya Pandu lagi.
Celine tak berkutik. Ia bingung harus menjawab apa.
"Kita berangkat bareng. Gue nggak mau wanita licik kayak Lo ngerencanain sesuatu di belakang gue."
Celine lagi-lagi tak menjawab. Hanya mengangguk penuh arti karena Pandu sepertinya mulai bersikap baik terhadapnya.
Di dalam perjalanan menuju bandara, hati Pandu sedang bergejolak hebat. Hatinya menolak keras berdekatan dengan wanita licik di sampingnya. Namun, logikanya terus mengingatkan akan pesan Bima Dirgantara tempo hari.
"Ini kesempatan baik untuk kamu menggali motif tersembunyi Celine, Pandu. Kau harus mendapatkan petunjuk meski sekecil debu tentang motif wanita itu menjebakmu. Dari sana, kita akan menentukan. Apa Celine layak bersamamu, atau akan kita buang nantinya."
Ya. Perkataan Bima benar. Dengan adanya mereka berdua saja di Bali, akan memudahkan Pandu untuk mencari tahu siapa dalang di balik kehadiran tiba-tiba Celine di hidupnya. Pandu hanya berharap, setidaknya Celine bukan bagian dari seseorang dari masa lalu Pandu. Karena jika itu benar, Celine harus membayar mahal atas apa yang telah ia perbuat saat ini.