NovelToon NovelToon
Dihina Tanpa Bakat, Ternyata Aku Pewaris Teknik Dewa Kuno

Dihina Tanpa Bakat, Ternyata Aku Pewaris Teknik Dewa Kuno

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Fantasi Isekai / Akademi Sihir
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: naramas_

Aku mati karena terlalu percaya pada cinta dan persahabatan. Kini, aku terlahir kembali di dunia baru sebagai anak yang dibenci kerajaan. Mereka menyebutku sampah tanpa bakat? Silakan. Saat kalian memohon pada Dewa, aku melatih tinjuku untuk menghancurkan takhta kalian. Aku Arlan, dan kali ini, aku tidak akan membiarkan siapa pun hidup setelah mengkhianatiku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon naramas_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kota Oksis Dan Transaksi Gelap

Gerbang Kota Oksis berdiri kokoh di hadapan Arlan dengan ketinggian yang mencapai sepuluh meter. Temboknya terbuat dari susunan batu hitam yang terlihat sangat solid dan dipenuhi dengan bekas goresan senjata serta noda lumut yang sudah mengering. Di atas menara pengawas, beberapa prajurit dengan zirah besi yang jauh lebih lengkap daripada prajurit desa Oakhaven terlihat berjaga dengan busur silang di tangan mereka. Arlan bisa merasakan perbedaan atmosfer yang sangat mencolok saat dia mendekati pintu masuk utama. Jika desa Oakhaven adalah tempat yang penuh dengan kepasrahan, maka Kota Oksis adalah tempat yang dipenuhi oleh ambisi, keserakahan, dan kekacauan yang teratur.

Arlan berjalan di samping kakek tua itu dengan langkah yang tetap diatur sedemikian rupa agar ototnya bisa beristirahat secara bergantian. Teknik tidur saat bergerak ini benar-benar membantu Arlan untuk tetap bugar meskipun dia baru saja melalui pertarungan hidup dan mati di hutan. Di depan gerbang, terdapat barisan orang yang sedang menunggu pemeriksaan. Ada pedagang dengan kereta kuda yang penuh dengan barang dagangan, petualang dengan senjata di punggung mereka, hingga pengungsi yang terlihat sangat kelelahan.

Saat tiba giliran Arlan, seorang penjaga gerbang dengan wajah yang sangat kasar menghentikan langkah mereka. Penjaga itu menatap Arlan dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan meremehkan. Pakaian Arlan yang penuh tambalan dan noda darah kering membuatnya terlihat seperti pengemis kecil yang tersesat.

"Tunggu dulu, bocah kotor," ucap penjaga itu sambil menghalangi jalan Arlan dengan tombaknya. "Siapa kamu dan apa urusanmu datang ke kota ini? Kami tidak menerima pengemis baru di dalam sana."

Arlan tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun. Dia menatap mata penjaga itu dengan dingin. Di kehidupan sebelumnya, Adit sudah sangat terbiasa menghadapi orang-orang yang mencoba memanfaatkan posisi mereka untuk mendapatkan uang tambahan. Arlan merogoh kantongnya dan mengambil satu koin perak yang dia dapatkan dari pembunuh bayaran kemarin. Dia melemparkan koin itu dengan gerakan santai yang tertangkap dengan sempurna oleh tangan penjaga tersebut.

Penjaga itu terkejut melihat koin perak yang berkilau di tangannya. Sikapnya seketika berubah. Dia tidak menyangka seorang bocah yang terlihat seperti gembel memiliki uang yang cukup banyak. Dia segera menyembunyikan koin itu di balik zirahnya dan memberikan isyarat agar Arlan bisa lewat.

"Silakan masuk, Tuan Muda kecil," ucap penjaga itu dengan nada bicara yang tiba-tiba menjadi sopan meskipun terdengar sangat palsu. "Semoga harimu menyenangkan di Kota Oksis."

Arlan hanya mendengus kecil dan terus berjalan melewati gerbang. Kakek tua di sampingnya tertawa pelan sambil mengunyah apel terakhirnya. "Uang memang bahasa yang paling dimengerti oleh semua orang di dunia ini, tidak peduli apakah itu di bumi atau di sini."

Begitu melangkahkan kaki ke dalam kota, telinga Arlan langsung disambut oleh kebisingan yang luar biasa. Suara teriakan para pedagang yang menjajakan barangnya, denting palu dari bengkel pandai besi, hingga suara tawa dari kedai-kedai arak saling bersahutan. Jalanan di kota ini terbuat dari batu susun yang cukup rapi, namun dipenuhi oleh genangan air dan kotoran. Arlan melihat banyak orang yang berlalu lalang dengan wajah yang sangat waspada. Di setiap sudut jalan, ada sekelompok pria bertubuh besar yang seolah-olah sedang mengawasi setiap pendatang baru.

"Nah, Arlan," ucap kakek itu sambil menepuk bahu Arlan dengan cukup keras. "Tugas belajarku berakhir di sini untuk sementara. Aku akan pergi ke Kedai Naga Merah untuk memuaskan dahagaku dengan arak terbaik. Kamu punya waktu empat jam untuk menyelesaikan urusanmu. Jual lah barangmu, belilah apa yang kamu butuhkan, dan jangan sampai tertipu. Jika kamu kehilangan uangmu atau tertangkap oleh penjaga karena kecerobohanmu, jangan harap aku akan menolong mu."

Tanpa menunggu jawaban dari Arlan, kakek tua itu menghilang di tengah kerumunan orang dengan kecepatan yang luar biasa. Arlan kini berdiri sendirian di tengah kota yang asing. Dia tidak merasa panik. Sebaliknya, dia merasa bebas. Dia mulai berjalan menelusuri jalanan utama, mencari toko yang terlihat cukup besar namun terletak di lokasi yang tidak terlalu mencolok. Arlan tahu bahwa di kota seperti ini, toko besar yang terlalu mewah seringkali memiliki koneksi dengan bangsawan, dan itu bisa membahayakan identitasnya sebagai keluarga Vandermir.

Setelah berjalan selama tiga puluh menit, Arlan menemukan sebuah toko bernama Timbangan Emas. Toko itu berada di sebuah gang yang cukup lebar namun tenang. Pintu masuknya terbuat dari kayu jati yang berat dan di depannya terdapat simbol timbangan yang terbuat dari perunggu. Arlan melangkah masuk ke dalam toko tersebut.

Di dalam, ruangan itu dipenuhi oleh aroma rempah-rempah, logam, dan bahan kimia yang sangat kuat. Rak-rak kayu besar menempel di dinding, dipenuhi oleh berbagai macam botol cairan, tanaman kering, dan bagian tubuh binatang sihir. Di belakang meja konter panjang, duduk seorang pria paruh baya dengan kacamata kecil yang bertengger di hidungnya. Pria itu sedang sibuk menimbang serbuk berwarna emas dengan sangat teliti.

Pria itu menoleh saat mendengar suara pintu terbuka. Dia melihat Arlan dan mengerutkan keningnya, namun dia tidak langsung mengusir Arlan. Pengalaman bertahun tahun sebagai pemilik toko membuatnya tahu bahwa terkadang penampilan luar bisa sangat menipu.

"Apa yang diinginkan oleh seorang anak kecil di toko bahan sihirku?" tanya pria itu dengan suara yang tenang namun tegas.

Arlan mendekati meja konter. Dia tidak langsung mengeluarkan barangnya. Dia memperhatikan sekitar untuk memastikan tidak ada pelanggan lain di sana. "Aku ingin menjual beberapa barang hasil buruan dari hutan utara dan beberapa perlengkapan yang sudah tidak terpakai."

Pria itu meletakkan timbangannya dan menatap Arlan dengan lebih serius. "Hutan utara? Itu tempat yang berbahaya bagi orang dewasa, apalagi untuk anak seusiamu. Tunjukkan padaku apa yang kamu punya."

Arlan meletakkan tiga inti mana serigala taring perak di atas meja. Batu-batu biru itu berkilau indah di bawah cahaya lampu minyak toko. Selain itu, Arlan juga mengeluarkan dua belati milik pembunuh bayaran yang dia kalahkan semalam. Belati itu terbuat dari baja berkualitas baik dengan ukiran kelompok serigala hitam di gagangnya.

Melihat belati itu, mata pemilik toko sedikit melebar. Dia mengambil salah satu belati dan memeriksanya dengan sangat teliti. Dia menatap Arlan dengan pandangan yang penuh rasa ingin tahu dan sedikit ketakutan.

"Ini adalah senjata milik Kelompok Serigala Hitam," bisik pemilik toko itu. "Bocah, dari mana kamu mendapatkan benda-benda ini? Jika kamu mencurinya dari mereka, sebaiknya kamu lari dari kota ini sekarang juga."

Arlan menatap balik pemilik toko itu dengan mata yang sangat tenang. "Aku tidak mencurinya. Pemilik aslinya sudah tidak membutuhkannya lagi karena mereka sudah tertimbun tanah di hutan utara. Apakah kamu tertarik membelinya atau aku harus mencari toko lain?"

Pemilik toko itu menelan ludah. Dia menyadari bahwa anak di depannya bukanlah anak sembarangan. Sifat tenang dan cara bicara Arlan yang sangat teratur menunjukkan bahwa dia adalah seseorang yang sudah terbiasa dengan kekerasan. Pemilik toko itu mulai menghitung nilai dari barang-barang tersebut di dalam kepalanya.

"Baiklah," ucap pemilik toko itu setelah beberapa saat. "Inti mana serigala taring perak ini masing-masing berharga dua koin emas. Belati ini berkualitas baik, aku bisa memberimu lima koin emas untuk keduanya. Totalnya adalah sebelas koin emas. Bagaimana?"

Arlan tersenyum tipis. Dia tahu bahwa nilai sebenarnya dari inti mana itu setidaknya tiga koin emas per buah di pasar terbuka. Pemilik toko ini sedang mencoba mengambil keuntungan besar darinya karena menganggapnya tidak tahu harga pasar.

"Dua koin emas untuk inti mana serigala taring perak di kota perdagangan bebas seperti Oksis?" Arlan bertanya dengan nada yang sangat datar. "Harga pasar saat ini adalah tiga koin emas dan dua puluh koin perak. Dan belati baja hitam ini setidaknya bernilai empat koin emas per buah jika dijual kembali ke kolektor senjata gelap. Aku akan menerima lima belas koin emas untuk semuanya, atau aku akan pergi sekarang juga."

Pemilik toko itu tertegun. Dia tidak menyangka seorang bocah kecil tahu tentang fluktuasi harga pasar di Kota Oksis. Dia menatap Arlan dengan lebih hormat sekarang. Arlan telah menunjukkan bahwa dia bukan hanya memiliki kekuatan fisik, tapi juga memiliki otak yang sangat cerdas.

"Kamu adalah negosiator yang sangat sulit, bocah," ucap pemilik toko itu sambil tertawa kecil. "Baiklah, lima belas koin emas. Aku setuju. Sepertinya aku baru saja bertemu dengan rubah kecil yang sangat berbakat."

Pemilik toko itu mengeluarkan sebuah kantong kain kecil yang berisi koin emas dan menyerahkannya kepada Arlan. Arlan menghitung koin-koin itu satu per satu sebelum menyimpannya di balik pakaiannya. Sekarang dia memiliki modal yang cukup besar untuk membeli perlengkapan yang dia butuhkan.

"Aku juga ingin membeli beberapa bahan," ucap Arlan lagi. "Aku butuh ekstrak bunga matahari hitam, bubuk tulang naga bumi, dan cairan merkuri murni. Aku juga butuh beberapa botol ramuan pemulih stamina tingkat menengah."

Pemilik toko itu mengangguk dan mulai mengambil barang-barang yang diminta oleh Arlan. Arlan merencanakan untuk membuat ramuan penguat tulang secara mandiri menggunakan pengetahuan kimia yang dia pelajari sedikit di kehidupan lamanya digabungkan dengan instruksi dari kakek tua. Untuk membuka Gerbang Kedua sepenuhnya, Arlan butuh asupan nutrisi yang sangat ekstrem agar sarafnya tidak rusak secara permanen.

Setelah semua transaksi selesai, Arlan keluar dari toko dengan kantong yang terasa jauh lebih berat. Dia merasa sangat puas. Namun, saat dia baru saja berjalan beberapa langkah keluar dari gang toko tersebut, dia merasakan ada beberapa pasang mata yang sedang mengawasinya dari balik bayangan bangunan.

Arlan tidak menoleh. Dia tetap berjalan dengan tenang, namun setiap indranya kini sedang dalam kondisi siaga tertinggi. Dia menyadari bahwa seorang anak kecil yang membawa banyak uang emas di Kota Oksis adalah target yang sangat empuk bagi para preman jalanan.

"Sepertinya aku harus memberikan pelajaran pada beberapa tikus kecil sebelum kembali ke kedai," gumam Arlan dalam hati.

Dia sengaja berbelok ke arah gang yang lebih sepi untuk memancing mereka. Arlan ingin memastikan bahwa tidak ada orang yang mengikuti dia sampai ke tempat kakek tua berada. Dia ingin menyelesaikan masalah ini dengan tangannya sendiri, sebagai bagian dari latihan mental dan fisiknya.

Di dalam gang yang gelap dan buntu, Arlan berhenti melangkah. Dia berbalik dan melihat empat orang pria dewasa dengan wajah yang dipenuhi bekas luka sedang menghalangi jalan keluarnya. Mereka masing-masing membawa kayu pemukul dan pisau berkarat.

"Berikan kantong emas itu, bocah, dan kami mungkin akan membiarkanmu pergi tanpa patah tulang," ucap pria yang paling besar sambil tertawa mengejek.

Arlan meletakkan kantong belanjanya di tanah dengan sangat perlahan. Dia menatap mereka satu per satu dengan pandangan yang sangat dingin, seolah-olah dia sedang melihat tumpukan sampah yang harus segera dibersihkan.

"Kalian membuat kesalahan besar dengan mengikuti ku ke sini," ucap Arlan dengan nada yang sangat rendah.

Di tengah kesunyian gang itu, Arlan mulai melepaskan energi dari Gerbang Pertama. Pertarungan di Kota Oksis ini akan menjadi bukti bahwa Arlan bukan lagi mangsa, melainkan pemburu yang paling mematikan.

1
Nanda 123
trus ga bls dendam ama shabat ny tu??
M Agus Salim II: oke siap, masih dalam proses 😅
total 1 replies
Aqil Septian
UDAHLAH KEBANYAKAN NOVEL KAYAK GINI BUATAN CHATGPT, HALAH TAIK AUTHOR TAIK
Jerry K-el: gass keun💪💪💪💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!