NovelToon NovelToon
Menikahi Bos Janda : Mahar Di Balik Notulensi

Menikahi Bos Janda : Mahar Di Balik Notulensi

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Beda Usia
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Aruna tidak punya pilihan. Untuk mempertahankan kendali atas perusahaan peninggalan suaminya, ia harus memenuhi syarat dalam "Klausul Moral" yang dibuat oleh dewan direksi: ia harus memiliki pendamping sah dalam waktu 30 hari atau posisinya dicopot.
Bukan mencari pria dari kalangan elit, Aruna justru memilih Bumi—karyawan level bawah yang tidak sengaja meretas sistem keamanan pribadinya hanya untuk protes soal uang lembur yang belum dibayar. Aruna menawarkan kesepakatan: Menikahlah denganku, jadilah CEO bayangan, dan aku akan melunasi seluruh utang medis keluargamu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10: Sirine dan Detak Terakhir

​"Ibu... Ibu Fatimah? Halo?! Bu, bicara padaku!"

​Tanganku gemetar memegang ponsel yang tertempel di telingaku. Dari seberang sana, yang kudengar hanyalah kekacauan absolut. Suara benturan meja, pecahan kaca, dan jeritan histeris Hajah Fatimah yang menyayat hati.

​"Tolong! Jangan sentuh anakku! Tolong—Astagfirullah, Sifa! Suster, tolong! Sifa kejang-kejang!"

​"Ibu! Siapa yang ada di sana?!" Suara Bumi bergetar hebat. Dia merebut ponsel dari tanganku, wajahnya memucat seketika.

​"Ada dokter... dia menyuntikkan sesuatu! Ibu dorong dia, tapi... Ya Allah, Bumi... Sifa..." Panggilan itu terputus. Hanya menyisakan nada tut-tut-tut yang terasa seperti vonis mati.

​Bumi mematung. Ponsel retak milik preman yang tadi menampilkan pesan ancaman itu lolos dari genggamannya, jatuh ke lantai beton. Seluruh ketangguhan yang ia tunjukkan saat mengalahkan preman-preman tadi menguap tanpa sisa. Dia bukan lagi pelindungku; dia adalah seorang kakak yang dunianya baru saja kiamat.

​Aku tidak membiarkan diriku ikut membeku.

​Aku berbalik menatap Kombes Herman yang sedang memerintahkan anak buahnya membawa Bintang ke mobil ambulans yang baru tiba.

​"Pak Herman!" teriakku, suaraku menggelegar membelah hiruk-pikuk halaman pabrik tua itu. Nada suaraku adalah nada mutlak seorang CEO yang menuntut ketaatan penuh. "Saya butuh mobil patroli Anda! Rumah Sakit Medika Internasional Sentul, tempat adik saya dipindahkan semalam, hanya berjarak sepuluh kilometer dari sini! Nyawa adik ipar saya sedang dihabisi sekarang juga!"

​Herman menoleh, matanya menangkap urgensi mematikan di wajahku. Tanpa banyak bertanya, ia menunjuk sebuah SUV polisi berwarna hitam. "Bripka Anton! Antar Ibu Aruna dan suaminya! Nyalakan sirine penuh, tabrak semua lampu merah!"

​Aku berlari ke arah Bumi, menarik lengannya yang membeku. "Bumi, sadar! Jaraknya dekat! Kita belum terlambat! Ayo!"

​Kata-kataku seolah menampar kewarasannya. Bumi menarik napas panjang dengan kasar, mengangguk cepat, lalu berlari mengikutiku menuju mobil patroli.

​Begitu pintu terbanting menutup, Bripka Anton menginjak pedal gas dalam-dalam. Raungan sirine polisi membelah kabut pagi kawasan Sentul, memaksa setiap kendaraan menyingkir, memberikan jalan bagi kami yang sedang berpacu melawan malaikat maut.

​Di kursi belakang, Bumi menundukkan wajahnya di atas kedua telapak tangannya. Bahunya bergetar hebat. Mulutnya tidak berhenti menggumamkan doa dan zikir dengan kecepatan yang hampir seperti rintihan keputusasaan.

​Aku menggeser dudukku merapat padanya. Aku meraih kedua tangannya yang sedingin es, memaksa jemarinya untuk bertaut dengan jemariku. Dia menggenggam tanganku begitu erat hingga tulang-tulangku terasa sakit, tapi aku membiarkannya. Aku mengusap punggung tangannya dengan ibu jariku.

​Sambil menatap wajah suamiku yang hancur, ingatanku tiba-tiba melayang pada pelukan Bintang beberapa saat lalu. Tiga tahun lalu, dokter pernah memvonisku. “Rahim Anda terlalu lemah, Bu Aruna. Stres ekstrem dan gaya hidup Anda membuat hormon Anda kacau. Akan sangat sulit bagi Anda untuk mengandung.” Aku dulu menyerah. Namun detik ini, melihat betapa besarnya pengorbanan Bumi demi seorang anak kecil, ada percikan harapan baru yang menyala di batinku.

​Bertahanlah, Sifa. Kamu harus hidup, doaku dalam hati.

​Perjalanan itu kami tempuh hanya dalam delapan menit berkat jalanan pagi yang masih lengang dan kawalan polisi. Bripka Anton merem mendadak di depan lobi IGD Rumah Sakit Medika Internasional.

​Sebelum mobil benar-benar berhenti, Bumi sudah mendorong pintu dan melompat keluar. Aku menyusulnya, berlari dengan telapak kaki yang hanya dibalut kain kotor sobekan kemeja Bumi. Kakiku berdarah menginjak aspal yang kasar, tapi rasa perih itu tidak sebanding dengan rasa takut yang memacu adrenalin kami.

​Kami menerobos masuk ke lorong rumah sakit bagaikan angin topan. Kami mengabaikan lift dan menerjang pintu tangga darurat menuju ICU di lantai tiga, menaiki anak tangga dua sekaligus. Nafasku memburu.

​Saat kami membanting pintu darurat lantai tiga, pemandangan di koridor ICU itu membuat jantungku berhenti.

​Di depan ruang kaca nomor tiga, Hajah Fatimah terduduk di lantai linoleum, mukenanya berantakan. Ia menangis histeris, ditahan oleh dua orang perawat agar tidak masuk ke ruangan steril.

​Dan tepat saat pandanganku terarah ke dalam ruang kaca...

​Tiiiiiiiiiiiiiit.

​Bunyi lurus dan melengking dari monitor EKG itu menggema. Sifa baru saja mengalami henti jantung tepat di depan mata kami.

​"Ibu!" Bumi langsung menjatuhkan dirinya ke lantai dan memeluk ibunya.

​Mataku terpaku ke dalam ruang ICU. Empat orang dokter dan perawat sedang mengerumuni ranjang Sifa. Dokter Handoyo—spesialis jantung yang kutunjuk semalam—sedang melakukan resusitasi jantung paru (CPR), menekan dada Sifa dengan kuat.

​"Bumi... pria berjas dokter itu... dia kabur ke arah lift barang sayap utara!" Hajah Fatimah meracau di pelukan Bumi, tangannya bergetar menunjuk ke ujung lorong.

​Bumi melepaskan ibunya. Bangkit berdiri. Matanya memerah menyala. Amarah yang meledak-ledak mengubah auranya menjadi sesuatu yang sangat berbahaya. Tanpa menoleh padaku, Bumi berlari sekencang macan tutul ke arah sayap utara koridor. Dia pergi memburu malaikat maut adiknya.

​Aku tidak mengejarnya. Tugasnya adalah mencari si pembunuh, sedangkan tugasku adalah memastikan Sifa hidup.

​Aku mendekati dinding kaca. Dokter Handoyo tampak menggelengkan kepalanya dengan frustrasi setelah kejut jantung ketiga tidak membuahkan hasil. Ia menatap jam dinding, mengangkat tangannya dari dada Sifa, bersiap mengumumkan waktu kematian.

​Tidak. Sifa tidak akan mati!.

​Dengan langkah tegas, aku menekan tombol otomatis pintu ICU dan menerobos masuk ke dalam ruangan steril itu.

​"Maaf, Bu! Anda tidak boleh masuk!" teriak seorang perawat, mencoba menahanku.

​"Minggir!" desisku tajam, menepis tangannya.

​Aku berjalan menabrak peralatan medis hingga berdiri tepat di hadapan dr. Handoyo. "Teruskan CPR-nya, Dokter!"

​Dr. Handoyo terkejut. "Bu Aruna? Anda tidak seharusnya di sini. Tubuh pasien sudah menolak merespons obat akibat syok zat asing. Jantungnya sudah berhenti. Kami sudah melakukan standar maksimal—"

​"Lakukan satu kali lagi!" potongku, suaraku menggelegar di ruang ICU yang dingin itu. Tanganku mencengkeram kerah jas dokternya dengan kasar. Air mata putus asa menggenang di pelupuk mataku.

​"Bu, tolong, ikhlaskan—"

​"Persetan dengan ikhlas!" Aku menatap matanya dengan nyala api yang siap membakar seluruh rumah sakit ini. Aku tidak tahu istilah medis apa pun, aku hanya tahu satu bahasa: kekuasaan. "Dengar saya baik-baik, Handoyo. Yayasan Wiratmadja adalah donatur terbesar yang membangun sayap ICU ini! Jika adik saya mati hari ini karena kalian berhenti mencoba, saya bersumpah akan meratakan tempat ini dengan tanah! Saya akan hancurkan karier Anda hingga Anda tidak bisa praktik di klinik mana pun! Kejut jantungnya sekali lagi, SEKARANG!"

​Dokter Handoyo menelan ludah melihat ancaman murni di mataku. Ancaman seorang Aruna Wiratmadja bukanlah isapan jempol. Dia menoleh ke timnya dengan panik. "Isi daya ke level tertinggi! Siapkan suntikan pemacu jantung dosis terakhir langsung ke dada!"

​Seorang perawat berlari menyerahkan paddle defibrillator.

​"Menjauh dari ranjang! Clear!"

​JEDUG!

​Tubuh Sifa tersentak hebat, nyaris melengkung ke atas ranjang.

​Semua mata tertuju pada monitor.

​Hening. Satu detik. Dua detik. Tiga detik.

​Garis itu masih merah. Masih lurus.

​Cengkeramanku di jas dr. Handoyo perlahan melemah. Apakah uang dan kekuasaanku pada akhirnya memang tidak ada gunanya di hadapan maut? Aku memejamkan mata. Tuhan... tolong suamiku. Jangan hancurkan dia.

​Tiba-tiba...

​Tit.

​Lalu hening lagi.

​Tit. Lalu lebih cepat. Tit... Tit... Tit.

​Grafik merah yang lurus itu perlahan melompat, membentuk gunung-gunung kecil yang tidak beraturan, namun berdenyut dengan kehidupan.

​"Ada denyut nadi! Tekanan darah merangkak naik!" teriak perawat pemantau monitor, kelegaan yang luar biasa mewarnai suaranya.

​Dokter Handoyo menghela napas panjang hingga tubuhnya merosot bersandar pada sisi ranjang. Dia menatapku, matanya memancarkan rasa tidak percaya. "Keajaiban... dia kembali merespons, Bu Aruna. Masa kritisnya lewat."

​Kakiku akhirnya kehilangan daya topang. Aku menyandarkan punggungku ke dinding kaca, merosot turun hingga terduduk di lantai ICU. Tanganku menutupi wajahku, dan aku menangis tersedu-sedu. Tangisan kelegaan yang menguras seluruh sisa tenagaku.

​Di luar kaca, aku melihat Hajah Fatimah sedang sujud syukur di lantai koridor.

​Kita berhasil, Bumi. Dia hidup.

​____________________________________________

​Aku menendang pintu akses menuju tempat parkir bongkar muat di lantai dasar sayap utara hingga engselnya jebol.

​Mataku menyapu area parkir basement yang sepi. Di dekat sebuah mobil box linen rumah sakit, seorang pria berjas dokter kebesaran sedang merogoh kunci sepeda motornya dengan panik.

​Tanpa membuang waktu sedetik pun, aku berlari menerjangnya dari belakang. Momentum tubuhku yang lebih besar menghantam punggungnya. Kami berguling di atas aspal yang keras.

​Sebelum dia bisa bangkit, aku sudah berada di atasnya. Aku mencengkeram kerah bajunya, menariknya setengah berdiri, lalu membanting punggungnya dengan keras ke badan mobil box di dekat kami.

​"Siapa yang menyuruhmu?!" geramku, mengepalkan tangan kanan dan menghantamkannya ke badan mobil tepat di sebelah telinganya, meninggalkan bunyi penyok yang memekakkan telinga pria itu.

​Pria itu adalah seorang pemuda kurus dengan mata liar. Dia tertawa, tawa sumbang yang bercampur dengan ringisan kesakitan.

​"Kau terlambat, pahlawan..." bisiknya dengan seringai mengejek. "Suntikan itu mematikan. Adikmu sudah mati."

​Mendengar kata-kata itu, akal sehatku putus seketika. Yang ada di depanku hanyalah monster. Aku mengangkat tinjuku, siap untuk meremukkan wajahnya.

​"Tunggu, jangan!" pria itu memekik ketakutan saat melihat kilat pembunuh di mataku. Dia menyadari aku benar-benar akan membunuhnya. "Jika kau membunuhku, kau tidak akan tahu siapa yang membayarku!"

​Tinjuku berhenti hanya satu senti dari hidungnya. "Bicara!"

​Pria itu terbatuk-batuk. Dia merogoh saku jas dokternya dengan tangan gemetar, mengeluarkan sebuah ponsel murah jenis burner phone yang layarnya retak. Dia membuka sebuah aplikasi pesan terenkripsi dan menyodorkannya ke arahku.

​"L-lihat sendiri..." rintihnya. "Aku hanya pesuruh yang dijanjikan uang ratusan juta."

​Aku menyambar ponsel itu. Di layarnya, terlihat riwayat obrolan dengan kontak bernama 'BOS BESAR'. Ada pesan berisi instruksi untuk menyuntikkan racun. Namun yang membuat darahku membeku adalah gambar yang dikirim oleh si 'Bos Besar' subuh tadi—sebuah foto selfie pantulan dari kaca mobil yang gelap. Wajahnya tidak terlihat jelas karena terhalang ponsel, namun pergelangan tangan yang memegang ponsel itu terekam dengan sangat nyata.

​Sebuah jam tangan perak mewah berukir naga melingkar di sana.

​"Lukman tidak punya jam seperti itu..." gumamku.

​"Lukman... dia hanya pion bodoh!" pria di bawahku kembali menyeringai. "Bos yang sebenarnya yang menyewaku semalam! Tanyakan pada istri CEO-mu itu, siapa orang di dewan direksi yang selalu bersembunyi di balik senyum ramah."

​Aku menarik kerahnya lagi. "Jika kau mencoba lari sebelum polisi datang, aku akan mematahkan kedua kakimu."

​Aku melemparnya ke lantai aspal. Tepat saat itu, Bripka Anton dan dua rekannya berlari menghampiri kami dengan senjata terhunus, langsung memborgol pria tersebut.

​"Pak Bumi!" seru Anton, napasnya terengah-engah. "Bu Aruna menelepon saya. Adik Anda... kondisinya berhasil distabilkan. Jantungnya kembali berdetak!"

​Kata-kata Anton terasa seperti guyuran air suci di atas bara api yang membakar dadaku. Sifa hidup. Tubuhku mendadak kehabisan tenaga. Aku bersandar pada mobil, memejamkan mata, dan menghela napas panjang. Aruna... wanita itu benar-benar menahan maut untuk Sifa.

​Aku menyimpan ponsel pembunuh bayaran itu sebagai bukti, lalu berjalan cepat kembali menuju ruang ICU.

​Saat aku membelok ke koridor, aku melihat pemandangan yang menghentikan langkahku.

​Aruna sedang duduk di lantai koridor yang dingin bersama ibuku. Wanita yang biasanya tampil bagai ratu tanpa cela itu kini terlihat berantakan. Wajahnya pucat, pakaiannya kotor oleh debu, dan kakinya yang telanjang tampak dibalut kain kotor yang berdarah.

​Namun, yang paling menggetarkan hatiku adalah melihat Aruna menyandarkan kepalanya ke bahu ibuku, sementara tangan ibuku mengusap rambutnya. Aruna tidak memandang ibuku dengan keangkuhan kelas sosial; dia duduk sejajar dengannya di lantai, menjadi seorang pelindung bagi keluargaku.

​Aruna menoleh. Matanya yang sembab menangkap sosokku. Dia tersenyum padaku—sebuah senyuman yang sangat tulus, sarat akan kelegaan yang dibagi bersama.

​Dadaku terasa penuh. Ini bukan debaran romansa buta. Ini adalah rasa hormat yang teramat sangat dalam, sebuah rasa kesetiaan yang tiba-tiba mengakar di nadiku. Aruna mungkin membeli akad nikah kami dengan uang, tapi hari ini, dia membeli kesetiaanku dengan mempertaruhkan posisinya, hartanya, dan keselamatannya demi keluargaku.

​Dalam hatiku, aku mengikrarkan sebuah janji. Mulai detik ini, Aruna bukan sekadar wanita di atas kertas kontrak. Dia adalah istriku. Kehormatannya adalah kehormatanku. Tangisannya adalah urusanku. Dan aku bersumpah akan menghancurkan sang 'Bos Besar' yang berani mengancam hidupnya.

​____________________________________________

​​Tiba-tiba, Bripka Anton setengah berlari menghampiriku. Wajah polisi itu tampak tegang. Dia memegang sebuah kartu akses elektronik yang disita dari saku jas si pembunuh bayaran tadi.

​"Pak Bumi," bisik Anton pelan, memastikan Aruna dan ibu saya yang berjarak beberapa meter tidak mendengarnya. "Kami baru saja memindai ID Card ini di sistem keamanan rumah sakit. Pembunuh itu tidak menyusup atau meretas pintu ICU."

​Keningku berkerut tajam. "Lalu bagaimana dia bisa masuk ke area steril?"

​"Akses VVIP ini dipesan secara resmi satu jam yang lalu," jawab Anton, suaranya sedikit bergetar. "Dipesan menggunakan akun korporat atas nama salah satu Dewan Direksi Eksekutif Wiratmadja Tech."

​Darahku seakan berhenti mengalir. Musuh kami bukan preman jalanan. Musuh itu ada di kantor Aruna, duduk di kursi empuk, mungkin tersenyum padanya setiap hari. Dan besok pagi... Aruna harus kembali masuk ke dalam sarang hiu tersebut.

1
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐲𝐨 𝐚𝐫𝐮𝐧𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐡𝐚𝐤 𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐮𝐦𝐢, 𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐚𝐥𝐢𝐚𝐧 𝐧𝐢𝐤𝐚𝐡 𝐬𝐚𝐡 😊😊
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐬𝐞𝐤𝐚𝐥𝐢𝐚𝐧 𝐚𝐣𝐚 𝐛𝐮𝐥𝐚𝐧 𝐦𝐚𝐝𝐮 𝐛𝐞𝐧𝐞𝐫𝐚𝐧 𝐫𝐮𝐧 🤪🤪
Pardjan Yono
duh2 ..... aku liat bang Rendra senyum2 , saham nya kan 20%
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐦𝐞𝐧𝐞𝐠𝐚𝐧𝐠𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐤𝐚𝐥𝐢 😭😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐞𝐦𝐚𝐧𝐠 𝐚𝐧𝐣𝐢𝐧𝐠 𝐬𝐢 𝐭𝐮𝐚 𝐡𝐚𝐫𝐢𝐬 𝐝𝐚𝐧 𝐑𝐞𝐧𝐝𝐫𝐚
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐥𝐮𝐩𝐚 𝐲𝐚

𝐩𝐚𝐬 𝐩𝐚𝐩𝐚𝐬𝐚𝐧 𝐬𝐦 𝐡𝐚𝐫𝐢𝐬 𝐝𝐢 𝐥𝐢𝐟𝐭 𝐤𝐚𝐧 𝐛𝐮𝐦𝐢 𝐮𝐝𝐡 𝐠𝐞𝐫𝐭𝐚𝐤 𝐡𝐚𝐫𝐢𝐬 𝐤𝐥𝐨 𝐮𝐚𝐧𝐠 𝟐𝐌 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐚𝐥𝐢𝐫 𝐤𝐞 𝐩𝐞𝐫𝐮𝐬𝐚𝐡𝐚𝐚𝐧 𝐜𝐚𝐧𝐠𝐤𝐚𝐧𝐠 🤔🤔
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥: 𝐨𝐤 𝐤𝐚𝐤 𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫 😊😊
total 4 replies
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐲𝐨𝟐 𝐚𝐫𝐮𝐧𝐚 𝐤𝐚𝐥𝐚𝐡𝐤𝐚𝐧 𝐑𝐞𝐧𝐝𝐫𝐚 𝐛𝐮𝐬𝐮𝐤 𝐬𝐢𝐚𝐥𝐚𝐧 𝐢𝐭𝐮
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐤𝐨𝐧𝐬𝐩𝐢𝐫𝐚𝐬𝐢 𝐣𝐚𝐡𝐚𝐭 😭😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐩𝐥𝐨𝐭 𝐭𝐰𝐢𝐬𝐭 𝐧𝐲𝐚 𝐬𝐚𝐫𝐚𝐡 𝐩𝐞𝐧𝐠𝐤𝐡𝐢𝐚𝐧𝐚𝐭 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐝𝐢𝐚 𝐝𝐚𝐥𝐚𝐧𝐠 𝐧𝐲𝐚, 𝐡𝐚𝐫𝐢𝐬 𝐝𝐚𝐧 𝐋𝐮𝐤𝐦𝐚𝐧 𝐩𝐢𝐨𝐧𝟐𝐧𝐲𝐚 😊😊🤪🤪🤣🤣
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐦𝐞𝐰𝐞𝐤 𝐛𝐨𝐦𝐛𝐚𝐲 𝐭𝐡𝐨𝐫 😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐩𝐚𝐤𝐚𝐡 𝐬𝐚𝐫𝐚𝐡 𝐚𝐧𝐤 𝐛𝐮𝐚𝐡 𝐋𝐮𝐤𝐦𝐚𝐧? 🤔🤔🤔
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫𝟐 𝐢𝐧𝐢 𝐚𝐪 𝐧𝐞𝐦𝐮 𝐤𝐚𝐫𝐲𝐚𝟐 𝐛𝐚𝐠𝐮𝐬 𝐭𝐩 𝐬𝐞𝐩𝐢 𝐩𝐞𝐦𝐛𝐚𝐜𝐚

𝐣𝐮𝐬𝐭𝐫𝐮 𝐤𝐚𝐫𝐲𝐚 𝐲𝐠 𝐜𝐞𝐧𝐝𝐞𝐫𝐮𝐧𝐠 𝐚𝐜𝐚𝐤𝟐𝐚𝐧 𝐚𝐥𝐮𝐫 𝐠𝐤 𝐣𝐥𝐬 𝐥𝐚𝐭𝐚𝐫 𝐤𝐦𝐧 𝐧𝐦𝟐 𝐭𝐨𝐤𝐨𝐡 𝐤𝐦𝐧 𝐛𝐢𝐬𝐮𝐥 𝐤𝐦𝐧 𝐦𝐥𝐡 𝐛𝐧𝐲𝐤 𝐥𝐢𝐤𝐞 𝐝𝐚𝐧 𝐤𝐨𝐦𝐞𝐧𝐭 🤣🤣🤣

𝐬𝐩𝐫𝐭𝐢𝐧𝐲𝐚 𝐬𝐝𝐧𝐠 𝐚𝐝𝐚 𝐟𝐞𝐧𝐨𝐦𝐞𝐧𝐚 𝐩𝐞𝐧𝐮𝐫𝐮𝐧𝐚𝐧 𝐒𝐃𝐌 𝐫𝐞𝐚𝐝𝐞𝐫𝐬 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐦𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐒𝐃𝐌 𝐚𝐮𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐧𝐲𝐚 𝐲𝐚...


𝐦𝐚𝐚𝐟 𝐬𝐚𝐲𝐚 𝐡𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐞𝐫 𝐨𝐩𝐢𝐧𝐢 𝐬𝐛𝐠 𝐫𝐞𝐚𝐝𝐞𝐫𝐬 𝐤𝐫𝐧 𝐬𝐲 𝐭𝐝𝐤 𝐜𝐮𝐤𝐮𝐩 𝐩𝐞𝐝𝐞 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐚𝐮𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐝𝐚𝐧 𝐬𝐚𝐲𝐚 𝐦𝐬𝐡 𝐟𝐚𝐤𝐢𝐫 𝐢𝐥𝐦𝐮 😊😊😊
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐦𝐞𝐰𝐞𝐤 𝐭𝐡𝐨𝐫 😭😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐁𝐚𝐠𝐮𝐬 𝐜𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐚𝐡𝐚𝐬𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐦𝐮𝐝𝐚𝐡 𝐝𝐢𝐩𝐚𝐡𝐚𝐦𝐢, 𝐚𝐥𝐮𝐫𝐧𝐲𝐚 𝐣𝐠 𝐦𝐚𝐬𝐮𝐤 𝐚𝐤𝐚𝐥....

𝐥𝐧𝐣𝐭 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐚𝐡
𝐬𝐞𝐦𝐚𝐧𝐠𝐚𝐭 𝐤𝐚𝐤 𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫 😘😘😘
Rio Mario
kok sepi sih padahal cerita bgus banget .. semangat kak💪
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥: 𝐚𝐪 𝐬𝐞𝐫𝐢𝐧𝐠 𝐧𝐞𝐦𝐮 𝐤𝐚𝐤 𝐜𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚𝟐 𝐛𝐚𝐠𝐮𝐬 𝐬𝐞𝐩𝐢 𝐥𝐢𝐤𝐞 𝐝𝐚𝐧 𝐤𝐨𝐦𝐞𝐧𝐭 𝐛𝐚𝐡𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐩𝐢 𝐫𝐞𝐚𝐝𝐞𝐫𝐬𝐧𝐲𝐚 😭😭😭
total 1 replies
Erna Lisa
mantap
Erna Lisa
lanjutkan
Erna Lisa
👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!