NovelToon NovelToon
ONE TOP GOD: Perjalanan Menuju Puncak Dunia

ONE TOP GOD: Perjalanan Menuju Puncak Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Action / Showbiz
Popularitas:353
Nilai: 5
Nama Author: Ab Je

Di dunia pro-scene FPS yang kejam, satu peluru bisa menentukan segalanya.

Reno, seorang remaja yang bekerja di warnet kumuh, hanya dikenal sebagai "hantu" di server publik. Tanpa tim, tanpa perlengkapan mewah, ia mendominasi setiap pertandingan dengan satu ciri khas: satu tembakan, satu nyawa melayang. Kemampuannya yang tidak masuk akal membuat banyak orang menuduhnya menggunakan cheat.

Namun, nasib Reno berubah saat sebuah tim e-sport yang sedang di ambang kehancuran menemukannya secara tidak sengaja. Di tengah keraguan rekan setim yang tidak mempercayainya dan rival-rival besar yang siap menjatuhkannya, Reno harus membuktikan bahwa [aim] miliknya adalah murni bakat dewa.

Dari turnamen antar-warnet yang penuh asap hingga panggung megah kejuaraan dunia, Reno akan menunjukkan bahwa untuk menjadi yang terbaik, kamu tidak butuh peluru kedua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ab Je, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10: Cahaya di Ujung Bidikan

Gemerlap lampu sorot berwarna biru dan merah menyapu panggung besar Istora Senayan. Ribuan orang bersorak, meneriakkan nama tim-tim besar yang akan bertanding di Liga Utama Musim ke-10. Bagi Reno, suara riuh ini terasa seperti mimpi yang terlalu nyata. Hanya dalam hitungan minggu, ia berpindah dari kursi warnet yang berderit ke kursi *gaming* seharga puluhan juta di panggung e-sport paling bergengsi di Indonesia.

"Reno, tarik napas. Jangan biarkan lampu-lampu itu membutakanmu," bisik Ardi di belakang panggung. Sang pelatih tampak rapi dengan jas tim Black Viper, namun sorot matanya menunjukkan kegelisahan yang sama.

Reno membenarkan posisi jersey-nya. Di dada sebelah kiri, logo ular hitam Black Viper berkilau tertimpa cahaya. Di punggungnya, terukir nama yang kini menjadi buah bibir: *PHANTOM*.

"Aku tidak melihat lampunya, Ardi. Aku hanya melihat targetnya," jawab Reno datar. Tangannya yang memegang tas mouse tetap stabil, sebuah ketenangan "Anak Genius" yang sulit dipahami orang biasa.

"Selamat datang di panggung utama, Black Viper!" suara sang pembawa acara menggema. "Dan perkenalkan, sang debutan yang paling ditunggu-tunggu, sang Dewa Satu Ketukan... PHANTOM!"

Reno melangkah keluar. Gemuruh penonton seketika memekakkan telinga. Ia bisa melihat spanduk-spanduk bertuliskan namanya, namun ia juga melihat tatapan sinis dari barisan kursi pemain lawan. Di sana, duduk para pemain dari Golden Wyvern yang masih menyimpan dendam, serta tim-tim raksasa lainnya yang siap membedah setiap gerakan Reno.

Hari ini, lawan pertama mereka di liga utama adalah *Red Storm*, tim yang dikenal dengan gaya permainan agresif dan brutal. Kapten mereka, *Tyson*, adalah seorang *tanker* yang tidak kenal takut.

"Oi, bocah warnet!" sapa Tyson saat mereka berpapasan di tengah panggung untuk bersalaman. "Jangan berharap keberuntunganmu di kualifikasi kemarin terulang di sini. Di Liga Utama, kami akan mengunyahmu hidup-hidup."

Reno hanya menjabat tangan Tyson sebentar, lalu menatap matanya dengan dingin. "Jangan bicara terlalu banyak. Mulutmu akan terasa sangat pahit saat peluruku bersarang di dahimu nanti."

Tyson menyeringai, namun ada sedikit keraguan yang melintas di matanya melihat ketenangan Reno yang tidak goyah.

Pertandingan dimulai. Peta pertama adalah *Skyline City*, sebuah area perkotaan yang penuh dengan gedung-gedung tinggi dan jembatan penyeberangan yang berbahaya. Sejak ronde pertama, Red Storm langsung menunjukkan taringnya. Mereka menyerbu seperti badai, menggunakan granat ledak dan tembakan beruntun yang menekan Black Viper hingga ke sudut peta.

"Mereka terlalu cepat! Aku tidak bisa membidik!" teriak Marco saat nyawanya hampir habis terkena serpihan granat.

"Tetap di posisi masing-masing! Jangan berpencar!" perintah Reno.

Reno menyadari bahwa Red Storm mencoba menggunakan kekacauan suara untuk menutupi langkah kaki mereka. Ini adalah strategi klasik untuk melawan pemain yang mengandalkan insting pendengaran seperti dirinya. Namun, Reno memiliki sesuatu yang lebih dari sekadar pendengaran: ia memiliki memori visual yang sempurna.

Ia melompat ke atas sebuah boks logistik, lalu melakukan *wall-jump* ke arah balkon gedung sebelah. Dari sana, ia memiliki pandangan luas ke seluruh area bawah.

*Klik.*

Satu peluru dari senapan runduk Reno menjatuhkan pemain depan Red Storm.

*Klik.*

Pemain kedua yang mencoba memberikan bantuan pun tumbang sebelum sempat melihat dari mana arah tembakan berasal.

"Dia di atas! Di balkon!" teriak Tyson melalui radio timnya.

Tyson dan dua pemain lainnya langsung mengarahkan tembakan ke arah Reno. Hujan peluru menghujam dinding di sekitar Reno, namun ia tidak mundur. Dalam momen *Action* yang memukau, Reno justru menjatuhkan dirinya dari balkon lantai tiga.

Penonton berteriak histeris. Banyak yang mengira Reno melakukan kesalahan fatal atau tidak sengaja terjatuh. Namun, saat berada di udara, Reno memutar tubuhnya dan membidik Tyson yang berada di bawah.

*Klik.*

Hanya satu ketukan. Di saat tubuhnya masih melayang, peluru Reno menemukan sasarannya. Tyson terjatuh dengan status *Headshot*. Reno mendarat dengan gerakan *roll* yang sempurna, lalu menghilang ke dalam gang sempit sebelum sisa tim Red Storm bisa membalas.

"Itu... itu tidak mungkin dilakukan secara sadar!" seru sang komentator dengan histeris. "Aksi akrobatik macam apa itu?! Phantom baru saja menjatuhkan kapten tim Red Storm sambil melayang di udara!"

Di dalam bilik tanding, Reno mengatur napasnya. Jantungnya berdegup kencang, namun bukan karena takut, melainkan karena rasa puas. Ini adalah panggung yang ia inginkan. Ini adalah dunia di mana kemampuannya dihargai dengan sorak-sorai, bukan makian pelanggan warnet yang kesal.

Pertandingan ronde pertama berakhir dengan kemenangan mengejutkan bagi Black Viper. Tyson duduk terpaku, menatap layarnya yang hitam putih dengan tangan gemetar. Ia baru saja menyadari bahwa ancamannya tadi pagi adalah sebuah kesalahan besar.

Reno melepaskan *headset*-nya sejenak, menatap ke arah kerumunan penonton yang kini meneriakkan namanya dengan lebih keras. Namun, di antara ribuan wajah itu, matanya menangkap sosok seorang pria yang mengenakan topi hitam di barisan belakang. Pria itu tidak bersorak; ia hanya menatap Reno, lalu memberikan isyarat tangan kecil sebelum menghilang di balik pintu keluar.

"Sakti?" gumam Reno dalam hati.

Apakah sang legenda datang untuk menontonnya, atau ada pesan lain yang ingin disampaikan? Reno tahu, kemenangan hari ini barulah langkah awal. Liga Utama akan menjadi medan tempur yang jauh lebih berdarah, dan ia harus terus mengasah "Satu Ketukan" miliknya jika ingin tetap berada di puncak panggung *Showbiz* yang kejam ini.

"Babak selanjutnya dimulai dalam lima menit," suara Ardi menyadarkannya.

Reno kembali memasang *headset*. Senyum tipis muncul di wajahnya. "Mari kita tunjukkan pada mereka, siapa raja yang sebenarnya."

1
Alia Chans
wow cerita nya menarik, semangat✍️ nya
Ab Je: makasih yahh sudah menyemangati. (🌹)
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!