Sebuah trauma kelam di usia dua belas tahun mengubah hidup Lova sepenuhnya. Sejak kejadian mengerikan itu, ia menderita fobia akut yang membuatnya ketakutan setengah mati, bahkan hanya untuk sekadar berdekatan atau disentuh oleh seorang pria. Baginya, semua pria adalah ancaman.
Sampai akhirnya, takdir mempertemukannya dengan Arnold, seorang psikiater genius dengan reputasi mentereng. Berbeda dengan pria lain, pembawaan Arnold yang sedikit gemulai justru memberikan rasa aman yang tak pernah Lova rasakan sebelumnya. Arnold menjadi satu-satunya pria di dunia ini yang bisa menyentuh kulit Lova tanpa memicu kepanikannya.
Demi menyembuhkan trauma Lova secara total dan sah di mata hukum, Arnold mendesak sebuah keputusan nekat: *Pernikahan Medis*.
Sebuah pernikahan yang menutupi alasan sebenarnya, menikahi wanita penuh trauma bahkan tak dicintai.
Bagaimana kedok psikiater pecinta lagu India ini? Apakah ia berhasil menyembuhkan Lova? Atau ia sendiri terjebak dalam rencana yang ditutup rapa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Setuju dalam Bimbang
Melihat kejadian itu, Ibu Lova meletakkan keranjang belanjanya begitu saja di dekat pintu, mengabaikan sayur-mayur yang mulai sedikit layu karena perhatian sang empunya tersedot sepenuhnya pada pria berkemeja hitam di hadapan sang putri.
"Dokter Arnold ... ada apa ini?" suara Ibu Lova sedikit heran, jemarinya yang mulai berkerut menggenggam erat sandaran kursi yang diduduki Lova.
"Ini ... ini sungguh mustahil. Lagi-lagi Lova bisa tunduk bersama Anda? Bahkan, makan bersama. Selama ini, Lova memilih makan bersembunyi di dalam kamarnya."
Arnold tersenyum simpul, berusaha memperlihatkan empatinya di mata wanita paruh baya itu, meski di baliknya, otak jeniusnya sedang memperhitungkan sesuatu.
"Alam bawah sadar tidak pernah berbohong, Bu, maksudku Tante. Boleh kan, aku panggil dengan Tante aja?" tanya Arnold dengan sopan.
Ibu Lova sedikit ragu, tetapi akhirnya mengangguk. "Tentu, Dok," ucapnya sekenanya.
Ia melirik mangkuk bubur Lova yang baru masih tinggal separuh. "Nona Zarisha, putri Tante tidak menganggap saya sebagai ancaman. Dan dalam dunia psikiatri, rasa aman adalah fondasi utama dari sebuah kesembuhan."
Lova hanya bisa terpaku, merasakan dadanya mendadak sesak. Ia ingin membantah, ingin mengatakan bahwa kehadiran Arnold sepagi ini sangat mengganggu ketenangannya.
Namun, lidahnya kelu. Kenyataan bahwa ia tidak melompat ketakutan saat Arnold melangkah masuk ke dapurnya tadi adalah bukti telak yang mampu menyumpal mulutnya sendiri.
Pandangan Arnold kemudian bergeser perlahan, kembali menatap deretan bingkai foto di dinding ruang tamu. Matanya tertuju pada foto keluarga yang sempat ia perhatikan sebelumnya. Seorang gadis kecil, sepasang orang tua, dan seorang remaja laki-laki yang tersenyum hangat.
"Kalau saya boleh tahu, Tante ..." Arnold menunjuk foto tersebut dengan gerakan tangan yang teramat sopan. "Pria di sebelah Nona Zarisha ... apakah itu kakaknya?"
Pertanyaan seringan angin itu seketika mengubah atmosfer ruangan. Ibu Lova menghela napas panjang, guratan kesedihan yang mendalam mendadak tercetak jelas di wajah senjanya.
"Benar, Dokter," bisik sang ibu, matanya mulai berkaca-kaca menatap foto itu. "Itu Zafran, kakak kandung Lova. Dan di sampingnya ... mendiang suami saya."
Lova langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam. Nama Zafran, selalu berhasil memicu rasa bersalah yang teramat besar di lubuk hatinya.
"Oh, lalu di mana kakaknya itu? Bagaimana cara Nona Zarisha berinteraksi dengan kakak laki-lakinya itu?"
"Sebenarnya, mereka berdua sudah tiada, Dok," lanjut Ibu Lova dengan suara yang mulai serak, menahan tangis yang bersiap untuk pecah.
"Semenjak suami dan anak laki-laki saya meninggal, rumah ini semakin sepi. Dan sejak trauma itu menimpa Lova ... saya selalu dihantui ketakutan. Bagaimana kalau usia saya tidak panjang? Siapa yang akan menjaga Lova?"
"Makanya, saya sangat berharap Lova bisa segera menikah. Apalagi, Teddy masih bersedia untuk menunggunya. Oleh karena itu, saya sangat mengharapkan Lova segera sembuh dan lepas dari Traumanya. Agar nanti, kapan pun waktu menjemput, saya telah menitipkannya pada laki-laki yang tepat."
Arnold mengangguk-angguk takzim. Ekspresi wajahnya berubah menjadi sangat serius, seolah-olah ia ikut merasakan beban berat yang dipikul oleh keluarga kecil ini. Padahal, di dalam kepalanya, Arnold justru merasa sedikit panik. Jika Lova sembuh dan menikah dengan Teddy, maka rencananya tentu akan gagal total.
Arnold sengaja memperbaiki posisi duduknya, menumpu kedua tangannya di atas meja dengan wibawa seorang dokter yang siap memberikan vonis medis.
"Tante, jika boleh jujur ... itulah alasan mengapa saya datang sepagi ini," ucap Arnold, menurunkan oktaf suaranya menjadi lebih berat dan meyakinkan.
"Metode terapi biasa di klinik tidak akan pernah cukup untuk menyembuhkan trauma mendalam yang dialami Nona Zarisha. Dia butuh terapi lingkungan intensif secara konstan."
"Maksud Dokter?" Ibu Lova menghapus sudut matanya yang basah, menatap Arnold lurus-lurus.
"Seperti yang sempat saya singgung di klinik kemarin ... Nona Zarisha butuh kehadiran pria yang dia percayai di sisinya selama dua puluh empat jam. Otaknya harus dipaksa belajar setiap hari bahwa tidak semua laki-laki itu jahat." Arnold menjeda kalimatnya sengaja menciptakan efek dramatis.
"Dan satu-satunya jalan legal dan aman untuk melakukan itu ... adalah melalui pernikahan kontrak medis. Setelah melakukan observasi kemarin, saya memiliki kesimpulan dan tentu bisa diuji kembali. Seperti yang Tante lihat, Nona Zarisha hanya bisa menerima saya. Dan, Saya tak masalah jika dijadikan sebagai media terapi sekaligus suami untuk Nona Zarisha."
*Deg.*
Jantung Lova serasa berhenti berdetak. Sendok bebek di tangannya berdenting keras saat terjatuh ke dalam mangkuk keramik. "Dok! Apa Dokter sudah gila?!" serunya refleks, melupakan semua rasa sungkannya.
Namun, Arnold sama sekali tidak terganggu. Ia tetap tenang, menyandarkan punggungnya ke sofa sembari menyunggingkan senyum tipis yang teramat misterius ke arah Lova.
"Lova! Jaga bicaramu pada Dokter Arnold!" tegur ibunya cepat.
"Tapi Ma! Menikah?! Ini konyol! Kita baru bertemu kemarin!" Lova berdiri dari duduknya, napasnya memburu, dadanya naik turun karena syok yang luar biasa.
Ibu Lova ikut bangkit, lalu tiba-tiba meraih kedua tangan putrinya. Setitik air mata meluncur bebas di pipi wanita paruh baya itu. "Lova ... Mama mohon. Tolong pikirkan masa depanmu. Mama sudah tua ... Mama tidak tenang kalau harus meninggalkanmu dalam kondisi seperti ini. Dokter Arnold sudah mengulurkan tangan, dia orang baik, dia bersedia membantumu untuk sembuh!"
"Ma, tapi bukan kah Mama memaksaku berobat agar bisa bersama Teddy?" Lova mencoba membawa nama pria yang selama ini setia menunggunya, berharap ibunya berpikir kembali.
"Teddy memang pria yang baik, Lova. Tapi kenyataannya kamu tak bisa menerima kehadirannya," sela ibunya dengan suara memelas.
"Tapi dengan Dokter Arnold ... Mama lihat sendiri sejak kemarin kamu bisa menerimanya. Tolong, Lova ... demi Mama ..."
Melihat air mata ibunya, runtuh sudah seluruh pertahanan Lova. Rasa bersalah karena telah menjadi beban keluarga selama 32 tahun ini merayap naik, terasa mencekik hingga tak mampu ia bantah lagi.
Lova menatap ibunya yang menangis memohon, lalu perlahan matanya beralih pada Arnold yang duduk dengan begitu tenang di seberang meja. Pria itu tampak sangat karismatik dengan kemeja hitamnya, seolah sedang menawarkan sebuah tempat perlindungan yang megah. Namun, entah kenapa Lova merasa, tempat itu hanyalah sebuah sangkar, yang mungkin tak akan bisa lari lagi.
Arnold kemudian mengulurkan tangannya, merengkuh map cokelat tua yang sejak tadi tergeletak di atas meja. Dengan gerakan lambat yang penuh penekanan, ia membuka map tersebut dan mengeluarkan selembar kertas yang sangat familiar.
SURAT PENDAFTARAN PERNIKAHAN.
Kertas itu digeser oleh Arnold, berhenti tepat di hadapan Lova. Di sampingnya, sebuah pulpen hitam mewah diletakkan dengan ketukan pelan.
"Saya tidak memaksa, Adik Kecil," ucap Arnold, suaranya kembali melembut, memancarkan nada androgini yang ringan namun terasa mengintimidasi secara psikologis.
"Tapi pintu kesembuhan dan ketenangan ibumu ... ada di ujung pulpen ini. Pilihannya ada di tanganmu."
Ruangan itu kembali diselimuti keheningan yang mencekam, hanya menyisakan suara isak tangis pelan dari sang ibu. Lova menatap kertas di depannya dengan pandangan kosong. Perlahan, tangannya yang gemetar bergerak meraih pulpen hitam itu.
Dari sudut matanya, Arnold memperhatikan jemari Lova yang mulai menorehkan tanda tangan di atas kertas. Sudut bibirnya terangkat tipis, membentuk sebuah senyuman penuh kemenangan yang teramat dingin.
'Satu masalah selesai. Warisan Papa akan tetap jadi milikku,' batin Arnold puas.
kalau memang kamu udah ga bisa sembuhin lova
lepas aja lah🥹
judulnya terapi cantik ku yg rupawan
itu aja Thor
gemulai mah... terlalu klise😍😍
jadi bayangin
aduuh ternoda dah pikiran aye cyiiin🤣🤣🫣
lova si udah mulai sembuh
ga terlalu perlu lu juga si...
tapi gimana yaaa???
keplak kali palanya biar balik normal🤣🤣
cyiin nya diilangin🫣🤣🤣
geplak lagi ninpake anduk
vote otw ka😍
kyk korban pelecehan
🫣🤣🤣🤣