Reiki Shield Eistein hanyalah anak SMA biasa yang pindah ke desa terpencil bersama pamannya. Hidupnya membosankan—sekolah, teman, rutinitas—sampai badai datang dan listrik di seluruh desa padam dalam sekejap. Bukan karena petir. Tapi karena Reiki. Tanpa sadar, ia menyerap energi listrik seluruh desa, dan matanya bersinar biru untuk pertama kalinya.
Di tengah kekacauan itu, ia bertemu Hime Hafitis—gadis misterius dengan perangkat canggih yang tiba-tiba muncul di desa dan menyewanya sebagai pemandu lokal. Hime membayar mahal, tapi tidak pernah menjelaskan apa yang sebenarnya ia cari. Semakin lama mereka bersama, semakin jelas bahwa pertemuan mereka bukanlah kebetulan. Dan semakin kuat kekuatan Reiki bangkit, semakin banyak perhatian yang tertarik—termasuk organisasi psikis yang dipimpin oleh Hubble Telesta, seorang pemimpin yang masih dihantui trauma masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Rei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 - Koordinat Tersembunyi
# Bab 10 — Koordinat Tersembunyi
**POV: Hime**
---
Pesawat kecil itu mendarat dengan gemetar di permukaan yang tidak rata. Aku mematikan mesin dan diam sejenak, mendengarkan suara malam. Angin berdesir pelan. Ombak menghantam karang di kejauhan. Dan di luar jendela, cahaya biru samar itu masih berdenyut—seperti jantung raksasa yang tertidur di bawah pulau.
"Kita sudah sampai," kataku.
KSAN dan Reiki turun lebih dulu. Aku mengikuti mereka, membawa perangkatku. Udara di sini terasa berbeda—lebih berat, lebih pekat. Seperti ada sesuatu yang menekan dari segala arah.
"Ini tempat yang aneh," kata KSAN. "Aku tidak suka."
"Aku juga tidak," jawabku. "Tapi kita harus masuk."
Pulau ini kecil—mungkin hanya selebar satu kilometer. Tapi di tengahnya, ada struktur yang menjulang: perpaduan antara batu dan logam, seperti reruntuhan kuno yang dilapisi teknologi modern. Cahaya biru itu berasal dari celah-celah strukturnya.
"Seperti apa itu?" tanya Reiki.
"Aku tidak tahu. Tapi aku yakin ini terkait dengan gerbang."
Kami berjalan mendekat. Setiap langkah terasa berat, seperti melawan arus. Perangkatku bergetar terus-menerus, mencatat fluktuasi energi yang semakin intens.
"Ada sesuatu di dalam sana," kataku. "Sesuatu yang hidup."
---
Pintu masuk struktur itu berbentuk lengkungan, tingginya sekitar lima meter. Permukaannya diukir dengan simbol-simbol yang tidak bisa kubaca—tapi aku mengenalinya. Simbol yang sama dengan yang ada di log mesin waktuku.
Simbol Dewa Psikis.
Aku menahan napas. *Ini tempatnya. Tempat di mana semuanya dimulai.*
"Kita masuk," kataku.
Di dalam, gelap. Tapi perangkatku bisa berfungsi sebagai senter. Cahaya redupnya menerangi dinding-dinding batu yang dipenuhi ukiran—gambar pertempuran, sosok-sosok bercahaya, dan di tengahnya, sebuah gerbang besar yang tertutup.
"Seperti kuil," bisik KSAN.
"Atau makam," jawab Reiki.
Aku berjalan lebih dalam. Lorong itu berkelok-kelok, turun ke bawah tanah. Udara semakin dingin. Dan cahaya biru semakin terang.
Kami sampai di sebuah ruangan besar. Di tengahnya, ada sebuah kristal raksasa—tingginya sekitar tiga meter—yang berdenyut dengan cahaya biru. Di sekelilingnya, ada cincin-cincin logam yang melayang, berputar pelan.
"Ini... ini pusatnya," kataku. "Sumber energi."
Reiki mendekati kristal itu. Tangannya terulur, hampir menyentuh permukaannya.
"Jangan!" Aku meraih tangannya. "Kita tidak tahu apa yang akan terjadi."
Tapi Reiki menatapku dengan mata yang berbeda—lebih dalam, lebih tua. "Aku mengenali ini," katanya. "Aku sudah pernah melihatnya sebelumnya."
"Kapan?"
"Aku tidak tahu. Tapi aku yakin."
---
Aku mengeluarkan perangkatku dan mulai memindai kristal itu. Data mengalir deras—grafik energi, spektrum frekuensi, pola resonansi. Dan semakin banyak data yang kukumpulkan, semakin aku yakin.
Kristal ini adalah kunci. Kunci untuk membuka gerbang.
Tapi juga kunci untuk memahami siapa Reiki sebenarnya.
Aku membuka log mesin waktuku dan membandingkan data dari kristal ini dengan data yang kumiliki. Polanya cocok—sempurna.
*Ini dia. Ini sumber dari semua lompatan waktuku.*
Selama 38 tahun, aku melompat ke masa depan tanpa benar-benar tahu apa yang menarikku. Aku pikir itu adalah kehendakku sendiri. Tapi sekarang aku tahu: ada sesuatu di pulau ini yang memanggilku. Sesuatu yang ingin aku temukan.
Dan sesuatu itu adalah Reiki.
Aku menatapnya. Ia sedang berdiri di depan kristal, matanya memantulkan cahaya biru. Wajahnya tenang—lebih tenang dari yang pernah kulihat.
"Hime," katanya tanpa menoleh. "Ada sesuatu yang harus kau tahu."
"Apa?"
"Aku bisa merasakannya. Kristal ini... ia berbicara padaku."
"Berbicara?"
"Ia mengatakan bahwa aku pernah di sini sebelumnya. Bahwa aku adalah bagian dari ini."
Aku diam. Kata-kata itu menggema di kepalaku.
*Ia mulai ingat.*
"Reiki," kataku pelan. "Ada sesuatu yang harus kujelaskan padamu."
Ia menoleh. Matanya—ungu itu—menatapku dengan rasa ingin tahu.
"Apa?"
Aku membuka mulut. Tapi kata-kata tidak keluar.
*Bagaimana aku mengatakannya? Bagaimana aku bilang bahwa ia adalah reinkarnasi dari dewa yang kucintai? Bahwa aku telah mencarinya selama 38 tahun? Bahwa aku—*
"Ada orang lain di sini," potong KSAN tiba-tiba.
Kami berdua menoleh. KSAN berdiri di dekat pintu masuk ruangan, wajahnya tegang.
"Aku mendengar sesuatu."
Aku mematikan perangkatku. Kami diam, mendengarkan.
Dan kemudian aku mendengarnya. Langkah kaki. Bukan satu—tapi beberapa. Mendekat.
"Kita tidak sendirian," bisikku.
---
Dari kegelapan lorong, muncul tiga sosok. Mereka berpakaian jubah hitam, wajahnya tertutup topeng. Di dada mereka, ada simbol yang kukenal—simbol Penjaga Gerbang.
"Kalian tidak diizinkan berada di sini," kata salah satu dari mereka. Suaranya dingin, tanpa emosi.
Aku melangkah maju, melindungi Reiki dan KSAN. "Kami hanya mencari jawaban."
"Jawaban tidak selalu baik untuk diketahui."
"Aku tidak peduli. Aku sudah mencari selama 38 tahun. Aku tidak akan berhenti sekarang."
Sosok itu menatapku. Lalu ia menatap Reiki.
"Kau," katanya. "Kau adalah anak yang disebut-sebut."
Reiki tidak menjawab. Ia hanya menatap mereka dengan tatapan kosong.
"Ikut kami," kata sosok itu. "Atau kami akan memaksamu."
---
Pertarungan pecah dalam hitungan detik.
KSAN bereaksi pertama—ia melempar batu ke arah salah satu sosok, tapi batu itu berhenti di udara, seperti menabrak dinding tak terlihat.
"Psikis," desisku.
Aku mengeluarkan perangkatku dan mencoba mengaktifkan perisai energi. Tapi salah satu dari mereka sudah bergerak—terlalu cepat. Ia muncul di depanku dalam sekejap, tangannya meraih leherku.
Tapi sebelum tangannya menyentuhku, gelombang energi biru meledak dari belakangku.
Reiki.
Matanya bercahaya biru terang. Rambutnya berdiri. Dan dari tubuhnya, energi menyebar seperti gelombang kejut, mendorong ketiga sosok itu mundur.
"Jangan sentuh dia," katanya. Suaranya berbeda—lebih dalam, lebih tua. Seperti bukan suara seorang anak SMA.
Sosok-sosok itu mundur. Mereka saling bertukar pandang.
"Jadi benar," kata pemimpin mereka. "Kau adalah reinkarnasinya."
Reiki tidak menjawab. Ia hanya berdiri di sana, bercahaya biru, melindungi kami.
"Kami akan mundur," kata sosok itu. "Tapi ini belum selesai. Gerbang ini tidak boleh dibuka. Dan kau—" ia menunjuk Reiki "—kau harus tahu bahwa kekuatanmu adalah pedang bermata dua."
Mereka menghilang ke dalam kegelapan, meninggalkan kami bertiga di ruangan kristal itu.
---
Reiki jatuh berlutut. Cahaya birunya meredup, lalu padam. Aku berlari menghampirinya.
"Kau baik-baik saja?"
Ia mengangguk, meskipun wajahnya pucat. "Aku hanya... lelah."
Aku membantunya duduk di lantai batu. KSAN mendekat, masih waspada.
"Mereka pergi," katanya. "Tapi mereka pasti akan kembali."
"Aku tahu."
Aku menatap Reiki. Ia menatapku kembali. Dan untuk sesaat, kami hanya diam.
"Kau bilang kau ingin menjelaskan sesuatu," katanya. "Tadi."
Aku menarik napas dalam-dalam. *Ini saatnya.*
"Reiki, ada sesuatu yang harus kau tahu tentang dirimu."
"Apa?"
"Kau bukan anak SMA biasa. Kau bukan psikis biasa. Kau adalah—"
"Aku adalah apa?"
Aku menatap matanya. Mata ungu itu. Mata yang sama seperti yang kulihat 38 tahun lalu.
"Kau adalah reinkarnasi dari Dewa Psikis. Dewa yang kucintai. Dewa yang mati di pelukanku."
Reiki menatapku tanpa ekspresi. Lalu ia tertawa.
"Ini lelucon, kan?"
"Aku tidak bercanda."
Tawanya berhenti. Ia menatapku dengan serius.
"Kau serius?"
"Aku serius."
Ia diam. Lama. Lalu ia berkata, "Kalau begitu... kenapa aku tidak ingat?"
"Karena ingatan itu terkunci. Tapi suatu hari nanti, kau akan mengingatnya."
"Dan kau? Kau sudah tahu sejak awal?"
"Aku curiga sejak pertama kali melihatmu. Tapi aku baru yakin setelah memeriksa datamu."
Reiki menunduk. Tangannya gemetar.
"Aku... aku butuh waktu."
"Aku mengerti."
---
Kami meninggalkan pulau itu beberapa jam kemudian. Pesawat kecil itu terbang di atas laut yang gelap, membawa kami pulang.
Aku duduk di kursi depan, menatap ke luar jendela. Di belakangku, Reiki diam, memproses apa yang baru saja ia dengar.
KSAN duduk di sampingku, berbicara pelan. "Kau pikir dia akan baik-baik saja?"
Aku menatap Reiki melalui kaca spion. Ia sedang menatap ke luar jendela, wajahnya tidak terbaca.
"Aku tidak tahu," jawabku jujur. "Tapi aku akan ada di sini untuknya. Apa pun yang terjadi."
Karena aku sudah mencarinya selama 38 tahun. Dan sekarang aku menemukannya, aku tidak akan membiarkannya pergi lagi.
Tidak peduli apa pun yang terjadi.
---
Penerbangan pulang terasa lebih panjang dari sebelumnya. Mungkin karena beban kata-kata yang baru saja kuucapkan masih menggantung di udara.
Reiki duduk diam di kursi belakang, menatap ke luar jendela. Aku bisa melihatnya dari kaca spion—wajahnya tidak terbaca. Tapi aku tahu ia sedang memproses semuanya.
KSAN duduk di sampingku, berbicara pelan. "Kau pikir dia akan baik-baik saja? "
"Aku tidak tahu. Tapi aku akan ada di sini untuknya. "
"Kau benar-benar mencintainya, ya? Maksudku, Dewa Psikis yang dulu. "
Aku diam sejenak. "Aku tidak tahu apakah ini masih cinta. Atau hanya... kewajiban. Atau mungkin rasa bersalah. "
"Kenapa bersalah? "
"Karena aku tidak bisa menyelamatkannya dulu. Dan sekarang ia kembali, tapi dalam bentuk yang berbeda. Dan aku tidak tahu apakah aku mencintainya karena ia adalah dia, atau karena aku merindukan masa lalu. "
KSAN diam. Lalu ia berkata, "Itu pertanyaan yang sulit. "
"Ya. "
"Tapi kau punya waktu untuk mencari jawabannya. "
Aku tersenyum tipis. "Mudah-mudahan. "
---
Kami tiba di desa saat fajar. Langit mulai memutih di ufuk timur. Burung-burung mulai berkicau. Kehidupan normal mulai berjalan.
Tapi hidup kami tidak akan pernah normal lagi.
Aku memarkir pesawat di tempat persembunyiannya, lalu kami bertiga berjalan menuju gudang tua. Tidak ada yang bicara. Masing-masing tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Sesampainya di gudang, Reiki duduk di lantai, menatap kosong.
"Hei, " kataku, duduk di sampingnya. "Kau baik-baik saja? "
"Aku tidak tahu. " Ia menatap tangannya. "Aku baru tahu bahwa aku adalah reinkarnasi dewa. Dan aku tidak tahu harus merasakan apa. "
"Kau tidak harus merasakan apa pun. Kau hanya perlu menerima bahwa ini adalah kenyataanmu sekarang. "
"Tapi bagaimana caranya? "
"Satu langkah pada satu waktu. "
Ia menatapku. "Kau benar-benar mencintainya? Dewa itu? "
Aku menarik napas dalam-dalam. "Ya. "
"Dan kau pikir aku adalah dia? "
"Aku tahu kau adalah dia. Tapi aku juga tahu kau bukan dia. Kau adalah dirimu sendiri, Reiki. Dan aku tidak akan pernah memaksamu untuk menjadi seseorang yang bukan dirimu. "
Ia diam. Lalu ia berkata, "Terima kasih. "
"Untuk apa? "
"Karena tidak memaksaku. "
Aku tersenyum. "Tidak perlu berterima kasih. "
---
Kami menghabiskan sisa hari itu di gudang, berbicara tentang banyak hal. Tentang masa lalu, tentang masa depan, tentang kekuatan Reiki. Tidak ada yang berat—hanya percakapan ringan yang membuat kami merasa lebih dekat.
Saat matahari mulai terbenam, KSAN pamit pulang. Aku dan Reiki duduk berdua di gudang, menatap langit senja yang berwarna jingga.
"Hime. "
"Hm? "
"Aku ingin tahu lebih banyak tentangnya. Tentang Dewa Psikis. "
Aku menatapnya. "Kau yakin? "
"Ya. Jika aku adalah reinkarnasinya, aku berhak tahu. "
Aku mengangguk. "Baik. Tapi tidak sekarang. Nanti. "
"Kenapa tidak sekarang? "
"Karena kau belum siap. Dan aku juga belum siap untuk menceritakannya. "
Ia mengangguk, tidak mendesak.
"Tapi suatu hari nanti, " kataku. "Aku janji. "
"Aku akan menunggu. "
Kami duduk di sana, menatap senja, tanpa perlu bicara. Dan untuk pertama kalinya dalam 38 tahun, aku merasa bahwa aku tidak lagi sendirian.
---
Malam harinya, aku duduk sendirian di gudang, memegang perangkatku. Data tentang Reiki masih ada di layar. Tapi kali ini, aku tidak merasa takut. Aku merasa... siap.
Siap untuk menghadapi apa pun yang akan datang. Siap untuk melindunginya. Siap untuk membantunya mengingat.
Karena aku sudah mencarinya selama 38 tahun. Dan sekarang aku menemukannya, aku tidak akan membiarkannya pergi lagi.
Tidak peduli apa pun yang terjadi.
---
Keesokan paginya, aku bangun dengan suara ketukan di pintu gudang. KSAN masuk dengan wajah pucat.
"Ada masalah, " katanya. "Hubble tahu kita pergi ke pulau itu. "
Aku duduk. "Bagaimana ia tahu? "
"Ia memasang pelacak di pesawat. Ia tahu kita pergi semalam. "
Aku menggerutu. "Sial. "
"Ia ingin bicara denganmu. Sekarang. "
Aku berdiri dan berjalan menuju pesawat Hubble. Di dalam, Hubble duduk di kursinya, wajahnya dingin.
"Duduk, " katanya.
Aku duduk di seberangnya.
"Kau pergi ke pulau itu semalam, " katanya. Bukan pertanyaan—pernyataan.
"Ya. "
"Kenapa? "
"Karena aku perlu jawaban. "
"Dan apa yang kau temukan? "
Aku menatapnya. "Bahwa Reiki adalah reinkarnasi Dewa Psikis. "
Hubble diam. Wajahnya tidak berubah. Tapi aku bisa melihat otot-otot di rahangnya menegang.
"Kau yakin? " tanyanya akhirnya.
"70%. "
"Itu belum cukup. "
"Tapi cukup untuk membuatku khawatir. "
Hubble menatapku lama. Lalu ia berkata, "Aku juga punya firasat yang sama. Sejak pertama kali melihatnya. "
"Kenapa kau tidak memberitahuku? "
"Karena aku tidak ingin percaya. "
Kami diam. Untuk pertama kalinya, aku melihat kerentanan di mata Hubble—bukan sebagai pemimpin pasukan, tapi sebagai manusia yang trauma.
"Apa yang akan kau lakukan? " tanyaku.
Hubble menatapku. "Aku tidak tahu. Tapi aku tahu satu hal: kita harus melindunginya. Bukan karena ia adalah Dewa, tapi karena ia masih anak-anak. "
Aku tersenyum tipis. "Setuju. "
---
Aku meninggalkan pesawat Hubble dengan perasaan yang campur aduk. Di satu sisi, aku lega karena Hubble akhirnya tahu dan tidak bereaksi berlebihan. Di sisi lain, aku khawatir—karena jika Hubble tahu, mungkin Markas juga akan segera tahu.
Aku berjalan menuju gudang. Reiki sedang duduk di lantai, membaca buku catatan yang kuberikan. Ia mendongak ketika aku masuk.
"Kau baik-baik saja? " tanyanya.
"Hubble tahu tentang pulau itu. "
Ia diam. "Dan? "
"Dan ia tidak marah. Ia hanya... khawatir. "
"Tentang apa? "
"Tentang dirimu. "
Reiki tersenyum pahit. "Semua orang khawatir tentang diriku akhir-akhir ini. "
"Karena kau penting. "
"Atau karena aku berbahaya. "
Aku duduk di sampingnya. "Keduanya. "
Ia tertawa kecil. "Kau selalu jujur. "
"Aku tidak punya alasan untuk berbohong. "
Kami diam sejenak. Di luar, angin malam berdesir pelan.
"Hime. "
"Ya? "
"Terima kasih. Karena tidak menyerah padaku. "
Aku menatapnya. "Aku tidak akan pernah menyerah padamu. "
Ia tersenyum. Dan untuk sesaat, aku melihat kilasan dirinya di masa lalu—senyum yang sama, mata yang sama.
"Aku tahu, " katanya.
---
**— Bersambung —**