NovelToon NovelToon
System Pohon Ajaib Warisan Kakek

System Pohon Ajaib Warisan Kakek

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:12.9k
Nilai: 5
Nama Author: ex

Lelah dengan kehidupan keras sebagai budak korporat di kota besar dan duka setelah kehilangan kedua orang tuanya, Lin Ye memutuskan untuk pulang ke Desa Qingshui, tempat kakeknya dulu tinggal.

Di sana, ia menemukan ladang dan rumah kakeknya yang sudah terbengkalai, kecuali sebatang pohon raksasa misterius di belakang rumah yang anehnya tetap subur dan hijau.

Saat tangan Lin Ye yang terluka menyentuh pohon tersebut, Sistem Warisan Alam yang terkunci sejak kematian kakeknya mendadak aktif, mengenali garis keturunannya sebagai pewaris sah.

Kini, dengan bantuan sistem yang memudahkan pekerjaan bertani dan kehadiran roh-roh alam fantasi, Lin Ye memulai kehidupan barunya yang santai namun penuh keajaiban untuk membangun kembali kejayaan ladang kakeknya, melawan intrik tetangga yang rakus, dan perlahan menjadi kaya raya di tengah kedamaian pedesaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Tap. Tap. Tap.

Lin Ye berjalan menyusuri jalan setapak yang mendaki menuju area perbukitan di belakang rumahnya. Matahari siang memancarkan sinar terik, namun rimbunnya dedaunan bambu dan pohon pinus liar di sekitar perbatasan bukit memberikan keteduhan yang nyaman. Alat serbaguna hitamnya yang kini berada dalam mode kapak dia pikul dengan santai di bahu kanannya.

"Lima puluh potongan kayu solid. Jika satu pohon memberikan sepuluh potongan, aku hanya perlu menebang lima pohon berukuran sedang. Seharusnya itu tidak memakan waktu lama," gumam Lin Ye pada dirinya sendiri.

Srek. Srek.

Saat Lin Ye baru saja melewati batas pagar kayunya yang rusak dan memasuki area pinggiran hutan, telinganya menangkap suara gemerisik dari semak-semak di depannya. Instingnya langsung waspada. Dia menghentikan langkahnya dan menggenggam erat gagang kapaknya.

"Siapa di sana?" seru Lin Ye dengan suara tegas.

Gemerisik itu terhenti. Dari balik semak pakis yang tinggi, muncul sesosok tubuh ramping yang mengenakan topi jerami bundar dan celemek kain sederhana. Wanita itu membawa keranjang rotan kecil di tangannya.

"Ah, Tuan Lin? Anda mengejutkan saya," sapa wanita itu sambil mendongakkan wajahnya.

Lin Ye menurunkan kapaknya, raut wajahnya yang tegang seketika berubah menjadi heran.

"Perawat Bai? Apa yang Anda lakukan di pinggiran bukit sendirian siang-siang begini? Jarak tempat ini cukup jauh dari klinik desa," tanya Lin Ye sambil melangkah maju mendekati Bai Ruoxue.

Bai Ruoxue tersenyum manis, mengusap peluh di dahinya dengan punggung tangannya. Wajahnya terlihat sedikit kemerahan karena sengatan matahari, membuatnya tampak jauh lebih alami dan membumi dibandingkan saat dia mengenakan jas perawat putihnya yang kaku.

"Persediaan herbal di klinik sedang menipis, Tuan Lin. Banyak warga yang terkena flu ringan minggu ini. Saya sedang mencari daun mint liar dan akar ginseng merah yang biasanya tumbuh subur di sekitar perbukitan belakang tanah kakek Anda ini," jelas Bai Ruoxue sambil menunjukkan isi keranjangnya yang sudah terisi setengah.

"Mencari herbal sendirian di sini sangat berbahaya, Perawat Bai. Paman Zhou dan Kepala Desa Wang sering memperingatkan bahwa babi hutan kadang turun gunung untuk mencari makan, terutama di musim peralihan seperti ini," Lin Ye memperingatkan dengan nada serius.

"Saya tahu risiko itu, Tuan Lin. Tapi obat herbal racikan saya sangat dibutuhkan oleh warga yang tidak mampu membeli obat kimia mahal dari kota. Saya sudah terbiasa berhati-hati. Kalau boleh saya bertanya balik, untuk apa Anda membawa kapak sebesar itu ke sini? Dan... tunggu sebentar."

Mata bulat Bai Ruoxue tiba-tiba tertuju pada lengan kiri Lin Ye. Kemeja Lin Ye digulung hingga ke siku, memperlihatkan lengannya yang bersih tanpa ada perban sedikit pun.

Bai Ruoxue buru-buru meletakkan keranjangnya, berjalan mendekati Lin Ye, dan tanpa ragu meraih lengan kiri pemuda itu dengan kedua tangannya. Tangan perawat itu terasa lembut namun dingin.

"Tuan Lin, di mana perban Anda? Bukankah saya sudah bilang luka Anda sangat dalam dan butuh waktu tiga hari untuk menyatu? Kenapa Anda melepasnya dan malah keluyuran membawa kapak berat?" omel Bai Ruoxue dengan nada panik, persis seperti seorang ibu yang memarahi anak nakalnya.

Lin Ye tertawa pelan. Dia membiarkan Perawat Bai mengamati lengannya.

"Coba Anda lihat sendiri lukanya, Perawat Bai," kata Lin Ye tenang.

Bai Ruoxue memutar lengan Lin Ye, bersiap untuk melihat luka yang menganga atau infeksi. Namun, matanya terbelalak tak percaya. Di tempat di mana kemarin terdapat luka goresan yang dalam dan berdarah, kini hanya ada sebuah garis tipis berwarna merah muda yang sudah menutup sempurna. Kulitnya rata, tidak ada tanda-tanda pembengkakan sama sekali.

"Ini... ini tidak mungkin. Bagaimana bisa?" gumam Bai Ruoxue, meraba garis luka itu dengan ujung jarinya. "Luka sebesar itu tidak mungkin sembuh dalam satu malam. Bahkan dengan salep herbal terbaik saya sekalipun. Apakah Anda memiliki kemampuan regenerasi?"

"Saya hanya orang biasa, Perawat Bai. Mungkin salep herbal Anda memang benar-benar ajaib, ditambah dengan tubuh saya yang terbiasa hidup sehat. Lagipula, saya sudah minum banyak air putih dan makan makanan bergizi semalaman," jawab Lin Ye beralasan, berusaha menutupi fakta tentang sup ikan energi.

Bai Ruoxue menggelengkan kepalanya pelan, masih belum sepenuhnya percaya dengan apa yang dilihat matanya.

"Bahkan ilmu medis modern akan kebingungan melihat penyembuhan secepat ini. Tapi syukurlah kalau memang sudah sembuh total. Anda benar-benar pemuda yang membuat saya sakit kepala sekaligus takjub," kata Bai Ruoxue sambil melepaskan lengan Lin Ye dan mundur selangkah.

"Kalau begitu, karena lengan saya sudah sembuh, izinkan saya yang membawakan keranjang herbal Anda. Anggap saja sebagai bentuk terima kasih saya atas perawatan Anda kemarin. Setelah saya selesai menebang beberapa pohon, kita turun bersama. Berada di sini sendirian benar-benar tidak aman untuk seorang wanita," tawar Lin Ye.

Rona merah tipis menjalar di pipi Bai Ruoxue. Dia jarang menerima perlakuan protektif dari pemuda desa yang biasanya segan kepadanya karena statusnya sebagai petugas medis.

"Jika itu tidak merepotkan Anda, saya akan berterima kasih, Tuan Lin. Saya hanya butuh beberapa akar ginseng lagi di sekitar pohon pinus besar itu," jawab Bai Ruoxue dengan senyum malu-malu.

Lin Ye mengambil keranjang rotan dari tanah. Dia mengawal Bai Ruoxue berjalan lebih dalam ke arah pepohonan pinus. Sambil menemani, Lin Ye mengamati pohon-pohon di sekitarnya, mencari target yang pas untuk diubah menjadi kayu solid.

"Pohon ini sepertinya sudah cukup tua dan mengering. Menebangnya justru akan memberi ruang bagi bibit baru," kata Lin Ye menunjuk sebuah pohon pinus berukuran sedang.

"Anda benar. Kakek Anda dulu juga sangat menjaga ekosistem bukit ini. Beliau hanya menebang pohon yang memang sudah waktunya," ucap Bai Ruoxue sambil berjongkok tidak jauh dari Lin Ye, mulai menggali tanah mencari akar ginseng merah.

Lin Ye berdiri di depan pohon pinus tersebut. Dia menarik napas panjang, mengangkat kapak hitamnya dengan kedua tangan, dan mengayunkannya dengan tenaga penuh.

Trak.

Mata kapak hitam itu menancap dalam ke batang pohon, membelah kayunya dengan sangat mudah seolah itu hanya sepotong mentega.

Hanya dengan tiga kali ayunan, pohon setinggi lima meter itu mulai miring. Lin Ye menahan batangnya dan mendorongnya agar jatuh ke arah area yang kosong, jauh dari tempat Bai Ruoxue berada.

Bruk.

Pohon itu tumbang menghantam tanah, menerbangkan debu dan dedaunan kering.

Ting.

"Material Terdeteksi: Pohon Pinus Liar."

"Melakukan konversi otomatis ke dalam inventaris."

Sring.

Dalam sekejap mata, batang pohon besar yang baru saja tumbang itu hancur menjadi partikel cahaya hijau dan menghilang, masuk ke dalam sistem Lin Ye. Di sudut layarnya, muncul angka 10x Potongan Kayu Solid.

Lin Ye melirik ke arah Bai Ruoxue untuk memastikan perawat itu tidak melihat keajaiban barusan. Syukurlah, Bai Ruoxue sedang membelakangi Lin Ye, terlalu sibuk membersihkan tanah dari akar ginseng yang baru dia cabut.

"Satu pohon selesai. Tinggal empat lagi," bisik Lin Ye. Dia segera bergerak ke pohon berikutnya yang jaraknya agak jauh dan melakukan hal yang sama.

Trak. Kreeek. Bruk. Sring.

Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, Lin Ye telah menumbangkan lima batang pohon dan mengonversinya menjadi lima puluh potongan kayu solid dengan sempurna. Dia bahkan tidak berkeringat banyak berkat efek alat dari sistem.

1
SENJA
hilang sombongnya 🤣
SENJA
udah jadi baek beneran dia 🤣
Manusia Biasa: udah tobat wkwk
total 1 replies
Heri Susanto8246
😄😄 jadi ingat novel nelayan yang tidak pernah mendapatkan ikan saat memancing.
Gege
bukannya ada ruang penyimpanan sistem ya tor.. simpan saja sampe menggunung didalamnya...
Junior Ian
Bgus
Manusia Biasa
keren thor mekanik Sistem nya🤣 benar benar kaya game rpg
Manusia Biasa
jir kirain dapat ikan grade s atau gede🗿
Yui: harus out of the box kak/Smile/
total 1 replies
Amrye Jhon
next
Amrye Jhon
bagus
Amrye Jhon
mantap
Amrye Jhon
semangat
Amrye Jhon
lanjut
Amrye Jhon
next
Amrye Jhon
bagus
Amrye Jhon
mantap
Amrye Jhon
semangat
Amrye Jhon
lanjut
Amrye Jhon
next
Amrye Jhon
bagus
Amrye Jhon
mantap
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!