Rania Anandira, mati mengenaskan di tangan sahabatnya sendiri yang cemburu pada kehidupannya. Tak ada yang tahu tentang kematiannya itu, suami dan anaknya hanya tahu Rania menghilang tiba-tiba.
Shakira, sahabatnya itu kemudian tinggal di rumah Raina dengan alasan menggantikan Raina sebagai ibu pengasuh untuk anaknya. Namun, perlakuannya terhadap Rasya, tidaklah manusiawi. Bersama paman dan bibinya, mereka menekan Rasya yang masih berusia tujuh tahun.
Karena tangisan anak itu, jiwa Rania tak tenang. Dia kembali menggantikan jiwa seorang gadis nelayan yang hidup di bawah garis kemiskinan, jauh dari tempatnya tinggal dulu. Rania harus mencari cara untuk bisa kembali ke sisi sang anak.
Bagaimana caranya dia kembali untuk membalas dendam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Tap-tap-tap!
Suara ketukan langkah menggema di lorong panjang sebuah rumah sakit. Seorang wanita berjalan tergesa sendirian. Wajahnya pucat, ada butiran keringat di sekitar wajah. Tangannya begitu kuat menggenggam tali tas, seolah itu adalah pilar yang harus digenggamnya agar tidak jatuh.
"Aku harus cepat! Jangan sampai Hadrian tahu kalau aku mengirim Rasya ke rumah sakit jiwa," gumamnya cemas.
Bibirnya yang dipoles lipstik merah terang gemetar, dadanya kembang kempis menepis sesak yang melanda. Rasa takut meraja di hati, takut semua rahasia yang selama ini disimpannya dengan baik, diketahui oleh semua orang.
Ia mendatangi meja informasi, disambut senyum oleh dua orang suster yang berjaga. Mereka terlihat ramah.
"Selamat siang! Ada yang bisa kami bantu?" ucap salah satunya dengan tetap mempertahankan senyum di bibir.
"Suster, saya ingin membawa kembali anak saya pulang," ucap Shakira dengan tergesa dan terkesan panik.
Suster itu mengernyitkan dahi, menelisik wajah Shakira yang tampak sedikit pucat.
"Maaf, atas nama siapa? Dan kapan dibawa ke rumah sakit ini?" tanya suster tersebut.
"Rasyaka. Semalam dia dikirim ke sini oleh sepupu jauh saya. Saya baru mengetahuinya pagi tadi dan ingin membawanya kembali. Suster, tolong secepatnya bawa saya menemui anak saya. Dia pasti ketakutan," jawab Shakira dengan cepat.
Wajahnya yang pucat terlihat aneh, bukan sedih yang tergambar, melainkan ketakutan besar yang nyata. Matanya tergenang air, menatap penuh permohonan.
"Mohon maaf, Nyonya. Semalam tidak ada pasien yang datang ke rumah sakit ini. Di daftar pasien kami juga tidak ada yang bernama Rasyaka. Mungkin Nyonya salah mendatangi rumah sakit," beritahu suster tersebut dengan tetap mempertahankan keramahan.
Shakira tertegun, membuang pandangan berpikir.
Tidak mungkin! Semalam aku menyuruh mereka membawa Rasya ke rumah sakit ini. Bagaimana mungkin tidak ada. Apakah Hadrian sudah mengetahuinya, dan menyembunyikan Rasya? Tidak! Aku harus membawa Rasya pulang.
Dia kembali mendongak, matanya memancar penuh tekad. Menatap tajam pada suster jaga yang berdiri di sana.
"Tidak mungkin, Suster! Kalian pasti berbohong. Jelas-jelas ak ... mereka mengatakan membawa anakku ke rumah sakit ini. Kalian pasti menyembunyikan anakku!" Mata Shakira menyipit, ketakutan semakin jelas terlihat di kedua maniknya yang gelisah.
Jemarinya mencengkeram ujung meja hingga memerah, kemudian memutih pucat. Matanya semakin nyalang menatap, menuntut sesuatu yang tidak ada.
"Nyonya, saya mengatakan yang sebenarnya. Jika Anda tidak percaya, Anda bisa menanyakannya kepada petugas keamanan di pos sana. Semalam tidak ada pasien baru yang datang atas nama Rasya," ucap suster tersebut masih dengan kata-katanya semula.
Shakira tetap tidak percaya, dalam pikirannya adalah Hadrian sudah mengetahui tentang Rasya yang dikirim ke rumah sakit jiwa dan disembunyikan untuk menjebaknya. Dia hanya tinggal menunggu waktu untuk mendapatkan hukuman.
"Tidak! Kalian pasti membohongiku. Aku akan mencarinya sendiri!" katanya seraya berjalan cepat memasuki lorong rumah sakit.
"Eh! Satpam! Satpam!" Suster tersebut panik dan berteriak memanggil petugas keamanan.
Dua orang laki-laki berseragam satpam datang, tubuh mereka tinggi dan besar. Langkah mereka lebar mengejar Shakira yang berlarian di lorong sembari memanggil-manggil nama Rasya.
Dengan gerakan cepat, mereka menangkap tangan wanita itu dan menyeretnya keluar.
"Lepaskan aku! Lepaskan aku! Kalian tahu siapa aku? Aku Nyonya Fattana. Lepaskan aku! Suamiku tidak akan pernah mengampuni kalian!" teriaknya sembari meronta di dalam cekalan dua orang satpam.
Mereka tak menggubris ancaman itu, terus menyeretnya di sepanjang lorong. Beberapa pasien yang melihat, bersorak dan bertepuk tangan di halaman rumah sakit. Tubuh Shakira dilempar keluar hingga tersungkur di parkiran.
"Pergilah! Jangan membuat keributan di sini!" usir mereka tanpa peduli tentang identitas yang dia sebutkan.
Shakira geram, dia berdiri cepat sembari membenarkan pakaiannya. Matanya menatap tajam pada dua orang laki-laki yang berdiri bagai raksasa di depannya itu.
"Kalian benar-benar membuatku marah. Aku akan mengadukan ini kepada Hadrian agar dia menghukum kalian! Lihat saja! Kalian tidak akan mempunyai tempat di kota ini," ancamnya lagi, suaranya menggema terbawa angin lalu.
Shakira berharap mereka akan takut mendengar nama Hadrian, tapi keduanya terlihat biasa saja. Itu membuatnya bingung.
"Silahkan pergi!"
"Apa!"
Seorang petugas menyeretnya dan melempar Shakira keluar gerbang. Menghadang di sana agar wanita itu tidak menerobos masuk.
"Kalian ...!" Shakira menuding, tapi kemudian mengepalkan tangannya. Lalu, pergi membawa rasa takut di hati.
"Tidak mungkin! Aku sendiri yang menyuruh mereka untuk membawa Rasya ke sini. Aku harus menemui mereka!" katanya seraya berjalan tergesa untuk bertemu dengan orang-orang paman dan bibi Rasya.
Shakira, apa yang akan dia lakukan saat tahu Rasya tidak pernah dibawa ke rumah sakit jiwa itu?
Kepala pelayan jga mau" nya sich jdi kesetnya si kere itu..
😄😄